
"Lama banget ya ampon!! Cipo*kan dulu sama mas Ibra?"
"Heeih!! Lorenza pertanyaannya!!" sentak Siska mencubit bibir Lorenza hingga wanita itu menjerit cukup histeris.
Mata Kanaya membulat sempurna, pertanyaan frontal Lorenza membuatnya merah seketika. Suaranya bahkan bisa di dengar satu kelurahan, benar-benar buat malu, pikir Kanaya.
"Gimana perjalanannya, Nay? Maaf ya, ini bener-bener kejauhan ... dia tuh yang milih tempat seenak jidat." Siska menoyor kepala Lorenza cukup kuat hingga wanita itu terhuyung beberapa saat.
Memang, penyiksaan kerap terjadi ketika Siska mulai mendalami peran untuk membela Kanaya sepenuhnya. Wanita itu tak ambil hati walau badannya sakit semua lantaran Siska yang suka main tangan terhadapnya.
"Nggak masalah, aku udah lama nggak keluar ... jadi kangen juga udara bebas," canda Kanaya dengan dibalut senyum sumringahnya, sebuah kalimat yang juga mengandung makna nyata, Kanaya sangat-sangat merindukan udara bebas.
"Haduh, kasian sekali istrinya Direktur jadi gak pernah rasain macet lagi."
Dia mengejek atau apa, Kanaya mencebik usai memukul lengan Lorenza dengan tasnya. Cukup kecil, tapi berat sekali entah apa yang Kanaya masukkan di sana.
"Gila kalian berdua!! Anehnya orang-orang seperti kalian malah cepet ya dapet pasangan," imbuhnya kemudian sembari menggosok lengannya akibat kekerasan Kanaya.
"Sebelum berucap, ada baiknya kamu berkaca, Za ... yang aneh tu kita atau kamu?"
Pertanyaan Siska terdengar lucu bagi Kanaya, wanita itu benar-benar lupa tentang kecewanya. Setiap bertemu tentu mereka akan berawal dengan hal yang seperti ini, entah itu Siska yang mulai ataupun Lorenza yang duluan.
Perbincangan mereka berawal baik-baik saja, hanya perihal kecil dan disertai dengan sejuta tawa. Mereka sebahagia itu tanpa membahas pasangan ataupun puncak keberhasilan.
Tanpa membandingkan penghasilan, dan tanpa membahas hal yang membuat satu sama lain tersingsung. Sungguh, sebuah pertemanan yang sangat didambakan setiap perempuan.
-
.
.
.
__ADS_1
Hingga, Lorenza mulai merasa tak tega dengan senyum Kanaya yang sebahagia itu di hadapannya. Mengingat Ibra menyembunyikan hal gila itu, rasanya dia sangat marah.
"Kanaya," panggil Lorenza di sela-sela perbincangan mereka, sosok Lorenza bukanlah orang yang bisa merahasiakan hal sekecil apapun, terutama kepada orang terdekatnya.
"Kenapa, Za?"
"Aku boleh bilang sesuatu nggak?"
Kanaya menatap Lorenza serius, berbeda dengan Siska yang sudah tidak tertarik sama sekali karena biasanya Lorenza kerap mengatakan hal tak berguna jika dia melakukan pembukaan sedemikian rupa sebelum bicara.
"Sebenarnya ini tidak baik untuk kamu dengar, tapi aku tidak mungkin menyembunyikan ini terlalu lama dari kamu, lidahku gatal rasanya.
Persetan dengan permintaan Gavin, yang menjadi sahabatnya adalah Kanaya, bukan pria itu, pikir Lorenza.
"Apa memangnya?"
"Heleh, paling mau ghibahin tetangga dia yang kawin lari kemaren," ucap Siska memandang remeh Lorenza yang kini tengah mencoba serius tapi aura tidak muncul sama sekali.
"Heh!! Bukan!!" sentak Lorenza.
"Mas Ibra duda, Nay."
Lorenza berucap dengan nada seserius itu, sementara Siska yang tengah menikmati minumannya tersedak bahkan keluar dari hidung. Sungguh menyiksa dan membuat keduanya panik bersamaan.
"Siska astaga!! Tisu-tisu." Kanaya bukannya panik karena ucapan Lorenza perihal Ibra, melainkan Siska yang kini menyedihkan.
"What the fu*ck!! Ngaco!! Becanda ada batasnya sinting!!"
Siska mengusap air matanya, perkataan Lorenza benar-benar menghancurkan dunianya. Wanita itu menarik napasnya susah payah. Terkejut dan menurutnya ini adalah omong kosong paling tak berguna yang pernah dia dengar dari bibir Lorenza.
"Aku serius, Siska ... kali ini aku nggak becanda, demi Tuhan aku denger sendiri dari asisten pribadinya." Lorenza menunjukkan dua jarinya sebagai bentuk keseriusan dia terhadap ucapannya memang bisa dipegang.
"Nay?"
__ADS_1
Ketiganya mendadak jadi serius, sepertinya memang Lorenza serius. Siska menatap Kanaya yang kini terdiam dan tidak memberikan bantahan apapun pada Lorenza.
"Jangan bilang kamu udah tau, Kanaya?"
Kanaya mengangguk, wajahnya tidak terlihat sesedih itu. Entah kenapa saat ini Siska justru geram tiba-tiba, sudah dia duga Ibra masih menyembunyikan banyK rahasia dari awal.
"Mas Ibra udah kasih tau kok, mereka udah cerai 3 tahun lalu ... jadi bukan masalah kan?"
"Boddoh!! Itu masalah!! Bukan apanya yang bukan?" Lorenza jadi bingung, yang seharusnya marah siapa yang ngamuk siapa.
"Santai, Siska ... kamu kenapa bentak Naya?" tanya Lorenza tak terima, di sini dia merasa terluka dengan kebohongan Ibra, melihat Siska yang justru menjadikan Kanaya sasaran amarah, jelas saja dia terpancing emosi juga.
"Kanaya, dari awal memang Ibra nggak jelas asalnya! Ketika menikah batang hidung orangtuanya juga nggak ada!! Sekarang ... kamu tau dia duda? Kamu terima gitu aja, Kanaya?"
Kanaya mengangkat pandangannya, memberanikan diri untuk menatap Siska yang justru marah besar padanya. Menarik napasnya perlahan dan dalam keadaan begini, lagi-lagi kalimat Ibra selalu ia ingat.
"Lalu menurut kamu aku harus bagaimana? Gugat cerai mas Ibra hanya karena dia pernah menikah sebelumnya? Lalu bagaimana dengan aku dan anakku nanti tanpa mas Ibra?"
Mata Kanaya mengembun, dia paham bagaimana Siska sebegitunya menjunjung tinggi harga diri. Kemarahan Siska padanya murni karena Siska merasa Ibra merendahkan diri Kanaya dengan cara membodohi Kanaya sesukanya.
"Iya!! Kamu kenapa sebodoh ini semenjak menikah sama dia ... eh salah, tepatnya setelah tidur sama dia!! Kamu bukan lagi Kanaya yang aku kenal."
"Siska jaga mulutmu!! sentak Lorenza merasa ucapan Siska terlalu lancang dan membuat Kanaya terpojok kali ini.
"Diam!! Itu juga ide kamu kan, bayar orang buat jadi pacar bohongan, akhirnya apa? Kanaya dapat suami yang hidupnya penuh dengan kebohongan juga, hari ini terbukti dia duda besoknya apa? Punya anak dari wanita-wanita di luar sana?!!"
Sama-sama tersulut amarah, sementara Kanaya yang sejak tadi diam akhirnya meluapkan amarahnya juga.
"Kalian berdua stop!! Mas Ibra tidak seburuk itu, jaga bicaramu, Siska ... kamu tidak berhak menghakimi suamiku seakan dia sehina itu!!" Sesalah-salahnya Ibra, pria itu adalah suaminya. Kanaya sakit mendengar perkataan yang terlontar dari Siska kali ini.
Tanpa bicara, Kanaya berlalu begitu saja. Dia tidak marah Siska menganggapnya bodoh karena pada faktanya memang begitu. Tapi, yang membuat dia marah, dugaan terhadap Ibra seliar itu dan Kanaya tak terima.
Dadanya terasa sakit, dia sesak mana kala Ibra dipandang sehina itu. Karena belum sempat menghubungi Ibra, dia terpaksa menunggu sebentar di bawah pohon di tepian jalan.
__ADS_1
Menatap lalu lalang kendaraan dengan mata yang membasah, Kanaya meneteskan kristal bening tanpa dia duga. Hembusan angin membuatnya tenang berada di tempat ini, rasanya lebih baik dia tetap sendiri.
Tbc