
"sweetie" sambut mommy saat mereka menapakkan kaki turun dari pesawat pribadi, Kaila tersenyum lebar melihat kedua orangtua suaminya menjemput mereka di bandara secara langsung. Pram dan Kaila bergantian memeluk keduanya dengan erat.
"bagaimana keadaanmu sweetie, apakah kamu merasa tidak apa-apa dengan perjalanan panjang ini" usap pipi mommy melihat tubuh Kaila. "tidak apa-apa mom, aku baik-baik saja. terimakasih telah mengkhawatirkan ku" angguk Kaila mengusap airmata nya yang senang bertemu dengan kedua orangtua suaminya.
Daddy mengusap punggung anak perempuannya dengan lembut, "kita masuk mobil dulu" kata Daddy, mommy mengangguk menggenggam jemari Kaila erat.
Pram mengikuti langkah kedua perempuan yang paling berarti di hidupnya saat ini. "oh ya, apa kalian mau makan dulu setelah ini atau mau langsung pulang sweetie" tanya mommy. "mommy mau pergi kemana dulu, Kai ngikut aja" kata Kaila tersenyum.
"apa kamu tidak lelah dengan perjalanan panjang tadi" tawa mommy, "bosan mom, hanya didalam saja. Untungnya ada waktu untuk berjalan diluar saat pengisian bahan bakar tadi" jawab Kaila.
"kak Pram tidur terus selama perjalanan, aku lebih banyak mengobrol dengan kedua staff perempuan selama didalam" kata Kaila.
"kamu terlihat nyaman saat mengobrol, honey. Aku tidak mau mengganggumu" senyum Pram melihat istrinya didepan. Kaila mengangguk nyengir. Mommy tersenyum lebar melihat interaksi mereka yang sangat romantis.
"apa ayah kalian baik-baik saja saat kalian kemari" tanya mommy. "baik mom, ayah titip salam buat mom dan dad" angguk Kaila.
"aahh pasti dia akan kesepian saat anak perempuan bungsunya jauh dari rumah" senyum daddy, Kaila tertawa pelan. Mereka sampai di mobil yang telah dipersiapkan, dengan dua mobil yang berbeda, mereka naik bersamaan.
"kita akan ketemu mereka nanti honey, setelah sampai" usap kepala Pram. Kaila mengangguk mengerti dengan protokoler keluarga Bagaskara sekarang. Pram mencium pipi Kaila pelan. "welcome home triplet" usap perut Pram, triplet merespon dengan cepat hingga Kaila meringis menahan nyeri.
"pelan boys, kasihan momi mu jika kalian terlalu cepat" ajak bicara Pram diperut Kaila, Kaila menyandarkan kepalanya kebelakang. "are U Ok babe" lihat Pram.
"aku mendadak merasa lemas, by" seka keringat Kaila. Pram mengulurkan tangannya menyeka peluh Kaila.
"kita langsung kerumah" kata Pram tanpa menoleh kearah penjaga yang berada didepan.
"baik tuan" angguk penjaga segera berkoordinasi dengan penjaga yang berada di mobil kedua orang tua Pram. Mobil melaju lebih cepat agar segera sampai dirumah.
"apa mau kerumah sakit saja, yang" tatap Pram kuatir. Kaila menggeleng pelan mengatur nafasnya yang seperti tidak stabil.
"by" pegang tangan Kaila pelan, Pram menoleh dengan cepat. "apa, kenapa" panik Pram melihat Kaila tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"perutku kencang, serasa ada yang mau keluar" pucat Kaila. Pram membelalakkan matanya lebar-lebar, "kita kerumah sakit sekarang" seru Pram, penjaga segera melajukan mobil lebih cepat dan meminta pengamanan lebih banyak. Pram menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"atur nafas, Kai. Kamu pasti bisa, jangan panik" tatap Pram memberi sugesti pada Kaila. Kaila menghirup oksigen dan mengeluarkannya sesuai permintaan Pram, dengan cepat mobil telah sampai di rumah sakit. Kaila segera ditangani oleh para dokter yang sudah berkompeten. Mommy dan Daddy menunggu dengan cemas, beberapa kali mommy meremas tangannya meredakan kegelisahan hatinya menunggu anak perempuannya diperiksa. Daddy memberi ketenangan dengan menggenggam tangan dan memeluknya erat.
Pram hanya berdiri dengan tegak didekat pintu ruangan, ia sesekali melihat kedua orangtuanya yang juga terlihat cemas. "dia akan baik-baik saja mom, mungkin ketiga baby sedang bergulat ingin melihat grand mom and dad mereka" tatap Pram, mommy menghela nafasnya berat.
"semoga mereka baik-baik saja kak, ini belum waktunya mereka keluar" tatap mommy lekat. Pram mengangguk menghela nafasnya berdoa agar ke empat orang yang dikasihinya baik-baik saja.
Selama sejam mereka menunggu kabar, akhirnya, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter dan perawat keluar dari ruangan, mereka kemudian menjelaskan bagaimana keadaan Kaila sekarang. keadaan ketiga bayi yang ingin keluar membuat Kaila sering merasakan kesakitan dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata ada baby yang tidak terdeteksi sebelumnya, ketiga orang yang menemani Kaila terkejut saat mendapati berita tersebut. Pram terhuyung kebelakang seketika mendengar penjelasan dokter, mommy menutup mulutnya tanda tidak percaya. Daddy tertawa kecil mendengar kabar yang menggembirakan.
__ADS_1
Jika bisa maka Kaila akan melahirkan dua bulan lagi sesuai dengan jadwal kelahiran tapi jika ke empat baby-nya ingin keluar maka akan dipercepat. Mereka mengerti dengan penjelasan dokter. Kaila dibawa keruang rawat sementara, mommy ingin Kaila dirawat dirumah dengan pengawasan ahli medis. Pram mengusap rambut istrinya melihatnya tidur dengan nyenyak.
Kaila membuka matanya dan menatap sekitar, "by" panggil Kaila pelan.
"aku disini, yang" ujar Pram dari dalam walk closet. Kaila berusaha duduk, Pram bergegas membantu istrinya.
"kita ada dirumah honey, tadi malam saat kamu tidur kita bawa kamu pulang" kecup rambut Pram, Kaila mengangguk.
"aku ingin membersihkan diri, by" kata Kaila pelan. "baik. Ayo, aku akan bersamamu" kata Pram membantu istrinya masuk kedalam bathroom.
"ruangan kita tidak akan ada pekerja yang akan mengganggumu, kecuali saat kamu mengijinkan mereka untuk membantumu, yang" lepaskan t-shirt Pram, Kaila mengangguk.
"jaga dirimu, yang. Ada empat nyawa yang harus kamu bawa sekarang" pegang bahu Pram menaruh Kaila di bathtub. Kaila mencengkeram tangan Pram menoleh terkejut.
Pram tersenyum lebar, "kita juga sama reaksinya saat tadi malam dokter memberitahu kondisi baby kita dan keadaanmu" senyum Pram. "benarkah, apa ada yang salah, kenapa bisa ada empat. Bagaimana bisa" tanya Kaila beruntun dan antusias, Pram tertawa senang mendengar perkataan istrinya yang seperti tidak terjadi apa-apa semalam.
"aku senang melihatmu sudah seperti biasanya, yang. Kita akan melewati semuanya sama-sama, kita berenam akan selalu bersama" senyum Pram menggosok punggung istrinya pelan, Kaila tertawa lebar mengusap perutnya dengan lembut. "let's trip together anak momi berempat" pejam mata Kaila menikmati sesi berendam pagi ini.
"apa kamu senang" tanya Pram menuangkan shampoo di rambut Kaila. "tentu saja, mereka selalu membuatku antusias melewati hari bersama, selalu berlima setiap hari selama beberapa bulan, apa itu tidak menakjubkan. Setelah kita menikah masih diberi waktu untuk berdua menata hati dan jiwa, sekarang diberi kepercayaan yang sangat besar dengan empat baby sekaligus" senyum Kaila.
Pram tertawa pelan. "aku sangat beruntung memiliki kalian berempat dalam waktu yang bersamaan, dan yang lebih menakjubkan lagi aku memilikimu dengan segenap cinta dan sayang" kata Pram.
Pram kembali membantu Kaila memakai pakaian setelah membersihkan diri. "sweetie" senyum mommy, Kaila tertawa pelan melihat mommy yang segera mendekatinya saat ia berjalan kearah meja makan.
"tentu dad, jauh lebih baik" senyum Kaila memeluk daddy dari samping. Seorang pekerja rumah Bagaskara segera menaruh coklat dingin dimeja, "terimakasih" senyum Kaila meminum dengan segera. "hhmm, segar" cengir Kaila menghabiskannya sekaligus.
"mau makan apa sweetie" tanya mommy. "apapun akan aku makan mom, jangan kuatir" senyum Kaila menerima suapan Pram.
"no, mom. Dia hanya mau makanan Turki beberapa minggu sebelum kesini, padahal dia sama sekali tidak bisa mencium dan memakan daging kambing" tatap Pram, Kaila tertawa.
"oh iya, lupa saking enaknya jadi lupa bahwa itu daging kambing" kata Kaila mengangguk, "nanti akan disiapkan jika kamu mau itu nak" angguk daddy.
"siap dad, nanti kalo Kaila mau akan minta. Siapa tau saat kita keluar akan menemukan hal baru dan makanan baru" kata Kaila cepat.
"asal kamu nggak capek, yang" pandang Pram. "tentu, jika ingat" senyum ceria Kaila menerima suapan Pram, Pram sontak menatap tajam Kaila.
"iya, iya. Kai tau" angguk Kaila mengusap pipi Pram. "jadi" kecup tangan Pram membalas.
"Kai akan benar-benar ingat" jawab Kaila, Pram tersenyum. Daddy tertawa pelan melihat Kaila yang tidak bisa berkutik jika Pram sudah memintanya untuk banyak istirahat.
"apa kamu mau dirumah terus sweetie" tanya daddy, Kaila menggeleng.
__ADS_1
"tidak dad, jika di Indonesia pasti Kai akan mencuri waktu untuk pergi berjalan. Karena badan Kai akan merasa tidak enak jika tidak bergerak dad. terkadang kak Pram tidak mengerti hal itu" kerucut mulut Kaila. Pram mencium mulut istrinya yang maju beberapa centi. "kebiasaan" pandang Kaila.
"makanya jangan di majuin itu bibirnya, kalo nggak mau dimakan" senyum Pram menggoda, Kaila memutar bola matanya malas. Daddy tertawa lebar melihat tingkah kedua anaknya itu.
"sesekali kamu bisa berjalan disekitar mansion. Tidak akan tampak orang yang menjagamu, hanya ada satu penjaga mu yang akan menemani saat kamu mau berjalan menghirup udara diluar rumah" kata daddy.
"makasih dad, Kaila pasti akan melakukannya" angguk Kaila senang.
"mommy boleh menemanimu bukan sweetie" senyum mommy.
"tentu mom, baru akan Kaila tanya jika mommy mau menemani Kaila kemana aja" senyum Kaila mengangguk. Mommy tertawa mengangguk, "tidak tahu bagaimana rasanya nanti jika mereka berempat sudah bisa berlarian kemana saja. Pasti akan sangat menyenangkan melihat rumah ramai" ujar mommy berandai-andai.
"tidak akan ada ketenangan jika mereka sudah berlarian kesana kemari, mom. Akan banyak barang yang mungkin akan tidak berbentuk lagi" kata Kaila.
"aahh, iya. Mommy lupa jika nanti mereka akan terkena benda-benda tajam" ingat mommy. Kaila tersenyum lebar.
"ayah" lambai Kaila.
"sudah sampai, Kai" senyum ayah melihat mereka berdua dilayar ponsel.
"sudah yah, semalam waktu sini" kata Kaila.
"bagaimana keadaanmu" tanya ayah.
"sampai sini Kaila ngerasa mereka mau keluar yah, hingga harus dilarikan kerumah sakit dan diberi penguat kandungan agar bisa sampai waktunya nanti mereka harus keluar" kata Kaila. Ayah menegakkan punggungnya mendengar cerita Kaila.
"Kaila beruntung masih bisa kuat, yah. Tuhan masih mengijinkan Kaila kuat membawa mereka berempat. Nggak sia-sia suka ngikut ke proyek dan begadang sama naik gunung" tawa Kaila, Pram mengusap kepala istrinya lembut.
"syukurlah, tunggu. Apa yang kamu bilang tadi, berempat. Bukannya mereka bertiga ya" ulang kalimat ayah mengerutkan keningnya. Kaila mengangguk tersenyum.
"kemarin baru ketahuan yah, setelah pemeriksaan lebih detail. Kaila juga baru diberitahu pagi ini oleh kak Pram" senyum Kaila. Ayah tertawa terpana tidak menduga akan menerima kabar gembira lagi.
"apakah juga laki-laki seperti ketiga saudaranya Kai" tanya ayah. Kaila menggeleng.
"belum tahu, yah. Karena tidak tampak dengan jelas. Itupun hanya terlihat sekilas karena dia senang berada dibalik badan saudara nya yang lain" jawab Kaila. Ayah melebarkan matanya mendengar penjelasan anak perempuan bungsunya.
"semoga mereka selamat sampai nanti, Kai. Ayah akan segera mengurus keperluan untuk melihatmu disana" senyum ayah, Kaila tersenyum mengangguk.
Hai ..... Hai ..... Hai .... All readers. Terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.
Luv .... Luv .... Luv .... U all readers sekebon pisang goreng. Terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
Stay healthy all