Belenggu Cinta Pria Bayaran

Belenggu Cinta Pria Bayaran
BAB 104


__ADS_3

Ibra melangkah panjang, pada kenyataannya dia tidak bisa bertahan lebih lama. Mau sekeras apapun Kanaya melarang dan memintanya untuk tetap di sana, hatinya memilih untuk menemui Indira.


Jauh? Tidak masalah, Ibra tetap menambah kecepatan. Tanpa meminta bantuan Gavin, tanpa basa basi karena yang ia tuju hanya sang mama.


Masih menunjukkan pukul 09 malam, belum terlalu larut namun Ibra memanfaatkan kesempatan lantaran Kanaya sudah tertidur begitu lelapnya.


Tiba di sana, keadaan rumah utama tampak baik-baik saja. Temaram lampu yang sama indahnya masih membuat Ibra merindukan tempat tinggalnya.


Datang dengan hati yang tidak baik-baik, tangan Ibra mengepal kala menatap Indira yang masih berdiri di lantai dua. Menatapnya dengan senyum bahagia layaknya seorang ibu menantikan putranya pulang sejak lama.


Tatapan itu terkunci, Ibra mengeraskan rahangnya, giginya kini bergeemelutuk dan tanpa peduli sopan santun Ibra meniti anak tangga dengan langkah panjangnya.


"Akhirnya kamu pulang juga, Ibra ... Mama rind...."


PLAK


Belum selesai Indira bicara dan Ibra untuk pertama kalinya mendaratkan telapak tangannya di wajah keriput Indira. Dia kurang ajar? Anggap saja begitu, Ibra terlalu lama bergelut dalam emosi. Selama ini dia bisa menerima, namun ketika Kanaya yang hendak mereka jamah, Ibra tak terima.


"Ibra!! Apa yang kamu lakukan? Sadar kamu pukul Mama?" tanya Indira tak percaya sama sekali, puttanya pembangkang namun belum pernah seperti ini.


"Semua itu pantas Mama dapatkan ... selama ini aku diam tapi nyatanya Mama masih mengusikku," tegas Ibra sembari menghempaskan tangan Indira, pria itu bena-benar marah.


"Mengusik kamu? Maksud kamu apa, Ibra?"

__ADS_1


"Mama diam!! Istriku hampir celaka, dan kedatangan Olivia juga tentu atas izin Mama!!" gertak Ibra menggema, siapapun yang berada di rumah itu mendengar dengan jelas kemarahan Ibra yang menggebu.


"Soal Olivia, dia sudah dewasa dan semua yang dia lakukan juga atas kehendaknya sendiri, Ibra. Lagipula ini semua kesalahan kamu yang tidak pernah menerima dia dalam hidup kamu," ucap Indira terdengar halus namun entah kenapa hati Ibra tak tersentuh sama sekali.


"Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Harta? Bukankah sejak dulu Mama sudah menguasainya?!!"


Seperti biasa, Indira hanya diam dan tidak memperlihatkan amarah ataupun kesedihan. Wanita itu memang tidak bisa ditebak dan sebenarnya sifat yang seperti ini merupakan yang paling bahaya.


"Ibra, dengarkan Mama dulu ... jika hanya karena harta, bukankah harusnya Mama buang kamu ketika Mas Megantara pergi meninggalkan kita? Mama menyayangimu tapi kamu yang menepis kenyataan itu!!" jelas Indira menatap lesu Ibra, kondisinya yang tidak baik-baik saja hingga saat ini jadi alasan suaranya terdengar bergetar.


"Wanita licik seperti kalian tidak layak hidup, harusnya yang tenggelam waktu itu Mama, bukan Papa."


Sangat-sangat berharap alam memutar waktu. Ibra berucap tanpa peduli bagaimana Indira kini. Batinnya tentu saja sakit, memiliki status sebagai ibu pengganti namun tanpa pengakuan sedikitpun dari Megantara saja sudah sangat sakit, dan kini putranya juga begitu membenci Indira.


Indira mengerutkan dahi, dia tidak mengerti kenapa putranya semarah ini. Salah satu bodyguardnya masuk kala menyadari kericuhan itu terjadi. Sebagaimana anak buah yang menyaksikan majikannya terancam bahaya, pria itu bertekad menyerang Ibra tanpa perintah dari Indira.


Baru saja hendak melakukan aksinya, Ibra menghindar dan kini balik menyerang hingga membuat keduanya bergulat di tangga.


"Hentikan!!"


"Ibra berhenti!!"


Dalam keadaan begini bahkan mamanya masih melindungi orang lain bukan dirinya. Ibra berhasil membuat pria itu terjatuh, merasa belum puas dia turun dan meyerangnya kembali.

__ADS_1


Pria itu bukan orang biasa, Ibra tampak kesulitan ketika pukulan itu mendarat sempurna tepat di batang hidungnya. Sejenak butuh waktu untuk mempertahankan keseimbangan, bersamaan dengan itu pria yang tengah diselimuti emosi dan tertantang dengan keberanian Ibra mengeluarkan pisau lipat di sakunya.


"Hentikan!! Kau bisa memb .... Aaarrrghh!!"


"Mama!!!"


Ibra menganga kala menyaksikan Indira tak berdaya di bawah tangga. Terlalu panik melihat Ibra di bawah serangan anak buahnya Indira yang lemah salah langkah dan membuatnya jatuh secepat itu.


Hidungnya terasa sakit, dan pria yang tadi menyerangnya hanya gemetar menyaksikan Nyonya besar rumah itu kesulitan bernapas dalam pangkuan Ibra.


"Ma, Mama bisa dengar aku?" Ibra menepuk-nepuk wajah Indira yang kini hanya terpaku melihat ke atas.


Sejahat-jahatnya Indira, jika sudah begini Ibra tak bisa membencinya. Matanya kian mengecil dengan darah yang kini keluar dari hidungnya, Ningsih yang sejak tadi tidak berani keluar kini datang dan sama histerisnya.


"Nyonya!! Bangun, Nyonya!!"


Wanita paruh baya itu menatap Ibra dengan sorot tajamnya, denyut nadi Indira sudah tak lagi ia rasa. Ningsih menempelkan jemarinya di hidung Indira, semua tidak ada hasilnya.


"Kenapa, Bi?"


"Nyonya sudah pergi," ucap Ningsih seketika membuat Ibra menatap wajah keriput Indira, wanita yang masih cantik di usia yang sudah tak muda lagi itu terlelap dalam pangkuan Ibra.


"Apa? Kau bercanda?!! Kita ke rumah sakit sekarang!"

__ADS_1


"Tidak perlu, Tuan, sudah terlambat dan Nyonya tetap tidak mungkin selamat."


To Be Continue.


__ADS_2