Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 14


__ADS_3

"aku telah berpisah karena Arga memilih mencintai Kalai saudara kembar ku" senyum Kaila menatap Icha yang membuka matanya lebar-lebar membelalakkan matanya terkejut, tidak percaya mendengar cerita Kaila yang terlihat tenang namun ia tahu pasti rasanya sangat-sangat sakit. "dan yang paling menyedihkan, aku mendengarnya secara tidak sengaja" hela nafas Kaila menatap ke depan melihat lampu rumah-rumah yang seperti titik-titik kecil bertebaran. "mereka berhubungan di belakangku Cha, tanpa aku sadari. betapa bodohnya aku, tidak melihat tanda-tanda mereka bersama sejak lama" ujar Kaila pelan memejamkan matanya dan mulai mengalirkan air mata disudut.


"dan kejadian itu terlalu cepat untukku memahami dan berdamai dengan semuanya Cha, hanya dalam hitungan minggu .... hanya hitungan bulan semua berubah membolak-balikkan hidupku, seperti roller coaster yang menjatuhkan dan menghempaskan tubuhku sesuai kecepatan.aku merasa sendiri, terpuruk" ucap Kaila menyeka air matanya yang menetes tanpa henti, Icha mengulurkan tissue dan memeluk sahabatnya dari samping. "hingga kenyataan yang terjadi lebih membuatku tambah terpuruk, Arga telah meminang Kalai menjadi istrinya dan seminggu yang lalu mereka resmi menikah" senyum Kaila menyeka air matanya yang menetes kembali. Icha membuka mulutnya merasa seperti melayang, tidak tahu jika sahabatnya mengalami kejadian yang paling menyakitkan di hidupnya beberapa hari belakangan ini.


"oh.... my....." keluar suara Icha pada akhirnya tidak dapat menahannya lebih lama lagi, mereka berpelukan dan menangis sama-sama, Icha mengusap punggung Kaila dan menepuk-nepuk punggung nya sama-sama memberi kekuatan. "aku tidak tahu harus berkata apa lagi Kai" terbata-bata Icha sambil berderai air mata tidak dapat menyembunyikan kesedihan, kemarahan yang menjadi satu saat mendengar cerita Kaila barusan, mereka sama-sama menangis. "kenapa saat itu kamu tidak memberitahuku, apa aku tidak berguna untukmu, apa aku seperti sahabat yang tidak berguna Kai" teriak Icha memegang erat kedua bahu Kaila menatapnya nyalang.


"disaat aku terpuruk, kamu selalu ada untukku Kai, kenapa disaat kau sendirian dan merasakan semuanya aku justru tidak tahu, bahkan penderitaan yang kamu alami pun aku tidak tahu" peluk Icha menangis, Kaila hanya menggelengkan kepalanya mengusap air mata yang selalu jatuh tanpa diminta.


"ada apa Kai" lari Pram dengan cepat menghampiri mereka saat mendengar teriakan dan tangisan kedua perempuan itu dari jauh, teman-teman nya yang lain mengikutinya dari belakang karena merasa kuatir juga. Kaila dan Icha yang sedang menangis berteriak terkejut menoleh kebelakang karena kehadiran laki-laki yang tiba-tiba muncul begitu saja. "mas Pram...." terkejut Icha disela-sela tangisnya, menatap salah satu laki-laki yang dikenalnya sebagai pengajar dikampus. "kak Saka" terhenyak Icha kembali mengenali laki-laki lain yang ada didepan mereka berdua dan malah menangis lebih keras, Pram dan Saka saling berpandangan satu sama lain, mereka berdua segera mengangkat tubuh kedua perempuan itu untuk dibawa masuk kedalam. Junot dan Tigor hanya terdiam terpaku menyaksikan adegan tadi yang seperti kilasan sinetron dengan beberapa adegan dramatis didalamnya.


"apa kau tahu kejadian yang barusan terjadi tadi Jun" toleh Tigor kebingungan menuju tempat duduk Kaila dan Icha tadi, Junot menggelengkan kepalanya tidak mengerti sama sekali peristiwa apa yang barusan mereka saksikan dengan mengikuti langkah Tigor dan hanya duduk terdiam mencerna kejadian tadi disebelah Tigor.


"kenapa keduanya menangis dengan histeris, apa mereka saling cakar-cakaran tidak, kenapa mereka begitu" acak rambut Tigor bertanya dengan bingungnya, "aku harus nanya siapa coba, mereka pasti tidak akan bisa ditanyai kan" bingung Tigor menatap Junot. "Jun, lebih baik kita pergi dulu keluar, aku rasa malah kita yang stress melihat cewek-cewek itu. biarkan mereka berdua yang nenangin cewek-cewek itu" pandang Tigor menepuk bahu sahabatnya dan beranjak dari tempat duduknya memutuskan untuk pergi keluar menenangkan diri dan pikirannya melihat kejadian tadi, Junot mengangguk mengikuti langkah Tigor pergi meninggalkan bungalow.

__ADS_1


"Kai...." letakkan tubuh Pram diatas ranjang. "kamu kenapa" tatap Pram menata rambut Kaila yang terlihat berantakan, Kaila hanya menggeleng pelan, meringkuk dan memejamkan matanya, Pram mengambil ikat rambut dan t-shirt yang baru untuk Kaila yang basah oleh air mata. Pram memadamkan lampu kamar, segera mengganti t-shirt Kaila yang basah, mengikat rambutnya agar tidak berantakan. lampu kembali dinyalakannya lagi, Pram mengambil air mineral dan membantu Kaila untuk minum sedikit, mengusap air mata Kaila dengan t-shirt yang dilepasnya, terlihat Icha masuk dengan Saka yang berada disampingnya memegang kedua bahunya, mendudukkannya di tepi ranjang tempat Kaila meringkuk. "kamu nggak papa Cha" dongak Kaila, Icha menggelengkan kepalanya dan mendekati Kaila untuk memeluknya erat. Pram menarik tubuh Kaila ke belakang dan memberi isyarat agar Saka melakukan hal yang sama dengannya.


Pram mengusap-usap paras Kaila menghilangkan air matanya yang terus turun. Pram menenangkan Kaila dengan menepuk-nepuk punggungnya, sedangkan Saka menenangkan Icha yang juga terlihat tidak baik-baik saja, keadaan hening cukup lama, Pram menghidupkan TV agar mencairkan suasana hening karena Kaila dan Icha yang masih larut dalam kesedihan.


"ternyata dunia sempit ya ka, kamu kenal Icha sahabatnya Kaila dan dia juga mahasiswaku seperti Kaila" senyum Pram mengusap punggung Kaila menatap saudara sepupu satu-satunya. "kebetulan yang aneh nggak sih Pram" tawa saka merapikan rambut Icha, Pram tertawa mengangguk.


"baru kali ini aku ngliat cewek sampai segitunya ketika saling curhat" geleng-geleng kepala Saka, Pram mengangguk membenarkan. "karena biasanya yang kita hadapi adalah laki-laki, tinggal berkelahi, sudah selesai urusannya" hembus nafas Pram. Saka mengangguk. "kenapa mereka yang histeris, malah kita yang ketakutan setengah mati" tawa Pram merasa kesal tidak bisa berbuat apa-apa. "nggak ada cerita gini saat kita kuliah" senyum lebar Saka. "yups...." setuju Pram. "kita yang kayak laki-laki yang tidak bisa berpaling" pandang Pram ke arah Kaila yang mulai tertidur karena kelelahan. Saka tertawa lebar menatap pram "do you believe that words" ujarnya pelan. "semenjak kenal dia, aku mengakui kata itu" tawa Pram mengusap pipi Kaila yang memerah.


"terpaksa tidur disini nih malam ini" hembus nafas Saka menatap Icha yang juga mulai terlelap akibat terlalu lama menangis. "ada cover bed disana" anjak Pram mengamati Kaila sesaat, Saka melihat pergerakan Pram, "kemana mereka berdua tadi" tanya Pram menyerahkan cover bed extra. "mungkin tidak ingin terlibat dengan mereka berdua" isyarat dagu Saka. "luar biasa bukan, mereka berdua sering berganti pasangan mengaku paling mengerti perempuan tapi menghadapi situasi seperti ini menghindar entah kemana" ujar Pram membenarkan posisi Kaila agar tidur lebih nyenyak menaikkan cover bed hingga bahu mengecup keningnya lembut kemudian duduk dibawahnya.


"benar, terutama mommy yang harus menanyakan penjaga bayangan untuk mengamati perempuan mana yang dekat denganmu hanya agar dapat segera menimang cucu. benar-benar deh para orang tua itu. apa dikira gampang menemukan seorang gadis yang pas dihati" senyum Saka. "Yap. terkadang karena terlalu sibuk dengan bisnis membuat kita tidak terlalu berpikir untuk mencarinya" kata Pram.


"gimana dengan Icha, aku tidak pernah mendengar kamu membicarakan nya secara serius" ucap Pram memandang Saka tidak mengerti bagaimana awal mula dia mengenal Icha, Saka tertawa konyol menatap Icha yang tidur dibelakangnya. "dia anaknya temen bunda, aku terpaksa mengantar bunda pergi ke tempat bunda berkumpul dengan teman-temannya, saat itu aku bertemu denganya namun mendapatkan sikap yang tidak bersahabat" jawab Saka tersenyum. "saat itu banyak anak perempuan teman bunda yang minta untuk mengenalku dan dia hanya menatap sinis dan berlalu pergi, hingga jika aku mengantar bunda bertemu dengan teman-temannya aku memastikan untuk melihatnya disana dan tanpa sadar aku menyukainya karena dia selalu tidak suka saat melihatku" tawa Saka, "berarti kita sama, tidak dianggap oleh gadis yang kita sukai padahal didunia bisnis kita tidak tertandingi, tapi dihadapan mereka, kita bukan apa-apa" senyum kecut Pram. "jangan-jangan kita akan bernasib sama" tawa Saka, "mungkin, jika dilihat sikap mereka yang tidak kenal dengan ketampanan dan kekayaan" angguk Pram menyesap minumannya.

__ADS_1


"cihhh.... sungguh mengenaskan sih nasib percintaan kita, kita ini adalah laki-laki yang mapan, digilai oleh banyak gadis tapi malah tak berdaya dengan gadis umur 20 an. dengan usia kita yang tidak lagi muda" minum Pram sarkas, Saka tertawa pelan kemudian terbahak-bahak berakhir dengan menangis dalam kepedihan. Pram menghela nafas panjang menyandarkan kepalanya menatap keindahan Tuhan yang penuh dengan bintang yang bertaburan. "malam yang sungguh indah" gumam Pram. Saka memeluk Icha, membelai rambutnya dan mengecup bibirnya pelan dan tidur bersama dalam kedamaian.


"bro apakah sudah aman" datang Junot dan Tigor didepan pintu kamar Pram menatap mereka, "setidaknya sekarang lebih tenang" angguk Pram, mereka duduk sambil menonton TV. "apakah menenangkan mereka memakan waktu lama" pandang Tigor, "lumayan" senyum Pram menatap Tigor. "dan dimana kalian sebagai pakarnya perempuan tapi malah kabur" tanya Pram, "aku tidak tau harus melakukan apa, jadi lebih baik membiarkan mereka tenang terlebih dahulu dengan kalian" tawa Tigor merasa tidak enak. "it's ok bro, aku maklum" senyum Pram.


"ini jam 2 dinihari, ayo kita tidur. masih banyak yang harus kita lakukan besuk" peluk junot pada bantalan sofa yang diraihnya, merebahkan diri dibawah ranjang. Tigor menyandarkan tubuhnya ditepi ranjang disamping Pram."apakah mereka akan baik-baik saja besuk, aku kira kita akan bersama menghabiskan weekend ini dengan keceriaan dan kebahagiaan. tapi malah berujung dengan tragedi" toleh Tigor. Pram tersenyum, "karena kita sejatinya tidak bisa menyelami hati seorang perempuan. jadi ketika terjadi seperti ini kita tidak tahu harus melakukan apa" jawab Pram Tigor manggut-manggut mengangkat kaleng birnya dan meneguknya sedikit. Pram beranjak untuk memeluk Kaila yang tidur dengan nyenyak.


penuh haru biru pokoknya chapter ini..


hai.... hai..... hai..... para readers, luv U all sekebon, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita pertama kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


dukung yaaa... karya pertama ku.

__ADS_1


luv... luv.... luv..... U all readers sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2