Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 90


__ADS_3

"It's not funny!!" Sudah pasti bibir Ibra takkan diam saja begitu harus berpisah dengan istrinya.


Pertemuan dadakan yang Gavin beritahukan membuat suasana hati Ibra kacau. Pria itu luar biasa kesal dengan rekan bisnis yang seenak dengkul mengatur waktunya.


Sebenarnya bukan hal yang begitu penting, akan tetapi mengingat mereka sudah berhubungan baik sejak lama, mau tidak mau Ibra harus rela meninggalkan Kanaya sendiri untuk sementara waktu.


Sebenarnya bisa saja pria itu membawa serta istrinya, akan tetapi demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Gavin memberikan saran agar Kanaya tetap berada di kantor.


Sifat Ibra yang pencemburu jelas akan mudah terpancing dengan ramahnya Batara, pria lajang 30 tahun yang mencari mangsa setiap waktunya.


"30 menit cukup, Gavin?"


Pria itu terdiam, menghela napas perlahan mendengar pertanyaan Ibra. Bagaimana bisa 30 menit usai sementara untuk tiba di tempat yang telah ditentukan saja butuh waktu 10 menit.


"1 jam," jawab Gavin singkat, pria itu melaju dengan begitu fokus.


"Lama sekali, istriku sendirian."


Tanpa perlu Ibra jelaskan Gavin pun sangat paham, padahal mereka telah menghabiskan waktu bersama dari pagi bahkan melayang di angkasa pun telah mereka lewati, dan bisa-bisanya Ibra berpikir 1 jam berpisah itu lama.


"45 menit," ucap Gavin mengalah, sepertinya untuk pertemuan kali ini Ibra memang membatu.


"Hm," sahutnya singkat dan bisa dikatakan sebagai persetujuan yang Ibra berikan.


Meninggalkan Kanaya sendiri di ruangannya adalah hal yang berat bagi Ibra. Akan tetapi membawa serta Kanaya juga bukan pilihan yang baik. Pria itu dirundung dilema, kenapa juga dia harus memiliki rekan bisnis seperti Batara.


"Gibran, kau yakin dia tidak akan macam-macam?" tanya Ibra pada akhirnya, pikirannya saat ini tidak baik-baik saja.


"Aman, dia tidak akan berani mengusik nona."


Ibra melonggarkan dasinya, setelah sebelumnya sempat Kanaya rapikan karena penampilan Ibra memang sedikit acak-acakan. Makan siang dengan dibuka yang panas-panas justru membuat Ibra tak berselera ketika makan siang sungguhan.


Sementara kini, jauh dari perkiraan Ibra yang menduga Kanaya akan merasa kesepian dan bosan di kantor, yang terjadi justru sebaliknya. Wanita itu mencuri kesempatan untuk menemui Lorenza di ruangan kerjanya, dia rindu sekali memasuki tempat itu.


Berkuasa di dalam ruangan Ibra memang menyenangoan, namun lebih menyenangkan lagi jika dia menghabiskan waktu untuk melihat sekeliling kantor layaknya tamu.


Dengan penampilan yang kini sudah kembali rapih dan wangi, Kanaya melenggang kemana dia mau. Beberapa dari mereka yang Kanaya lewati memberikan sapaan manis, selain Kanaya seorang istri dari pemimpin perusahaan, wanita itu juga memiliki sifat yang juga secantik wajahnya.

__ADS_1


"Gini rasanya, aaarrrgghh ga sabar ... Dorami lagi apa ya," tutur Kanaya penasaran, dia sempatkan mengintip di balik pintu kaca itu.


Memastikan bahwa Lorenza masih hidup dan dalam keadaan yang baik-baik saja. Setelah sempat bertemu dan berakhir tangis, Kanaya kini merindukan sosok cerewet itu.


Bersyukur sekali rasanya, Lorenza terlihat sibuk di sana. Kanaya merasa lega karena Ibra tidak mengusik pekerjaan sahabatnya. Hendak masuk, tapi entah kenapa langkahnya menjadi berat tiba-tiba.


"Masuk nggak ya."


Kanaya bermonolog, dia bingung dan takutnya jadi mengganggu jika nekat masuk. Belum lagi, sejak hari itu hubungan belum kembali hangat seperti sebelumnya, hanya permintaan maaf Lorenza saja yang dia terima, tawa dan candanya belum sama sekali.


-


.


.


Hingga pandangan keduanya bertemu, Lorenza yang tengah sibuk dengan pekerjaannya pun sontak mengambil langkah dan menghampiri Kanaya. Senyumnya masih sama, Lorenza menyambut kehadiran Kanaya dengan suara melengkingnya.


"Omo-omo!! Siapa yang dateng? Mataku nggak salah liat kan?"


Kanaya yang malu sendiri, suara Lorenza bahkan bisa terdengar sampai ke ruangan sebelah.


"Cari mas Bowo ... ya kamulah," ujar Kanaya sembari menoyor kepala Lorenza pelan.


"Hahaha, mas Bowo cuti, istrinya lahiran."


"Emang bisa? Istrinya yang lahiran dia yang cuti?"


"Bisa, kalau mau," jawabnya menampilkan gigi rapih dan runcing itu.


Merasa sedikit mengganggu yang lain, Kanaya mengajak Lorenza ke tempat lain. Dengan perasaan sedikit takut, Lorenza ikut langkah Kanaya. Sungguh kedatangan wanita ini benar-benar tanpa dia duga.


"Kangen banget, kamu nggak marah lagi kan, Nay?" rengek Lorenza mencebikkan bibirnya, dan hal itu hanya menjadi senyum tipis bagi Kanaya.


"Sejak kapan bisa marah, Za."


Lorenza tersentuk mendengar ucapan Kanaya, sahabatnya itu memang tidak pernah marah meski ulah Lorenza segila apapun. Dan kemarin pun sama, Kanaya sama sekali tidak marah, dia pergi hanya karena merasa tak nyaman dengan pernyataan Siska, itu saja.

__ADS_1


"Mas Ibra gimana? Aku jadi malu buat nyapa ... asistennya juga galak banget ternyata, Nay!! Kepalaku pusing lama-lama."


Lorenza bahkan memejamkan matanya sebentar, mengingat bagaimana wajah Gavin jika bertemu dengannya. Setelah meminta maaf bukannya dia bersikap manis, tapi justru sebaliknya.


"Santai, mas Ibra nggak mempermasalahkan itu ... lagipula memang seharusnya aku tau kan, Za."


Kanaya benar-benar menerima Ibra, Lorenza salut sebenarnya. Padahal, mereka adalah geng anti duda sejak lama. Slogan Lorenza yang selalu mengatakan wajah nomor dua, yang penting perjaka.


"Baik banget sih, tapi kalau dudanya mas Ibra nggak masalah ya."


Kembali lagi, duda bersyarat tentu saja. Kanaya hanya terbahak mendengar ungkapan Lorenza, mengingat bagaimana seorang Ibra yang tidak terlihat sama sekali jika pernah menikah sebelumnya.


"Iya, duda rasa perjaka lebih menantang tau, Za."


"Dih, kayak pernah rasain yang perjaka aja."


Percakapan mereka semakin sinting, hingga tiba dimana Kanaya menceritakan kejadian gila perihal kehadiran Olivia yang memergokinya usai ritual bersama Ibra.


"What? Terus gimana? OMG Kanaya?!!" Lorenza tak bisa berkata-kata, matanya membulat sempurna begitu mendengar cerita Kanaya, meski dia tidak membahas dengan jelas hal yang lain, tapi tetap saja otak mulus Lorenza tertuju pada kegiatan mereka.


"Ya gak gimana-gimana, berantem gitcuh." Menjawab bangga dan merasa jika dirinya menang, Kanaya menggerakkan bahunya bahagia sekali.


"Tapi itunya udah selesai kan? Atau masih ...." Bingung hendak menyebutnya bagaimana, Lorenza menautkan jemarinya dan menggigit bibir bawahnya.


"Kok malah itu yang kamu pikirin sih, Za!! Yang aku bahas itu Olivianya, malah kesana is." Memang harusnya Kanaya tidak membahas hal tersebut, dia salah bicara sepertinya.


"Ya bingung aja gitu, Nay ... Hahah kalau belum selesai kan tanggung banget," tambah Lorenza lagi, memang sepertinya otak Lorenza dan Ibra lebih cocok jika membahas hal semacam ini.


"Udah selesai, cuma tetep aja berasa di grebek warga tau nggak ... dan kamu tau? Olivia malah ngusir terus bilang mau kasih uang tapi harus ninggalin mas Ibra."


Hati Lorenza memanas, wajahnya berubah dan ingin rasanya dia bergabung mencabut nyawa Olivia.


"Dih, kamu diem aja?"


"Ya nggak dong, kan tadi dah aku bilang berantem, Lorenza." Kemana otak Lorenza hilang, pikir Kanaya.


"Ya sorry, aku terlalu khawatir sama mas Ibra gagal seneng soalnya." Lain yang Kanaya bahas, dan Lorenza justru mengkhawatirkan hal lain.

__ADS_1


Tbc


Selanjutnya Sore ya❣️


__ADS_2