
Pram dengan cepat membersihkan dirinya didalam bathroom yang terletak diruang tidurnya, karena hanya itu satu-satunya bathroom yang ada di apartement yang dimilikinya. "kita sarapan dulu om dan nona" panggil Pram tanpa tahu nama saudara kembar Kaila.
"Kalai, namaku Kalai saudara kembar Kaila" jawab Kalai cepat mengerti maksud Pram.
"ahhh begitu, mari Kalai kita sarapan dulu" angguk Pram paham.
"mari ayah, kita sarapan dulu" ajak Kalai. "ini sudah jam 9 pagi, kenapa Kaila belum bangun juga" tanya ayah beranjak dari sofa menatap kedalam ruang tidur Pram yang terbuka lebar pintunya.
"bolehkah saya melihatnya untuk membangunkannya. jika kalian yang membangunkan mungkin dia belum siap" sela Pram meredakan kekhawatiran ayah Kaila yang tidak terlihat tenang.
"baiklah tapi biarkan pintunya tetap terbuka" angguk ayah. Pram mengangguk dan tersenyum lebar, mengerti sikap ayah Kaila yang protektif.
"Kaila" panggil Pram lembut.
"hmmm 10 menit lagi yah, Kaila ingin tidur sebentar lagi" gumam Kaila menarik cover bed lebih tinggi menutupi seluruh badannya.
Pram tersenyum geli mendengar perkataan Kaila, "ayahmu sedang sarapan dengan Kalai, sekarang sudah jam 9 pagi. mereka menunggumu sarapan" tepuk Pram pelan dibahu Kaila.
"hmmm biarin aja, sudah biasa" jawab Kaila belum terkumpul nyawanya. "kamu tidur di ranjangku Kai, jika bisa aku akan memelukmu diranjang seharian bersamaku. tapi sayangnya ayahmu tidak mengijinkannya" goda Pram sengaja.
"apa" buka mata Kaila mendengar perkataan Pram. "ngapain kakak di kamarku" tatap Kaila membuka cover bed yang menutupi tubuhnya.
"this is my apartement honey" senyum Pram menggoda Kaila, Kaila melihat sekeliling dengan seksama.
"kenapa aku bisa kesini kak, aku tertidur" bingung Kaila menutup parasnya dengan kedua tangannya.
"nanti aku cerita, ayahmu menunggu untuk sarapan. mau bertemu dulu atau membersihkan dirimu karena kamu terlihat berantakan sekali saat ini" tanya Pram menatap Kaila.
"mandi dulu" anjak Kaila dari ranjang. menuju bathroom yang ada di dalam ruang tidur Pram.
"kalo begitu kami tunggu dimeja makan, baju ganti ada didalam paperbag itu" tunjuk Pram, Kaila mengangguk pelan.
"apa Kaila sudah bangun" tanya ayah melihat Pram yang berjalan mendekat kearah mereka berdua.
"sudah om, mau membersihkan dirinya dulu katanya" angguk Pram menyeruput kopi panasnya.
"pagi ayah" sapa Kaila memeluk ayah selesai membersihkan dirinya setengah jam kemudian.
"pagi Kai" elus rambut ayah mengecup kening Kaila, putri bungsunya.
"maafkan Kai yah, tidak mengabari ayah semalam" peluk Kaila sambil menghela nafasnya panjang.
"tidak apa, ayah sudah diberitahu oleh Pram semalam" jawab ayah mengerti menatap paras putrinya yang terlihat tidak baik-baik saja akibat menangis semalaman. Kaila melihat Kalai dan memeluknya erat seperti tanpa ada masalah yang berarti.
"makan dulu Kai" senyum Kalai membalas pelukan erat saudara kembarnya.
"hmmmm" angguk Kaila duduk, ayah tertawa pelan.
"kenapa yah" kerut Kalai.
"ada yang sakit yah" kuatir Kaila.
"tidak, ayah merasa lucu aja. nggak nyangka ayah bisa sarapan dirumah orang. sekeluarga lagi, pagi-pagi pula" senyum ayah.
"maafkan Kaila dan Kalai ya yah" peluk mereka berdua beranjak dari tempat duduknya.
"hmmm, sudah-sudah, ayah senang kalian baik-baik saja" peluk ayah hangat membalas mereka.
__ADS_1
"terimakasih kak, atas bantuannya semalam. maaf merepotkan kak Pram" tunduk kepala Kaila sopan sebelum keluarganya pergi meninggalkan apartement milik Pram.
"aku yang berterima kasih kamu sudah mau berbagi beban denganku Kai" senyum Pram mengerti. "ingat jaga kesehatan Kai, jangan lupa kalau kau masih punya aku disini" tunjuk Pram didadanya menatap Kaila sambil tersenyum.
"ish, apaan sih kak. suka nggak jelas kalo ngomong" kerucut bibir Kaila tidak mau menanggapi perkataan Pram. "dikondisikan bibirnya Kai, mau ku cium tuh bibir" gemas Pram melihat bibir Kaila yang seperti minta untuk dilahapnya.
"udah ah, lama-lama disini bikin aku darah tinggi. aku pulang dulu kak" pamit Kaila. Pram meraih jemari Kaila dan membawa punggung tangannya sendiri untuk dicium Kaila sebelum benar-benar beranjak pergi meninggalkan pintu apartement nya. "hati-hati" angguk Pram tersenyum saat Kaila akan protes dengan sikapnya barusan.
Kaila segera masuk kedalam mobil bersama Kalai dan ayahnya. "kita mau kemana dulu nih" tanya ayah menatap kedua putrinya.
"ayah emang nggak kerja" tanya Kalai dan Kaila bersamaan.
"ya libur lah, kalian aja kuliah ada liburnya. masak ayah nggak" senyum ayah menggeleng melajukan mobil meninggalkan parkiran apartement Pram.
"kita ke taman kota aja yah, mumpung masih pagi" usul Kalai. "Kai ngikut aja" angguk Kaila.
"gimana kalau kita ke wahana permainan, lama banget kan kita nggak kesana bareng-bareng" usul ayah menggeleng. "Ok" sahut mereka cepat. "kalo begitu kita berangkat" tawa ayah disusul kedua putrinya yang tertawa terbahak-bahak.
sampai di mall yang dituju
"kita mau main apa dulu nih" tanya ayah nggak sabar, "main itu aja dulu yah" tunjuk Kalai merasa gembira melihat permainan yang ada.
"ayo, siapa takut" semangat ayah masuk ke arena permainan yang banyak itu. semua permainan yang ada mereka mainkan dengan riang gembira. "capek yah" ngos-ngosan Kaila duduk disebelah ayah sembari menyeka peluh, "tapi asik kan sambil membuang racun pikiran" goda ayah menatap kedua putrinya, Kaila hanya mengerucutkan mulutnya mengangguk.
"orang sayang dan cinta sama seseorang itu tidak bisa dipaksa kan Kai, Kal. sedih itu boleh, tapi jangan terlalu sedih dan membuat kita saling menyakiti diri sendiri, sakit itu pasti didalam hati, tapi jangan membuat kita lupa diri. ayah tau, kalian tidak akan menyakiti satu sama lain karena kalian punya ibu yang hebat yang selalu menyayangi kalian" senyum ayah. Kalai dan Kaila hanya terdiam meneteskan airmata tanpa bersuara.
"jika ayah boleh meminta, ayah juga tak mau kehilangan cinta sejati ayah selamanya, tapi memang itu garis takdir ayah, ayah harus ikhlas menerimanya kan. bukan berarti Tuhan tidak sayang ayah, tapi Tuhan lebih sayang momi kalian daripada ayah" senyum ayah menggenggam jemari kedua putrinya lembut.
"tidak ada yang abadi kata Ariel Noah" goda ayah terkekeh. "ayah" peluk Kaila dan Kalai mendengar ucapan ayahnya. "udah ah, malu udah gede nangis berjamaah gini, emangnya ustadz Maulana ada jama'ah nya" tawa ayah meredakan suasana. Kalai dan Kaila tertawa mendengar candaan ayahnya.
"ya iya lah yang terbaik, tapi dibandingin dua cowok tengil itu siapa yang terbaik. ayah atau mereka" goda ayah menaik turunkan alis matanya, mereka tertawa bahagia.
"Kai, maafkan aku ya" peluk Kalai sesaat kemudian. "aku juga minta maaf Kal, memang benar kata ayah. kita tidak bisa memilih dengan siapa untuk jatuh cinta kan" belai punggung Kaila.
"nah gitu dong anak gadis ayah" elus ayah dikepala kedua putrinya.
"makan yuk yah. laper ini udah jam 3 sore juga" cengir Kaila mengusap perutnya, "ayo, kita cari tempatnya dulu" angguk ayah melihat sekeliling.
"nah, itu mereka" tunjuk ayah. "siapa" tanya Kalai melihat arah yang ditunjuk ayah. ayah meraih tangan kedua anaknya untuk mendekat kearah mereka.
"sudah lama nunggunya" dekat ayah, "belum begitu lama, yah, om" berdiri Pram dan Arga bersamaan menyambut kedatangan mereka bertiga.
"kapan ayah" bingung Kaila tidak habis pikir melihat kedatangan dua orang laki-laki yang membuat hidupnya seperti roller coaster dari kemarin.
"ayo, ayah sudah lapar juga nih. habis mainan membuat perut ayah minta di isi" senyum ayah menatap makanan yang sudah tersedia di meja, mereka kemudian duduk.
"kak, nggak ngajar" tanya Kaila menatap Pram yang berada di depan nya.
"nggak, hari ini libur karena kurang tidur tadi malam" sindir Pram pelan.
"ishh, nggak lucu tau kak" manyun Kaila mendengar sindiran Pram.
"bibirnya Kai" geram Pram kesal melihat Kaila yang sering melakukannya jika didepannya.
"kapan kamu akan membawa orang tuamu Ga untuk meminta Kalai" pandang ayah sambil memakan makanannya.
"secepatnya yah, jika bisa dalam bulan ini saya mau menikahi Kalai" ucap Arga mantap, ayah hanya manggut-manggut.
__ADS_1
"Kai ambilin itu" tunjuk Pram ke piring disamping Kaila. "yang ini" pastikan Kaila sebelum mengambil. "iya" angguk Pram.
"kalau begitu, datanglah dengan orang tuamu untuk Kalai akan ayah dan keluarga tunggu niat baikmu" jawab ayah tegas.
"baik yah" angguk Arga mengerti.
"dalam keluarga ayah tidak mau saling menyimpan dendam. seberat apapun beban itu, sebanyak apapun masalah itu jika kita hadapi bersama akan lebih kuat" kata ayah. "jadi ayah berharap kalian dan pasangan kalian ini akan selalu saling mendukung satu sama lain" pesan ayah.
"iya yah" jawab Kaila dan Kalai bersamaan, "eh tunggu yah, kayaknya ada yang salah deh dengan kalimat ayah" tersadar Kaila sesaat kemudian. "yang mana" toleh ayah tersenyum.
"kalian dan pasangan kalian ini" sahut Kaila mengerutkan keningnya menatap ayahnya.
"tuh" angkat dagu ayah menunjuk ke arah Pram yang tersenyum lebar mengerti maksud ayah Kaila.
"ishhh apaan sih yah, orang nggak sengaja barengan trus ketemu mereka berdua. darimana pasangan coba, kenal aja kagak, apalagi suka" ngedumel Kaila menatap ayahnya.
"makanya kenalan, jarang-jarang ada pengajar yang perhatian sama mahasiswinya begitu" goda ayah melirik Kaila.
"saya kebetulan bersama Kaila karena yang lain sudah pulang meninggalkan kampus sehabis berkegiatan om, bukan karena apa-apa, tapi merupakan sebuah kebetulan yang menguntungkan buat saya" senyum lebar Pram membela Kaila.
"nggak ada yang bener kalo ngomong, sama-sama menyebalkan" gumam Kaila lirih.
"Kai, mau bareng ke kampus denganku untuk mengambil mobilmu" tawar Pram setelah selesai makan mereka. "sebentar, aku tanya ke ayah dulu" kata Kaila ragu-ragu saat menerima ajakan Pram, "ayah, aku mampir ke kampus dulu untuk mengambil mobil kemudian langsung pulang" minta ijin Kaila menatap ayahnya.
"baiklah dengan ayah atau dengan Pram" angguk ayah.
"bolehkah saya yang mengantar Kaila om, sekalian mau ke kampus" dekat Pram sopan.
"modus, pepet terus" celutuk Kalai mendekat. Pram tertawa pelan, "mumpung sudah kosong Kal, jadi harus dipepet terus, keburu banyak yang mau" balas Pram, Arga hanya tersenyum mendengar jawaban Pram.
"Kal, mau diantar aku atau bareng sama ayah" tawar Arga sesaat kemudian. "bareng ayah aja Ga, kamu balik kantor kan" geleng Kalai, Arga mengangguk. "kalau begitu kita berpisah disini. ayah dan Kalai langsung pulang, hati-hati kalian" pesen ayah sebelum masuk mobil.
"baik ayah" lambai Kaila.
"aku duluan Pram, Kai" pamit Arga menjauh.
"hati-hati" sahut Kaila sembari masuk mobil.
"masih ada rasa dihati nih, roman-roman nya" sindir Pram menatap wajah Kaila yang terlihat datar. "begitukah, tapi sudah iklhas dengan semuanya. mungkin masih sakit tapi wajar karena hampir 3 tahun kita bersama, just healing self now" senyum tipis Kaila menjawab Pram.
"aku juga mau ngucapin terima kasih kak, kemarin menemani ku seharian. it means a lot to me" senyum Kaila sembari memandang keluar dari kaca jendela mobil.
"apa kamu memang benar-benar mencintainya, Kai" tanya Pram.
"don't know kak, hanya merasa ada yang hilang aja dihati" jawab Kaila pelan.
"apa yang kamu rasakan" tanya Pram pelan. "nothing, empty" jawab Kaila pelan.
"apa kamu mau menemaniku" tanya Pram. "hmmmm" dehem Kaila menutup matanya yang terasa berat.
"Kai" panggil Pram namun tidak ada jawaban Kaila. "ya elah Kai, belum ada 10 menit masuk mobil udah tidur aja. dasar anak ini, apa gini juga sama yang lain" pandang Pram sesaat melihat Kaila yang sudah tertidur dan segera mengatur kursi Kaila agar sedikit lebih nyaman.
hai .... hai.... hai..... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku yang pertama. terimakasih banyak semuanya.
luv.... luv.... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih semuanya.
stay healthy all
__ADS_1