
Kaila melihat layar ponselnya saat ada panggilan chat masuk "kenapa kak" salam Kaila.
"dimana" tanya Pram.
"ada dicafe dekat kampus" jawab Kaila.
"dengan siapa" tanya Pram.
"kak Saka dan icha" makan Kaila, Pram mematikan ponselnya.
"Pram" toleh Saka, Kaila mengangguk.
"10 menit" lihat waktu Saka. motor Pram terlihat diparkiran depan, ia segera menuju meja Kaila.
"7 menit, not bad" lihat Saka ketika Pram menuju meja.
"haaa...." hempas tubuh Pram, Kaila menyodorkan ice tea lemon nya, Pram meminumnya sampai habis, Kaila memanggil penjaga cafe untuk memesan ice tea lemon kembali. "kenapa bisa dia ada disini" tanya Pram menatap Kaila. "emang kamu aja yang bisa dekat dengan Kaila" lipat tangan Saka didada, Pram meminum ice tea nya.
"besuk jadi ke Jawa, Kai" tanya Pram tidak memperdulikan Saka. "iya, ayah udah mengijinkan" angguk Kaila memakan makanannya. "nanti malam aku kerumah" tatap Pram. "biasanya juga langsung datang, kenapa minta ijin segala, tumben" tanya Kaila, Pram terdiam.
"kau juga ikut" tanya Saka menoleh menatap Icha, "tentu saja, walau hanya di penginapan" cengir Icha, "nggak mau naik gunung juga" tanya Saka, Icha menggelengkan kepalanya. "udah takut duluan" senyum Icha.
"habis ini pada mau kemana" tanya Pram. "pulang, udah jam 2" jawab Kaila pelan. "pulang bareng aku aja" kata Pram. "kan bawa mobil kak" alasan Kaila agar tidak berdua dengan Pram.
"mobil biar aku pake, kak Saka juga langsung balik kantornya" kata Icha dengan cepat mengetahui tatapan Pram yang akan memakan habis Kaila jika dia berani menolaknya lagi. Kaila mengeluarkan kunci mobil Bumblebee miliknya dengan menatap Icha kesal, kenapa tidak membantunya untuk segera pergi dari Pram, Icha nyengir melihat tatapan keduanya. "akhir-akhir ini kenapa yang mbawa Bumblebee hitamku kamu ya Cha" sungut Kaila.
"tenang, aman. lagian kamu mau minta Bumblebee yang seri apapun gampang. tinggal kedip mata datang tuh" senyum-senyum Icha melirik Pram. "kenapa sekarang kamu suka nggak jelas kalo ngomong" tatap Kaila tidak suka.
"udah selesai belum" pandang Pram tidak mau berlama-lama, "aaaisshhhh...... ini barusan sampai, makanan juga baru datang kak" minum Kaila menatap Pram dengan pandangan kesal, "kirain udah dari tadi datangnya" kata Pram tersenyum. "kelas Kaila baru aja selesai, Icha dan aku janjian disini, makanya dia nyusul nggak lama kamu datang" jawab Saka memberitahu, "kenapa tadi nggak ngajak aku Kai" toleh Pram, Kaila makan dengan tenang sambil memainkan ponselnya tanpa terlibat percakapan dengan mereka. "anak ini kalo udah makan, lupa sekitar" pandang Pram, "tapi sayang kan mas" celutuk Icha senyum-senyum. "banget" jawab Pram tanpa sadar, Icha tertawa lebar, Saka tersenyum lebar mendengar jawaban Pram barusan.
__ADS_1
"kalian kenapa" lihat Kaila sekilas, "tuh, dosen gue bucin sama sahabat gue" isyarat dagu Icha, Kaila menoleh kearah Pram yang selalu menatapnya. "makan honey biar chubby dikit" senyum Pram, Saka dan Icha tertawa terbahak-bahak. "aku doain, kalian lebih parah dari ku bucinnya" tatap Pram datar melihat dua orang yang ada didepannya.
"kalian kenapa" makan Kaila tidak mengerti dengan mereka bertiga, Pram menggelengkan kepalanya.
"laper Kai" tunjuk Pram, Kaila menyuapi Pram, "besuk jam berapa berangkatnya" tanya Pram menerima suapan Kaila. "sore, biar bisa istirahat dulu, paginya berangkat menuju basecamp gunung" jawab Kaila. "berapa hari kamu pergi" tanya Pram. "kurang lebih 3-4 hari jika tidak ada halangan cuaca diluar kendali kita" kata Kaila. "kenapa harus berangkat Kai" nggak tenang Pram. "ini pertama kali kakak melihatku naik, kuatir, takut dan pikiran jelek lain pasti selalu ada, jangan bebani rasa itu dihati" senyum Kaila. "aaaahhh.... so sweet" liat Icha mencubit pipi Saka, Saka cemberut. Pram menoleh kearah lain, tersenyum bahagia.
"Cha, aku duluan ya" lambai tangan Kaila, Icha membalas lambaiannya. "kak, pulang dulu. ketemu sore nanti ditempat Kaila" pamit Icha, Saka mengecup kening Icha sebelum dia masuk kedalam mobil Kaila, beriringan meninggalkan pelataran cafe.
"ngapain kita kesini" turun Kaila dari motor.
"mommy pesen sesuatu disini, suruh ngambil" tautkan jemari pram.
"London kan ada" kata Kaila mengikuti langkah Pram yang mengangkat bahunya
"siang tuan" salam penjaga hormat, Kaila mengangguk sopan.
"tuan Bagaskara" sapa pemilik butik perhiasan menyambut kedatangan mereka berdua, tersenyum melihat Kaila. "selamat datang nona, senang kiranya anda sudi untuk menginjakkan kaki di butik kecil saya" salam pemilik hormat. Kaila tersenyum canggung, tidak biasa dengan basa-basi kelas atas, ia merapat lebih dalam ke sisi Pram, pemilik butik mengeluarkan sebuah cincin mungil yang elegan. Pram meraih cincin itu dan meraih jemari Kaila. "kenapa" kerut Kaila menahan jari tangannya sebelum Pram memasukkan cincin itu Kejari manisnya. "jari mom hampir sama denganmu" pasang Pram dijari Kaila.
"ayo" raih jemari Pram, Kaila mengikuti kembali langkah Pram, "kita ke apartement dulu, kita pulang kerumah sekitar malam" kata Pram. "tidak, langsung pulang aja. mau cek keperluan buat besuk kak" geleng Kaila. "baiklah, tunggu aku nanti dirumah. jangan pergi janjian dengan orang lain" angguk Pram mengiyakan, "Davi akan datang bersama Bram sore nanti jam 5" jawab Kaila memakai helmetnya, "apa.... tidak.... jangan" toleh Pram cepat. "isshhh.... kenapa sih kakak, beberapa hari ini juga sibuk dengan mereka" kerut Kaila membuka visornya menatap Pram. "sore ini hanya untukku jangan bertemu dengan yang lain. beberapa hari kedepan kamu akan bersama mereka" pandang Pram, Kaila memutar bola matanya jengah. "bentar, aku hubungi mereka dulu" ambil ponsel Kaila mengetik sesuatu. "dah, aku sudah men chat mereka" angguk Kaila memasukkan kembali ponselnya ke sling bag nya. Pram segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
sore hari
"Kai" ketuk Kalai membuka pintu kamar Kaila, "anak ini udah mau kewajiban petang juga, masih tidur" angkat tangan Kalai di pinggang. "bangun tukang tidur, ada pangeran tuh didepan" tepuk pantat Kaila, "5 menit lagi yah" gumam Kaila menarik cover nya lebih keatas lagi. "isshhh..... dikira ayah lagi, tuh ayah ada didepan" tarik tangan Kalai.Kaila menyandarkan tubuhnya di dinding. "jam berapa" pejam mata Kaila, "jam 5 lebih" jawab Kalai duduk disamping Kaila.
"non dicari non Icha" ketuk bik Sum,
"ngapain bik, tumben sore gini" tidur Kaila lagi. "anak ini tidur kayak panda. sepanjang hari" tepuk pipi Kalai.
"Kai.... ya.... elah belum bangun juga" masuk Icha kedalam kamar Kaila,
__ADS_1
"bangunin deh Cha, nggak mempan. aku ambil bajunya dulu" keluar Kalai, Icha mengangguk.
"ikut nggak Kai, mau diajak Ayah hangout 'bareng nih sebelum lu naik gunung" duduk Icha disofa dekat ranjang Kaila. "kenapa ayah nggak bilang" "buka mata Kaila. "tumben ayah ngajak sore, biasanya malam" tanya Kaila heran. "ini jam berapa Kai, bentar lagi juga malam, kamu juga belum mandi kan" sentil kening Icha, Kaila manyun. "aku tunggu didepan dengan kak Saka" keluar Icha. "what" balik badan Kaila menatap punggung Icha yang tertawa, melambaikan tangan, Kaila segera beranjak masuk ke bathroom. "kenapa dengan orang rumah hari ini. pakaian aja mesti disiapin segala" garuk-garuk rambut Kaila.
"Kai, ditunggu semua orang ini udah hampir jam 7 dodol" buka pintu Kalai, Kaila menghembuskan nafasnya panjang menatap Kalai, "kenapa harus ribet gini sih Kal, kayak biasa aja kenapa formal gini" gerutu Kaila saat didorong pelan Kalai menuju ruang tengah. Kalai memberi isyarat dengan dagunya agar Kaila melihat kedepan, Kaila menoleh cepat keruang tengah seketika berdiri mematung menatap beberapa orang yang sedang menatap mereka dan menunggu kehadirannya. Kalai meraih jemari tangan Kaila untuk duduk didekat Ayah, Kaila menatap Pram tajam. Pram menyunggingkan senyum melihat tatapan Kaila.
"karena Kaila sudah ditengah-tengah kita, maka ijinkan saya sebagai wakil dari keluarga Bagaskara ingin menyampaikan maksud kedatangan kami kemari untuk meminang nak Kaila menjadi istri dari putera kami Pramudya Bagaskara" jelas seseorang, Kaila terhenyak mendengar perkataan itu, seketika terdiam. acara berlangsung penuh dengan kehangatan, Kaila diperkenalkan dengan kedua orangtua Pram yang datang pagi tadi. kedua orang tua Saka yang ternyata sepupu Pram. orang tua Arga, orangtua Icha.
Kaila memakai cincin yang tadi siang diambil dari butik perhiasan dan beberapa barang lain yang dibawa oleh keluarga Pram. Kaila selalu tersenyum mendengar obrolan dan sesekali menanggapinya.
"ahh...." hempas tubuh Kaila pelan menyandarkan kepalanya di kursi depan kolam ikan. Pram mendekati Kaila, "Kai" duduk Pram, Kaila terdiam tidak menanggapi perkataan Pram. ia menyodorkan minuman teh manis, Kaila menerima dan segera meminumnya.
"kenapa nggak bilang sebelumnya Pramudya Bagaskara" ucap Kaila pelan. Pram tertawa mendengar ucapan Kaila yang memanggil namanya. "kan kamu sudah setuju untuk menikah denganku" tatap Pram, Kaila menghela nafas panjang dan berat. "jangan dilepas lagi cincinnya, dimanapun dan kapanpun" elus cincin Pram.
"kenapa nggak bilang padaku perihal ini, aku sama sekali tidak tahu, padahal itu melibatkan ku didalamnya" tatap Kaila marah, Pram tersenyum.
"aku besuk naik gunung lho kak, jika aku tiba-tiba berangkat tadi siang bagaimana ayah ku mempunyai muka dihadapan orang tuamu kak.... maka aku yang akan jadi anak tidak berbakti" kata Kaila. Pram meraih bahu Kaila memeluknya erat. "maaf aku tidak ingin memberitahumu soal ini, karena pasti kamu menolaknya" usap punggung Pram, "bagaimana aku bisa berkata tidak jika dihadapan mereka kak, apa aku akan membuat ayah sedih" Kaila menangis meluapkan amarahnya, Pram mengecupi rambut Kaila. "maaf, yang.... maaf.... kamu pasti tidak akan mau jika aku memberitahumu sebelumnya" usap airmata Pram. "kakak udah tahu kalau aku tidak mau, kenapa masih melakukannya" dorong Kaila, Pram mempererat pelukannya. Kaila sesenggukan didada Pram. "aku akan mendaki besuk, masak pake cincin gini" ingat Kaila menatap cincin kecil pemberian Pram.
"tidak ada yang melarang naik gunung harus lepas cincin kan, lagian itu nggak mengganggu aktifitas tanganmu" bela Pram pada dirinya sendiri, "kamu mau mandi, pergi, naik gunung, kemanapun. jangan dilepas" ingatkan Pram menghapus airmata Kaila. "ribet banget sih kak" pandang Kaila, Pram menggelengkan kepalanya, Kaila membuang wajahnya menatap Saka dan Icha yang sedang bergurau dengan Kalai. "mau kemana" tahan jemari Pram. "gabung sama yang lain, nggak enak sendirian, seru kayaknya kalo rame-rame" isyarat dagu Kaila kearah yang lain. "disini aja, aku hanya ingin berduaan denganmu" geleng Pram, Kaila menggerutu mendengar Pram dan kembali duduk ditempatnya semula. "besuk flight jam berapa" tanya Pram, "jam 5 sore karena weekend jadi agak padat" jawab Kaila. "aku antar kebandara" jawab Pram, Kaila mengangguk malas untuk berdebat lagi dengan Pram.
jam 11 malam, acara dua keluarga itu akhirnya selesai, semua tamu sudah meninggalkan kediaman Prayoga. "ayah istirahat duluan" pamit ayah menatap anak-anaknya. "siap yah, tidur yang nyenyak" hormat Kaila nyengir melihat ayahnya naik kelantai dua.
"non" hidang teh bik Sum, Kaila mengangguk dan tersenyum segera meminum teh manis hangat buatan bik Sum.
"besuk jadi naik gunung Kai" toleh Kalai, Kaila mengangguk sambil mencomot roti pendamping teh manisnya, "marahan sama Pram nggak, kesal nggak dengan kejutan hari ini" goda Kalai, Kaila menggeleng. "sudah terlalu banyak drama yang terjadi dalam hidupku, jadi hal seperti ini nggak ada pengaruhnya lagi, lagian sia-sia mau ngajak debat atau protes juga karena ujung-ujungnya nya malah aku yang nggak berkutik" topang dagu Kaila di bahu sofa. Kalai tertawa, "jika kamu nggak tidur tadi, maka rencananya bakal gagal Kai. karena untuk menyiapkan semuanya tidak mudah" kata Kalai, Kaila menatap saudara kembarnya lekat.
"tapi beneran lho Kal, kenapa aku nggak tau yaa...." tanya Kaila pelan. "mungkin karena kamu terlalu sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk naik besuk" jawab Kalai, Kaila menganggukkan kepalanya.
hai.... hai..... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku, terimakasih banyak atas dukungannya terhadap karyaku.
__ADS_1
luv..... luv..... luv..... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all...