
Secepat itu, semua berlalu amat cepat dan dalam hitungan jam status Lorenza akan berubah. Sebagai yang paling tua di antara mereka, Abygail menatap wanita cantik dengan kebaya putih membalut tubuh mungilnya itu sedikit tak percaya.
Bagai mimpi di siang bolong, kemarin Kanaya dan sekarang Lorenza. Menikah semendadak itu bahkan lebih cepat prosesnya dibandingkan goreng telur dadar.
Begitupun dengan Siska, wanita itu hanya menatap kecewa pada Lorenza yang lagi-lagi alasan menikahnya di luar kepala. Dia yang pacaran tapi Lorenza yang menikah, sedih sekali rasanya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Lorenza Andreatama dengan mas-"
"Mohon ulangi."
Ada-ada saja, sudah kedua kali dan Gavin mengulang kesalahan yang sama. Pria itu salah menyebutkan nama Lorenza, dia gugup dan hal semacam ini memang tidak sengaja sama sekali.
"Tarik napas ... tenang, Gavin, jangan pikirkan malam pertama dulu." Ibra berbisik pelan namun bisa didengar beberapa orang di antara mereka.
Gavin berdecak dan kini mengambil napas dalam-dalam, pria itu berharap gugupnya akan segera hilang. Dia ingin tenang dan semua kegundahannya enyah, itu saja.
Di sisi lain, Lorenza yang berada di sampingnya justru berpikir Gavin sengaja melakukan kesalahan ini. Ini bentuk berontak Gavin, dan dia gusar tiba-tiba. Memalukan sekali jika benar Gavin sengaja melakukannya, pikir Lorenza memejamkan matanya.
Menunggu sedikit lebih tenang, hingga sighat akad itu kembali diulang. Kanaya yang berada di samping Maria juga sama gugupnya, takut Gavin akan melakukan kesalahan yang sama.
Lorenza Wiradhyanata Lorenza Wiradhyanata ... ayolah, kenapa sesulit itu menyebutkan namanya.
Gavin tengah mengutuk dirinya, sama sekali dia tidak sengaja. Dia tatap sejenak manik polos Lorenza, mencari ketenangan di sana dan berharap gugupnya akan usai.
"Bisa dimulai?"
"Bisa."
"Saya nikahkan ...."
Kali ini, Gavin berusaha lebih fokus dan konsentrasi. Jantungnya kian terpacu, seakan sangat sulit jika pernikahan ini tidak usai.
Hingga ....
"Saya terima nikah dan kawinnya Lorenza Wiradhyanata dengan mas kawin yang tersebut tunai."
SAH
Semua berjalan lancar, tanpa mas kawin berlebihan karena Lorenza enggan meminta itu. Meski sewaktu sewaktu melajang dia menginginkan menikah bak putri kerajaan, kini semua ia tepis karena Lorenza menikah dalam keadaan enggan hendak berbuat apapun.
Dadanya berdebar, kala Gavin tiba-tiba mengecup keningnya di hadapan banyak mata. Demi Tuhan Lorenza seakan berada di awang-awang, perasaannya tak bisa dia jelaskan.
__ADS_1
Memang biasanya dia gugup, tapi tidak segugup ini. Bibir ranum Gavin yang kerap ia kagumi dan bahkan penasaran produk lip care yang Gavin gunakan itu kini mendarat sempurna di keningnya.
"Alhamdulillah ... manisnya mereka."
Pujian siapa itu? Mulut siapa yang bicara? Lorenza menangkap bagaimana Siska dan Kanaya memuji dari kejauhan. Tepatnya meledek mungkin, mahar ratusan juta yang pernah ia katakan hanya mimpi belaka. Pada akhirnya, Lorenza hanya pasrah dan enggan meminta lebih pada Gavin.
Pernikahan yang dilakukan di kediaman keluarga Wiradh, dengan didatangi tetangga dan beberapa orang terdekat layaknya pernikahan biasa. Gavin begitu gagah hari ini, entah karena statusnya yang sudah jadi suami orang atau memang begitu sejak lahir.
Di hari pernikahannya, Lorenza tidak banyak tingkah. Hanya sejenak membalas senyum dari siapapun yang mengira jika dia memang bahagia, terutama tetangganya.
"Diam-diam menikah ... diam-diam hamil, kalian berdua memang luar biasa."
Itu ucapan selamat yang paling berbeda, Siska memeluk erat Lorenza dan kemudian menjentik kening sahabatnya cukup kuat.
Haikal berada di belakangnya, couple ter-legend ini nampaknya masih betah pacaran dan belum juga berminat untuk melanjutkan langkah yang lebih serius.
"Aku tidak hamil, kalian pada kenapa sih!!" desis Lorenza sembari memperlihatkan tatapan super tajamnya.
"Ah terserah, yang penting sahabatku ini menikah ... Gavin, tolong jaga dia baik-baik ya," tutur Siska seakan tak rela, semenjak Kanaya menikah waktu mereka seakan tersita. Dan kini, ditambah lagi Lorenza yang menikah dadakan bahkan membuat jantungnya seakan lepas detik itu juga.
"Hm, tanpa kau minta aku akan lakukan."
"Nay, suami kamu mana?" tanya Lorenza kemudian, sejak tadi memang Ibra tidak bersama Kanaya, wanita itu hanya sibuk sendiri bersama Maria, mama Lorenza.
"Sama mas Aby ... tuh, di pojokan sama Papa juga."
"Oh, babay mas Aby-ku! Pada akhirnya kamu bukan jodohku," tuturnya puitis sekali, Kanaya menepuk bahu Lorenza yang seakan tak sadar akan ucapannya.
"Maksudmu? Dia yang harusnya jadi suamimu sebelumnya?" tanya Gavin tiba-tiba, ucapan Lorenza membuatnya kesal saja.
"Bukan, Gavin ... kau tenang saja, mas Aby memang akan menikah, tapi bukan dengan Lorenza. Jangan dengarkan, istrimu ini memang sedikit kurang asupan." Kanaya panik, takut jika Gavin benar-benar salah paham akibat hal konyol yang Lorenza lakukan.
"Oh."
"Kenapa?" tanya Lorenza bingung, dia merasa tidak salah sama sekali, kenapa Gavin jadi begitu.
"Tidak, memangnya aku kenapa?" Bukannya menjawab dia malah balik bertanya.
-
.
__ADS_1
.
.
Sebagaimana seorang suami istri, tentu saja mereka harus masuk ke kamar yang sama. Gavin mengikuti langkah Lorenza, setelah cukup lama berhadapan dengan para tamu, kaki pria itu pegal juga.
"Ini kamarmu?"
"Hm, memang kecil ... kalau nggak nyaman kamu tidur di kamar Leon saja."
Gavin mencebik, istrinya masih sama seperti layaknya seorang Lorenza yang kerap kumat jika kesal. Tidak kecil sebenarnya, akan tetapi pemandangan kamar wanita itu membuat mata Gavin sedikit tersiksa.
"Dia siapa?" tanya Gavin dengan polosnya, memandangi foto beberapa pria dengan wajah putih mulus dan mata sipit itu seakan menjadi penguasa di kamar Lorenza.
"Dia? Ehm siapa ya ... kalau dulu, dia suamiku."
"What? Kau janda?"
Mata Gavin membulat sempurna, tak bisa dia percaya apa yang diucapkan wanita itu. Suami? Dengan jelas Lorenza menyebut mereka sebagai suami.
"Iya ... aku janda, janda tak tersentuh."
Dia menjawab lagi, sebenarnya siapa yang menjadi suaminya kini. Seprimitif itukah Gavin hingga hal semacam itu dia tidak pahami? Idol kelas atas bahkan dijuluki pria paling tampan di dunia dan Gavin dengan polosnya percaya ucapan Lorenza benar.
"Maksudmu? Janda yang bagaimana?" tanya Gavin kembali serius, sungguh wanita ini benar-benar misteri bagi pria seperti Gavin.
"Haduh, kamu lebih baik mandi sana."
"Jelaskan dengan benar, Za ... aku suamimu sekarang." Gavin mencengkram pergelangan tangan Lorenza, dia benar-benar menganggap hal itu serius.
"Astaga? Kamu beneran nggak tau siapa dia?" tanya Lorenza tak percaya, apa mungkin ada manusia yang tidak mengenal objek fiksinya selama ini.
Gavin mengerutkan dahi, menatap foto itu sekali lagi dan dia masih belum menemukan titik terangnya. Dia butuh penjelasan dan kalimat Lorenza yang mengatakan bahwa itu adalah suaminya benar-benar mengganggu.
Tbc
Ya Allah, akhirnya kekejer juga😭
Suami Lowrenzah yang dia maksud😚
__ADS_1