Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 53


__ADS_3

Di lain tempat, wajah lesu dan penuh kekhawatiran itu tengah menatap langit yang kian gelap sejak tadi. Sudah beberapa kali Mahatma memintanya untuk masuk karena kemungkinan sebentar lagi akan hujan.


Bahkan awan gelap di atas seolah berucap bahwa dia harus masuk. Entah apa yang sebenarnya Abygail tunggu, Mahatma sudah menyerah bertanya kenapa pria itu mendadak murung sore ini.


"Kenapa ya, perasaanku tidak nyaman," tutur Abygail merasa benar-benar berbeda, debar jantungnya terasa aneh meski dia sudah berusaha mengatur napas sebaik mungkin.


Berulang kali menghubungi Kanaya kembali, namun tidak bisa dan meski dia memaksa. Abygail menghela napas kasar, memang tidak terdengar jika Ibra melakukan hal aneh pada Kanaya, akan tetapi entah kenapa Abygail resah sekali.


"Ays!! Aku harus cari tau dimana mereka."


Miris sekali bukan, pasca adiknya menikah dia bahkan tidak mengetahui dimana Kanaya tinggal. Semua terjadi karena sikapnya, andai saja dia tak memperlakukan Kanaya seburuk itu di hadapan Ibraz mungkin Ibra takkan begini.


"Aby masuk! Mau kemana kamu?"


Mahatma memiliki anak tiri yang bukan lagi anak-anak. Namun, terkadang mereka masih perlu diperlakukan layaknya remaja. Abygail menghela napas perlahan, baru saja dia hendak melangkah pergi namun Mahatma sudah melarangnya.


"Pa, aku mau ketemu Naya ... ponselnya mati tiba-tiba dan sampai detik ini tidak aktif, aku hanya takut ada yang tidak beres," tutur Abygail jujur, dia benar-benar khawatir apalagi mengingat amarah Ibra kala dia menghajar Adrian membuatnya cemas.


"Tidak perlu khawatir, Ibra bisa dipercaya, Aby." Mahatma menenangkan putranya kini, meski jujur saja Mahatma senang kala menyadari saat ini Abygail kembali memikirkan Kanaya seperti dahulu.


"Pa? Papa benar percaya laki-laki itu? Papa lupa cara dia marah bagaimana? Kalau Kanaya...." Ucapan Abygail tertahan, pria itu menarik napas dalam-dalam dan sungguh dia berat sekali mengatakan ini.


"Tenang, Papa percaya Ibrahim adalah pria yang tepat untuk Kanaya ... jangan samakan, mungkin waktu itu Ibra marah karena Adrian menyakiti Kanaya, tolong berpikirlah lebih jernih lagi, Aby."


Abygail menggeleng, Ibra adalah pria yang sama sekali tak dapat ditebak. Teringat jelas bagaimana dia menyapa kala pertemuan pertama, sesopan itu dan dia menggila ketika malam dimana Ibra melamar Kanaya terang-terangan.


"Pa, tenang bagaimana!! Ya Tuhan, Kanaya ... menyesal Mas melepasmu waktu itu."


Meski dia sama saja dianggap pengecut dan tak berguna, menyesali hal yang telah lalu rasanya sangat percuma. Abygail memejamkan matanya seraya memijit pangkal hidung, entah kenapa pikirannya justru merasa saat ini Kanaya tengah Ibra siksa.


"Ibrahim tidak segila itu, ada kehidupan yang dia nantikan dalam diri Kanaya, seseorang yang mencintai pasangannya tidak akan pernah tega main tangan, Nak, percayalah."

__ADS_1


Sebagai orang yang juga menyayangi Kanaya, Mahatma mengetahui dengan jelas bahwa Ibrahim bukan pria sembarangan dalam perihal cinta. Bagaimana cara dia memperlakukan Kanaya usai di hajar Adrian dan rela memeluk wanita itu meski tubuhnya seakan runtuh adalah bukti nyata yang Mahatma dapat lihat jika Ibra benar-benar mencintai Kanaya.


"Huft aku tidak bisa berpikir jernih saat ini, Pa."


Sebelum dia kembali mendengar suara Kanaya, demi apapun Abygail tak bisa tenang sama sekali. Pria itu berlalu masuk dan melewati Gibran yang tanpa ia duga berdiri di dekat pintu, keduanya bertatap mata untuk sesaat dan sorot tajam Abygail membuatnya menunduk cepat.


"Kau menguping?" tanya Abygail tak suka, akhir-akhir ini dia merasa Gibran semakin menyebalkan dan terlihat sedikit aneh.


"Tidak, Mas ... kebetulan aku mau keluar, mobilku belum masuk garasi."


Bisa saja menyebutkan alasan yang sebenarnya tidak demikian. Pria itu sudah mencuri dengar ucapan kakak iparnya, seakan tak puas telah mendapatkan Khaira hingga saat ini Gibran masih saja gila.


"Ya sudah sana, lakukan."


Tak mau ambil pusing, Abygail berlalu ke kamarnya. Meniti anak tangga dengan langkah panjang dan hampir menabrak Adrian yang keluar kamar dengan wajah malasnya. Pria itu baru saja dipecat jadi dia tidak bekerja sejak dua hari lalu.


"Ck, matamu itu tidak lagi berfungsi, Aby?!!" sentak Adrian membuang napas kasar, dia masih mengantuk dan Abygail membuatnya marah.


"Aaarrrggghh!!! Semua menyebalkan, sana kau!!"


Sinting, batin Abygail kesal bukan main. Pria itu mengedikan bahunya tak peduli kala Adrian mengumpatnya. Terserah dan dia tak peduli sama sekali.


-


.


.


.


Sementara di atap yang berbeda, jauh dari perkiraan Abygail. Tidak ada kekasaran ataupun pukulan yang adiknya dapatkan. Yang ada keduanya tengah saling memeluk erat setelah sempat meghabiskan beberapa menit penyatuan cinta di sore hari yang terasa lebih cepat gelap lantaran awan hitam menyelimuti angkasa.

__ADS_1


Kanaya harus mandi kedua kali akibat ulah Ibra yang pada akhirnya menyerah dan berbuat lebih usai menggigit dadanya. Kanaya menarik sudut bibir sembari mengelus mesra rambut Ibra yang kini berada dalam pelukannya.


"Mas, mandi."


Sudah kesekian kali Kanaya memerintahkan Ibra untuk membersihkan diri. Bukannya begerak pria itu justru semakin memperat pelukanya pinggang polos istrinya.


"5 menit, biarkan aku seperti ini, Nay."


Ibra meminta waktu, berada di posisi ini memang Benar-benar nyaman. Napasnya mulai teratur dan Kanaya justru khawatir Ibra akan tertidur.


"Dari tadi 5 menit mulu, udah 2 kali undur terus." Kanaya menepuk pelan tengkuk lbra, dia suka tapi alangkah lamanya jika terus begini sejak tadi, pikirnya.


Ibra bergerak malas, bangun perlahan dan kini meregangkan ototnya. Lega sekali rasanya, pria itu belum terbangun sempurna, dia masih duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Kanaya hingga sampai ke leher.


"Jangan diberi umpan, imanku tidak sekuat itu, Kanaya."


Lucu sekali, Kanaya tertawa sumbang usai Ibra melakukan hal semacam itu padanya. Pria itu berlalu ke kamar mandi usai menghujani wajah sang istri dengan kecupan manisnya.


Kenapa tidak mandi bersama? Jika keduanya mandi bersama bisa dipastikan lain cerita dan Ibra masih memikirkan Kanaya dan takut dia terlau lelah.


"Jangan lama," teriak Kanaya kala Ibra hendak masuk, dan sudut bibirnya tertarik begitu suara Kanaya melengking di telinganya.


"Namanya mandi harus lama, Nay ... kan harus bersih."


Ibra memang menghabiskan waktu mandi cukup lama, bahkan lebih lama dari Kanaya. Entahlah, dia sedikit heran apa yang Ibra lakukan hingga selama itu.


Mandi padahal dalam keadaan basah, ya sepertinya hal semacam ini akan kerap Kanaya rasakan selanjutnya. Mau menolak dia tak bisa, sentuhan Ibra terlalu indah untuk dia tolak. Mungkin karena dia tidak pernah merasakan, dan sekalinya mendapatkan, itu dari pria yang memang menjadi haknya.


TBC


Maaf Rada telat❣️ Besok senin, jangan lupa kasih votenya buat Ibra ya Bestie❣️

__ADS_1


__ADS_2