Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 97


__ADS_3

"Kaila" lambai tangan Icha saat masuk kedalam halaman rumah keluarga Triastomo, Kaila membalasnya dari dalam.


"makannya asik banget sih" seru Icha bergegas keluar dari dalam mobil menghampiri mereka yang sedang ramai memakan buah rambutan.


"darimana, aku kira kamu tidur di sini" tanya Kaila heran, "aku tidur disini Kai, tapi tadi nganter kak Saka ada meet dengan orang, minta dianter ke sana" duduk Icha.


"lha nggak nunggu aja disana biar bisa selalu bersama" goda Mita, Icha mengerucutkan mulutnya mendengar ucapan Mita.


"pinginnya lihat yang lain aja kak, ada yang bisa dikenalin nggak, siapa tahu lebih bisa mengerti diriku" sandaran Icha dikursi malas, Kaila menyerahkan buah rambutan yang separuhnya sudah dikupas.


Mita tergelak mendengar permintaan Icha, "ada sih, mau melihatnya sesekali" naik turunkan alis mata Mita, Icha semangat dengan mengangguk mantap.


"ntar aku kasih nomernya biar bisa menghubungi kapan aja sendiri" angguk Mita, Icha memberi isyarat dengan jemarinya tanda setuju. mereka mengobrol hingga hampir menjelang sore.


"guys, aku ingin mandi dan istirahat dulu" anjak Kaila dari duduknya.


"jam berapa sekarang" tanya Icha menegakkan punggungnya, "hampir sore non" kata pekerja rumah keluarga yang menemani keperluan mereka dari tadi.


"aahh.... aku juga belum mandi" cengir Icha segera berdiri. "udah nganter ke perusahaan tapi masih belum mandi. aisshh, kalian ini nggak ada jaim-jaimnya sih. nggak takut ditinggal pergi suami kalian" goda Mita, Kaila dan Icha tertawa.


"makasih lho kak, bilangin mereka untuk menjauh lebih jauh lagi kalo bisa, kita juga pingin ada jarak yang jauh dari mereka" kata Icha, Kaila mengangguk memberikan tanda setuju dengan jemarinya. Mita tertawa mendengar keluhan mereka yang sama sekali berbeda dengan keadaan mereka dulu, kemana dan dimanapun mereka pergi tidak akan ada yang melarang dan membuat mereka merasa terkekang.


"dari mana" tanya Pram mendekati istrinya, Kaila berjalan dengan pelan menuju box ajaib yang akan membawanya ke atas di ruangan pribadinya, Pram mengikuti langkah istrinya tanpa banyak kata.


"aku ingin membersihkan diriku dulu, tadi ngobrol dengan kak Mita dan Icha di bawah sambil makan buah rambutan yang sedang berbuah. jika kakak mau makan aja duluan setelah aku selesai akan aku susul nanti" elus pipi Kaila menahan Pram agar tidak ikut naik bersamanya.


Pram menggeleng, "aku tungguin dirimu aja, honey" senyum Pram menautkan jemari tangan istrinya. Ia menghela nafasnya pasrah membiarkan Pram mengikutinya kembali berjalan dengan cepat keluar dari box ajaib dan bergegas menuju bathroom, Pram menanti istrinya dengan mengecek pekerjaan dari perangkat kerjanya.


"yang" panggil Pram dari balik pintu, tidak ada jawaban dari dalam. Pram membuka pelan pintu bathroom. dilihatnya Kaila tertidur dengan masih berendam didalam bathtub, ia meraih tubuh istrinya yang tertidur, membawanya dan meletakkan tubuh istrinya diatas ranjang. mengelap semua bagian tubuhnya agar tidak kedinginan, pada akhirnya menutupi tubuh istrinya dengan cover bed agar suhu badannya tidak drop. Pram beranjak meninggalkan istrinya menuju ke bawah.


"kemana Kaila" pandang ayah, Pram duduk menerima kopi hitam dari bik Sum, "makasih bik" terima Pram.


"dia ketiduran di bathtub abis ngobrol sama Icha dan Mita, Pram barusan bangun jadi tidak bisa menemani nya tadi. saat Pram tungguin ternyata ketiduran, udah Pram pindah di tempat tidur jadi tidak kedinginan" jawab Pram. ayah menggelengkan kepalanya pelan.


"dia tadi minta ditinggal aja tapi Pram tau pasti nanti ketiduran jika kecapekan" minum kopi Pram, ayah mengangguk.


"jika dia dirumah lebih banyak tidur, tapi kalo diluar bisa seharian nggak memejamkan matanya lama, heran deh ayah, Pram. kenapa triplet sebelas dua belas dengan Kaila kalau keluar" topang dagu ayah.


Pram mengangguk mengiyakan. "itu yang terkadang bikin Pram heran juga yah, makanya Pram selalu berusaha berada disisinya agar dia bisa mengistirahatkan badannya tanpa takut tidak ada yang menjaga" angguk Pram mengerti.

__ADS_1


ayah tertawa pelan mengangguk, "terima kasih telah menjaga Kaila dengan baik" tatap ayah, Pram tersenyum.


"Pram" panggil Arga, Pram menoleh tersenyum melihat Arga yang baru saja keluar dari kamarnya.


"kenapa suasananya tenang banget" lihat sekitar Arga, mereka tertawa karena candaan Arga yang tidak melihat ketiga perempuan mereka berada disana.


"karena kecapekan nonton konser tadi malam. jadi mereka merasa lelah sudah teriak-teriak dan jejingkrakan kayak nggak ada suaminya" hisap kopi Pram menatap kearah teras depan. mereka tertawa pelan.


"kayaknya kita ada kerjasama perusahaan deh Ga" kata pram menoleh, Arga mengangguk.


"kapan aja, siap. semoga tambah berkah buat keluarga besar" senyum Arga.


"perputaran uangnya jadi didalam rumah aja dong berarti kalau kalian bekerja sama" pandang ayah, Pram tersenyum tipis.


"banyak orang dirumah yah, yang akan dapat rejeki juga" jawab Pram, Arga tersenyum.


pagi hari


Kaila keluar dari walk closet dengan pakaian yang membuatnya terlihat cantik. "kamu selalu terlihat mempesona, honey" lihat Pram memeluk istrinya dan mencium bibirnya lembut. "kita akan pergi hari ini" tanya Kaila menatap Pram yang mengangguk pelan, Kaila berjalan keluar dari ruangan pribadinya diikuti oleh Pram.


"pagi, yah" peluk Kaila sesaat dan duduk disamping ayahnya, "pagi Kai, kita sarapan dulu" senyum ayah menatap sekilas anak perempuan bungsunya yang akan pergi lama hari ini. Kaila mengangguk dan meminum coklat dinginnya sebelum memulai sarapannya.


"berapa bulan lagi ayah akan menemani Kaila disana Kal" ujar ayah, Kalai mengangguk mengunyah makanannya. "jika aku sudah longgar nanti akan menemani kesana juga" tatap Kalai, Kaila berganti yang menganggukkan kepalanya.


"jangan lupa jaga kesehatan Kai, cuaca yang berbeda terkadang membuat kita sulit beradaptasi, ingat jika kamu harus memperhatikan kesehatan triplet juga. kamu punya tanggung jawab" kata ayah, Kaila mengangguk.


"berangkat jam berapa" tanya Arga, "senyamannya dia mau berangkat kapan" jawab Pram meminum air mineralnya, Kaila menoleh tertawa pelan. "kalo bisa tahun depan aja, by. mantap tuh" goda Kaila. "boleh, sekalian lebaran pas pulangnya" senyum-senyum Kalai. "takbiran dong" tambah Arga. mereka tertawa merasa lucu.


"lucu kali yaa, jika besuk triplets pake baju Koko, bawa obor keliling mansion di Inggris" tawa Kalai membayangkan. Kaila tertawa pelan. "sambil diliatin sama yang lain. ini anak ngapain coba" sambung Kaila. mereka tertawa berdua hingga tidak terasa malah menitikkan air mata, Pram memberi tissue ke depan Kaila.


"jangan tinggalin triplets sendirian, mereka butuh kamu kapanpun" kata ayah melihat mereka berdua, Kaila mengangguk.


"kita berangkat petang nanti" tawari Pram, "hhmm" dehem Kaila pelan. ia segera menyeruput coklat dinginnya hingga habis, seorang pekerja membawa gelas kosong minuman Kaila untuk di isi kembali dengan coklat dingin yang sudah disiapkan bik Sum tadi.


"aku mau coklat juga dong mbak" pandang Kalai tersenyum, pekerja rumah keluarga Prayoga mengangguk dan memberikan gelas berisi coklat dingin yang sama dengan Kaila.


"berkumpul berlima lagi, padahal dulu berempat kemudian jadi bertiga, seringnya cuman berdua sih. sekarang jadi berlima" senyum ayah.


"kalo tambah triplet jadi delapan yah, belum anak Kalai nanti. bisa dua belas saat kumpul makan" senyum Kaila, Kalai mengangguk.

__ADS_1


"jika kita kumpul kembali, maka setiap hari harus bersama untuk makan. mau pagi atau malam yang penting kita bisa saling berbincang seperti ini" kata ayah, Pram dan Arga mengangguk sambil mengunyah sarapan mereka.


"duh, telat nih" datang Icha. "tidak Cha, kamu selalu jadi yang terakhir" goda Kalai, Icha nyengir dan duduk didekat Arga.


"tumben kamu mau duduk dekatku" tanya Arga, "sesekali kak, siapa tau bisa kecipratan pekerjaan di perusahaan dan ketemu dengan pria tampan" senyum-senyum Icha.


"hhmmm, banyak kalo soal tampang mah, tapi ada yang tajir kayak Saka nggak" kata Arga, Icha mengerucutkan mulutnya kedepan. "harta yang paling berharga adalah keluarga" nyanyikan Icha, mereka tertawa.


"lha situ tau kalo keluarga yang berharga. keluargamu mana" tanya Kaila. Icha tertawa lebar sambil mengambil menu sarapan yang tersedia.


"padahal aku mau gabung masuk dalam kartu keluarga Prayoga jika masih ada kolom yang kosong nanti" kata Icha, mereka tertawa bersama.


"baiklah, kalo begitu kita ambil suara aja, siapa yang mau menampung nama Icha di kartu keluarga" pandang ayah. mereka tertawa lebar mendengar candaan ayah yang dalam.


"bodyguard mu mana, kenapa nggak ngikut" tanya Pram. Icha menghela nafas melihat Pram.


"situ amnesia apa lupa. sekarang semua kerjaan jadi dihandle kak Saka lagi kan. balik lagi seperti sedia kala pekerjaannya dan membuatku bernafas dengan lega" kata Icha senang, Kaila menaruh kerupuk di mulut Icha agar berhenti bicara.


"kasihan kak Saka jadi sapi perahan kamu Cha" tatap Kaila. Icha nyengir, "kamu lupa, dua laki-laki yang jadi suami kalian ini lebih banyak diperas lagi sama istrinya" kata Icha, Kalai dan Kaila tergelak mendengar ungkapan Icha.


"mereka bukan sapi perahan, Cha. tapi mesin pencetak duit terbaru" bisik Kalai membuat ketiga gadis itu kembali tertawa.


"kayaknya keheningan seperti semalam itu sangat berharga Pram" pandang Arga, Pram mengangguk setuju.


"oohhh, jadi kalian merasa kita biang berisik begitu" toleh Kalai. Arga menggeleng dengan cepat.


"jadi kita membuat kalian tidak nyaman begitu" topang dagu Kaila menatap Pram yang segera menggeleng menolak pikiran istrinya.


Icha mengunyah makanannya dengan tenang melihat kedua perempuan itu sedang mengeluarkan jurus tanduk sapinya menghadapi suami mereka masing-masing tanpa perlu menjadi penggembira.


ayah tersenyum lebar melihat tingkah kedua anak perempuannya yang sedang menghadapi suaminya.


"nggak lho, yang" rayu Arga mengelus kaki bagian atas Kalai yang hanya menatapnya dengan tenang.


Pram hanya nyengir menatap istrinya yang diam tanpa kata.


"kayaknya seru nih, yah kalo dibikin sinetron Indosiar yang tidak berujung endingnya. azab suami mengatai istrinya tukang berisik, auto tidak boleh tidur dikamar" beri judul sinetron Icha dengan semangat. mereka tergelak mendengar keabsurdan Icha saat mereka sedang berusaha serius membalas perlakuan jahil suami mereka.


hai .... hai..... hai... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku, terimakasih banyak semuanya.

__ADS_1


__ADS_2