
"sweetie" panggil daddy, Kaila mengelap tangannya dan berjalan mendekati mertuanya yang mencarinya. "kenapa dad" tanya Kaila. daddy menoleh tersenyum melihat kedatangan Kaila dari dapur.
"kemana mereka berempat" tanya daddy yang sudah tampak rapi dengan pakaian santai. "ada didepan dad, menunggu yang lain untuk jalan pagi, Kai sedang menyiapkan makanan untuk mereka saat jalan nanti" senyum Kaila, daddy melambaikan tangan dan segera berjalan kearah depan. Kaila tertawa pelan dan kembali ke dapur untuk melihat makanan ke empat baby nya.
"nona, makanan sudah selesai dan diletakkan dimasing-masing tempatnya, apakah bisa dibawa sekarang" tanya bik Sum, Kaila mengangguk.
"tentu bik, letakkan dibox mereka. agar lebih mudah nantinya" jawab Kaila meminum air mineral dengan cepat. "honey, mereka menunggumu" longok kepala Pram, Kaila mengangguk dan beranjak keluar dari dapur besar mereka.
"kita pergi dulu bik, terimakasih sudah mulai merepotkan semuanya hari ini" senyum Kaila melambaikan tangan, bik Sum tersenyum lebar menggeleng.
Kaila berjalan keluar halaman dan menatap keluarga besarnya yang sedang bersiap untuk membawa ke empat baby dilingkungan barunya. "astaga naga, banyak banget orangnya" tatap Kaila tidak percaya, Pram tersenyum meraih jemari istrinya untuk mengikuti langkah mereka semua.
"apa ini satu kompleks rumah ikut semua" tanya Kaila terpaksa berjalan, Pram mengangguk. "mereka terlalu antusias untuk membawa baby melihat hal baru" jawab Pram, Kalai melambaikan tangannya senang sambil berjalan disamping Wilaga. Kaila tertawa menutup mulutnya melihat wajah-wajah ceria keluarganya berjalan dengan semangat membawa keempat baby menuju lapangan kompleks.
"yang, mau makan apa" tunjuk Pram, Kaila menoleh dan melihat deretan penjual makanan yang sangat dirindukannya. "aahhh, di sana tidak ada begini" tawa Kaila pelan, Pram mengangguk dan membawa Kaila berjalan meninggalkan rombongan mereka yang berjalan pelan. "kalian tidak usah bersama kami, tetap didalam rombongan. aku dan Kaila cuman makan sebentar dan akan kembali segera" toleh Pram, penjaga Kaila mengangguk dan kembali didalam rombongan keluarga besar mereka.
"let's see, mau makan apa" lihat Kaila sembari mengetukkan jemari telunjuk di dagunya bingung mau yang mana dulu. Pram menuntun bahu Kaila menuju pedagang siomay yang berada tidak jauh darinya, ia segera memesan satu porsi makanan itu. Kaila tergelak pelan menghirup aroma yang keluar dari tempat pengukusan siomay.
"terimakasih telah memilih untukku" tatap Kaila, Pram menyuapi istrinya dengan tenang. beberapa pasangan yang berada disekitarnya melihat dengan berbagai tatapan yang tidak bisa diartikan.
"honey, what if we live here and occasionally check the conditions there without bringing the kids" suapi Pram, Kaila mengangguk mengerti maksud perkataan suaminya itu.
"aku ikut aja by, jika mereka sudah tahu berbagai kegiatan maka akan lebih mudah memberitahu mereka" jawab Kaila, Pram mengusap ujung bibir Kaila yang terdapat bumbu siomay. "bayar honey, kita harus segera menyusul mereka atau kita nanti akan tertinggal jauh" tatap Pram, Kaila mengeluarkan uang dari kantong celananya dan segera meletakkan di gerobak mamang siomay. mereka setengah berlari mengejar keluarga yang berjalan lebih dahulu. penjaga Kaila segera mengulurkan botol air mineral kepada Pram yang segera membukanya dan meneguknya kemudian menyerahkan kepada Kaila.
"kamu akan kembali kuliah lagi, yang" tanya Pram, Kaila menoleh. "apa kakak yang akan mengajariku lagi nanti" naik turunkan alis Kaila menggoda suaminya, Pram tersenyum.
"aku akan menunggu mereka sekolah juga, jadi kita bis berangkat sama-sama saat pagi hari. mengantar mereka ke sekolah lalu ke kampus, angan-angan yang terlalu sempurna. kita lihat saja nanti, by. aku sedang menikmati menjadi momi mereka dengan segala hiruk pikuk yang menggetarkan jiwa" desah nafas Kaila. mereka tertawa saling berpandangan.
"akhirnya duduk juga" hela nafas ayah melihat ke empat cucunya sedang mengoceh melihat beberapa anak-anak yang sedang berlarian dan bermain kesana kemari. Kalai memberi ayah semangkuk bubur ayam yang mangkal di dekat mereka.
"kamu makan apa, Kai" toleh ayah melihat makanan Kaila. Kaila menyuapi ayahnya bubur kacang hijau. "hhmm" angguk ayah merasakan makanan Kaila. Pram mengecek keadaan empat babynya.
Arga menghampiri Pram dan bermain dengan keempat baby, "Kai" panggil Kalai, Kaila menatap Kalai. "apakah kalian akan tinggal disini lagi" tanya Kalai pelan, Kaila mengangguk mengunyah bubur kacang hijaunya.
"semoga, tidak ada yang berubah pikiran" hela nafas Kaila melihat ketiga orang dewasa yang bersamanya pulang ke Indonesia. Kalai tertawa kecil mendengar jawaban saudara kembarnya.
"bagaimana magangmu, apakah lancar" tanya Kaila, Kalai mengangguk pelan. "tidak begitu banyak kendala, terkadang Arga yang menjemput ku saat pulang kerja. seperti pasangan muda yang sedang pacaran" senyum Kalai, Kaila tertawa pelan mengangguk.
"aku senang mendengar kalian berdua semakin romantis. jadi selamat berjuang untuk mendapat dua garis merah" ucap Kaila memberi semangat dengan jemarinya, Kalai melakukan hal yang sama dengan saudara kembarnya itu. mereka tertawa terbahak-bahak.
"mereka sama sekali tidak rewel walau momi nya tidak berada disamping mereka" lihat mama Arga, Kaila mengangguk meminum air mineralnya.
__ADS_1
"kebiasaan dengan banyak orang disekelilingnya, ma. jadi mereka terbiasa asalkan momi nya terlihat mereka merasa aman" senyum Kaila menatap mama Arga yang sudah terlihat lebih baik kesehatannya.
empat tahun berlalu dengan cepat, setiap saat mereka lalui dengan berbagai kegiatan dan kesibukan yang menyenangkan dan membuat gembira orang rumah. disaat pagi hari semua orang akan sibuk karena harus mengurus kegiatan mereka masing-masing. Kaila mengurus keempat buah hatinya dengan berbagai pengalaman baru sebagai seorang momi.
ditahun itu juga mereka diberi kabar gembira Kalai sedang membawa seorang baby didalam perutnya.
"momi" datang Pramana memeluk Kaila yang sedang membantu Kirana menata rambutnya model kepang.
"ada apa kak" kecup kening Kaila menatap putra pertamanya yang sudah berpakaian rapi untuk ke sekolah.
"bolehkah aku nanti lebih lama di school untuk pergi ke library" tanya Pramana meminta ijin, Kaila menatap Pramana lekat.
"how many hours do you want to be in the library, kak" usap pipi Kaila, "just 2 hours mom" senyum Pramana, Kaila mengangguk.
"kalo begitu nanti momi kasih tahu penjaga mu agar menunggu dua jam lebih lama" tanya Kaila, Pramana mengangguk berulangkali.
"apa adek juga ingin bersama kak Pramana" tanya Kaila menatap Kirana dari kaca besar didepannya, Kirana menggeleng. "aku ingin belajar karate mom, aku ingin mencobanya saat kakak di library nanti" tatap Kirana dari kaca besar didepannya, Kaila menghela nafasnya mengangguk memberi tanda setuju. Wijaya dan Wilaga sedang memakai sepatu saat Kaila mendekat.
"are you done my boy" senyum Kaila melihat kedua buah hatinya yang lain, Wilaga tersenyum mengangguk dan memeluk momi nya dengan segera setelah menyelesaikannya. Kaila mengecup ubun-ubun rambut anaknya itu bergantian.
Pram memeluk satu persatu anak-anaknya sebelum mereka duduk di meja makan dengan yang lain.
"no, boy. bunda tidak bisa melihat nasi saat ini, karena adek baby tidak mau melihat kita sarapan" geleng kepala Arga mengusap rambut Wilaga yang mengangguk mengerti. Kaila meletakkan sarapan Pram didepannya. diikuti oleh para pekerja rumah yang meletakkan sarapan di semua orang yang ada dimeja makan.
"apakah kalian akan berpamitan dengan bunda, sebelum berangkat" senyum Kaila menatap keempat buah hatinya yang sedang sarapan dengan lahap. "tentu mom, bunda dan adek baby pasti akan senang melihat kita berangkat sekolah" angguk Wijaya.
"honey, kita antar mereka dulu baru nanti akan ada meet dengan teman-teman" pandang Pram, Kaila mengangguk.
"mom, kita akan naik apa hari ini. apakah akan naik mobil kakek lagi" tanya Wilaga antusias saat mereka keluar dari rumah.
"apakah kalian ingin naik mobil badak itu" tawa Kaila menaruh kedua tangannya di pinggang sambil menatap ke empat anaknya yang lebih suka memakai mobil proyek kakeknya yang sudah dekil. mereka tertawa mengangguk bersemangat.
"baiklah, ayo kita berangkat" seru Kaila bersemangat. mereka segera menaiki mobil kakek dan berebutan duduk di depan.
"bagaimana kalo kita bergiliran untuk duduk didepan. dua orang didepan dengan popi, dua orang dibelakang dengan momi" usul Pram melihat keempat buah hatinya. mereka segera melakukan suit untuk menentukan siapa yang duduk didepan dan dibelakang.
"Ok kalo begitu, pagi ini kak Pramana dan kak Wijaya yang akan didepan kak Wilaga dan adek Kirana akan duduk dibelakang, setalah pulang sekolah nanti akan bergantian" senyum Kaila menatap mereka berempat dan segera memposisikan dirinya untuk duduk. Pram tersenyum menatap keempat buah hatinya yang menurut jika Kaila memberi mereka arahan.
"popi, apakah nanti akan jemput kita sekolah" tanya Wilaga melihat keluar jendela mobil. "tentu kak, semoga Tuhan mengijinkan popi dan momi menjemput kalian nanti, sebelum kalian pulang kami akan bertemu dengan teman-teman untuk membahas pekerjaan. apakah boleh" toleh Pram sesaat. Wilaga menatap popinya dan mengangguk.
"boleh pop, kita ketemu lagi setelah pulang sekolah nanti" senyumnya ceria. Pram tertawa mengangguk.
__ADS_1
"apa liburan nanti kita akan pergi mengunjungi granddad dan grandmom, pop" tanya Kirana pelan, Kaila mengusap punggung tangan anak perempuan satu-satunya itu lembut. "tentu sweetie, kenapa. apakah kamu merindukan mereka" tanya Kaila pelan, Kirana mengangguk.
"tentu mom, Kirana lama tidak melihat mereka, tapi jika kita pergi siapa yang akan menemani kakek, dan bunda yang sedang sakit" toleh Kirana, Kaila tersenyum memeluk anak perempuannya itu.
"thank you my sweetie sudah berbagi kasih sayang dengan yang lain. nanti kita hubungi grand dad dan grand mom dulu, apakah mereka sedang sibuk atau tidak" tatap Kaila, Kirana mengangguk mengerti.
tiba disekolah Kaila dan Pram mengantar ke empat buah hatinya masuk kedalam ruangan yang sudah ditunggu oleh beberapa pengampu school mereka. Kaila membalas sapaan para teacher dan menerima beberapa penjelasan terkait ke empat buah hatinya sebelum benar-benar melangkah meninggalkan mereka berempat di ruangan yang berbeda.
Pram menunggu dengan setia saat melihat ke empat buah hatinya dan istrinya sedang berinteraksi dengan para teacher mereka.
"honey, sudah" senyum Pram, Kaila tersenyum menghampiri suaminya dan segera meninggalkan halaman school.
"by, bisakah kita naik motor saat pergi keluar. biar penjaga yang membawa kendaraan ini nanti saat menjemput baby" toleh Kaila sebelum Pram menjalankan kendaraan badak ayah Kaila, "tentu honey, agar tidak lama diperjalanan nanti kan" tanya Pram, Kaila mengangguk pelan.
"Kal" ketuk pintu Kaila pelan, Kalai menyahut dari dalam agar ia masuk. Kaila melongokkan kepalanya saat pintu terbuka sedikit, Kalai yang melihatnya hanya tersenyum kecil melihat kelakuan saudaranya.
"bagaimana keadaanmu" dekat Kaila dan duduk ditepi ranjang, Kalai mengangguk pelan. "aku sekarang baru tahu bagaimana beratnya perjalanan menjadi seorang bunda" tatap Kalai, Kaila tersenyum dan memberi pijatan lembut di telapak kaki Kalai.
"kita jadi tahu bagaimana momi membawa dan memberdayakan kita dulu" tatap Kalai, Kaila mengangguk pelan.
"apa kak Arga sudah berangkat" tanya Kaila merasa tidak enak, Kalai menggeleng. "dia ada di ruang kerjanya sekarang, jika tidak mendesak, maka tidak akan keluar" jawab Kalai mengerti, Kaila tersenyum.
"kamu menginginkan apa, Kal. adakah sesuatu yang bisa aku lakukan" tanya Kaila menatap Kalai yang berbaring duduk diranjang nya lemah.
"apapun yang aku mau sudah mereka penuhi Kai, jangan kuatir. keempat baby mu jika pulang selalu membawa makanan yang membuatku merasa senang. entah, kenapa jika mereka membawa apapun makanan bisa aku makan" senyum Kalai lebar, Kaila tertawa pelan.
"disekolah mereka juga bercerita kepada teacher kalo bundanya tidak bisa sarapan, jadi mereka membeli yang mereka temui di perjalanan pulang dan kamu tahu, para penjaga mereka malah yang memberi saran saat mereka akan membeli makanan, aku dan kak Pram hanya tertawa melihat ulah mereka" kata Kaila mengingat ulah mereka, Kalai tersenyum.
"dulu perasaan waktu kamu membawa mereka tidak begini, Kai" tanya Kalai, Kaila menggeleng. "no, sama aja Kal, karena sudah lama jadi kamu tidak mengingat dengan jelas bagaimana dulu aku juga sepertimu saat ini" geleng Kaila, Kalai mengangguk.
"honey, kita harus berangkat agar nanti siang bisa menjemput para baby" longok kepala Pram, mereka berdua menoleh kearah pintu melihat Pram.
"baiklah kak. Kal, aku pergi menemani kak Pram dulu. saat para baby pulang aku bisa menjemput mereka nanti" kata Kaila, Kalai mengangguk mengerti.
"hati-hati dijalan. ayah pasti akan kesini sebentar lagi" kata Kalai, Kaila tersenyum melambaikan tangan meninggalkan ruangan pribadi Kalai.
Hai..... Hai.... Hai.... all readers terimakasih masih setia mengunjungi karyaku ini.
Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all
__ADS_1