
Merasa terancam? Tentu saja, Lorenza berusaha lepas kala celah itu ada. Wanita itu berhasil berlalu keluar kamar mandi dan napasnya kini terengah-engah. Menatap kesal pintu kamar mandi yang dia tutup paksa sebelumnya, besyukur sekali Gavin tidak ikut muncul di sana.
"Ya Tuhan, berasa dikejar jin."
Lorenza menarik napasnya dalam-dalam, belum apa-apa dia sudah merasa lemas. Bercandanya Gavin berhasil membuat jantungnya tidak aman, dadanya berdebar luar biasa.
Meski demikian, dia sama sekali tidak berani untuk keluar kamar dan mengadu kepada siapapun di rumah ini. Pada akhirnya tidak akan ada yang membela Lorenza, tentu saja Gavin yang menang.
Menenangkan diri cukup lama, sembari suaminya selesai membersihkan diri, Lorenza menyiapkan pakaian untuk Gavin seperti biasa. Ya, dia berusaha untuk menjalankan tugas dalam melayani suami dari hal-hal kecil sebagaimana yang Kanaya ajarkan.
Sayangnya, otak Lorenza memang sedikit berbeda dari Kanaya. Melihat underware sang suami, pikiran Lorenza sudah kemana-mana. Belum lagi, ketika di kamar mandi dia sempat melihat secara langsung, jelas saja bayangannya tentang itu menari-nari.
"Astafirullahaladzim, Lorenza ... sepertinya aku memang kurang iman."
Lorenza menghela napas kasar, malu pada diri sendiri sekaligus malu pada suaminya dalam waktu bersamaan. Wanita itu memejamkan matanya sejenak, berperang antara bayangan tentang hal gila terkait Gavin dan kalimat-kalimat yang menyadarkan dirinya.
"Tenang, jangan dipikirkan, Lorenza! Semakin kamu pikirkan, maka wujudnya semakin nyata." Lorenza bermonolog sembari kembali merapikan susunan pakaian Gavin.
Baru saja dia sejenak tenang, Gavin semakin membuatnya gila kala Lorenza menoleh dan pria itu sudah berada di belakangnya. Persis beberapa centi dan matanya sudah menatap Lorenza begitu lekatnya.
"Mulutnya kenapa gak dipakek sih, ngagetin aja!!" Terbiasa, dia memang akan begitu jika terkejut. Hampir saja telapak tangannya mendarat di dada bidang Gavin, pria itu hanya tersenyum tipis kemudian mengambil alih pakaiannya di tangan Lorenza.
__ADS_1
Suaminya maju dan Lorenza menahan napas, tubuh mereka hampir tak berjarak dan punggung Lorenza sudah membentur lemari, artinya dia tidak mungkin bisa mencari celah lagi.
Tidak ada sepatah kata yang Gavin keluarkan, pria itu menggeser pintu lemari dan membuat Lorenza menatapnya bingung.
"Aku tidak butuh malam ini," ungkap Gavin tiba-tiba sembari melempar asal pakaiannya, nada bicaranya sudah berbeda, dan tatapan mata Gavin sudah tertutup kabut cinta.
"Nggak butuh? Terus kamu tidurnya mau pakek ap...."
Ucapan Lorenza terhenti kala Gavin menjelma menjadi pemain yang kini hendak memulainya. Meraih pinggang Lorenza agar keduanya kian erat daa gerakan itu membuat wanita itu terkesiap.
"Jangan menghindar lagi, kau juga menginginkan ini bukan?"
Lorenza membalas tak mau kalah, rasa malu itu sudah hilang entah kemana. Mengalungkan tangannya di leher Gavin bahkan berjinjit demi bisa membuat suaminya yang tinggi itu tidak sakit leher.
Dengan posisi yang sama, mereka melakukannya cukup lama. Seakan tak memberikan kesempatan istrinya mengambil napas, Lorenza menikmati meski dadanya seakan sesak.
"Napas oon."
Usai istrinya menghela napas panjang, Gavin kembali mengulang aksinya di sana. Takut sekali jika kehilangan kesempatan, Gavin begitu menutut dan Lorenza sedikit kewalahan menghadapinya ketika terjun di lapangan.
Keduanya terbuai deru asmara, tinggal di tempat tidur yang sama dan dalam waktu yang cukup lama membuat gelora itu muncul dengan sendirinya. Lorenza kembali membuka mata kala dia merasa kakinya membentur ujung tempat tidur.
__ADS_1
Belum sempat mempersiapkan diri, Gavin sudah membuat posisinya berbaring tepat di tengah tempat tidur. Tubuhnya yang mungil dan tenaga Gavin yang luar biasa jelas semudah itu membuatnya terhempas.
Pakaian Lorenza terlalu tipis, Gavin berniat membukanya baik-baik namun yang terjadi justru dia merobeknya semudah itu. Lorenza yang menduga itu memang dia sengaja tak terlalu peduli toh dia juga menginginkan hal ini.
Jantung Gavin semakin tidak baik-baik saja kala mendapati pemandangan indah di hadapannya. Ukuran berapa yang Lorenza gunakan hingga membuat miliknya itu sesak, Gavin menepis tangan Lorenza yang mencoba menghalangi pandangannya.
"Haa, jangan dirobek ... mahal, Vin."
Gavin tertawa sumbang, Lorenza memilih membukakan sendiri daripada kacamata merah merona itu Gavin rusak dengan satu tarikan. Biasanya Gavin sabar, kenapa perkara ini dia tidak sabar sama sekali.
Pria itu kian menggila kala tiada sehelai benang yang mengganggu pandangannya. Has*rat Gavin kian membara bersamaan dengan miliknya kian meronta. Lama sekali, mungkin Robert sudah kesal sendiri di balik handuk yang masih bertahan itu.
Semuanya terlalu nyata, Lorenza begitu indah di matanya malam ini. Gavin menenggelamkan wajahnya di dada Lorenza hingga wanita itu menegang seketika.
Ini tidak manusiawi, Gavin tengah membelai bidadari dan Lorenza seakan dibawa terbang sang pangeran. Apapun yang Gavin lakukan pada tubuhnya selalu berhasil membuat Lorenza meracau tak karuan.
Hingga keduanya tak sadar jika mereka sudah sepolos bayi baru lahir. Lorenza melennguh tiada henti kala jemari Gavin menelusuri setiap inci tubuhnya.
"Aarrrgggghhh!! Kamu potong kuku nggak sih?!!" sentak Lorenza 100 persen sadar tiba-tiba kala dia merasakan sakit di bagian intinya akibat ulah jari Gavin.
......... Aww
__ADS_1