Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 49


__ADS_3

mereka berjalan keluar dari rumah saki dan tepat diseberang jalan terdapat cafe yang belum begitu ramai oleh pengunjung, mereka berjalan beriringan kearah seberang sana. "by" sentuh Kaila, Pram menoleh cepat dan berhenti "aku ingin bakso pedas dan segelas lemon tea panas" pandang Kaila, Pram melihat sekeliling untuk mencari penjual bakso yang sering mangkal didepan rumah sakit. "Kal aku ingin bakso pedas apakah kau mau ikut ato mau cari makanan lain" toleh Kaila menunjuk tukang bakso yang mangkal diujung. Kalai mengangguk dan berjalan sejajar dengan Kaila, Pram dan Arga berjalan dibelakang mereka tanpa berkata apa-apa. "siapa yang mengabari ayah kecelakaan" tanya Kaila melihat lurus kedepan. "kak Arden, dia dihubungi oleh polisi jalan raya. saat kecelakaan terjadi ponsel ayah panggilan terakhirnya menghubungi kak Arden" jalan Kalai pelan, Kaila meraih jemari Kalai saling memberi kekuatan. "jam berapa ayah kecelakaan" tanya Kaila pelan menghembuskan nafasnya berat, "katanya sekitar jam 7 malam saat kecelakaan itu, ayah kesana hanya mengecek keadaan proyek karena sudah waktunya berakhir" jawab Kalai.


"saat itu aku tidak bisa berpikir jernih yang ada di otakku harus segera kerumah sakit dimana ayah dirawat, aku diantar mas Han sebab tubuhku gemetaran tidak bisa memasukkan kunci mobil bik Sum menemaniku sepanjang perjalanan, Arga dalam perjalanan pulang kantor jadi kita ketemu disini" hembus nafas Kalai, Kaila menggenggam tangan Kalai lebih erat.


"maafkan aku Kal tidak ada saat kamu sendirian menemani ayah" pandang Kaila, Kalai menggeleng tersenyum tipis. "aku justru yang merasa bersalah karena ada bersama ayah di Indonesia tapi tidak bisa berbuat apa-apa. aku bersyukur kamu datang dengan selamat Kai, apakah kamu tidak lelah perjalananmu sangat jauh" pandang Kalai. "sedikit hanya pendengaran ku yang agak bermasalah karena naik heli" jawab Kaila masuk kedalam tenda bakso, Pram duduk didepan Kaila, Arga memesan bakso 4 mangkuk dan minuman.


"mom and dad mengirim salam kepada kalian berdua" pandang Kaila menatap Arga dan kalai, mereka menganggukkan kepala. tanpa mereka sadari mereka langsung jadi pusat perhatian beberapa orang yang ada karena wajah mereka yang diatas rata-rata dan penampilan mereka yang tidak biasa menjadikan mereka selalu dilihat penuh tanda tanya dan kekaguman orang lain apalagi mereka adalah kembar yang mempunyai paras hampir sama hanya dibedakan dengan tahi lalat kecil di kening Kalai. bakso pesanan mereka datang, Pram mengambil bakso Kaila.


"aku makan sendiri by" geleng Kaila menahan mangkuk bakso, Pram mengangguk pelan Kaila segera mengambil mangkuk sambal dan menuangkannya di kuah bakso agak banyak agar kepalanya tidak pening dan berat karena saat ini dia membutuhkan makanan yang berkuah panas. "apa itu tidak terlalu pedas" lihat Pram ke mangkuk Kaila yang kemerahan, Kaila menggeleng mulai memakan kuah bakso yang terlihat menarik di matanya.


"apa kalian akan kembali kerumah dulu" tanya Arga. "bisakah kita menginap dirumah sakit saja, apakah kalian keberatan" tanya Kaila sambil menyeruput kuah baksonya saja. "tidak masalah, kita bisa menyewa kamar disebelah ruangan ayah atau kita ke hotel kecil didepan rumah sakit agar kita tidak kelamaan jika harus bolak-balik" angguk Pram mengamati Kaila yang hanya memakan kuahnya saja.


"begitu juga lebih baik kalau begitu aku dan Kalai akan pulang kerumah sebentar untuk mengambil beberapa pakaian ganti dan memberitahu orang rumah nanti biar Kalai yang akan membawakan pakaian ganti untukmu Kai" angguk Arga setuju, Pram menyuapkan bakso kedalam mulut istrinya tanpa sadar Kaila menerima suapan Pram karena memang terbiasa.


"siapa yang memberitahu kalian" tanya Kalai. "aku yang segera mengabari Pram setelah ayah dalam kondisi stabil tadi malam dan kondisi mu juga lebih baik" pandang Arga menggenggam tangan Kalai. Kalai mengusap punggung tangan Arga lembut "terimakasih, aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi padamu, sayangku" pandang Kalai, Arga tersenyum mengecup kening istrinya pelan. Kaila tersenyum dan memeluk bahu Kalai mereka saling menguatkan satu sama lain.


"mungkin dengan keadaan ayah seperti ini kita jadi saling memahami satu sama lain, ayah pasti senang melihat kita semua saat nanti sadar" senyum Pram melihat Kaila tersenyum, Arga mengangguk pelan tiba-tiba ponsel Kaila berdering Pram segera mengambil disaku celananya menyerahkan pada Kaila. "hallo" salam Kaila.


"kamu ada dimana Kai" seru Icha, Kaila menjauhkan ponselnya agar tidak mendengar suara Icha yang keras, Pram segera menyuapi Kaila.

__ADS_1


"aku ada di mang bakso depan ujung rumah sakit" kunyah Kaila, Icha segera mematikan panggilannya.


"anak ini belum apa-apa udah dimatiin aja" lihat layar ponsel Kaila.


"berapa menit nih dia nyampe" tebak-tebakan Arga. "10 menit" tebak Kalai. "5-7 menit jika dia dengan kak Saka" tebak Kaila. Pram menyungging senyum diujung bibirnya melihat tebakan Kaila. "kenapa kayak ngeremehin gitu" kerut Kaila menatap Pram yang tersenyum lebar "tebakan mu semakin akurat saja, yang. tuh mereka udah terlihat" angkat dagu Pram.


"6 menit Kai" liat jam Arga, Kalai tertawa pelan. "keseringan naik gunung kamu Kai, setiap detik ato menit sangat menentukan nasib kan" tawa Kalai, Kaila tersenyum saat Icha dan Saka masuk dan langsung duduk menemani mereka. "pesen aja bayarnya belakangan" goda Kaila, Icha memukul bahu Kaila pelan.


Pram mengelus bahu Kaila yang dipukul Icha. "ini lagi satu lebay banget sih, nggak mungkin lecet yang ada situ yang bikin tanda merah banyak" ceplos Icha membuat Saka segera menutup mulutnya, Icha memukul bahu Saka kesal. Kaila tertawa pelan melihat Icha yang terlihat malu.


bakso pesanan Icha datang langsung Icha makan ditambah sambal seperti Kaila tadi. "itu nggak pedes cha" pandang Saka melihat kuah Icha yang merah merona. "pedes omongan kakak yang nggak ada saringannya" lirik Icha sebal mereka tertawa melihat Icha yang menang telak atas Saka. Pram memperlihatkan kuah bakso Kaila yang sama dengan Icha membuat Saka mengangguk paham.


Saka menghela nafasnya panjang menyentil kening Icha pelan. "kalo aku langsung memberitahumu yang ada jadi tambah runyam karena kamu nanti akan nangis-nangis nggak jelas, langsung menghubungi Kaila tanpa berhenti nangis. Kaila aja langsung ambruk mendengar Pram memberitahu ayahnya kecelakaan sampai nggak terdengar dia bicara sama sekali hingga tiba dirumah sakit, Kalai yang ditenangkan Arga aja lama nenangin nya baru dia bisa stabil yang ada nanti kamu nambah mereka jadi panik tau nggak" jelas Saka pelan dan tenang, Icha mengangguk pelan mengerti dengan maksud Saka.


"sayangku.... cintaku.... aku mengenal dirimu yang selalu mengedepankan perasaan makanya aku menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu setelah semuanya kondusif karena itu juga langsung aku ajak kamu kesini, mengerti kan" pandang Saka, Icha manggut-manggut mengerti. "jadi jangan sekali-kali menyebut laki-laki lain di depanku dengan maksud membuatku cemburu" senyum Saka, Icha mengangguk tersenyum.


"es jeruknya Cha biar adem hatinya ndengerin tausiyah ustadz Saka Bagaskara" sodor Kalai pelan, Icha segera menghabiskannya dalam sekali minum, Kaila menyodorkan lagi es jeruk. "ini yang mbayar yang belakangan makan lho.... nggak gratis" senyum Kaila menggoda Icha.


"bayar kak, aku nggak bawa dompet denger kabar ayah nggak berpikir panjang langsung kemari, oh iya... papi dan mami titip salam" kata Icha kelupaan membawa apapun selain ponselnya. "untung kamu sama Saka jadi nggak nyasar sampai sini" senyum Arga menatap Icha yang nyengir "tau aja kalo dah panik lupa semuanya" jawab Icha, Saka menggelengkan kepala. "kita nginep dirumah sakit" tanya Icha menghabiskan baksonya.

__ADS_1


"kita pulang besuk kesini lagi, aku antar sebelum berangkat kerja apa kamu mau lihat mereka berpelukan saat tidur lagian tadi tidak ijin sama papi mami kamu kalo nginep" geleng Saka pelan, Icha terdiam menatap Kaila. "benar yang kak Saka bilang besuk pagi kita bertiga yang jaga ayah semoga ayah segera sadar" senyum tipis Kaila, Icha mengangguk. Pram beranjak dari tempat duduknya dan membayar semua pesanan mereka tadi.


"kapan kalian sampai" tanya Icha. "tadi siang langsung kemari" minum Kaila. "cepet juga sampainya" kerut Icha, Kaila beranjak saat melihat isyarat Pram. "balik ke ayah yuk" pandang Kaila, mereka beranjak dari tempat duduk masing-masing setelah membuat kegaduhan orang-orang yang melihat mereka tanpa henti silih berganti. "Pram, aku pulang dulu nanti kemari" pandang Arga saat tiba dihalaman rumah sakit. "baiklah. hati-hati dijalan jika kalian lelah kabari aku tidak usah dipaksakan malah Kalai juga sakit nanti, kalian sudah menemani ayah dari kemarin sekarang ada kami disini" angguk Pram.


Arga menganggukkan kepala. Kalai memeluk Kaila erat "jaga ayah, Kai" kata Kalai berkaca-kaca Kaila mengangguk kuat "pasti" jawab Kaila serak menahan air mata, Pram segera melerai pelukan mereka agar tidak membuat Kaila kembali menangis. "ayo" pegang kedua bahu Arga agar Kalai segera beranjak dari situ sebelum semuanya menangis lagi, Kalai berjalan pelan meninggalkan mereka menuju parkir basement rumah sakit sedangkan Kaila dan yang lain melanjutkan jalannya masuk ke dalam rumah sakit.


"jangan menangis didepan Kaila nanti setelah melihat ayahnya" bisik Saka pelan agar hanya mereka berdua yang mendengarnya Icha mengangguk mengerti, para penjaga yang melihat mereka datang segera berdiri dan menundukkan kepala sedikit tanda menghargai mereka. Saka dan Pram menghampiri mereka sebentar Kaila dan Icha melihat ayah dari kaca besar.


"yang kuat Kai, aku akan menemanimu besuk. jangan sakit.... jangan sakit.... kasihan ayah nggak ada yang nunggu nanti kalo kalian berdua sakit juga" pegang bahu Icha sambil mengelusnya pelan Kaila mengangguk. "kamu masih punya mas Pram yang menjagamu 24 jam sekarang dia juga pasti lelah dan sedih sama sepertimu tapi pasti dia berusaha kuat untuk menjadi penopang mu" peluk bahu Icha dari samping Kaila mengangguk menatap ayahnya yang masih diam saja. "moga besuk Ayah segera sadar dan melihat kami disini menunggunya" senyum Kaila menghapus airmatanya yang turun sendiri. "hmmm....." dehem Icha menahan airmata agar Kaila tidak semakin sedih.


"kamu udah bawa baju ganti Kai" pandang Icha "aku tidak tahu Cha. kemarin dari London memang membawa koper tapi nggak tau dimana sekarang" jawab Kaila menggeleng Pram mendekat menyentuh punggung istrinya pelan "duduk Kai" kata Pram. "nanti aja by, aku ingin menatap ayah bentar" pandang Kaila menggeleng.


hai.... hai....hai.... all readers, luv U all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak, selamat menikmati cerita pertama kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat


dukung yaaa..... karya pertama ku.


luv..... luv..... luv..... U all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak.....


thanks a lot pisang sekebon.....

__ADS_1


__ADS_2