Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 37


__ADS_3

Ibra memacu laju kendaraannya, sedikit kesal lantaran macet yang sudah melekat dengan ibu kota. Pria itu sudah menyiapkan mental untuk menghadapi amukan Indira.


Entah apalagi ancamannya, dan enak bagaimana lagi Indira mencacinya. Yang jelas, Ibra tidak peduli sebesar apapun marahnya.


Matanya menatap fokus ke depan, ada rasa yang tak nyaman dan pria itu melirik kursi di sebelahnya. Wanita yang sempat muntah dan mengotori mobilnya di saat pergi bersama pertama kali kembali terlintas dalam benaknya.


"Maafkan Mas, Naya."


Hanya kata maaf, entah sebesar apa rasa bersalah Ibra hingga kalimat itu selalu dia ungkapkan. Mungkin karena dihari pertama mereka menghuni istana barunya, Ibrahim justru terpaksa memenuhi panggilan Indira tanpa memberitahu dengan jelas tujuannya pergi kemana.


Terlahir sebagai pria kaya dari sebelum mengingjak dunia, nyatanya kehidupan Ibrahim Megantara tidak semudah yang orang kira. Terpaksa mengikuti semua perintah yang bahkan dia sendiri tidak bisa pahami apa dampak kedepannya untuk dia.


Bertahun-tahun Indira menjadi pengendali hidup Ibra. Selalu dipaksa tunduk atas nama mama kandung, sementara Ibra sendiri tidak pernah menatap mata mama kandungnya sejak lahir ke dunia.


1 jam 45 menit berlalu, perjalanan memang lumayan meski Ibra berusaha untuk cepat. Macet dan jarak yang memang tak bisa dikatakan dekat, pria itu kini tiba di kediaman Megantara ketika hari sudah gelap.


Penjaga rumah bertindak cepat dan membukakan pagar untuk Ibra tanpa diminta. Penguasa rumah pulang dan mereka paham pria itu pantang menerima kesalahan. Dibalik wajah yang terkadang ramah namun tak dapat diduga dia akan dingin seketika, tersimpan sejuta amarah yang bisa meledak kapan saja.


"Mama ada?"


"Ada, Tuan ... Anda sudah ditunggu."


Sungguh Ibra geram, kalimat sudah ditunggu dan bisa dipastikan wanita itu sudah menyiapkan hal yang sama sekali takkan Ibra sukai. Entah itu makan malam paksa ataupun hal lainnya.


Dengan langkah panjangnya Ibra masuk dan kala pintu itu terbuka. Seminggu dia tinggalkan namun memang tidak ada kerinduan selama apapun dia pergi dari tempat ini.


"Ck, sialan."


Senyum Indira yang menyambutnya di ruang tamu membuatnya sangat muak. Padahal di telepon wanita itu seakan hendak menguliti Ibra, tapi kenapa kini justru berbeda.


"Anak Mama akhirnya pulang, kamu dari mana saja? Hm?" tanya Indira memeluk tubuh Ibra begitu eratnya.


Indira bukan rindu, bukan pula mengungkapkan rasa sayang. Tapi, itu adalah kebiasaan dia yang sejak dulu begitu dan tidak akan dia hilangkan meski Megantara sudah pergi meninggalkan keduanya.


"Langsung saja, apa yang mau Mama sampaikan?" desak Ibra mulai kesal dengan basa-basi Indira, sungguh demi apapun dia sangat benci.


"Kok gitu ... kita makan malam ya, kamu keliatan kurus. Stres atau kenapa, Sayang?"

__ADS_1


Ibra memejamkan matanya, pria itu merasa Indira semakin menyebalkan. Dia bukan lagi remaja yang masih butuh dimanja, dan dia bukan lagi pria yang mencari dekapan seorang Mama.


"Mama memintaku pulang hanya untuk ini?" tanya Ibra tegas dan menepis tangan Indira di lengannya.


Indira berdecak sebal, pria itu kemudian berlalu naik ke kamarnya. Kebetulan pulang, ada beberapa hal yang tidak tersedia di rumah barunya. Jika harus meminta Gavin, maka akan semakin menyulitkan, pikir Ibra.


"Ck, keras sekali anakmu Sofia," tutur Indira menatap punggung Ibra yang kian menjauh, begitu sulit Ibra memperlakukannya dengan lembut, entah apa yang ada di pikiran anak itu.


-


.


.


.


"Mas, mau kemana!!"


Kepala Ibra mau pecah rasanya, masuk kamar dan Indira tidak mengatakan jika Olivia berada di tempat itu.


"Hentikan kebodohanmu, Olivia ... jangan membuatku semakin gila!!"


"Hahaha gila nggak apa-apa, Mas, bukannya udah bisa ya?"


Benar-benar tidak tahu malu, wanita itu beranjak dan menghampiri Ibra yang tak jauh darinya. Sekuat apa Ibra bisa mempertahankan diri untuk menolaknya, sepertinya tidak akan bisa.


"Menjauh, Olivia ... kamu tidak punya harga diri lagi? Hah?!" bentak Ibra kesal luar biasa, entah apa yang dipikirkan wanita ini hingga dia bisa masuk ke kamar Ibra seakan meminta dijamah.


Ibra hendak berlalu keluar kamar namun sialnya, pintu kamar terkunci dari luar dan ini sudah pasti ulah Indira. Siapa lagi kalau bukan mama tiri kurang ajarnya itu.


"Bangshaat!! Mama buka!!" teriak Ibra sembari berusaha membuka paksa pintu kamarnya, namun tenaganya tak sekuat itu lantaran Olivia kini memeluknya agresif.


"Lepaskan aku, Jallang!! Apa maumu!!"


Ibra tidak bisa kasar dan main tangan pada wanita, namun untuk wanita ini rasanya dia tidak bisa.


"Oliv, kamu tau bagaimana aku jika sudah marah kan? Jangan membuatku marah," ancam Ibra menatap tajam Olivia yang sejak tadi berusaha mencuri kecupan di bibirnya.

__ADS_1


Napas Ibra menggebu, bukan karena naf*su melainkan karena amarah yang tak bisa ia tahan kala wanita ini berusaha menggodanya luar biasa liar.


"Satu minggu kamu bener-bener pergi tanpa kabar, kamu blokir nomorku dan bahkan Mama tidak bisa mengetahui apapun tentang kamu, Oliv kangen Mas Ibra," tutur Olivia dengan suara lembut dan tengah berusaha membuat Ibra tergoda.


"Lepaskan aku, Olivia."


"Ayolah, Mas sebentar saja ... kamu nggak kangen aku? Aku istri kamu, Mas!!" sentak Olivia sedikit memaksa.


"What? Istri katamu? Istri? Hah? Istri yang bagaimana, Olivia?!!" bentak Ibra murka, bisa-bisanya Olivia hendak mengikat paksa Ibra dengan status yang sama sekali tidak dia harapkan dalam hidupnya.


"Memang aku istri kamu, Mas!! 4 tahun bukan waktu yang singkat ... kamu selalu begini bahkan hingga hari ini, kamu udah janji sama Mama aku buat jaga aku seumur hidup kamu, lupa?"


Matanya mulai mengembun, dan wajahnya kian memerah seakan sedih tiada tandingannya. Ibra menghela napas perlahan, harus dengan cara apa dia agar wanita ini bisa sadar.


"Man-tan Istri, bukan Istri ... bisakan kamu membedakan maknanya," tegas Ibra menyingkirkan tubuh Olivia secara paksa.


"Tapi aku nggak mau cerai, Mas!! Selamanya Ibra cuma suami Olivia!!" teriaknya kembali menggema di kamar itu, ingin sekali rasanya Ibra pukul hingga tewas.


"Tapi tidak selamanya Olivia akan jadi istri Ibra, paham kamu, Olivia?"


Ibra mendorong Olivia kala wanita itu lengah dan pelukan paksa itu terlepas tanpa dia duga.


"Mas!! Jangan pergi, kita masih bisa baik-baik dan aku janji nggak bakal ngelakuin hal itu lagi, Mas ... Please!!" pinta Olivia berderai air mata dan kini berlutut di bawah kaki Ibra.


"Lepaskan sebelum aku semakin kasar, Olivia!!" desak Ibra dan demi Tuhan dia membenci hal ini.


"Mas, tunggu!! Mama!!" Olivia meminta bantuan Indira, tangisan wanita itu benar-benar mengganggu Ibra hingga tidak ada cara lain untuk dia pergi karena bisa dipastikan di depan pintu ada Indria dan penjaga yang siap meringkus Ibra.


Ibra dengan cepat berlari dan menghempas tubuh Olivia agar menjauh darinya.


PRANK


Olivia menganga kala Ibra nekat memecahkan kaca dan tanpa pikir panjang Ibra melompat dari lantai dua. Teriakan Olivia semakin kencang bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka.


"MAS!!"


"Oliv, kenapa?!!" tanya Indira panik dan semakin kacau kala melihat kaca itu sudah tiada.

__ADS_1


"Mas Ibra!! Kabur!! Cepat ambil tindakan, Ma!!" desak Olivia panik, sementara Indira dengan perasaan gugup segera mendesak para penjaga untuk menghalangi kepergian Ibra.


TBC


__ADS_2