
Pram mengecup rambut Kaila membiarkannya tidur dengan nyenyak sebelum dirinya menyusul ayahnya ke Bekasi. "Kai, ponselmu berdering" tepuk pipi Pram pelan membangunkan Kaila yang masih tertidur. "hmmm.... jam berapa" geliat Kaila mengerjapkan matanya. "jam 9" jawab Pram, Kaila memejamkan matanya meraih ponsel di nakas. "hallo, yah" sapa Kaila, "hmmm... ini mau berangkat dengan kak Pram. iya, nanti Kai cariin" tutup Kaila kembali tertidur dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya.
Pram mengelus kepala Kaila dan membiarkannya tidur sesaat lagi, ia bersiap untuk terlebih dahulu sebelum Kaila bangun.
"gimana jadi berangkat sekarang" berdiri Pram dihadapan Kaila yang sudah berganti pakaian mengenakan Hoodie, Kaila mengangguk memakai sneakers hitamnya. "ayah nyuruh nyariin kopi dan makanan kecil buat team nya" pandang Kaila setelah menautkan tali sneakersnya, Pram mengelus rambut Kaila. "apa kita nanti akan menginap" tanya Pram menatap Kaila, "kemungkinan sih kak. nggak mungkin kita bolak-balik kesana kemari" angguk Kaila, "jadi apa kamu sudah membawa pakaian ganti" senyum Pram, Kaila menepuk dahinya ingat. "aahhh..... iya kak, tadi kan nggak sempat pulang, nanti beli aja dijalan" tatap Kaila, "mana ada toko pakaian buka malam-malam Kai" ketuk kening Pram, meraih bahu Kaila dan mendorong nya masuk kedalam kamar menuju walk closetnya, "ngapain sih kak...." tanya Kaila bergerak maju didorong oleh Pram.
"bentar..... bentar kak..... kenapa ada banyak pakaian perempuan disini" lihat Kaila terdapat deretan pakaian perempuan di dalam walk closet Pram, Pram mengendikkan bahunya bersandar dipintu ruang penyimpanan pakaiannya. "for U" senyum Pram, Kaila membalik badannya menatap Pram sambil menunjuk dirinya sendiri, Pram menganggukkan kepalanya. "just for U, berjaga-jaga jika kamu datang kesini tapi tidak membawa pakaian" jawab Pram, dari mana kakak tau ukuranku" jawab Kaila mengerutkan keningnya menyentuh pakaian-pakaian yang dipersiapkan Pram untuknya. "hmmmm..... let's see.... saat kamu dijemput ayah dan Kalai kesini sehabis dari bukit, saat aku menyentuhmu dan saat kita menunggu kalian memilih underwear saat itu" raih pinggang Pram, Kaila terkejut menatap Pram lekat.
"apakah aku bisa mendapatkan hadiahku sekarang, Kai" senyum Pram menatap manik mata Kaila yang terbuka lebar, Kaila mendorong tubuh Pram agar tidak terlalu dekat namun dirinya kalah kuat. "kamu mencoba berlari dariku honey" kata Pram, Kaila mengangguk. "ayo kita berangkat, nanti terlalu lama kita sampai" hela nafas Kaila, Pram meraih tengkuk Kaila dan memberi sesapan di bibir yang menjadi kesukaan nya, "aku hanya menginginkanmu sekarang" sayu Pram menatap Kaila dan kembali melakukannya, Pram mengangkat tubuh Kaila dan mendudukkan ditengah ruangan, melepas Hoodie yang melekat ditubuh Kaila, "kak" tatap Kaila menggelengkan kepalanya pelan, Pram kembali memberikan sentuhan yang membuat Kaila mencengkeram rambut Pram menahan getaran, Pram memainkan benda kenyal candunya membuat Kaila semakin lemas. Pram menahan tubuh Kaila agar duduk dengan tegak diatas pangkuannya.
"honey" usap punggung Pram menatap Kaila, ia membuka matanya pelan menatap wajah Pram, "aku akan berhenti, aku tidak akan bisa terlalu jauh lagi. itu akan membuatmu tersakiti nanti" kecup bibir Pram sekilas, Kaila melingkarkan tangannya ke leher Pram dan memeluknya erat. Pram tersenyum mengusap punggung Kaila berulang kali. "pake t-shirt hitam panjang ini" ambil Pram dan segera memakaikan nya ketubuh Kaila yang hanya memakai underwear bra. menyiapkan tas jinjing kecil, memasukkan perlengkapan kedalamnya beserta pakaian ganti untuknya dan Kaila. mengambil Hoodie hitam sepasang untuk Kaila dan dirinya nanti.
mereka menuju box ajaib untuk tiba di lantai basement apartement mengambil mobil. Pram mengaitkan seat belt Kaila sebelum mereka keluar dari parkiran. "kita berangkat" senyum Pram mengusap pipi Kaila sembari melajukan mobilnya dengan sedikit kencang. "kak, jika lelah. biar aku yang gantiin" pandang Kaila, "aku masih bisa Kai, tenang aja" senyum Pram menatap Kaila balik. "aku menerima moment saat kamu spa" kata Pram memperlihatkan ponselnya, Kaila terkejut dan melihatnya, "haa...... siapa yang ngambil" pandang Kaila, "hmmm.... kerjaan mereka berdua ini pasti... dasar.... siapa lagi kalo bukan Icha dan Kalai saat aku tertidur" gumam Kaila kesal. "tapi aku menyukainya" senyum Pram, Kaila mendengus pelan melihat ponselnya. ia baru tahu jika dirinyalah yang mengirimnya ke ponsel Pram.
"aku tidak suka saat Bram memegang bahu mu honey, jika tidak dikampus sudah aku patahkan tangannya" kesal Pram, Kaila tertawa pelan. "aku juga tidak suka kamu memegang tubuhku" jawab Kaila pelan. "itu berbeda, yang" elak Pram, Kaila membelalakkan matanya tidak percaya dengan jawaban Pram. selama perjalanan mereka ngobrol dan mendebatkan banyak hal.
"kak, masih ada kedai kopi yang buka" tunjuk Kaila beberapa meter sebelum sampai didepan kedai, Pram menepikan mobilnya. mereka turun dan memesan minuman untuk dibawa. "maaf, apakah makanannya masih ada" tanya Kaila hati-hati.
"masih, apakah mau pesan juga, jika begitu silahkan untuk mencatatnya" angguk penjaga kedai.
"bisakah juga take away" tanya Kaila. "bisa kak, tentu saja" angguk penjaga tersenyum.
"bisakah saya memesan yang masih ada saja" tanya Kaila.
"tentu saja bisa" senyum penjaga.
__ADS_1
"terima kasih, itu sangat membantu" senyum Kaila.
"silahkan ditunggu" angguk penjaga.
"silahkan diminum selama menunggu kak" senyum penjaga kedai menaruh minuman di meja, Kaila mengangguk dan meminumnya. "kak, mau kopi hitam gak" toleh Kaila, Pram menggelengkan kepalanya. "ini sudah cukup" minum Pram, Kaila mengangguk.
"kenapa Kal" salam Kaila.
"aku keproyek ayah" kata Kaila.
"ya..... tidak pulang malam ini, hmmmm.... Ok" akhiri panggilan Kaila.
"hallo yah" salam Kaila
"ini baru pesen minuman, yah" jawab Kaila pelan.
"ya..... siap" tutup Kaila menghela nafasnya panjang.
"kenapa" rengkuh bahu Pram. "ayah nggak percaya kak Pram ikut" geleng-geleng kepala Kaila. "biasanya kamu kemana-mana sendiri" tanya Pram, Kaila mengangguk menyesap kopi hitamnya, Pram mengusap-usap punggung Kaila.
"pesanannya sudah siap kak" kata penjaga kedai.
"terimakasih" angguk Kaila menyelesaikan pembayarannya.
"terimakasih kakak, silahkan datang kembali" senyum penjaga, Kaila mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"masih jauh, honey" tanya Pram, Kaila menggeleng "tinggal beberapa meter lagi" jawab Kaila meminum kopinya.
"kak Arden" sampai Kaila, "hai, akhirnya datang" senyum Arden. "mana ayah" buka bagasi Kaila. "mungkin baru istirahat" jawab Arden membantu Kaila mengeluarkan minuman. "sendirian" tanya Arden. "tuh.... ada orang segede gaban gitu nggak kliatan apa... ayah bilang harus membawa dia" jawab Kaila kesal, Arden tertawa. "bagus dong, daripada patah hati terus" pandang Arden. "tidak terlalu buruk untuk merasakan patah hati kak" senyum Kaila melangkah. "sudah sembuh rupanya" acak rambut Arden. "lulus kak" tawa Kaila lebar.
Pram berjalan mendekat kearah mereka dengan membawa pesanan yang masih tertinggal di bagasi mobil. "hai Arden" sapa Arden melihat Pram, "Pram" angguk Pram membantu Kaila meletakkan pesanan diatas meja, "ada trouble apaan kak" tanya Kaila duduk. para pekerja segera mendekat dan mengambil minuman dan makanan, Kaila tersenyum menyambut mereka. "ada yang bocor disalah satu titik lokasi pipa" jawab Arden mengambil minuman. "apa Kris sudah melihatnya" tanya Kaila memastikan. "sudah dia sekarang masih dititik itu" angguk Arden minum. "kalo begitu biar aku juga melihatnya" berdiri Kaila. "kunci motor mana kak" tanya Kaila mengulurkan tangannya kearah Arden. "pak Prayoga nggak ngijinin Kai" geleng Arden, "tuh...." tunjuk Kaila ke arah Pram. "ada dimotor" jawab Arden menghela nafas.
"kak, kita liat ke titik lokasi" taut jemari Kaila. "kenapa" tanya Pram mengerutkan keningnya mengikuti langkah Kaila, "mau ketemu Kris" senyum Kaila, "siapa lagi Kai" hembus nafas Pram. "asisten kak arden" naik motor Kaila, Pram melajukan motor dengan kecepatan pelan. "berasa riding lagi" peluk Kaila, Pram mengusap-usap tangan Kaila yang melingkar di pinggangnya. "siapa Kris" tanya Pram pingin tahu. "orang tehnik yang membantu kak Arden mengatasi kerusakan" jawab Kaila. tak lama mereka sampai di lokasi yang terdapat lima orang pekerja sedang mengamati sesuatu.
"Kris" panggil Kaila, Kris menoleh cepat. "sudah datang Kai" lambai Kris tersenyum lebar, Kaila tersenyum mendekat. "gimana" jongkok Kaila disamping Kris. "sudah ketemu titiknya, seharian ini mencari lokasinya ternyata disini" tunjuk Kris. "kembali ke camp yuk, kopi udah ada" pandang Kaila. "bentar lagi" geleng Kris mengamati kebocoran. "cuman minum doang bentar nggak lama" senyum Kaila menyikut bahu Kris pelan. "lihatlah begitu banyak bintang, indah bukan" dongak Kris menatap langit yang cerah, Kaila mendongak menatap langit. Pram melihatnya dari agak jauh sembari mengecek pekerjaan ponselnya.
"bagaimana keadaanmu setelah patah hati" tawa pelan Kris, Kaila tersenyum lebar. "kak Arden tadi juga nanya hal yang sama, setelah teriak-teriak dan menangis, semua itu hilang tak berbekas, hanya bahagia melihat mereka" angkat bahu Kaila. "aku melihatmu bersamanya saat pernikahan Kalai" isyarat dagu Kris kearah Pram yang berada agak jauh dari mereka, Kaila menoleh kearah Pram. "ceritanya tidak seindah kelihatannya Kris, kebetulan dia menemaniku saat itu" geleng Kaila menghembuskan nafas.
"hingga kau tidak dapat melihat pria lain di sekitarmu" senyum Kris menatap Kaila, "salah..... aku melihat Ayah, kak Arden, kau, temen kampus, tuh para pekerja, kak Han dirumah" tawa Kaila, "begitu bahagianya kah ditinggal Arga nikah dengan Kalai" toleh Kris. Kaila menghembuskan nafasnya pelan "aku tidak suka dengan pengkhianatan Kris. tentu saja aku merasa sakit hati, tapi aku sekarang bersyukur, jika Tuhan tidak menunjukkan hal itu padaku aku mungkin tidak ada disini" ujar Kaila melihat langit yang cerah. "kamu terlihat lebih dewasa Kai" toleh Kris, Kaila tertawa pelan. "karena keadaan bukan" kata Kaila, Kris tersenyum. "Kak Pram" panggil Kaila, Pram mendekat duduk disamping Kaila.
"Kris, kak pram" saling perkenalkan Kaila, Pram dan Kris saling mengangguk. "estimasi perbaikan berapa hari Kris" tanya Kaila. "sekitar 3-4 hari, kenapa.... mau disini aja.... mbolos kuliah lagi" tawa Kris. "sepertinya" tawa Kaila renyah. "kamu nggak kasihan sama pak Prayoga mengurusi kuliahmu. mending dulu di tehnik biar sekalian kerja" senyum Kris. "nggak asik ahhh.... masak kak Arden dan kamu sudah di tehnik, aku juga iya. mending jadi Dubes aja bisa liat kota besar didunia" geleng Kaila, "masih sama aja impiannya, trus apa hubungannya dengan naik gunung terus" kata Kris tertawa. "hanya ingin menikmati keindahan ciptaan Tuhan, Kris. kan ada banyak tempat-tempat menarik yang Tuhan ciptakan, sayang dilewatkan" geleng kepala Kaila, "ayo ah.... udah jam 2 nih, pulang ke camp" berdiri Kaila. Pram dan Kris sama-sama berdiri. "kita nginep disini kak" kata Kaila. "tidur dimana" tanya Pram. "mobil lah" jawab Kaila cepat "apa biasanya juga begitu" tanya Pram, "kadang-kadang, jika mendesak. biasanya tidur bareng Ayah" geleng Kaila. "apa Arga dulu sering menemanimu" tanya Pram pelan, "tidak, kita hanya bertemu jika kita menginginkan nya, selebihnya kita jalan sendiri-sendiri" geleng Kaila.
"kamu tidur dimana Kai" tanya Kris meminum minuman. "mobil aja, pagi-pagi dia harus balik, jadi sekalian" minum air mineral Kaila menatap Kris "apa besuk kesini" tanya Kris memakan makanan. "mungkin, ada diskusi bareng temen dikampus jam 4 sore. jika masih ada waktu, pasti kesini. kasihan Ayah sendiri" angguk Kaila.
"Kai, tidur sekarang. biar Kris istirahat juga. besuk pagi kalian masih harus melihat lokasi" senyum Pram. "Ok kak, aku rebahan dulu dah jam 3 an aja" rentang tangan Kaila ke atas, Kris mengangguk menatap mereka.
"kakak bawa cover bed" liat Kaila saat Pram mengeluarkan cover tebal. "he em.... takut kamu kedinginan" senyum Pram, Kaila segera melepas sneakersnya, meletakkan disisi dalam kursi. "apa kakak mau pulang, biar aku disini" toleh Kaila melihat Pram, "nggak, tempat ternyaman ku adalah memelukmu saat tidur" jawab Pram. Kaila menutupi tubuh mereka dengan cover segera memejamkan matanya, "Kris kelihatan menyukaimu Kai" desah nafas Pram menatap Kaila. "kakak juga menyukaiku kan" jawab Kaila tak bergeming. "aku mencintaimu Kai bukan menyukaimu" toleh Pram.
"kenapa kamu jadi gini sih kak" desah nafas Kaila. "padahal melihatmu pertama kalinya udah membuatku segan, penampilanmu yang terkesan dingin, cool, datar banget, cuek. kayaknya asyik nih orangnya" tawa Kaila membuka matanya. "because I'm falling in love with you at first sight" pandang Pram, Kaila menoleh menatap Pram. "aku tidak" pejam mata Kaila sesaat kemudian. Pram menghela nafasnya menatap punggung Kaila yang memunggunginya.
hai..... hai.... hai..... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya.
__ADS_1
luv...... luv..... luv..... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all