Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 111


__ADS_3

"sweetie, kita akan berganti airplane" sentuh Kaila dibahu kanan putri satu-satunya, Kirana membuka matanya menyesuaikan dengan keadaan. ia bergerak pelan keluar dari dalam kabin dan menuruni tangga, penjaganya telah berada diluar memastikan semuanya baik-baik saja, Pramana membantu adik perempuan nya turun karena masih belum sadar sepenuhnya dari tidur.


"mom" tatap Kirana, Pramana menunjuk ke depan dimana kedua orang tua mereka berjalan bergandengan menuju pesawat pribadi yang berada disisi lain. mereka kembali masuk kedalam kabin dan kembali tertidur untuk mempersiapkan energi saat tiba di London melihat kondisi grandmom mereka.


Kaila menghela nafasnya beberapa kali dengan mata yang terpejam dan air mata yang mengalir sendiri, Pram memeluk istrinya dan mengusap bahunya berulangkali, mengecup keningnya memberi kekuatan.


"mommy akan baik-baik saja, honey. dia perempuan yang hebat dan kuat" kata Pram pelan, Kaila menganggukkan kepalanya pelan tanpa dapat bersuara.


"jaga kondisimu juga, yang. setibanya disana, anak-anak akan menjagamu bergantian, mereka pasti tidak akan mau kamu sakit" ucap Pram, Kaila mengangguk.


"kita akan langsung kerumah sakit, jika kamu merasa tidak kuat, lelah dan ingin istirahat maka akan ada yang mengantarmu pulang dulu, baru nanti menyusul kesana. jika mommy masih dalam keadaan tidak sadar maka kamu istirahat lah dulu, aku tidak mau kamu terlalu banyak berpikir" usap rambut Pram, Kaila mengangguk mengerti.


seiring usianya bertambah, Kaila mulai memahami dan mempertimbangkan segala hal yang akan dilakukan dan apa yang akan terjadi kedepannya, dibelakangnya ada orang-orang tersayangnya yang harus dipikirnya, jika terjadi apapun terhadapnya maka akan berdampak langsung kepada anak-anaknya.


"mom" raih jemari Wijaya, Kaila tersenyum menggenggam erat jemari putra ketiganya itu erat. "momi baik-baik saja, kak. apa kamu juga baik-baik saja" tatap Kaila, Wijaya mengangguk meletakkan kepalanya dibahu Kaila, "grandmom pasti kesakitan saat ini, momi tidak bisa menggantikan sakitnya. jika bisa momi saja yang merasakan sakit itu" sandar kepala Kaila di kepala Wijaya yang menyandar dibahu Kaila, Wijaya memeluk Kaila erat.


"Wijaya saja yang merasakan sakitnya mom, momi sudah terlalu tua untuk merasakan sakit juga" kata Wijaya, Kaila tertawa tiba-tiba mendengar ucapan putranya itu.


"wait, apa kamu bilang. momi sudah tua" angkat kepala Kaila menatap tajam kearah putranya itu, Pram tergelak melihat kedua orang tercintanya saling beradu argumen.


"it's true kan mom, how old momi now. nggak nyadar kalo udah punya anak teenager empat" kata Wijaya tidak mau kalah. Kaila menatap Pram meminta bantuan.


"momi lebih dewasa, son" pandang Pram tertawa, Wijaya mengerucutkan bibirnya memeluk mominya kembali, Kaila tertawa lebar.


"tidak setua popi, mom. momi masih sangat cantik sehingga jika kita jalan bareng kayak kakak adik, terkadang kesel kalo momi dikira kakak Wijaya dan mereka nitip salam kenal" kata Wijaya, Kaila tertawa terbahak-bahak sedangkan Pram melebarkan matanya kesal menatap anak laki-lakinya itu.


"kalau begitu momi kuliah lagi aja ya, biar popi yang kerja" naik turunkan alis mata Kaila menatap suaminya. Pram menatap istrinya datar, "tentu mom, jika itu membuatmu bahagia maka lakukanlah" angguk Wilaga, Pram menghela nafasnya mendengar pembicaraan istri dan anak laki-lakinya itu.


"jika momi kuliah apa kalian mau direpotin antar jemput" tanya Kaila menggoda ketiga anak laki-lakinya. "tentu, mom. jangan kuatir, selama tidak bersamaan dengan school. hal itu tidak masalah bagi kami" naik turunkan alis mata Wilaga. "malah keren ntar dikira punya gebetan anak kuliahan, seru" tawa Wijaya, Pram membuka matanya menatap keempat orang tersayangnya sedang membayangkan hal yang mengesalkan baginya. "dulu momi kuliah popi yang jadi lecturer momi dan membuat momi menghindari popi habis-habisan. kalo nanti ada yang suka momi gimana" goda Kaila, Pram menoleh cepat.

__ADS_1


"tenang mom, itu tandanya momi masih punya pesona yang tak terbantahkan. makanya banyak yang suka" senyum-senyum Pramana menatap kedua orang tuanya.


"terusin aja kalian bertiga, tidak ada uang saku selama seminggu" dehem Pram tidak suka, mereka tertawa terbahak-bahak melihat popinya kesal.


"tapi beneran lho, pop. jika kita jalan sama momi dan Kirana, kita dikira jalan ama orang yang kita suka" tatap Pramana, "hhmmm" dehem Pram. "iishh, pop nggak percaya. kuliah lagi mom, popi aja ngambil master cepat kelar" kata Wilaga. "akan momi pikirkan, enaknya kuliah di negeri sendiri atau di negeri orang kak" toleh Kaila mengetukkan jemari telunjuknya di mulut.


"enak di dekat rumah aja mom, kakek ada dirumah sekalian nunggu disana aja. jika granddad dan grandmom mau, nggak usah bolak-balik lagi ke sini. stay with us. that's much better" kata Pramana pelan, Kaila mengangguk.


"momi boleh nglanjutin belajar lagi, asal tetap sama popi" kata Pram, "sama aja dong pop, momi nggak boleh jauh-jauh. namanya lepas kepala buntutnya dipegang kencang" kata Wilaga duduk seenaknya kesal.


"itu namanya pilihan, kuliah tapi popi masih bisa liat momi setiap saat or nggak kuliah lagi dan tetep sama popi bekerja bersama-sama" senyum popi. "isshh" kesal Wilaga menutup wajahnya yang tampan dengan topi agar tidak melihat paras popinya yang terlihat ngeselin. Pram tertawa terbahak-bahak senang melihat ke empat orang tersayang nya tidak berkutik dengan perkataannya.


"malah kliatan seneng tuh popi, kalo momi nggak jadi perempuan pintar" tatap Pramana menyilangkan tangannya didepan dada.


Pram menggeleng, "kamu salah, tanpa popi pun momi bisa. momi jauh lebih pintar, sabar dan lebih pandai mengatur segala sesuatu. momi pintar membagi waktunya untuk mengurusi kalian berempat secara bersamaan, popi dan semua orang didekatnya. apakah momi pernah mengeluh tidak mau, tidak kan. momi akan tetap mengurus kita walau dia juga butuh waktu untuk dirinya sendiri, tanpa kenal waktu" kata Pram tenang.


"momi jauh lebih sabar saat menghadapi sifat masing-masing dari kalian berempat dalam waktu bersamaan. itu bukan hal yang mudah bagi seseorang untuk menghadapi empat orang dalam waktu bersamaan. apa kalian berempat bisa bilang tidak tanpa alasan apapun pada momi, hanya kepada satu orang yaitu momi kalian, kalian nggak bisa kan" tatap Pram, Wilaga membuka topinya dan duduk dengan benar.


"apa kalian bisa melihat sejauh itu pengorbanan momi terhadap kita" hela nafas Pram, mereka bertiga menggeleng pelan.


"maafkan kami mom, masih suka bilang tidak ke momi" peluk Wijaya, Pramana dan Wilaga segera memeluk Kaila juga.


"it's Ok boys, kalian berempat adalah anugerah terindah yang popi dan momi miliki. penantian panjang sebelum punya kalian membuat momi lebih menghargai setiap moments yang kalian bawa dalam kehidupan momi. kehadiran kalian membawa kebahagiaan kepada kedua keluarga besar popi dan momi, itu membuat momi menjadi perempuan paling beruntung" kecup pipi Kaila di ketiga anak laki-lakinya.


"momi adalah perempuan hebat" senyum Pramana.


"he em, yang dengan sabar mau dengan popi yang banyak manjanya" kerucut bibir Wijaya. Pram tertawa mendengar Wijaya berkata.


"momi milik popi, jadi memang seharusnya popi manja sama momi, tidak ada yang lain. hanya momi seorang" jawab Pram, Wijaya mengendikkan bahunya tanda tidak suka.

__ADS_1


"yang, pulanglah dulu bersama anak-anak, aku akan langsung ke rumkit, tidak apa-apa. setiba disana akan aku kabari. jangan kuatir, mommy ditangani dengan baik" kata Pram memeluk istrinya setiba di bandara.


Kaila mengangguk dan memeluk suaminya erat. kabari secepatnya, by. biar aku juga tahu bagaimana keadaan momi, aku bawa anak-anak istirahat dulu agar nanti bisa gantian menjaga mommy" elus pipi Kaila, Pram mengangguk dan segera masuk kedalam kendaraan yang akan membawanya ke rumkit mommy nya.


penjaga segera membuka pintu untuk Kaila agar masuk ke kendaraan yang telah mereka siapkan. "tuan muda Pramana dan nona Kirana di kendaraan satu lagi nyonya muda" beritahu penjaga sebelum mereka berangkat. "baik, terimakasih banyak. laju agak cepat agar sampai rumah" kata Kaila.


"apa nyonya muda menghendaki naik chopper saja" tunduk penjaga hormat.


"aahh, bisakah" teringat Kaila, "tentu nyonya muda. akan saya persiapkan sebentar. mohon nyonya muda menunggu sebentar. maafkan saya menghambat perjalanan nyonya muda" tunduknya hormat dan segera menatap Kaila agar bisa melihatnya dengan jelas. karena mereka sudah tahu bagaimana karakter Kaila memperlakukan orang yang bekerja pada keluarga Bagaskara.


"terimakasih sebelumnya" angguk Kaila, Wijaya dan Wilaga telah memejamkan matanya karena kelelahan yang mendera. "nyonya muda" buka pintu penjaga pelan, Kaila mengangguk dan membangunkan kedua putranya, "kita ganti kendaraan biar lebih cepat" kata Kaila. Wijaya dan Wilaga segera bangun mengikuti momi nya dengan cepat, Pramana terlihat sudah memejamkan matanya yang terasa berat ketika dua chopper bergerak meninggalkan landasan.


setengah jam kemudian chopper mendarat di helipad rumah keluarga Bagaskara, paman Din memberi hormat kepada Kaila dan anak-anak nya saat mereka turun dari chopper. "selamat datang nona" salam paman Din, Kaila tersenyum mengangguk. "paman Din, harusnya istirahat saja. tidak harus keluar petang gini. cuaca sedang dingin paman" raih lengan Kaila berjalan pelan dengan paman Din yang masih setia dengan keluarga Bagaskara. "tidak apa, nona. maafkan saya membuat nona kuatir" senyum paman Din, Kaila tergelak pelan berjalan menuju kediaman Bagaskara.


keempat anaknya sudah berbaring dengan lelap di kamarnya masing masing.


"kapan mommy dibawa kerumah sakit paman" tanya Kaila sambil meminum coklat hangat yang disodorkan pekerja rumah Bagaskara. "kemarin sekitar pukul 4 sore nona, nyonya mengeluh sakit di dada" kata paman Din pelan, Kaila menghela nafasnya pelan menyandarkan beban tubuhnya di sandaran kursi.


"apakah daddy di rumah" tanya Kaila, paman Din mengangguk. "tuan selalu pulang siang hari nona, tidak pernah meninggalkan nyonya terlalu lama sekarang" kata paman Din. Kaila mengusap keningnya berulangkali.


"kak Pram langsung menuju ke rumah sakit tadi, anak-anak sudah kelelahan jadi kami pulang duluan, jika nanti sudah sampai akan memberi kabar bagaimana keadaan mommy" ujar Kaila terlihat lelah. paman Din mengangguk dan segera berdiri. "nona, silahkan istirahat dahulu, jika tuan muda mengabari akan langsung saya sampaikan agar bisa menemui nyonya nanti" kata paman Din hormat. Kaila menoleh dan tersenyum.


"baiklah paman kalau begitu aku dan anak-anak akan beristirahat dulu, jika ada kabar segera beritahu kami" angguk Kaila beranjak dari tempat duduknya membawa coklat hangatnya menuju kamarnya. Pram mengusap rambut istrinya yang terlihat lelap. Kaila bergerak pelan merasakan sentuhan Pram,


"bagaimana mommy, by" lihat Kaila, Pram membuka t-shirt dan mengganti dengan yang baru. "sudah terkondisikan, mommy ingin bertemu dengan kalian setelah kalian lebih segar nanti" peluk Pram menyusul Kaila untuk mengistirahatkan badannya yang lelah seharian.


Hai.... Hai.... Hai.... all readers terimakasih telah mengunjungi karyaku ini.


Luv... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya

__ADS_1


stay healthy all


__ADS_2