Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 1


__ADS_3

Senja itu, aku merasa jauh dari siapapun. berjalan sendiri dijalan kecil setapak hingga tak tahu sampai dimana aku akan melangkahkan kakiku. "aaaaaaa" aku berteriak sekencang-kencangnya diantara pohon-pohon yang menjulang tinggi. Melepaskan segala penat, kekecewaan yang mendera, kesedihan yang bertubi-tubi menghampiriku akhir-akhir ini tanpa bisa aku hindari. Apa yang saat ini aku alami tidak dapat aku elakkan, apa yang harus terjadi memang harus terjadi. Let it happen, begitu kata orang-orang yang selalu kudengar.


"hahahahahaha, aku begitu bodoh tidak menyadari semuanya dari awal, kenapa, kenapa Kai, kenapa kamu begitu tidak peka" tawanya terbahak-bahak disela-sela tangisan yang tak kunjung berhenti. "Apa yang harus aku lakukan setelah ini, apa yang harus aku jalani" gumamku menghapus airmata yang selalu turun tanpa ku minta, deraian tangis sekaligus tawa membuatku semakin terpuruk dan hanya dapat meringkuk beralaskan dedaunan yang cukup tebal berjatuhan dibawah pohon besar yang menjadi sandaran ku saat ini.


Dari kejauhan seseorang melihatku dengan tatapan yang tidak bisa aku mengerti. aku sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitar, tidak terusik dengan suara dan kehadiran orang lain yang mungkin menganggap ku seperti kehilangan akal sehat, aku sama sekali nggak peduli lagi dengan perkataan mereka, aku hanya ingin semakin meringkuk dalam kegelapan.


menjelang dinihari, ponselku berbunyi membawaku ke alam sadar kembali. "ada apa" tanyaku pelan tanpa melihat id caller di ponselku karena aku tidak peduli siapa yang menghubungiku pagi-pagi buta seperti ini, sudah cukup bagiku untuk peduli terhadap orang lain. untuk saat ini aku sama sekali tidak mau melihat orang lain lagi.


"Kau dimana, ayah mu mengkhawatirkan dan menanyakan mu dari tadi" jawab seseorang diseberang dengan nada pelan. aku mengambil nafas panjang sambil menengadah melihat langit yang indah dengan begitu banyak bintang mencoba meraihnya dengan tangan yang bebas terjulur keatas seolah-olah bintang merunduk untuk dapat diambilnya. tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun selama beberapa menit.


"Kaila, jangan seperti anak kecil seperti itu, sudah waktunya kamu kembali ke kenyataan. kamu harus tau masih banyak orang yang menyayangimu" kata seseorang diseberang seperti tidak sabar menunggu suaraku, aku tersenyum sinis mendengar ucapannya yang terdengar klise dan klasik, kata-kata standar yang sering kudengar.


"Hmmm" dehem ku menjawab tidak mau terlibat omong kosong yang membuatku tambah sakit dan muak.


"Ayo kita pulang dan selesaikan masalah ini dengan baik-baik, kamu nggak bisa terus larut seperti ini" kata seseorang itu lagi melihat dari kejauhan.


aku tertawa pelan sambil menangis tidak tau harus berkata apa lagi, segera ku tutup ponselku, terdiam sebentar lalu beranjak dari tempat ku meringkuk dari tadi, seseorang itu berjalan pelan menghampiriku tanpa aku sadari karena terlalu larut dalam perasaaan sesak dan ingin meledak secara bersamaan.


"Kai" panggilnya pelan dari belakang ku, aku menoleh dan refleks mundur kebelakang.


"Kau" ucapku terkejut tidak menyangka dia menemukan keberadaan ku yang aku kira tidak mudah diketahui orang lain, ia tersenyum tipis, aku hanya diam tanpa kata setelah itu dan ia menyadari kecanggungan yang terjadi diantara kita.


"Sejak kapan kau disini" ujarku tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapinya disaat seperti ini, disaat aku tidak bisa menghadapi orang lain, disaat aku tidak mau melihat orang lain, disaat aku tidak tahu harus bersikap terhadap orang lain.


"Saat kau tidak ada di ruangan itu lagi" katanya sambil meraih jemari tanganku untuk mengikutinya melangkah tanpa banyak kata dan aku bagaikan di cucuk hidungnya mengikuti langkahnya tanpa berpikir panjang.

__ADS_1


aku hanya terdiam mengikuti langkahnya yang menuntunku menuju kesuatu tempat yang aku sendiri tidak tahu arahnya, sambil memejamkan mata dan menghapus airmata yang terus turun tanpa diminta. ia melirik sekilas gadis yang bertautan jemari dengannya.


Sunyi menemani kami berjalan tanpa aku tahu arahnya, tidak ada yang memulai percakapan hanya suara binatang malam yang terdengar saling bersahutan, seperti harmoni yang Tuhan ciptakan untuk menemani mereka menikmati malam yang begitu sempurna.


Selama hampir satu jam kami berjalan menuju jalan masuk ke bukit tempatku tadi menghilang sejenak dari hiruk pikuk orang-orang yang memenuhi ruangan yang membuatku sesak dan ingin segera pergi, mobil tidak jauh terparkir di sisi bukit. "ayo masuk" ujarnya membuka pintu mobil samping, aku tertegun menatapnya sesaat dan sama sekali tidak merespon apa yang diucapkannya.


ia mendorong bahuku pelan agar masuk kedalam mobil, menghalangi kepalaku agar tidak terantuk ketika mau masuk. aku hanya duduk diam tidak bersuara, tak lama dia pun masuk dari sisi berbeda, melihatku sejenak dan menghela nafas menatapku datar tanpa kata seraya memasang seat belt untukku. aku pun terdiam tak berbuat apa-apa atau berkata apa-apa lagi, mobil melaju perlahan meninggalkan kawasan perbukitan tanpa ada orang tahu hanya kesunyian dan kesepian menemani mereka berdua.


Selama satu setengah jam perjalanan kami hanya diam membisu, aku menyandarkan kepalaku dan menatap jalanan yang penuh dengan kilau lampu menerangi rumah-rumah dan jalanan yang mereka lalui ditemani alunan musik saxshophone Kenny G terdengar lembut mengalun didalam mobil.


tidak terasa mobil telah memasuki pekarangan yang lumayan luas dimana masih terpasang tenda-tenda putih sehabis acara, tubuhku berjenggit pelan menatap nanar kedepan, ada hati yang teriris sakit, ada tubuh yang seketika lemas, ada kaki yang terasa tidak bisa digerakkan.


biar bagaimanapun ada hati yang tersakiti diatas kebahagiaan orang lain, bagaimanapun ada raga yang terluka dibalik tawa lebar orang lain. sayangnya kebahagiaan dan tawa lebar itu milik saudara kembarnya yang kemarin pagi telah dimiliki oleh seseorang yang dulu mengisi relung hatinya.


aku melangkah keluar dari mobil setelah ia membuka seat belt yang menahan tubuhku untuk tetap berada didalam mobil, melirik sekilas laki-laki yang tadi menemani dan bersamaku dari tadi, dengan pelan aku berjalan kearah pintu rumah yang seakan ingin menelanku bulat-bulat agar aku lenyap dan menghilang.


aku seketika berhenti menunggu apa yang akan terjadi diantara kami, sama-sama terdiam menanti untuk langkah selanjutnya hingga tangan kokoh pria setengah baya itu terbuka lebar mengharap ku untuk masuk memeluknya, airmata yang sudah aku tahan semenjak dalam perjalanan kembali mengalir deras turun kebawah, berjalan mendekat kearahnya dan memeluknya erat menyandarkan beban kepalaku yang tiba-tiba terasa berat dan sesaat kemudian semuanya terlihat mulai kabur dan berganti menjadi gelap. seketika tubuhku ditahan oleh lelaki setengah baya itu, laki-laki yang tadi bersamaku bergerak cepat menopang tubuhku yang melorot kebawah karena tidak sadarkan diri.


"bawa Kaila ke kamarnya" pinta ayah, laki-laki itu membawa tubuh Kaila menuju salah satu kamar dilantai bawah, ayah membukakan pintu kamar, laki-laki itu meletakkannya diranjang yang sudah dibersihkan. "dia tadi kemana" tanya ayah menyelimuti anak gadisnya yang bungsu dengan cover bed hingga separuh tubuhnya, "di bukit" jawab lelaki itu sopan berada disisi yang lain berdiri agak menjauh, ayah memandang Kaila yang terlihat lelah jiwa dan raganya, mengusap wajah Kaila dan mencium kening nya dengan lembut.


"maafkan ayah, Kai. maafkan ayah harus melakukan hal ini kepadamu. ayah tidak ada pilihan antara kamu dan kakakmu" gumam ayah tidak tahu harus bagaimana lagi. "biar Kaila istirahat dulu, kamu juga pasti lelah, terimakasih kasih atas bantuan mu menemukan Kaila" kata ayah sambil menatap laki-laki yang membawa anak gadisnya pulang. Ia mengangguk pelan dan kemudian keluar bersama ayah dan meninggalkan Kaila yang sudah berada diranjang.


"oh ya, apakah kamu akan menginap disini malam ini, ada kamar tamu jika mau menginap" kata ayah menoleh kesamping kanan kearah laki-laki tadi.


"terimakasih om atas tawarannya, tapi saya pulang ke apartement saja. tidak jauh dari sini" geleng laki-laki itu dan kemudian berjalan keluar rumah menuju mobil yang terparkir dihalaman depan.

__ADS_1


ayah Kaila segera naik keatas menuju kamarnya, dengan pelan membuka pintu kamar dan segera tertidur saking lelahnya hari ini menghadapi situasi yang tidak biasa dan harus dilaluinya seorang diri.


hari beranjak semakin siang, Kaila masih tidur dengan nyenyak tidak terganggu oleh sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar. Ia semakin dalam meringkuk ditempat tidur, mencari kelembutan dan aroma mawar putih di kamar yang menenangkan jiwa walau waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang namun Kaila masih meringkuk di ranjangnya. ponsel Kaila berbunyi beberapa kali, telinga nya terganggu sehingga secara refleks tangannya meraba-raba mencari benda pipih yang berbunyi mengganggu.


"hallo" jawab Kaila serak khas bangun tidur.


"mau sampai jam berapa kamu tidur, hmmm. jangan sampai aku memberimu nilai D untuk mata kuliah ku hari ini" ujar seseorang diseberang dengan nada tegas dan berat, Kaila membuka matanya lebar-lebar, mencerna perkataan laki-laki itu sesaat, tergesa-gesa kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. "mampus aku" gumam Kaila akan berlari namun kakinya tidak menapak sempurna ketika turun dari ranjang sehingga terdengar bunyi gedubrak agak keras hingga sampai diujung telepon yang masih tersambung karena lupa dimatikan.


laki-laki yang menelponnya sedikit tertawa mendengar kegaduhan yang diciptakan Kaila pagi ini, dia senang mendengar Kaila tidak ingat masalah kemarin yang membuatnya terpuruk.


Kaila cepat-cepat menyelesaikan mandinya yang sudah kesiangan, meraih bathrobe, menuju walk closet menyambar celana jeans kebanggaannya dan t-shirt polos dipadu outer sepinggang yang terlihat pas di badannya yang tinggi semampai, sneaker putih telah diraihnya dan tas yang ter sampir di sofa dekat ranjangnya.


"minum tehnya dulu non" kata bibi Sum melihat Kaila yang setengah berlari keluar dari rumah. Kaila berhenti sesaat menyambar teh manis buatan bik Sum yang ngangenin dan menemaninya dari kecil.


"makasih bik" senyum Kaila bergegas sembari memakai sneakersnya keluar rumah. diliriknya tenda-tenda putih yang sedang dibongkar, menghampiri mobil yang biasanya dia pakai terparkir sempurna di sisi lain halaman rumah, segera melajukan kendaraannya meninggalkan rumah yang terlihat masih hiruk pikuk.


helaan nafas Kaila masih terdengar ketika sampai di pelataran kampus 20 menit kemudian karena kecepatan mobil diatas rata-rata agar segera sampai, segera ia keluar dan setengah berlari menuju kelas yang akan segera dimulai. mencari kawan-kawannya yang telah duduk sempurna karena 5 menit lagi kelas dimulai oleh dosen pengampu mata kuliah hari ini.


"ngapain sampe ngos-ngosan Kai, tenang aja belum telat" kata Davi, sahabat laki-laki satu-satunya yang menemani selama kuliah.


"tumben kamu telat, biasanya nggak" timbrung Icha, sahabat perempuannya. Kaila meringis kecil mendengar ucapan keduanya karena tidak tahu kejadian kemarin dirumahnya. sebelum mereka mengobrol lebih lanjut, pengampu mata kuliah kenegaraan masuk ke dalam kelas semua mahasiswa seketika diam dan tenang saat pengajar itu masuk. dosen itu melihat seluruh mahasiswanya, "pagi teman-teman" sapanya.


"pagi mas" sapa balik mahasiswanya kemudian ia memulai mata kuliah yang di ampunya. semua mahasiswa terlihat serius dan mendengar dengan baik penyampaian yang diberikan dosen muda tersebut.


hai..... hai..... hai.... all readers terimakasih telah mengunjungi karyaku yang pertama ini. semoga kalian semua menyukainya.

__ADS_1


luv.... luv..... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih semuanya


stay healthy all


__ADS_2