
"Kanaya, Mas pulang."
Ibra mendorong pintu pelan-pelan, memang pria itu berbeda dari Kanaya yang kebiasaan membuka pintu dengan tenaga dalam. Kehadiran Ibra kerap tidak diketahui jika pria itu tidak bersuara.
Ibra menarik sudut bibir kala istrinya kini menghampiri dengan wajah penuh damba dan pelukan hangat yang ia berikan tiba-tiba. Wanita itu selalu merindukan Ibra walau hanya berpisah beberapa jam saja, ya dia memang manja akhir-akhir ini.
"Capek?" tanya Kanaya mendongak, menatap wajah sang suami yang tampak baik-baik saja.
Sepertinya Ibra tidak lelah sama sekali, sambutan Kanaya menghapuskan semuanya. Perjalanan yang lumayan seakan tak masalah bagi pria itu, pertemuan dan waktu bersama Kanaya adalah hal utama.
"Nggak, kan udah biasa."
Kanaya mengangguk, wanita itu menarik pergelangan tangan suaminya demi menunjukkan hasil usahanya hari ini. Dengan bermodalkan niat yang sedikit dan bantuan Sulis akhirnya Kanaya dapat menyiapkan makan siang yang tak sedikit itu.
"Tara!! Ini aku masakin buat kamu."
Ibra menganga, bagaimana bisa Kanaya memasak sebanyak ini dalam waktu singkat. Apa mungkin dia tidak lelah, pikir Ibra mendadak ragu perihal istrinya yang kini terlihat bersemangat.
"Kamu semua yang siapin?" tanya Ibra tak percaya, yang ada di sana bukan makanan sederhana yang bisa diselesaikan dalam hitungan menit, dia hanya takut istrinya kelelahan karena terlalu banyak menyiapkan makan siang untuknya.
"He-em, dibantu sama bi Sulis, Mas ... mana bisa aku sendirian."
Melakukan segalanya demi Ibra bisa betah dan mencintainya dari segala sisi. Kanaya takut dan memiliki kekhawatiran yang tak bisa dia ungkapkan. Balada rumah tangga tak selamanya mulus, dia hanya ingin Ibra tidak menyesal melabuhkan cinta padanya.
Dari penampilannya, memang tidak begitu buruk. Untuk wanita yang baru pertama memasak, semua yang tersedia kini dapat dikatakan sempurna. Perihal rasa belakangan, yang penting nyaman di mata, prinsip seorang Kanaya Alexandra.
Terlatih sebagai istri, jika begini terus kemungkinan tubuh Ibra akan mengembang sebentar lagi. Wanita itu belajar banyak bagaimana menempatkan diri sebagai istri, dia tidak punya kesempatan untuk mendapatkan ilmu itu dari Widya, sang mama. Maka dari itu, saat ini Kanaya mendapatkan semuanya dari Sulis, janda anak empat itu begitu sabar menjelaskan dan menberikan wejangan berharga untuk Kanaya.
"Baca doa dulu, takutnya lambung kamu berontak," canda kanaya dengan tawa ringan di sana, jujur dia agak sedikit takut karena dahulu sempat membuat Lorenza masuk rumah sakit usai makan masakannya.
Suapan pertama, Ibra tampak yakin dan tidak ada kerguan sedikitpun. Karena dari penampilannya tidak ada yang salah dari masakan yang Kanaya siapkan dengan susah payah.
Dan tunggu, lidah Ibra perlu beradaptasi. Ini benar-benar makanan manusia? Sungguh ini asin sekali. Bahkan hampir pahit, ini memang selera Kanaya yang salah atau pengawasan Sulis yang tidak siaga.
"Mas? Mukanya kenapa gitu?"
Ibra masih terdiam, hendak jujur tapi dia takut membuat istrinya sedih. Masih berusaha menikmati walau ini akan sangat sulit sekali, Ibra berhasil menelan semua makanan yang ada di mulutnya.
__ADS_1
"Nggak enak ya?" tanya Kanaya lagi, dia tidak mencicipinya, karena Kanaya percaya insting dalam melakukan segala sesuatu.
Melihat suaminya yang hanya mengangguk, Kanaya meragukannya. Hingga dia mencobanya sendiri, dan Kanaya sontak meminta Ibra untuk meghentikan makannya.
"Mas, jangan terusin ... yang lain aja, kenapa jadi seasin ini."
Apa mungkin Kanaya memasukan garam dua kali hingga asinnya di luar nalar, wanita itu merasa bersalah pada suaminya. Beruntung masih ada lauk lain, meski bukan hasil karyanya tapi setidaknya lambung Ibra bisa diselamatkan dengan masakan Sulis.
"Masih bisa dimakan, Nay."
Sesal di mata Kanaya dapat dia lihat, Ibra tidak sedikitpun marah atau kesal dengan apa yang ia alami. Dia menikahi Kanaya bukan untuk menjadi wanita serba bisa dan semuanya harus sempurna.
"Nggak-nggak, kepala kamu sakit nanti."
Kanaya mengganti makan siang Ibra dengan yang baru, walau pada akhirnya tetap masakan Sulis yang jadi juara, setidaknya Kanaya sudah berperang di dapur dengan segenap jiwa raganya.
"Maaf ya, kamu pulang-pulang kecewa."
Ibra tertawa sumbang melihat istrinya semenyesal itu, Kanaya memandangi hasil jerih payahnya yang bisa Ibra tebak kesalahan rasanya akan sama. Kesalahan di awal adalah hal biasa, dan Ibra memaklumi itu apalagi Kanaya bukan wanita yang akrab dengan sosok ibu yang biasanya akan mengajarkan anak perempuan untuk lihai di dapur.
Kalimat penenang yang selalu Ibra temukan demi membuat Kanaya merasa selalu mendapat tempat walau dirinya penuh dengan ketidaksempurnaan. Ibra selalu begitu, di matanya Kanaya tidak pernah salah dan kalaupun dia melakukan kesalahan, dengan suka rela Ibra menerimanya.
-
.
.
.
Meninggalkan pria yang sebegitu sabarnya setelah memiliki wanita dalam hidupnya, kini di sudut bumi yang lain ada jiwa yang bergelora ingin marah dan batin yang ingin berontak dengan segera.
"Mau apa? Marah padaku lagi? Aku tidak punya waktu, Pak Gavin yang terhormat."
Sudah 15 menit Lorenza menunggu, panggilan Gavin yang lagi-lagi memilih tempat yang sama seperti kemarin sempat membuat rekan kerja Lorenza curiga.
"Kau mengadu?"
__ADS_1
Berat sekali rasanya jika mengakui kesalahan dan mengungkapkan kata maaf. Rasanya Gavin kehilangan harga diri jika sampai mengalah dan benar-benar menuruti apa kata Ibra.
"Aku tidak punya waktu untuk cari ribut, kalau cuma mau bahas yang kemarin aku lebih baik permisi."
Trauma dengan tabrakan dari pundak lebar Gavin, dia bahkan masih merasakan nyeri di tubuhnya. Pria sinting itu benar-benar membuat Kanaya tak habis pikir, Kanaya saja memaafkan entah kenapa Gavin yang kesetanan.
Lorenza mundur beberapa langkah ketika Gavin mendekatinya. Tubuh tinggi itu terkadang bisa membuatnya takut seketika, dia perhatikan wajah wanita menyebalkan ini.
"Damn it," umpat Gavin terang-terangan dan membuat Lorenza salah paham.
"Mau ap ...."
"Ssstt, aku belum selesai bicara ... jangan biasakan karena ini adalah bagian dari sifat burukmu yang lain, Lorenza."
Lorenza menepis jari Gavin yang kini menempel di bibirnya, jika hanya pelan tak apa, tapi ini berbeda bahkan kepalanya sampai terdorong karena Gavin menggunakan tenaga.
"Soal kemarin, maafkan aku dan tidak seharusnya aku bersikap kasar padamu."
Mata itu menatapnya lekat, ketampanan Gavin membuat iman lemah Lorenza luluh bahkan sebenarnya dia lupa sekasar apa Gavin kemarin. Wanita itu tak menjawab, dia masih terpukau dengan ciptaan Tuhan yang belum pernah dia tatap sedekat ini.
"Lorenza, kau dengar aku?" tanya Gavin menyadarkan wanita itu, senyum itu tiba-tiba terbit dan pria itu mundur beberapa langkah.
"Bisa kau ulangi?" pinta Lorenza sengaja dan kalimat itu seakan perintah, dia bukan tipe wanita pemalu yang mudah tersipu dan menghindari tatapan pria.
"Ck, kau mempermaikan aku?" Gavin berdecak kesal dan merasa jika ini adalah kesengajaan seorang Lorenza.
"Aku nggak denger, ulangi," desak Lorenza mengikuti langkah Gavin yang tampaknya sudah sangat kesal dengan dirinya.
"Jangan ngelunjak, Lorenza ... syukur-syukur aku bersedia minta maaf."
"Ayolah, lakukan seperti tadi, aku belum memaafkanmu sekarang." Langkah panjang Gavin tak membuatnya putus asa, tak peduli bagaimana pandangan orang lain padanya kini.
"Terserah, aku tidak peduli maafku kau terima atau tidak." Sungguh, dia benar-benar menyesal mengungkapkan maaf pada wanita ini.
Tbc
Seperti biasa, senin, Othor minta sisihkan Votenya buat Mamas Ibra❣️
__ADS_1