Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 24


__ADS_3

tepat jam 6 pagi, Pram sudah berada di kediaman Prayoga, ia mematikan mesin mobil dan mengetuk pintu rumah Kaila. "pagi den" sapa bik Sum membuka pintu lebar mempersilahkan Pram untuk masuk. "maaf pagi-pagi saya mengganggu bik, Kaila mau naik gunung" sapa Pram melangkah masuk. "iya den, bibik juga kemarin diberitahu tapi non Kaila nya belum bangun, baru jam 1 masuk kamar" lapor bik Sum. "kenapa malam sekali" kerut kening Pram melihat kearah kamar Kaila. "ngobrol dulu dengan den Arga dan non Kalai dulu den setelah acara tadi malam" jawab bik Sum. Pram mengangguk berjalan pelan menuju kamar Kaila, membuka kamarnya pelan.


"Kai" kata Pram pelan melongokkan kepalanya di pintu kamar Kaila, dilihatnya Kaila masih tidur dibalik cover bednya sedang dipojok sofa sudah tertata rapi tas gunung berukuran sedang dan sepatu gunung berada dibawahnya. Pram segera meraih tas gunung Kaila dan membawanya kedalam mobil.


"pagi kak Pram" turun Kalai dari lantai atas, "pagi. udah bangun Kal" sapa Pram saat berpapasan dengan Kalai, Kalai tersenyum mengangguk. "tadi malam ngobrol bertiga sampai ketiduran, tau-tau udah pindah ke tempat tidur" senyum Kalai, Pram mengangguk. "Kai belum bangun" tanya Kalai. "belum, mungkin sebentar lagi" geleng Pram menatap pintu kamar Kaila, "kalo naik gunung dia selalu penuh semangat, momi yang dengan setia menunggu dipintu kalo Kaila mau pulang" duduk Kalai diruang tengah.


"apakah dia udah lama melakukan aktifitas naik gunungnya" tanya Pram, "hhmmm.... lumayan lama kak, mungkin kira-kira mulai awal kelas 2. diajak sama Davi teman beda jurusan. kita anak pasti, dia anak sosial" ingat-ingat Kalai. "sering naik dengan Davi kalo begitu" tanya Pram lagi. "iya, seringnya bersamanya, kadang kala dengan anak-anak sekolah lain atau kampus lain" angguk Kalai. "biasanya Davi dan yang lain berangkat naik kereta, kemarin sore mereka sudah berangkat katanya, biasanya Kaila dan Icha naik pesawat untuk menghemat tenaga" senyum Kalai. "apa kamu juga sering ikut" tanya Pram, "sekali dua kali menemani Icha" tawa Kalai.


"kelihatan asyik banget ngobrol pagi-pagi" senyum ayah melihat mereka berdua diruang tengah. "iya, yah. nemenin kak Pram karena Kaila belum bangun, kak Arga juga" senyum Kalai. "pasti ngobrol sampai malem tuh anak" kata ayah menggelengkan kepalanya.


"jam 1 pak" letak kopi bik Sum.


"emangnya berangkat jam berapa anak itu" tanya ayah, "katanya pagi, yah tapi sampai sekarang belum bangun. flight jam 9" jawab Pram, "bangunin, nanti dia siap-siap udah memakan waktu juga kan" pandang ayah, Pram mengangguk dan beranjak dari tempatnya untuk membangunkan Kaila.


"Kai, udah jam 7 mau berangkat nggak" elus rambut Pram. "hah" bangun Kaila segera membuka matanya dan bergegas kekamar mandi, Kaila keluar mengenakan bathrobe. "jam berapa kakak kesini" lalu Kaila menuju walk closet. "jam 6 sampai sini" ikuti Pram menuju walk closet, Kaila segera mengenakan underwear pants dan bra nya tanpa melihat kehadiran Pram yang ada disana. "ketemu Icha dibandara kan" tanya Pram memandang Kaila yang berjenggit kaget mendapati Pram didekatnya.


"oh.... gosh.... ngapain kakak kemari, aku baru ganti baju" pandang Kaila segera memakai jeans hitam belel nya dan t-shirt putih dan kemeja. Pram menatap Kaila tanpa berkedip menunggu jawaban Kaila, "ya.... biasanya juga gitu" angguk Kaila menghela nafasnya.


"cincinnya mana" tanya Pram, Kaila memperlihatkan jari manis kirinya. "ponsel dan dompet udah dibawa kan" tanya Pram. Kaila mengangguk sambil mengikat asal-asalan rambut panjangnya sehingga menampakkan lehernya yang putih mulus, Pram berjalan mendekat dan memeluk Kaila dari belakang. "aisshh..... berangkat kak" kata Kaila buru-buru mencoba melepaskan pelukan Pram yang mengecupi lehernya walau dia sedang beraktifitas. "ayo" lepas rengkuhan Pram dan mencium bibir Kaila lembut serta menuntut, Kaila refleks melingkarkan kedua tangannya dileher Pram, mereka saling memberi dan menjelajahi setiap inci mulut pasangannya, Pram mengusap benda kenyal candunya, mengecup ubun-ubun rambut Kaila berulang kali, "jangan lama-lama pulangnya, yang" satukan kening Pram mengusap bibir Kaila yang memejamkan matanya menahan gejolak hasrat kemudian berdehem pelan tanda mengerti. Pram tersenyum mengusap pipi Kaila.


"mau sarapan dulu Kai" pandang Ayah, "teh aja yah" duduk Kaila meminum teh panasnya. "begadang" tanya ayah, Kaila mengangguk tersenyum, "jam satu yah, keasyikan ngobrol sama kak Arga hingga Kalai sampai tertidur disampingnya" angguk Kaila menghabiskan minumnya segera. "berangkat dulu yah" peluk Kaila beranjak dari duduknya, "hati-hati, semoga cuacanya tidak ada badai dipuncak" elus punggung Ayah. "semoga yah" angguk Kaila mengamini doa ayah. "good luck Kai" lambai Kalai. "semoga selalu dalam lindungan Tuhan" pinta Kaila mengangguk melambaikan tangannya, Pram membuka pintu untuk Kaila dan mobil segera melaju meninggalkan rumah menuju bandara.


Icha melambai kan tangannya saat melihat kedatangan Kaila yang berjalan mendekatinya. "nunggu lama Cha" tanya Kaila, "lumayan setengah jam-an" angguk Icha, Pram mengusap kepala Kaila untuk duduk ditempat yang kosong. "kak Saka nggak ikut nemenin Icha" tanya Kaila duduk. "nanti kalo udah beres kerjaannya" angguk Saka, Kaila tersenyum. "kita bentar lagi kan" keluarkan tiket Icha, Kaila merogoh samping tas gunung nya "ada" angguknya. "honey, mau aku belikan sesuatu" tanya Pram, Kaila menggelengkan kepalanya. "Jogja-jakarta hanya sejam" kata Kaila memandang Pram.


"kak, aku berangkat dulu" pamit Kaila setelah melihat pengumuman, Pram memeluk Kaila dan mencium keningnya. "hati-hati" tatap Pram, ia tersenyum menganggukkan kepalanya, Kaila dan Icha menuju gate keberangkatan, "biasanya ada cewek kita nggak gini juga Pram" balik badan Saka setelah mereka tidak terlihat lagi, Pram menyunggingkan senyum disudut bibirnya. "kita terlalu posesif" jawab Pram memakai kacamata hitamnya melangkah berseberangan dengan Saka, "balik kekantor dulu woi.... uncle nungguin" seru Saka. "ke kampus bentar baru kesana" masuk mobil Pram, Saka menghela nafas berat. "aku lagi yang kena getahnya" ucap Saka lirih. "Davi udah sampai Jogja Kai" toleh Icha, Kaila mengangguk. "habis turun langsung pulang kan seperti biasanya" pandang Icha. "jika Tuhan mengijinkan Cha" jawab Kaila memejamkan matanya. Icha mengamini doa Kaila. "di Jogja banyak tempat kulineran Kai, kita kesana ya" senyum Icha bersemangat, "siip....." angguk Kaila mengiyakan.


sesampainya di Jogja, Davi menjemput mereka, "kita langsung penginapan" tanya Davi menatap kedua sahabatnya, "siap" jawab Kaila. "Cha kamu ikut ke penginapan atau langsung hotel aja" tanya Kaila. "langsung hotel aja Kai, kamu langsung mau naik kan" geleng Icha mengerti. "he em.... abis petang kita akan naik, anak-anak yang lain udah di penginapan, nunggu kita trus kita langsung ke camp" angguk Davi, "aku bisa sendiri guys. kalian berangkat aja gih, dekat juga dari sini" geleng Icha. "beneran nggak papa, kamu nanti tersesat" pandang Kaila memastikan keadaan Icha. "titip Kaila ya Dav, jagain dia" pesan Icha. "iya pasti, kita kan selalu bersama kalian sahabat baikku" angguk-angguk Davi. "hati-hati Kai, aku menunggu kabarmu ya" peluk icha sebelum mereka berpisah. "kamu juga, jangan keluar terlalu malam" balas Kaila.


"Cha kita pergi dulu" lambai Davi. Icha membalas lambaian tangan Davi. "siap Kai" senyum Davi, "siap" senyum Kaila.


"hai semua" salam Kaila sesampainya ditempat mereka menginap setelah perjalanan yang lumayan menuju kesana. "hai... udah sampai Kai" salam Bram, Kaila mengangguk. "kenalkan ini teman-teman dari Surabaya" kenalkan Bram.

__ADS_1


"hai.... teman-teman. saya Kaila" salam Kaila memperkenalkan diri, mereka tersenyum dan menganggukkan kepala.


"jam 4 kita akan mulai sekalian meminta ijin untuk mendaki " jelas leader. "siap" jawab semua serempak. "mau bersih-bersih dulu nggak Kai" sapa Bram saat melintas. "bentar lagi" angguk Kaila mengecek perlengkapannya, "aku dengan siapa, Dav" tanya Kaila. "dengan Weni, dia pacarnya Wito dari Surabaya dia baru keluar dulu dengan Wito" jawab Davi mengerti. Kaila mengangguk.


"hallo kak" sapa Kaila segera menjauh dari yang lain.


"sudah sampai Kai" tanya Pram memastikan.


"sudah kak, sehabis istirahat kita akan naik" jawab Kaila. "ada temen cewek satu, anak Surabaya" tambah Kaila.


"saat mendaki ponsel aku matikan kak, jadi dua hari mungkin aku tidak bisa dihubungi" kata Kaila.


"baiklah. aku mengerti, jaga dirimu dan hati-hati Kai. aku menunggumu pulang, luv U, yang" kata Pram.


"Ok" tutup Kaila cepat, mematikan ponselnya.


"Kai, kita berangkat sekarang" panggil Davi.


"hai..... pasti Kaila yaa.... persis seperti yang diomongin Davi, aku weni" salam Weni tersenyum ceria.


"hallo, Weni. Davi suka berlebihan kalo ngomong, tapi dia tetap sahabat terbaikku dari sekolah" senyum Kaila lebar, Weni tertawa mengangguk.


"Davi bilang, kamu anaknya asyik dan cantik tentu saja" kata Weni.


"nah.... Davi tuh suka gitu, nyanjung temen kalo ada maunya" senyum Kaila, Weni tertawa mengangguk.


"kita jalan bersama teman-teman. saling berbagi dan saling mengerti. tundukkan semua ego, kesampingkan pikiran jelek atau negatif. berserah diri sepenuhnya kepada yang Maha kuasa" pesan leader sebelum mereka memulai melangkahkan kaki menuju puncak gunung Merbabu. "kita berdoa sebelum melakukan perjalanan, berdoa dimulai...." pimpin leader kemudian. "selesai... sudahi leader.


"perhatikan wajah teman satu sama lainnya agar kita tahu siapa saja yang bersama-sama, jika ada yang sakit, ketinggalan dalam rombongan perjalanan kita kali ini maka kita dapat saling membantu" ingatkan leader, mereka mengangguk, setelah dirasa cukup maka mereka beriringan berjalan menapaki jalan setapak menanjak menuju puncak gunung Merbabu.


selama perjalanan hanya kesunyian yang menemani mereka melewati jalanan yang terus menanjak. "kita hampir sampai Kai" senyum Bram. Kaila mengangguk, mengatur nafasnya agar stabil.

__ADS_1


"kita bisa melihat fajar, cuaca terlihat tenang" pandang langit Bram.


"semoga" lihat Kaila keatas.


"Kai, apakah minuman mu masih" tanya Davi mendekat.


"masih" rogoh Kaila dibagian samping tas gunungnya dan menyerahkannya kepada Davi.


"nih ka, punya Kaila" serah Davi, Eka segera meneguknya dan menyerahkan kembali ke Davi setelah selesai.


"makasih Kai" kata Eka sesaat kemudian.


"sama-sama" senyum Kaila tipis menaruh kembali kebagian samping ransel gunungnya.


"Wen" panggil Kaila, Weni memberi isyarat dengan jemarinya bahwa dia masih bisa lanjut.


"kabutnya semakin tebal" pegang Davi dibahu Kaila.


"he em. tambah banyak yang bareng naik kesini" lihat Kaila samar-samar disekitarnya.


"kita berhenti disini dulu" saran leader, mereka berbaring disisi jalan setapak agar pendaki yang lain masih bisa lewat.


"haaaa.... " atur nafas Kaila beberapa saat. "lumayan Kai " tanya Bram mengatur nafasnya juga. "lumayan" angguk Kaila pelan. "nama leader siapa, aku lupa" tanya Kaila pelan.


"Erlangga, anak mapala kampus Surabaya, bareng sama Wito dan Weni, Eka" jawab Bram. "jumlah teman mereka ada 11 orang, tambah kita 4 orang. jadi 15 orang" tambah Bram. "aku mengenalnya saat kita ada pertemuan BEM se-Indonesia, ngobrol lama jadi tau jika dia anak mapala juga, janjian aja kalo pas longgar waktunya mau naik bareng. mumpung kuliah kita juga nggak padat karena mau libur semester kan" kata Bram, Kaila mengangguk dan meminum bekal airnya, mengatur nafas dan suhu tubuh agar tidak mengalami hipotermia.


Kaila melihat deretan para pendaki lain yang bergerak pelan tapi pasti masih melangkah menuju puncak melalui jalan setapak yang sama seperti dia lalui saat ini. iring-iringan para pendaki membuat suasana seperti lampu pijar yang menyala dalam kegelapan. Kaila menyunggingkan senyuman disudut bibirnya melihat pemandangan yang tidak dijumpainya jika berada di kota. dalam perjalanan ini pun dirinya masih selalu dibuat terkagum-kagum akan kebaikan Tuhan kepada makhluknya yang tidak ada habis-habisnya.


hai.... hai..... hai..... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku ini, terimakasih banyak atas dukungannya terhadap karyaku.


luv......luv.....luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.

__ADS_1


stay healthy all.


__ADS_2