
"oh.... Gosh...." geram Kalai berjalan cepat kearah rumah ayah "sayang, jangan begitu itukan untukmu dan anak-anak" kejar Arga memberi pengertian pada Kalai. "honey buka pintunya kita bicarakan baik-baik... bukannya aku nggak mau mengatakannya tapi nanti kamu malah terganggu konsentrasinya saat menulis tugas akhir mu" ketuk Pram. "honey..... Kai..... yang..... Kai....." panggil Pram berulang kali Kaila tidak membukakan pintu kamar untuk Pram. "Kaila Dara Bagaskara" panggil Pram seru, Kaila membuka pintunya pelan sudah berpakaian rapi Pram berdiri tegak dan menyilangkan kedua tangannya didada "ngapain kak disitu" pandang Kaila heran. "dari tadi aku panggil-panggil nggak denger apa" tanya Pram pelan.
"aku habis dari bathroom trus ganti baju memang kenapa orang nggak dikunci juga" kata Kaila. Pram menghela nafas menyadari jika tadi dia tidak mencoba membuka pintu dulu karena takut melihat Kaila yang marah tadi.
Pram meraih tangan Kaila dan membawanya masuk menutup pintu Pram duduk disofa dekat ranjang memeluk pinggang Kaila dan menciumi perutnya "maafkan aku Kai aku tidak bermaksud begitu" sandar kepala Pram diperut Kaila. "berapapun yang aku keluarkan atau hasilkan itu semua untukmu dan anak-anak aku pasti memberi yang terbaik untuk keluargaku" kata Pram takut menambah Kaila marah Kaila mengelus rambut Pram yang cepak.
"aku tidak marah by, aku kan sudah bilang kita berdua yang putuskan apapun itu karena kita yang menjalani, itu bukan hal yang kecil lho by. bagiku uang itu gede banget aku kan sudah pernah bilang duniaku dan duniamu berbeda uang seribu rupiah sangat berarti bagiku karena aku tau bagaimana rasanya hidup susah" terang Kaila menitikkan air mata.
"yang.... no.... no..... jangan menangis lagi aku akan membahagiakanmu dan anak-anak jangan mengingat masa lalu aku akan selalu mengatakan apapun. tapi jangan menangis aku tidak mau melihatmu menangis lagi nanti triplet ikut sedih didalam" kata Pram berdiri mengusap airmata Kaila memeluknya erat. "aku ada meeting sebentar apakah kamu mau ikut" tanya Pram menatap Kaila "weekend gini" tanya Kaila "lewat zoom Kai, dirumah aja" kata Pram duduk mengeluarkan smart tabletnya menyentuh layar dan memulai meeting.
Kaila mengangguk "aku keluar ya" bisik Kaila, Pram menatapnya memberi isyarat untuk tiduran disampingnya Kaila naik ketempat tidur bermain ponselnya.
"Kal....." chat Kaila.
"apa" jawab Kalai.
"masih marahan sama suamimu" tanya Kaila dengan emoticon merah padam.
"masih pake banget, uang segitu banyaknya tidak bisa dipake buat yang lebih bermanfaat apa" chat Kalai.
"ya.... udah kalo mau diem-dieman terus, aku nggak ikutan lagian udah jadi juga situ selama dibangun kemana aja nggak pernah nanya apa" tanya Kaila dengan emoticon tersenyum.
"iya.... ya.... Kai, uangnya kan juga nggak bisa kembali udah terlanjur juga, nggak mungkin kan dengan status mereka kayak gitu membelikan rumah istrinya harganya hanya 500 juta" kata Kalai mencerna perkataan Kaila.
"naahh..... kamu udah terbuka kan pikirannya biarpun mereka membeli rumah yang duitnya bisa buat yang lebih berguna nggak mungkin kan ngasih istrinya biasa aja" chat Kaila.
"iya.... aku baru sadar biarin aja dulu biar nggak diulangi lagi nggak ngomong sama aku" balas Kalai.
"iya....in aja kalo ngomong sama kamu" chat Kaila, Kalai membalas dengan emoticon ngakak.
"hangout yuk Kal ngapain dirumah aja." chat Kaila.
"woke sekarang" tanya Kalai.
__ADS_1
"bentar suamiku lagi meeting buat ngasih duit lebih banyak buat aku hahahahaha..." chat Kaila.
"iya in aja biar cepet selesai meet nya" tutup Kalai. Pram melirik istrinya yang senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya ia mengusap-usap rambut Kaila pelan hingga lama kelamaan Kaila tertidur dipangkuannya. Pram sedikit mengangkat smart tabletnya agar tidak mengenai Kaila, mengusap-usap perut istrinya.
"kapan mau melihat manufaktur nya" tanya Pram menatap smart tabletnya.
"3 hari lagi pak jika bapak bisa melihatnya kami senang sekali" kata seseorang dilayar.
"saya tidak bisa menjanjikan akan datang kalian bisa meneruskannya tanpa saya" jawab Pram tegas.
"baik pak siap" kata seseorang itu.
Kaila semakin meringkuk nyenyak dalam tidurnya Pram membiarkan Kaila untuk tidur.
"kita mau kemana nih pagi indah dihari minggu" hirup udara Ayah. "ke taman aja yah depan kompleks" jalan Kaila sambil meregangkan otot. "ayo... kita jalan" angguk ayah menengok kearah rumah melihat jika yang lain sudah bangun dan mau ikut jalan. "belum pada bangun yah mending kita berdua aja" kata Kaila meraih lengan ayah agar segera berjalan, mereka berjalan menyusuri jalan kompleks perumahan yang asri. "pagi pak Prayoga" sapa tetangga yang berpapasan dengan mereka. "pagi bu tumben sendirian jalan paginya bapak kemana" sapa ayah tersenyum. "masih tidur pak tadi malam ikut ronda" jawab ibu tetangga. "oh begitu... mari bu kita lanjut jalan dulu" senyum ayah, "silahkan pak" senyum ibu tetangga Kaila dan Ayah kembali berjalan menikmati jalan pagi. "banyak yang jalan pagi juga yah" lihat Kaila, ayah mengangguk dan menunjuk tempat duduk yang masih kosong mereka menuju arah bangku taman.
"Kai kamu nggak mengadakan resepsi pernikahan seperti Kalai" tanya Ayah menatap Kaila lembut, Kaila menggeleng. "pikirkan dulu jangan buru-buru mengambil keputusan, bukan apa-apa ayah takut menimbulkan fitnah pernikahan mu dan Pram hanya private party kan, itupun di luar bukan di sini bagaimana dengan anak-anakmu kelak jika dianggap tidak punya orang tua utuh, akan banyak gunjingan kamu hamil diluar nikah tidak baik bagi anak-anakmu kelak Kai juga saat masuk kampus perutmu sudah besar" tanya ayah lembut Kaila terdiam menatap ayahnya. "sebegitu kompleksnya kah dampaknya" tanya Kaila ayah mengangguk.
"kadang kita memang harus memahami dimana kita berpijak Kai, kamu bagian dari keluarga Bagaskara juga tidak beda dengan Kalai hanya saja keluargamu lebih luas cakupan bisnisnya dan lebih banyak orang yang ingin menjatuhkan nya" kata ayah. Kaila memandang mereka yang sedang ber sendau gurau dengan keluarganya. "kamu sudah menjadi bagian dari Bagaskara satu-satunya malah mau tidak mau kamu harus mengikuti ritme hidup keluarga Bagaskara Kai" elus rambut ayah.
"ayah hanya hidup untuk menjaga kalian setelah momi mu nggak ada dan sekarang ayah mempunyai tujuan hidup baru yaitu menemani cucu ayah dan itu merupakan sesuatu yang membuat ayah bersemangat ingin hidup lebih lama menemani mereka" senyum ayah lebar Kaila tersenyum melihat kegembiraan dan semangat ayahnya.
"akan Kai pikirkan yah" angguk Kaila menatap ayah "jika bisa setelah kamu wisuda, kan sebentar lagi tuh dan juga sebelum perutmu semakin membesar takut menimbulkan fitnah" kata ayah.
"baik yah kalo begitu setelah wisuda kita adakan resepsi kecil aja" angguk Kaila tersenyum ayah tersenyum lebar karena Kail pasti akan mendengar perkataannya tidak mungkin menolak apa yang dibicarakannya.
"honey, dimana" tanya Pram tidak mendapati Kaila berada disampingnya. "lagi jalan sama ayah didepan kompleks by" jawab Kaila Pram berdehem. "mau dibawain apa by" tanya Kaila. "apa aja honey nanti aku pasti makan" jawab Pram. "baiklah" tutup Kaila kembali melanjutkan jalan pagi bersama ayah.
"Pram udah bangun Kai" toleh ayah. "sudah yah, nyari in kok nggak ada disampingnya pasti tidur lagi" jawab Kaila. "mau sarapan apa Kai" liat ayah didepan mereka banyak yang jualan Kaila tertawa pelan. "berasa kayak ke pasar aja ya yah, rame bener" jawab Kaila. "nggak perlu jauh-jauh kalo mau nyari sesuatu kan" tawa ayah pelan. "udah pulang Kai" pandang Kalai. Kaila mengangguk Kalai meraih tas belanjaan Kaila dan menatanya dimeja makan. "enak semua nih" lihat Kalai laper mata, Kaila mencuci tangan dan kemudian duduk disisi Kalai.
"belum pada bangun Kal" tanya ayah melihat hanya mereka berdua yang ada dimeja makan. "udah yah ini jam 9 lebih ayah dan Kaila terlalu lama jalannya" angguk Kalai melihat ayah. "lihat dan makan makanannya yang lama kalo jalannya cuman kedepan aja" kata ayah. Kalai mencicipi makanan kecil. "bik Sum kalau pagi juga beli makanan didepan kayak gini" makan Kaila "iya" angguk ayah mengambil kue basah.
"biasanya momi yang beli dulu sekarang bik Sum" jawab ayah. "yah minggu depan luangkan waktu untuk ke makam momi sama hangout bareng" kata Kaila menatap ayah yang mengangguk. "makasih bik" senyum Kaila melihat minuman coklat dingin yang diantar bik Sum dan segera meminumnya.
__ADS_1
"kamu belum dapat jadwal sidang" tanya Kalai "belum kemarin aja mau ngasih beberapa bab terakhir sama dosen penguji keburu pingsan dikampus jadi Icha yang nyerahin" geleng Kaila. "berarti besuk kamu ke kampus untuk memastikan kelanjutan bab itu" tanya Kalai menyuapi Kaila puding. "he...em pokoknya semangat" angkat tangan Kaila keatas "nggak usah tinggi-tinggi ngangkatnya, bau" pencet hidung Kalai, Kaila tertawa menyodorkan ketiaknya pada Kalai. "ayah anakmu ini lho kebiasaan" kata Kalai mengadu.
"salahmu sendiri pencet hidung segala tabok aja kan beres" bela ayah. Kaila tertawa Kalai tertawa sambil manyun. "lama-lama aku gendut kalo banyak makanan kayak gini" datang Arga sambil mengambil kue basah, "makasih bik Sum" senyum Arga menerima kopi hitam panas. "satu bik" senyum Pram datang, bik Sum mengangguk dan berlalu "kalian ini datang satu-satu kasihan bik Sum ngambilin beberapa kali" kata Kaila. "lha kalian kan istrinya seharusnya melayani suaminya bukan bik Sum" pandang ayah, Kaila nyengir beranjak dari tempat duduknya menuju dapur bersih. "makasih bik" ambil Kaila "iya non" angguk bik Sum Kaila membawa kopi hitam Pram kemeja makan.
"yang buatin bik sum udah bikin di mesin" jawab Kaila Pram meminum kopi hitamnya Kaila meraih cangkir kopi Pram menghabiskannya dalam sekali teguk "Kai itu bukan air putih" pandang Kalai. "enak Kal, panas dan harum kalo dingin nggak suka" hapus sisa kopi Kaila dibibir, Pram mengambilkannya lagi. "padahal dulu cuman dilihat doang lebih ke teh manis dingin" kata Kalai.
"ho...oh liat warnanya aja udah nggak selera, hitam pekat nggak ada manis-manisnya sekarang malah suka banget setelah ada triplet diperut jadi merubah beberapa kebiasaan yang nggak aku sadari dulu sulit kalo bangun pagi tidur telat sekarang bangun pagi tidurnya nggak lebih dari jam 9" kata Kaila.
"apalagi" tanya Kalai sambil menyiapkan makanan Arga "jadi bucin sama dia" tawa Kaila, Kalai ikutan tertawa. "nggak Kai banget kan" angguk Kalai melihat Kaila yang dulu selalu biasa aja sama Pram sampai kadang dia greget sendiri melihat Kaila "nggak banget" geleng Kaila sedih kenapa dirinya yang sekarang malah makin cinta pada suaminya. "baby ku terlalu sayang sama daddy nya" senyum Pram Kaila mengerucutkan bibirnya.
"akhir-akhir ini pingin nyetir sendiri kemana-mana sendiri" pandang Kaila Pram menoleh cepat. "what....." tatap Pram Kaila angkat bahu nggak mau menanggapi pernyataan Pram. "dan satu lagi pake rok atau gaun apapun jenisnya celana jeans sekarang disingkirkan dulu" kata Kaila menggelengkan kepalanya nggak mengerti kenapa jadi seperti itu, Kalai tertawa terbahak-bahak "kamu aja ngerti, semuanya kayak bukan Kaila kan" kata Kaila. Kalai manggut-manggut sambil tertawa.
"mau tidur aja, alas dan lain-lain harus posisi sempurna nggak boleh geser sedikit aja apalagi berantakan, it's Amaze right dengan kebiasaan tidur yang bergerak kesana-kemari, sekarang semuanya harus sempurna" senyum Kaila Kalai sampai melongo mendengar perkataan Kaila.
"anakmu mengajarimu hidup sehat" tunjuk sendok Kalai. Kaila manggut-manggut kuat "bener banget, apa yang dulu dia selalu lakukan padaku sekarang aku melakukannya" tunjuk Kaila menghela nafasnya berat. Arga dan Kalai tertawa ayah hanya tersenyum lebar. "kan aku udah bilang tadi triplet love his daddy very much" suapi Pram Kaila menguyah suapan Pram "iya in aja" ujar Kaila pelan. "jika triplet lahir kamu jadi Kaila yang cuek lagi dong nggak asik" geleng Kalai.
"aku begitu ya nyebelin banget kah" tanya Kaila berkaca-kaca, mereka melongo melihat Kaila yang sekarang perasaannya menjadi peka. serentak mereka menjulurkan tangan dan menggerakkannya kekiri dan kekanan tanda tidak begitu sama sekali.
"maafkan aku Kai kamu nggak begitu, terkadang kamu lebih senang untuk memendam apapun sendiri dan kami sulit untuk menembusnya, kamu lebih banyak tersenyum dari pada menangis dihadapan kami tapi kami tahu senyummu itu untuk melawan rasa sakit mu padahal kami ingin berbagi denganmu kamu orang yang menyenangkan Kai sama sekali nggak nyebelin malah terlalu menyenangkan" jawab Kalai.
"jadi ketika kamu sedih kamu hanya mengurung dirimu dan menganggap kami tidak ada" peluk Kalai, Kaila menangis pelan. "tuh kan, si cengeng nangis lagi kasian triplet nya kalo momi nya dikit-dikit nangis" acak rambut ayah. "ayah jadi berantakan rambutku" usap airmata Kaila sambil menata rambutnya. "kak marahin ayah ngerusak rambutku" pandang Kaila kesal. Pram mengangguk dan tersenyum memberi minuman coklat dingin untuk Kaila. "jangan cengeng ya guys cukup momi mu aja yang baperan" elus perut Pram. "ayah, Pramudya Bagaskara nyebelin. marahin" tatap Kaila dengan muka memelas mereka semua ketawa lebar, melihat sikap Kaila yang lebih manja dari pada sebelumnya, triplets benar-benar mengubah momi nya menjadi orang yang lebih sensitif mereka melihat Kaila menjadi orang yang berbeda belakangan ini.
"Pramudya Bagaskara jangan nyebelin. dah Kai ayo makan" angguk ayah mengelus rambut Kaila yang mengangguk kembali makan. Pram, Arga dan Kalai tertawa tertahan mereka tidak mau Kaila tambah peka perasaannya.
"Kai, mau jalan pergi beli rujak nggak" tawar Pram "mau" angguk Kaila antusias "tapi agak jauh jaraknya apa kamu mau" tanya Pram menyuapi Kaila buah-buahan. "mau" angguk Kaila mengunyah apel, Pram mengangguk. "kalo begitu kamu mau ganti dulu atau mau langsung berangkat" tanya Pram menatap Kaila. "bentar by, aku ganti dulu gerah tadi abis jalan" anjak Kaila kekamar. "aku tunggu sini ya" pandang Pram Kaila mengangguk menghilang setelah box ajaib membawanya ke atas.
"alamat harus menjaga perasaan Kaila tambah hati-hati Pram" pandang ayah sambil menyeruput kopi hitamnya Pram mengangguk dan tersenyum. "Pram lebih senang kalo Kaila seperti ini yah jadi kayak punya istri yang butuh suami" kata Pram. "iya..... sih daripada Kaila yang dulu tapi ini kenapa jadi cengeng banget ya...." tanya Kalai bertopang dagu heran. "karena ada tiga jadi perasaannya tiga kali lipat pekanya" jawab ayah "masa sih yah" tanya Kalai ayah mengangguk. "dulu momi mu juga sama kayak Kaila kebalikannya malah pas hamil kalian berdua momi mu cenderung cuek nggak terlalu mempermasalahkan hal-hal yang kecil padahal sebelumnya sampai hal-hal kecil aja detailnya minta ampun, jadi ayah tidak kaget melihat Kaila yang berubah selama mengandung triplet makanya jangan membuat dia jadi baper karena berpengaruh besar pada baby nya" angguk ayah
"berarti bisa jadi besuk Kalai hamil kelakuannya malah bisa cuek abis" tatap Kalai. "bisa jadi Kal karena setiap mengandung, kita tidak bisa memprediksi apa yang akan kita lalui" angkat bahu ayah. "jadi kayak punya dua anak gadis beneran kalo lihat Kaila yang sekarang" senyum ayah. "nggak nyangka bisa pake rok kalo pergi" kata ayah dengan isyarat dagu melihat Kaila yang memakai rok jeans tipis bertali sampai dibawah lutut dan t-shirt coklat khaki yang terlihat segar mereka menoleh kearah Kaila. "ayo by" pandang Kaila, Pram mengangguk beranjak dari tempat duduknya.
hai..... hai....hai..... all readers, luv U all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak selamat menikmati cerita pertama kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat. dukung yaaa..... karya pertama ku.
luv.... luv.... luv.... U all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
__ADS_1
thanks a lot pisang sekebon...😘