
pagi-pagi sekali kamar hotel Kaila di ketuk-ketuk Kalai dengan intens, "bangun Kai ini udah jam berapa jam 6, Kai.... Kaila...." ketuk Kalai, Icha segera membuka pintu kamar hotel dan membiarkan Kalai masuk. "Kai, bangun.... kita harus segera berangkat ke kediaman Bagaskara, disana kamu akan di touch" kata Kalai membuka cover bed Kaila. "harus sekarang ya... Kal, ini masih terlalu pagi" duduk Kaila sambil memejamkan matanya. "acaranya akan dimulai pukul 10 pagi ini Kai, perjalanan sekitar satu jam, nanti kamu selesai touch jam berapa" tarik Kalai membangunkan Kaila. Kaila memakai sandal dan berjalan kebathroom "harus mandi sekarang Kal" tanya Kaila menoleh ke Kalai sebelum masuk.
"tidak.... nggak usah nanti setiba disana aja jadi kamu masih punya waktu untuk tidur dulu dalam perjalanan" geleng Kalai. Kaila masuk ke bath sedangkan Icha malah kembali ketempat tidur. "Cha, malah tidur lagi sih kita harus siap-siap" tepuk Kalai di pantat Icha. "iya" jawab Icha duduk kembali.
"dah lengkap anak-anak ayah" absen ayah, Kalai mengangguk. mereka segera melakukan perjalanan menuju kediaman Bagaskara. "nggak terasa anak-anak ayah udah pada gede, udah ada yang njagain jadi nggak perlu ayah lagi nih kayaknya" senyum ayah mengelus rambut Kaila, "ayah kalo ngomong suka nggak jelas" kerucut mulut Kaila. "kita masih butuh ayah sampai kapanpun jangan ngerasa udah tua banget deh, yah. jika kita nanti punya anak, itu berarti cucu ayah juga kan maka ayah harus siap-siap jadi kakek yang siaga" kata Kalai cepat. "Kalai duluan yang punya anak yah, Kaila mau kuliah dulu" geleng-geleng Kaila menunjuk Kalai.
"isshhh..... mulut nih.... memang kuliah nggak boleh punya anak apa.... emang ada larangan, punya anak itu anugerah terindah lho Kai. rasanya akan sangat menakjubkan saat kita pertama kali liat baby" sentil kening ayah, Kaila mengerucutkan mulutnya. "dengerin tuh.... kalo orang tua ngomong, kebiasaan kalo ayah ngomong didebat mlulu sih" kata Kalai nyengir. "emang kamu udah ada tanda-tanda nya Kal" tanya Kaila, Kalai menggeleng nyengir. "ishhh..... sok tua banget sih" ucap Kaila menjulurkan lidahnya. "emang aku lebih tua 3 menit daripada kamu" balas Kalai menjulurkan lidahnya. ayah menggelengkan kepalanya melihat kedua kelakuan anaknya jika udah begini, "isshhh..... kalian ini, orang aku yang lahir seorang aja nggak ribet kayak kalian lho..... mami ku tenang aja punya anak aku" kata Icha menengahinya mereka saling pandang dan tertawa ngakak.
"aahh..... jadi kangen besuk masih bisa ngumpul lagi nggak ya" kata Icha, mereka berpelukan bertiga. "besuk kalo ngumpul nggak cuman bertiga lagi tapi banyak baby-baby yang mesti kalian bawa" tawa ayah membayangkan saat itu, "iya ya yah.... seru kali ya.... kalo pada ngumpul nggak tahu hebohnya gimana nanti" lamun Kalai. "jadi berasa tua kan Kal udah mikir punya anak aja" ucap Icha merajuk, mereka tertawa bahagia. "ada yang lagi bahagia juga Kal, kemarin ada yang jadian sama kak Saka tuh" naik turun alis Kaila. "wah.... dah berani selangkah lebih maju nih.... berarti nggak lama kita punya hari sakral lagi" kata Kalai tertawa. Icha memajukan mulutnya. "mikirnya jangan kejauhan, dibawa santai aja" kata Icha mengibaskan tangannya didepan parasnya.
"Kai kita udah sampai" kata Icha menggoyang bahu Kaila pelan, Kaila mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling. "sepi Cha" kata Kaila. "masih pagi ini bu, masih jam 7 lebih dikit. orang kita ke kampus aja jam 8" turun Icha. "ayah sama kal kemana" toleh Kaila mendapati tidak ada sudah tidak ada orang didalam mobil. "makanya tidur mlulu sih, udah pada turun dari tadi. nungguin kamu kelamaan nggak bangun-bangun" kata Icha turun dari mobil, Kaila juga segera turun.
"mau kemana" tanya Icha melihat Kaila mau naik ke atas "mau tidur lagi Cha" kata Kaila memejamkan mata sambil melangkah. "serasa punya anak gadis nih gue ya.... Rabb....." tepuk jidat Icha tidak bisa berbuat apa-apa lagi. "mandi sekarang jangan pake lama. kamarnya disini Kai, abis ini kamu harus di touch dan berpakaian yang rapi" dorong Icha dari belakang. "aku tunggu disini Kai, jangan pake lama ditunggu orang satu rumah kalo kelamaan ini udah hampir jam 8 semua orang juga siap-siap" ujar Icha panjang kali lebar, Kaila hanya menghela nafas panjang. "berasa punya mak-mak tiri gue" ceplos Kaila asal. "amit-amit deh Kai, jangan sampe mending sama jejaka aja" ketuk-ketuk dinding Icha. Kaila tertawa dan masuk kedalam bathroom.
Kalai membuka pintu kamar yang tadi dimasuki Kaila dan Icha "anaknya udah mandi" tanya Kalai, Icha mengangguk. "baru aja Kal, aku mau membersihkan badan juga. tungguin disini nanti dia ketiduran lagi" pesan Icha sebelum keluar kamar. "Ok" angguk Kalai duduk disofa. "nona, stylist nona muda sudah sampai" sapa pekerja rumah Bagaskara hormat.
"morning" ketuk seseorang, Kalai menoleh kearah pintu. "terimakasih, silahkan masuk, bisakah untuk menunggu sebentar, adik saya sedang membersihkan dirinya sebentar" senyum Kalai seraya mengangguk. beberapa perempuan segera masuk dan menata semua keperluan yang diperlukan nanti untuk menata calon pengantin nantinya.
"apa ada yang diperlukan lagi nona" tanya pekerja hati-hati. "tentu, terimakasih, tolong siapkan teh manis panas buat Kaila dan makanan agak berat seperti cake kalo ada dan juga untuk mereka" senyum Kalai, pekerja itu mengangguk hormat dan segera undur diri.
__ADS_1
"Kai" ketuk Kalai, Kaila sudah mengenakan bathrobe dan keluar dari bathroom. "mereka sudah datang" tanya Kaila melihat kamar yang sudah ramai oleh team stylist dan busana untuknya, Kalai mengangguk. "sudah selesai mandinya" toleh salah seorang stylist melihat mereka berdua. "lho.... kalian kembar ternyata" seru salah satu team. Kaila dan Kalai tersenyum.
"calon laki-laki bisa bedain nggak" penasaran salah satu lagi. "bisa dong kak" senyum Kaila duduk ditempat yang sudah disiapkan untuknya. "apa masih sekolah" lihat stylist menatap Kaila dari kaca cermin besar didepannya.
Kaila tersenyum menggeleng "kami sudah 20 tahun kak dan dia sudah lebih dulu menikah beberapa bulan lalu" jelas Kaila menatap Kalai. "what..... 20 tahun. aku kira masih 18 tahunan terlihat masih imut banget jadi iri.... sudah nikah semua ya..... " kaget stylist tidak menyangka, Kaila tersenyum manis. mereka segera mulai untuk bekerja, membuat Kaila lebih terlihat cantik dan auranya keluar dihari pernikahannya, semua bekerja dengan gembira diiringi gurauan serta candaan. Icha juga sudah bergabung setelah membersihkan dirinya, suasana menjadi lebih hidup dan ceria membuat mereka seperti tidak ada beban hidup yang mereka hadapi.
Kaila ditangani disudut yang berbeda sedangkan Icha dan Kalai diletakkan tidak jauh dari Kaila, setelah semuanya selesai mereka bertiga terlihat cantik dan menawan dibalut kebaya dengan tradisi timur menjadi lebih kentara sedangkan para orang tua ditangani oleh stylist yang berbeda. "kamu terlihat berbeda Kai" senyum Icha. Kaila tersenyum, "kalian juga sangat cantik jangan lupa untuk mengabadikan moment girls" peluk Kaila hati-hati, Kalai dan Icha tersenyum.
"hampir jam 10, bentar lagi mas Pram mau ucap akad" kata Icha melihat layar ponselnya. "sejak tadi tidak lepas dari kak Saka" cibir Kalai, Icha menjulurkan lidahnya sedangkan Kaila merasa jantungnya berdetak lebih cepat. dan tangannya terasa dingin saat menunggu detik-detik pengucapan ikrar suci yang diucapkan Pram untuk meminangnya. "aku cemas nih" tatap Kaila kuatir. "tenang Kai.... mas Pram sudah berlatih dengan tekun kayak mau ujian negara" tepuk-tepuk tangan Icha menyakinkan Kaila. "aku keluar bentar untuk menemani ayah dan kak Arga ya..... habis akad aku kesini lagi menjemputmu" senyum Kalai. "iya, lupa kalo udah punya suami" angguk Icha nyengir, Kalai tersenyum lebar.
"duh.... bisa lancar nggak ya.... ngucapinnya" ujar Kaila gemetar akibat nervous. "yakin dong Kai, dia mimpin perusahaan gede aja bisa, ngajar didepan ratusan mahasiswa bisa. kenapa ucap ikrar akad bentar doang nggak bisa. trust me it work" ucap Icha menirukan iklan komersil yang sering ditayangin. Kaila memukul lengan Icha pelan, Icha tersenyum garing. mereka berdua masih berada diruangan yang sama menunggu kata sah yang diucapkan penghulu.
bapak penghulu memulai acara dengan membacakan doa sebelum akad akan dilaksanakan. semua orang menjadi hening dan khidmat mendengar rangkaian acara dari pembukaan, pembacaan ayat suci, doa kepada kedua calon pengantin untuk menjadi keluarga yang baik karena telah menyempurnakan ajaran agamanya dengan menikah hingga mengucap janji akad nikah yang dilakukan Pram.
Pram menjabat tangan ayah sebagai wali nikah Kaila yang sah untuk menikahkan Kaila dengan pemuda pilihannya saatnya akan mengucapkan kalimat sakral akad dimulai.
"saya terima nikah dan kawinnya Kaila dara Prayoga binti Dirga Prayoga......" ucap Pram lantang dalam satu tarikan nafas. "bagaimana saudara-saudara saksi...... sah......" tanya penghulu menoleh kekanan dan kekiri meminta pendapat orang yang menjadi saksi pernikahan Pram.
"sah....." jawab mereka serempak. semua memanjatkan doa setelah dinyatakan sah dituntun oleh bapak penghulu. Kalai menjemput Kaila untuk duduk bersanding dengan Pram. ketika mereka mulai menapaki jalan yang dibuat indah, semua mata langsung tertuju pada kehadiran ketiga gadis yang berjalan menuju tempat akad berlangsung. dibalut dengan kebaya putih tulang, Kaila terlihat sangat menawan berbeda dengan keseharian Kaila yang apa adanya, hari istimewa ini dia terlihat sangat cantik menawan.
__ADS_1
Pram menatap Kaila tanpa berkedip melihat Kaila yang terlihat anggun dan terlihat sangat berbeda. saat mengucapkan janji akad tadi hatinya berdebar, jantungnya berdetak lebih kencang, tegang sekali namun begitu melihat Kaila yang berjalan mendekat kearahnya semuanya hilang terbang pergi menjauh. Kaila duduk disamping Pram dengan di pandu oleh seorang team acara yang selalu berada disisi nya selama acara agar Kaila dapat mengikuti prosesi akad dengan lancar dan nyaman.
Kalai duduk disamping Arga yang tersenyum dan menggenggam erat tangan Kalai mengecupnya lama, Icha melangkah menuju kedua orang tuanya duduk namun Saka mengiringi langkahnya dengan meraih pinggangnya dan menuntunnya kesamping dia duduk, Icha menatap tanpa kata.
Pram memakaikan cincin pernikahan bertahtakan berlian-berlian biru yang langka, memiliki desain yang unik dan elegan ke jari manis kiri Kaila begitu juga dengan Kaila memakaikan cincin Pram yang desainnya hampir sama dengan miliknya kemudian mencium tangan Pram sebagai tanda hormatnya pada sang suami. Pram mencium kening Kaila lembut menatapnya dalam dan menyatukan kening mereka sebentar. mereka melakukan semua prosesi acara demi acara dengan baik dan lancar. acara berjalan dengan lancar dan khidmat. Pram selalu menggenggam jemari Kaila selama prosesi acara dan tak lupa selalu menyunggingkan senyum kepada semua orang yang hadir.
pemandangan baru bagi yang hadir melihat senyuman dan tawa Pram yang mendominasi acara akad nikah pagi itu, karena Pram biasanya terlihat dingin dan datar. tapi hari ini mereka berdua terlihat berbeda, aura yang menyelimuti kedua pembelai sangat terlihat dengan jelas. hingga para tamu yang menghadiri acara ikut merasakan kedamaian dan kebahagiaan kedua pembelai yang baru saja sah menjadi suami dan istri itu. para orang tua yang didatangi Kaila dan Pram untuk meminta restu merasakan perasaan haru yang membahagiakan. mommy menitikkan air mata melihat prosesi yang dilakukan Pram tadi, dirinya merasa bahagia, anaknya telah menemukan gadis yang baik dan tepat untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama.
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita pertama kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya pertama ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...
__ADS_1