Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 103


__ADS_3

"Jenazah?"


Kanaya tidak salah dengar, Ibra memang membahas hal itu. Dan kini pria itu menutup sambungan teleponnya, Kanaya butuh penjelasan terkait apa yang terjadi lebih jelasnya.


"Siapa, Mas?"


Hati Kanaya sudah tak karuan, apa yang dia dengar membuat wanita cantik itu kalut.


"Bi Sulis, Kanaya."


Mata Kanaya membulat sempurna, wanita itu merasa semuanya bagaikan mimpi. Rasanya sangat tidak mungkin dan Kanaya tidak bisa percaya itu.


"Kamu bercanda? Ini nggak lucu sama sekali, Mas."


Kanaya membuang pandangannya, apa yang Ibr Katakan sama sekali tidak lucu menurutnya. Wanita itu menatap nanar tanpa arah, Jackson yang tidak berdaya saja seakan mimpi, dan kini bertambah hal yang semakin tidak masuk akal bagi Kanaya.


"Tidak, Nay ... semua terlambat dan Mas tidak mengira laporan Sulis beberapa hari lalu akan berakhir begini."


Ibra hanya bisa menyesal, meski dia sempat mencurigai penguntit yang mencari tahu banyak hal terkait tempat tinggalnya, kini semua yang sempat mengganggu pikirannya terbuka dengan jelas.


Beberapa bukti yang Gavin berikan membuat Ibra murka. Pria itu pada akhirnya tak kuasa menahan sesak dan marahnya di dada. Benda pipih itu melayang dan hancur begitu saja ketika membentur tembok.


Napas Ibra menggebu, dadanya kembang kempis dan kini kepalan tangannya semakin keras saja. Kanaya menyadari jika suaminya sudah begini artinya kemarahannya sudah di luar batas wajar.

__ADS_1


Abygail sudah tak berada di sisinya, jadi kerasnya Ibra tidak kembali dilihat oleh mata kepala sang kakak. Kanaya hanya bisa terdiam melihat Ibra yang melampiaskan kemarahan dengan cara sekasar itu, pria itu diam dan benar-benar bungkam saat ini.


Matanya memerah, dan Kanaya berusaha menyentuh lengannya. Memberikan sentuhan lembut dan berharap Ibra akan sedikit luluh, meski dia cinta, jika suaminya sudah begini tetap saja Kanaya memiliki ketakutan tersendiri.


"Mas ...."


"Maaf, Kanaya ... seharusnya kamu tidak melihat Mas begini," tutur Ibra menyesali keadaan, dia menarik istrinya dalam pelukan. Amarah menggebu seperti itu belum bisa Ibra tahan, masih saja dia kerap melampiaskan dengan cara yang dapat dikatakan kekanak-kanakan.


Keduanya terdiam, ketakutan Kanaya semakin menjadi. Semakin dia tidak mengizinkan Ibra pergi walau hanya sedetik saja. Walau sudah Ibra yakinkan tidak akan terjadi apa-apa padanya, tetap saja Kanaya kalut juga.


"Tidurlah, kamu lelah sebenarnya."


"Lalu bi Sulis gimana?" tanya Kanaya kemudian dengan suara lemahnya, rasa bersalah dan penyesalan itu mencuat dalam benaknya.


"Mas, dia punya tiga anak, sementara yang paling tua saja masih remaja ... kasian."


Tiga anak yang selalu Sulis banggakan, Kanaya masih ingat jelas wajah-wajah mereka begitu menenangkan. Dengan umur yang berbeda cukup jauh, dan Kanaya justru dibuat frustasi dengan hal ini.


"Lalu kita harus bagaimana, Kanaya? Kamu mau Mas melakukan apa?"


Jika harus menerima tiga anak itu sekaligus, Ibra tidak siap. Dia masih muda dan tujuannya menikah bersama Kanaya hanya untuk hidup berdua dan tidak berpikir rumah akan jadi panti asuhan dadakan.


"Kita punya tanggung jawab terhadap anak itu, Mas ... mereka sudah yatim sejak dulu, lalu hari ini kehilangan ibunya dan itu karena dia berkerja di rumah kita."

__ADS_1


Kanaya berucap dengan nada yang mulai bergetar, Ibra mengerti saat ini istrinya tengah menempatkan diri di posisi sebagai pihak yang harus bertanggung jawab karena memang bersalah.


"Perihal tanggung jawab, Mas akan berikan, Kanaya ... tidak perlu khawatir soal itu."


Tanpa Kanaya minta dia akan lakukan, akan tetapi jika lebih dari itu rasanya Ibra keberatan. Dia belum bisa sebaik itu menerima orang luar dalam kehidupannya.


"Tapi kasihan, Mas ... membesarkan mereka tidak akan membuat kita kesulitan kan?"


Kanaya tak biasa hidup sendiri memiliki keinginan yang begitu besar bisa membawa ketiga anak Sulis dalam hidupnya.


"Nanti Mas pikir-pikir lagi, Kanaya."


Ibra menggigit bibirnya, pria itu mengerti istrinya memang begitu baik. Ibra memang menyukai anak-anak, tapi yang dia inginkan untuk hidup bersamanya adalah darah dagingnya seorang.


"Hm, terima kasih, Mas."


"Tidurlah, kamu pucat, Sayang ... tolong jangan berpikir yang macam-macam ya, percayalah ... semuanya akan usai dengan baik-baik, jangan khawatir."


Ibra mengecup puncak kepalanya, pikiran Kanaya akan teralu banyak dan Ibra tidak menginginkan istrinya down hanya karena kekacauan yang terjadi.


"Olivia ... dan Mama! Kalian harus membayar tuntas atas apa yang kalian lakukan," tutur batin Ibra menatap nanar tanpa arah, kemarahannya sebesar itu dan yang ada di pikiran Ibra saat ini hanya tentang cara melenyapkan Olivia dan Indira dengan tangannya.


To Be Continue.

__ADS_1


__ADS_2