
Ke kiri salah ke kanan salah, semua serba salah. Kanaya yang hamil tapi Ibra juga dibuat kesulitan mencarikan posisi nyaman untuk istrinya. Melihatnya saja sudah sesak sebenarnya, bisa dipastikan kelahiran anaknya tinggal menghitung hari.
Mata Ibra sudah merah, tapi pria itu bertahan dengan rasa kantuknya yang luar biasa. Memastikan istrinya bisa terlelap dengan nyaman, Ibra paham ini cukup membuat lelah, tapi dia lebih paham lagi jika Kanaya lebih lelah.
Kanaya mulai mendengkur halus, barulah dia bisa bernapas lega dan kini merebahkan tubuhnya di sisi Kanaya. Tidur semakin larut dan bangunnya kian pagi, memposisikan diri sebagai suami sebaik mungkin, berat tapi harus dia biasakan.
Membagi waktu antara kerja dan istri, tanggung jawab kian besar dan dia tidak ingin salah satu perannya terabaikan. Kanaya utama, tapi pekerjaan juga penting.
Tenggelam dalam mimpi yang kini perlahan menghampiri, Ibra bisa beristirahat dengan lebih tenang.
Hingga, baru saja terpejam ponselnya berdering dan demi apapun ingin rasanya Ibra menghancurkan benda pipih itu. Berkali-kali, akan tetapi hasilnya masih sama.
"Aarrrggggghhh!! Tidak punya waktu lain atau bagaimana!!" gerutu Ibra sembari meraih ponselnya di atas nakas, kantuknya sebesar gunung dan bisa-bisanya ada seseorang yang mengganggu tidurnya selarut ini.
Ibra memijat pangkal hidungnya, matanya bahkan terasa amat berat. Menjauh beberapa langkah karena takut istrinya akan terbangun, dan dengan malas dia mulai bicara.
"Hm, kau tidak lihat ini jam berapa?"
"Maaf, Tuan ... tapi ini penting sekali."
Ibra menghela napas perlahan, seperti biasa yang akan menghubungi Ibra seenak dengkul adalah Gavin seorang. Entah apa yang kini jadi masalahnya, kesal sekali rasanya jadi Ibra.
"Apa lagi?" tanya Ibra dengan suara seraknya, matanya terpejam dan tangannya kini berkacak pinggang.
"Ini penting sekali, Tuan ... dan tidak bisa ditunda."
"Iya apa? Kau mau aku kubur hidup-hidup atau bagaimana? Mengganggu tidurku saja," tukas Ibra sedikit emosi, hanya emosi dan dia masih menjaga agar suaranya tidak terdengar Kanaya.
"Dimana aku bisa menemukan timun suri malam-malam begini."
Penting kata Gavin? Sungguh Ibra dibuat pusing. Pria itu membuang napas kasar, dimana otak Gavin hingga menanyakan perihal itu. Dari mana Ibra tahu hal-hal semacam itu, sejak kapan Ibra membangun interaksi dengan tukang buah, pikirnya.
__ADS_1
"Mana aku tau!! Adakah pertanyaan yang lebih penting dari itu, Gavin?!" gertak Ibra dengan sedikit menekan kalimatnya, andai saja dekat mungkin sudah dia bakar hidup-hidup.
"Maaf, Tuan ... saya pikir Anda tau, mungkin sewakyu Nona hamil muda dia juga pernah minta timun suri."
"Tidak, dia cuma minta timunku," jawab Ibra asal, lagipula sejak awal kehamilan Kanaya tidak pernah meminta hal macam-macam layaknya Lorenza.
"Heh?!!"
"Sudah berhenti menanyakan hal-hal yang begini, Gavin ... kau bisa tanyakan pada temannya atau adiknya," tutur Ibra kembali pelan, dia benar-benar berusaha agar tidak mengganggu tidur istrinya.
"Baiklah, terima kasih sebelumnya, Tuan."
Tanpa menjawab, Ibra menutup sambungan teleponnya dan kembali ke tempat tidur. Demi Tuhan dia lelah, sangat-sangat lelah. Tulangnya seakan dibuat patah, namun begitu melihat wajah lelap Kanaya semua yang ia rasa seakan hilang seketika.
"Love you, Kanaya ... Mas sayang kamu."
Sebelum kembali tidur, Ibra mengecup hangat kening Kanaya lebih dulu.
"Ya Tuhan ... siapa lagi," omelnya kemudian tururn dari tempat tidur dan meraih ponsel Kanaya.
Kekesalannya semakin menjadi kala melihat nama penelpon yang tertera di sana, Ibra mengepalkan tangannya dan menerima panggilan dengan emosi yang benar-benar membara.
"Hallo, Nona ... maaf saya menghubungi malam-malam begini, kira-kira_"
"Kau benar-benar ingin mati sepertinya, Gavin?"
"Tuan?"
"Istriku tidur, dan berhenti mengusik kami berdua!! Jangan tanya Kanaya karena dia bukan tukang buah!" Kali ini Ibra bicara dengan emosi yang 100 persen dan tidak bisa diselamatkan lagi, pria itu bahkan hampir ingin membanting meja sekalian.
"Saya hanya melakukan saran Anda untuk bertanya kepada teman-teman, Lorenza ... tolonglah, istriku ingin timun suri," keluh Gavin kemudian, pria itu benar-benar meminta sepertinya.
__ADS_1
"Iya besok kau yang mati suri, teman yang lain ... bukan istriku!! Kau benar-benar membuatku sakit kepala, Gavin!!" sentak Ibra kesal bukan main, semenjak Gavin menikah dia justru seakan bertambah istri juga.
"Saya juga sakit kepala, Tuan ... Lorenza semakin meminta hal aneh di waktu yang tidak bisa saya tebak."
"Lalu kenapa kau harus ajak-ajak aku, Gavin? Dia istrimu, kau kira aku tidak punya istri yang harus kupikirkan?!!"
"Jam terbang Anda sudah tinggi, saya butuh bantuan Anda."
Tuuut Tuuuut
"Menyebalkan sekali," ucap Ibra sembari mematikan ponsel Kanaya dengan sedikit emosi.
Bingung sekali menjelaskannya, jika rekan bisnis lainnya akan merepotkan asisten jika istri hamil, mereka justru sebaliknya. Ingin rasanya dia tukar tambah asisten, seperti Reyhan lebih baik dibandingkan Gavin, pikirnya.
"Apa aku minta Gian tukar asisten saja ya."
Ibra bermonolog, sepertinya asisten Dirgantara Avgian sangat bisa diandalkan meski dia sudah menikah. Berbeda dengan Gavin yang justru merepotkan atasan bahkan perkara istrinya ngidam harus jadi pikiran Ibra.
"Sepertinya ini keputusan yang baik," tutur Ibra kemudian, kantuknya yang tadi segunung kini terbang bagai abu. Ini bukan sekali, tapi berkali-kali.
"Mas."
Suara Kanaya terdengar berbeda, mungkin dia merasa terganggu karena kekesalan Ibra. Meski sudah berusaha dia tahan tetap saja terdengar oleh istrinya.
"Iyaa, Sayang ... kenapa bangun? Mas ganggu tidur kamu ya?" tanya Ibra selembut mungkin, wanita itu menggeleng dan menggaruk kepalanya yang memang sedikit gatal.
"Kamu kenapa teriak-teriak, Mas? Udah malem bukannya tidur, aku buat salah ya?" tanya Kanaya lembut seperti biasa seorang Kanaya.
"Enggak, ini ada yang iseng, malem-malem nawarin judi online," ujar Ibra berbohong, karena jika dia jujur bisa jadi dia akan meminta bantuan agar ngidamnya Lorenza terpenuhi.
Tbc
__ADS_1
Saran nama anak Ibra (Cowok-Cewek) Bakal kembar kaya Kama dan Kalila Thor? Belum tau juga, tapi kasih sarannya ya❣️😚