Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 70


__ADS_3

Sebagaimana air yang terus mengalir, bersamaan dengan terbitnya mentari di ufuk timur dan nantinya akan tenggelam, semua perihal waktu yang berjalan. Begitupun dengan kehidupan mereka, menjalani status sebagai istri Ibra dengan perasaan tenang dan selalu dipeluk kasih sayang membuat Kanaya lupa dirinya pernah terluka.


Pada akhirnya Kanaya mengalah. Terlalu banyak dia tidak masuk kerja karena Ibra benar-benar melakukan rencana yang sempat dia sampaikan pada Gavin. Memang Ibra sinting, dan itu tak bisa Kanaya hindari.


Banyak alasan yang membuat Ibra menegaskan Kanaya harus tetap di rumah. Bukan hanya takut jika Indira mengetahui pernikahannya saja, akan tetapi kondisi Kanaya yang terkadang mual parah di pagi hari adalah alasan tak kalah kuat yang membuat tekad Ibra kian bulat.


"Kamu boleh pergi, tapi jangan sendiri."


Ibra berpesan sebelum pergi, membelai wajah Kanaya yang kini masih terbaring di tempat tidur. Dia memang lelah, dan Ibra sengaja tak menggaggu tidurnya usai subuh menjelang.


"Kamu udah mau pergi ya? Pagi banget, Mas."


Kanaya mencoba bangun, sebenarnya tidak terlalu pagi. Hanya saja, Kanaya bangun terlalu siang. Matahari sudah sedikit meninggi, dan Ibra sengaja menunda kepergiannya demi bisa menatap mata itu sebelum dia berlalu.


"Udah telat bahkan, lihat."


Menunjukkan jam di pergelangan tangan kirinya. Kanaya menganga, ini sudah terlalu siang sementara dirinya belum sama sekali menyiapkan sarapan untuk Ibra pagi ini.


"Mau kemana?"


Baru saja hendak bangun, Ibra menahan Istrinya. Wanita itu melongo dan menatap Ibra bingung. Kanaya hanya mencoba untuk menjadi istri yang baik untuk Ibra, wanita itu merasa perannya belum dapat dikatakan istri sesungguhnya.


"Siapin sarapan kamu, belum kan?"


Pria itu menggeleng, dia merasa istrinya tak perlu melakukan hal semacam itu. Dia juga baik-baik saja tanpa sarapan, Ibra tak suka dan memang tak terbiasa walau Kanaya sudah mengingatkan berkali-kali bahwa sarapan itu wajib.

__ADS_1


"Nanti saja, Mas sudah telat."


Kanaya menghela napas pasrah, nampaknya Ibra mencari alasan dan membuatnya tak bisa melakukan apa-apa. Itu pilihan Ibra meski Kanaya bingung sebaik apa hidupnya tanpa ada makanan sedikitpun di perutnya itu pagi hari.


"Dasinya, kamu kenapa jadi persis anak SMP."


Ibra menarik sudut bibir kala Kanaya mendekat dan meraih dasinya. Tidak sia-sia cari perhatian dengan sengaja membuat dasinya tidak rapi pagi ini. Ibra adalah pria sempurna yang selalu mengutamakan penampilan.


Bertahun-tahun dia terbiasa dengan pakaian formal dan serapi itu. Perkara dasi tentu saja Ibra mampu melakukannya bahkan tanpa melihat cermin.


"Cantik sekali."


Hanya itu yang Ibra lontarkan, Kanaya yang berada di hadapannya jelas mendengar dengan jelas ucapan Ibra. Pria itu sejak tadi memandanginya, lekat dan tanpa berkedip.


"Hm? Kenapa, Mas?" tanya Kanaya menyadarkan Ibra yang kini menatapnya tanpa henti, terpaku dan membuatnya sedikit takut, siapa tahu Ibra kerasukan pagi-pagi, pikirnya.


Meraih dagu istrinya dengan lembut, Ibra sempat berkata jika dia sudah telat. Tapi, sepertinya pria ini justru menunda waktu dan membuatnya semakin terlambat.


Hendak membenamkan bibirnya, tapi Kanaya justru nenepis tangannya dan memalingkan wajah. Pria itu menggigit bibirnya, menatap bingung Kanaya yang tiba-tiba memberikan respon tak biasa.


"Kenapa?" tanya Ibra bingung, istrinya terpejam dan sepertinya tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Mual."


Kanaya membekap mulutnya sendiri, entah apa yang Ibra gunakan hingga membuat isi perutnya naik seketika. Sejak tadi memang dia merasa sedikit terganggu dengan aroma parfum Ibra, tapi tidak mengira akan semakin menyiksa ketika Ibra mengikis jarak bersamanya.

__ADS_1


Mengikuti istrinya yang berlari ke kamar mandi, dan Ibra paling tidak suka dengan Kanaya yang mengunci diri ketika mengeluarkan isi perutnya. Dia malu atau bagaimana, pikir Ibra terkadang kesal dibuatnya.


Setiap pagi, dia harus merasakan kekhawatiran menanti di luar sementara Istrinya tengah sesulit itu di dalam sana. Ibra sabar menunggu, tak peduli meski Gavin terus menghubunginya.


Keluar dengan wajah pucatnya, Ibra tersiksa melihat Kanaya yang begini. Pria itu menarik istrinya dalam pelukan, memijat pelan tengkuk lehernya sembari sesekali menyeka keringat di keningnya.


"Kita ke dokter lagi ya," tutur Ibra pelan, meski apa yang Kanaya alami adalah hal biasa bagi wanita hamil, tetap saja Ibra tak tega. Andai bisa digantikan, rasanya akan lebih baik dia yang mual walau harus sepanjang hari.


Kanaya menggeleng, beberapa wanita hamil mungkin mengalaminya, bukan hanya dia. Dan Kanaya percaya, ini takkan selama itu. Ibra membopongnya kembali ke tempat tidur dengan hati-hati.


Dia tidak tega meninggalkan sang istri jika keadaannya begini. Walau Kanaya tidak sendiri di rumah, tapi kepercayaan Ibra tak semudah itu tercurah kepada orang lain.


"Aku baik-baik aja, Mas ... nanti enakan sendiri, sana cepat kasihan Gavin nunggu lama." Kanaya berucap lemah, tapi memberi keyakinan bahwa di memang mampu walau Ibra tinggal.


"Sebentar lagi, nggak tega."


Walau ini bukan kali pertama, tetap saja dia tak kuasa meninggalkan Kanaya sendiri. Baginya kesakitan Kanaya adalah tanggung jawabnya, semua yang Kanaya alami tidak akan terjadi jika dia tak menjadi penyebabnya.


"Terus kapan perginya, masa setelah makan siang lagi."


Dia bahkan terkekeh, padahal keadaannya selemah itu. Ibra tersenyum sembari menggeleng pelan, selagi keringat di kening Kanaya masih membasah dia enggan berlalu dari sana.


"Ya nggak masalah, sekalian yang penting masuk kerja," ungkapnya enteng sekali, walau memang faktanya demikian bahwa Ibra bebas untuk berbuat apapun karena kantor memang milik dia.


Bukan cari-cari kesempatan, tapi memang Ibra memilih bersama Kanaya jika kondisi istrinya selemah ini. Pria itu bahkan sudah melewatkan satu rapat penting dan tentu saja Gavin yang terkena imbasnya, firasatnya mengatakan lebih baik di rumah daripada ke kantor saat ini.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2