Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 86


__ADS_3

Kalai memeluk hangat Kaila saat mereka berjumpa di kedai bubur kacang hijau di pengkolan gang arah kerumah, Kaila tertawa melihat mereka datang dengan lengkap, "Ayah membangunkan mu Kal" lihat Kaila menatap Kalai yang memakai t-shirt rumah, Kalai mengangguk dan duduk disebelahnya. "Ayah mampir ke sebelah membeli bubur ayam" kata Kalai. "ish .... kakek satu itu kalo udah makan lupa anaknya" kata Kaila memakan bubur kacang hijaunya "aku kira kalian ambil penerbangan nanti sore" minum air mineral Arga. "besuk ada rapat sebentar jadi biar Kaila nggak terlalu capek" jawab Pram, Kaila nyengir.


"Kai, kemarin aku ketemu baju lucu udah aku taruh diruang tengah" kata Kalai. "ya ampun Kal, kamu mau buka butik. baju yang kamu bawa pulang lebih dari cukup" pandang Kaila tidak tahu lagi bagaimana mengerem Kalai yang selalu membeli baju hamil untuknya. Kalai tertawa kecil "habisnya suka nggak tahan kalo lihat yang unyu-unyu, bawaannya pingin bawa pulang aja" kata Kalai mengunyah buburnya.


Ayah datang membawa bubur ayamnya "banyak amat yah, amat aja makannya nggak banyak-banyak gitu" pandang Kaila. "amat-amat yang ada dirumah ada yang pesen bubur ayam, bubur kacang hijau sama jajanan pasar lain" jawab Ayah. "iya juga sih yah, padahal dirumah pasti udah masak juga, nggak tau tuh kalo ada makanan apa aja bisa habis nggak tersisa" kata Kalai. "orang yang tukang makan udah pulang, pasti masaknya jadi banyak" isyarat Ayah ke arah Kaila yang memanyunkan mulutnya.


"iya.. ya.. yah, sampai lupa. tapi heran deh yah, larinya makanan kemana ya, kok nggak ke badan. perutnya juga nggak besar banget kayak hamil kembar tiga gitu, kadang heran juga, nanti triplets bobot badannya gimana pas lahir nanti, apa cukup beratnya" kata Kalai menoleh kearah Kaila. "ini udah chubby yah, Kal, lihat pipinya udah nggembung gini, apa nggak ada yang liat" tepuk pipi Kaila. "kamu kalo gendut dikit cuman lari ke pipi, nggak ke badan Kai" cubit Kalai gemas.


"kamu emang nggak, badan sebelas dua belas lho sama kayak aku juga" kata Kaila. "iiihhh.... aku selalu lebih dua kilo darimu kalo nimbang badan" kata Kalai menjulur lidah merasa menang. Ayah segera menyuapkan bubur ayam kemulut Kaila dan Kalai bergantian. Pram dan Arga tersenyum tertahan melihat istrinya saling membanggakan berat badannya yang lebih berat, padahal banyak wanita yang justru menyingkir ketika ditanya kenaikan berat badannya.


"kenapa mereka malah merasa bangga kalo badannya yang paling berat" hembus nafas Arga melihat Kalai yang makan dengan lahap, Pram mengangkat bahunya pertanda tidak mengerti jalan pikiran dua saudara kembar itu. "apa nanti triplets akan jadi rebutan para perempuan dirumah ya.... melihat para perempuan dengan karakter seperti mereka" pandang Pram tidak tahu bagaimana nanti anak-anaknya menghadapi para perempuan dirumahnya kelak.


"aku harap nanti triplets tidak akan kelelahan badannya diciumi oleh para mommy" hela nafas Arga, Pram mengangguk mengiyakan.


"Ayah mau dong satenya" kata Kaila menunjuk beberapa tusuk sate yang dibawa Ayahnya. "ya elah Kai, nanti beli lagi dong satenya" pandang Ayah melihat sate yang dibawanya. "iya yah, nanti beli lagi biar kak Pram yang akan membelinya" tawa Kaila menerima bungkusan sate pendamping bubur ayam yang dibeli ayahnya tadi, Pram menunjuk dirinya sendiri saat mendengar namanya disebutkan oleh Kaila.


beberapa orang yang mengenal keluarga Prayoga menyapa saat bertemu, sedikit obrolan selalu mereka lontarkan untuk menyapa tetangga kanan-kiri mereka. "pulang Kai" tanya Pram, Kaila mengangguk dan segera beranjak dari tempat duduknya. Pram membantu istrinya untuk berjalan keluar dari kedai. "honey, aku mau langsung keatas" kata Kaila berjalan pelan menuju box ajaib. Pram mengangguk, "aku disini sebentar menyelesaikan bawaan" kata Pram, Kaila melambaikan tangannya. ia segera menuju bathroom sesampainya dikamar dan meletakkan pakaian kotor kedalam box laundry, memakai t-shirt Pram yang longgar, merebahkan diri diranjang setengah bersandar agar nyaman punggungnya.


"dah pulang Kai" sapa Icha setelah Kaila melambaikan tangan dilayar ponsel nya.


"dah, baru aja abis makan diujung gang rumah kamu dimana" tanya Kaila menatap Icha.


"kemana lagi kalo bukan di Bandung, nemenin mami berkunjung" manyun Icha. Kaila tertawa melihat ekspresi Icha yang terlihat kesepian.


"nggak janjian sama kak Saka buat nemenin" tanya Kaila, Icha menggeleng


"dia ada acara sendiri di Jakarta Kai, lagian aku juga bentar lagi pulang karena besuk ada bimbingan pagi" kata Icha menatap layar ponselnya.


"siapa honey" tanya Pram menuju kamar mandi.


"tumben suamimu nggak disamping" tanya Icha mendengar suara Pram dari kejauhan.


"barusan dari rumah Ayah bongkar bawaan dari Jogja, baju kotor" jawab Kaila. Icha hanya manggut-manggut.

__ADS_1


"kamu beneran berangkat minggu depan ke Inggris, Kai" tanya Icha, Kaila mengangguk.


"jika aku wisuda kamu dateng nggak" tanya Icha.


"tentu saja, jangan kuatir nanti triplets akan menemani aunty nya" senyum Kaila, Icha menggerutu dibelakang tidak suka dengan panggilan itu. Kaila tertawa kecil melihat ekspresi Icha yang tidak suka


"kenapa nggak kakak aja sih Kai, kayak tua banget aku" kata Icha pura-pura sedih. Kaila tertawa lebar mendengar jawaban Icha.


"nggak papa, It's fine, ntar triplet manggil kak Saka om aja, dirimu kakak. jadi nanti kalo kalian punya anak juga harus memanggilku dan kak Pram dengan sebutan kakak" angguk Kaila santai, Icha ngedumel nggak jelas mendengar perkataan Kaila.


"how Bandung Cha, nggak jalan-jalan gitu liat yang bening-bening" senyum Kaila menaik turunkan alisnya. Icha tertawa kecil dan menganggukkan kepala.


"udah tentu saja, wajib itu mah hukumnya nongkrong bareng sepupu. tapi nggak asiknya tuh kak Saka dikit-dikit hubungi aku udah pulang apa belum setiap setengah jam coba, bikin kesel banget kan" kata Icha meluapkan emosinya, Kaila mendengarkan Icha dengan tenang. Pram berbaring disamping Kaila dan mengelus perutnya.


"kan emang begitu cowok keluarga Bagaskara, nggak suka miliknya disentuh orang lain" jawab Kaila mengusap kepala Pram.


"nggak gitu banget juga dong Kai, percaya sama pasangannya aja kenapa. toh aku sudah memilih dia untuk menjalin hubungan karena aku memiliki perasaan lebih dan menganggap dia spesial di hatiku kan" ungkap Icha. Kaila menganggukkan kepalanya.


"aku lupa jika kamu juga mengalaminya terkadang membuatku tidak bisa bergerak bebas, kamu tau sendiri kan gimana perasaannya. it's toxic menurutku" hembus nafas Icha.


"apa kamu sudah menemukan yang kamu cari didalam hidup" pandang Kaila, Icha menatap layar ponselnya. "kamu harus berdamai dengan dirimu sendiri. just healing your heart untuk menerima dirimu sendiri dulu. kamu tau kenapa, ini hidupmu setiap langkah pasti ada resikonya. just make peace in your heart" kata Kaila. Pram menciumi perut Kaila yang membawa triplets didalamnya, perut Kaila bergerak kesana kemari.


"setiap hubungan pasti akan ada sebuah keposesifan. dirimu juga sama akan merasakan ketidak suka an ketika kak Saka melakukan hal yang sama" kata Kaila.


"jangan merasa senang, by. terkadang keposesifan kalian membuat kita tidak bisa bernafas" pandang Kaila melihat Pram yang tersenyum lebar.


"mas Pram disitu" tanya Icha mengerutkan kening. Kaila mengangguk, "nggak bisa lepas dari perutku nih. bentar lagi juga udah keluar" senyum Kaila.


"inget nggak ketika bapak satu ini dengan berbagai alasan selalu berada disekitar saat aku terpuruk" topang dagu Kaila, Icha mengangguk.


"dan kamu juga tahu bagaimana aku berusaha untuk pergi dan menghindar jauh darinya" tanya Kaila, Pram tertawa lebar mendengar curhatan dua sahabat itu. Icha ikutan tertawa.


"kok kita begini ya, kenapa juga bisa terjerat dua saudara Bagaskara, aku aja nggak tau kalo mereka sodaraan" pandang Icha sambil rebahan. Kaila mengangguk pelan.

__ADS_1


"me too. tau nya hanya numpang lewat aja kayak cowok lainnya, no hurt feeling sebenarnya" jawab Kaila.


"tapi ngomong-ngomong kenapa kamu bisa terpesona sama mas Pram sih, kalo cuma tampang nggak kalah tuh cowok-cowok yang suka dan nembak kamu Kai, kenapa harus Pramudya Bagaskara coba. kamu juga nggak tau kan latar belakang dia sebelumnya, secara dekat aja nggak, kenal untuk ngobrol aja kagak" tanya Icha penasaran kenapa Kaila bisa luluh terhadap Pram.


"karena dia memilihku menjadi imamnya Cha, bukan kekasih nya" ujar Pram tiba-tiba. Icha tertawa terbahak-bahak, Kaila mengelus rambut Pram yang menempel diperutnya.


"terus kenapa mas kalo Kai memilihmu menjadi imamnya" tanya Icha penasaran.


"maka dia harus menundukkan pandangannya selain pada imamnya" ucap Pram jelas, Icha menghela nafasnya panjang.


"kenapa kamu memilih mas Pram, Kai. kamu belum menjawabnya" pandang Icha.


"nggak tau Cha, ketika nggak sengaja melihatnya dari jauh saat dikampus. ada sesuatu yang berbeda, hatiku tidak bisa berkata tidak" hembus nafas Kaila, Pram menatap Kaila tersenyum.


"itu namanya jodoh honey, seberapapun kamu menolak, menjauh dan mengabaikan ku pada akhirnya yang bersatu tidak dapat dipisahkan" ujar Pram lembut. Kaila menganggukkan kepalanya berat.


"Cha, kayaknya bumil mau tidur, kepalanya udah tenggelam di alas tidur" raih ponsel Pram dan memperlihatkannya pada Icha, Icha tertawa kecil.


"oke deh mas, dia sekarang gampang tidur tapi susah tidur kalo malam, besuk aku bawain oleh-oleh" kata Icha menutup ponselnya. Pram menganggukkan kepala dan meletakkan ponsel Kaila diatas nakas disamping tempat tidur, memeluk Kaila yang telah tertidur dengan nyenyak.


"pada kemana yah" jalan Kaila menuju pantry. "mungkin jalan sebentar, ayah tadi keluar sebentar jadi nggak tau mereka kemana" kata Ayah melihat Kaila yang berjalan mengambil makanan ringan. "kopi hitam aja bik" senyum Kaila ketika bik Sum mendekatinya. Kaila melihat para penjaganya berada dihalaman depan bersama dengan para penjaga lainnya.


"pada ngapain yah" isyarat Kaila melihat para pekerja yang sedang asyik berkerumun. "mereka sedang adu panco, rumah jadi ramai kalo lengkap gini. ayah seneng banget rumah jadi hidup" kata Ayah tersenyum lebar.


"jadi nggak pengen pergi ke Inggris kalo gini yah" makan cemilan Kaila. Ayah mengelus rambut putri bungsunya, "kamu harus mementingkan keselamatan triplets Kai, jika ayah jadi Pram maka ayah juga akan melakukan hal yang sama karena menyangkut empat nyawa. momi dulu juga berjuang dengan sekuat tenaga, Ayah sampai tidak bisa berkata apa-apa melihat perjuangan momi mu mengeluarkan kalian" kata Ayah, Kaila meneteskan air mata.


"aahhh si cengeng datang lagi, nanti Pram ngira Ayah yang membuatmu menangis. perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya sangat mulia Kai, tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. itu sangat menakjubkan" senyum Ayah. seorang pekerja rumah membawakan kopi hitam Kaila dan beberapa cake lembut.


"berapa penjaga yang kali ini dibawa" tanya Ayah menatap Kaila, Kaila mengacungkan dua jarinya. "karena disana sudah ada pengawal bayangan Bagaskara kan" tawa Ayah. Kaila tersenyum kecil. "Ayah beruntung memiliki menantu yang menyayangi anak Ayah begitu hebat, hati Ayah menjadi tenang" kata Ayah mengusap perut Kaila.


hai ..... hai ..... hai ..... all readers, luv U all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak. selamat menikmati cerita pertama kalang di sini jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat. dukung yaaa... karya pertama ku.


luv .... luv .... luv ...... U all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..

__ADS_1


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2