
Hijau, hamparan rumput hijau yang indah dan pohon-pohon begitu tertata. Kanaya menyukai tempat ini, meski bukan di tempat yang biasa datangi, tapi memang hal yang tidak bisa diterima logika kedua temannya adalah ini. Kanaya betah berada di pemakaman untuk waktu yang lama, hal itu kerap dia lakukan jika merindungan sang papa.
Mengikuti langkah sang suami, Kanaya merasakan jemari Ibra bergetar ketika menuju tempat yang dia tuju. Setiap tahunnya Ibra akan ke tempat ini, berbicara banyak hal pada kedua orang tuanya. Apa saja, Ibra seakan berubah menjadi anak kecil yang membutuhkan tempat untuk mengadu di hadapan mereka.
Kini, Ibra datang lebih cepat dari biasanya. Bersama dengan belahan jiwa yang ia kenalkan dengan begitu bangga. Kanaya terenyuh mendengar penuturan Ibra kala mengenalkan dirinya sembari mengusap nisan bertuliskan Sofia itu.
“Mama, Ibra kali ini tidak sendiri … lihat, dia cantik sekali bukan?” tutur Ibra dengan mata yang kini mengembun, menatap sekilas Kanaya yang kini tertunduk menatap pusara.
“Namanya Kanaya, lengkapnya Kanaya Alexandra. Dia istri Ibra, semoga Mama menyayangi dia juga ya.”
Percakapan itu mengiris kalbu Kanaya, sejak tadi kristal bening itu sudah menetes sebelum dia sempat meletakkan rangkaian tulip yang Ibra berikan pada Kanaya sebagai hadiah kepada mendiang ibu mertuanya.
“Oh iya, Kanaya bawa bunga kesukaan Mama, dan ternyata dia juga menyukai bunga yang sama seperti Mama.”
__ADS_1
Benar-benar seperti interkasi kepada seseorang yang masih hidup, batin Kanaya semakin terhenyak kala Ibra memintanya untuk memberikan bunga itu di sana. Ibra yang berkunjung menemui kedua orang tuanya, tapi Kanaya yang banjir bandang.
“Mereka kedua orang tuaku, Nay … Papa meminta dimakamkan di samping Mama meski sewaktu meninggal dia berstatus sebagai suami dari Mama Indira.”
“Papa mencintai Mama Sofia?” tanya Kanaya penasaran, sepertinya asmara orangtua Ibra lebih rumit daripada Ibra sendiri.
“Hm, seperti yang pernah Mas katakan, Papa hanya mencintai Mama … dan dia menikahi Mama Indira hanya demi aku,” jawab Ibra mengelus puncak kepala Kanaya, jika biasanya dia akan kembali dengan hati yang sesakit itu, kini bersama Kanaya dia merasa lebih baik.
Setelah beberapa saat mereka memandangi tempat itu nampaknya Ibra merasa cukup karena cuaca tidak sebaik itu. Udara yang tadi menyejukkan nyatanya adalah tanda bahwa hari akan hujan, sebelum hal yang tidak ingini terjadi lebih baik mereka kembali lebih cepat.
Mereka tidak mungkin kembali jika cuaca seperti ini, mau tidak mau Ibra harus bermalam sementara dan mereka mencari hotel yang tidak begitu jauh dari tempat itu. Kanaya yang memang takut dengan suasana yang begini sejak tadi berusaha memejamkan mata dan mengucapkan berbagai doa sepanjang perjalanan.
“Kita tidur di sini dulu ya? Anggap bulan madu dadakan,” bisik Ibra begitu di telinga Kanaya.
__ADS_1
Kanaya hanya mengangguk, semua keputusan ada di tangan Ibra. Lagipula memaksakan diri untuk pulang sama halnya dengan membuat diri mereka terjebak dalam bahaya. Ibra masih saja terus menenangkannya meski keadaan sebenarnya sudah aman.
“Mas pakaianku gimana?” tanya Kanaya panik duluan, dia belum melakukan apa-apa lagipula ini belum malam, tapi pikirannya justru sudah setakut itu.
“Pakai saja yang ada di tubuhmu sekarang,” jawabnya enteng dan membuat Kanaya mengerutkan dahi.
“Ya masa tidur pakai ini, mana bisa betah, Mas.” Dia frustasi sekali, dan Ibra hanya menatap sekilas istrinya yang kini mulai cerewet lagi.
“Kalau nggak betah, nggak usah pakai baju … kan tidurnya juga cuma sama aku.” Mata Ibra benar-benar menyebalkan, tatapan yang sangat Kanaya pahami apa maksudnya.
“Ngaco kamu.”
“Hahaha, iyaya … tunggu, Jackson bawakan nanti, Nay, sabar.” Bahkan sebelum Kanaya meributkan hal itu, Ibra sudah memikirkannya lebih dulu. Dia saja yang panik berlebihan dan Ibra kerap mengambil kesempataan saat Kanaya seperti ini.
__ADS_1
Tbc