
Kaila menuju ruang tengah dimana keluarganya berkumpul dilihatnya Pram sedang membantu Kaila untuk berdiri karena sudah memasuki 6 bulan kehamilannya "bumil mau makan apa" tanya Kalai, Kaila menggeleng "pingin air mineral aja" senyum Kaila, seorang pekerja rumah segera menyodorkan gelas air mineral "yah, Kai mau minta ijin untuk melahirkan di London bukan karena apa-apa hanya lebih kepada kesehatan aja" kata Kaila menatap Ayah dengan hati-hati, Ayah menoleh sesaat memandang Kaila tanpa kata. "kapan kira-kira kamu akan berangkat kesana" tanya Ayah pada akhirnya, Kaila menatap ayahnya lama "usia 7 bulan keatas yah" kata Kaila.
"sebenarnya Pram yang meminta untuk Kaila mempertimbangkan melahirkan disana yah karena meminimalisir resiko saat melahirkan dan sesudahnya dikarenakan ada empat nyawa yang menjadi pertimbangan Pram untuk keselamatan dan Pram harus memikirkannya lebih lama" kata Pram menatap Ayahnya. "tidak apa, Ayah tahu kamu pasti memikirkan semuanya sebagai seorang kepala keluarga pasti sebisa mungkin memberikan yang terbaik untuk istri dan anak-anakmu" kata Ayah mengangguk. Pram menghela nafas lega "Pram kira Ayah akan merasa keberatan jika Kaila akan melahirkan di luar" senyum Pram. ayah tertawa kecil "kenapa harus keberatan Pram, itu sudah menjadi kewajiban mu memberi keluargamu apa yang kamu mampu" jawab Ayah.
"berarti bentar lagi kamu harus berangkat ke London dong" kata Kalai meminum coklat dingin, "kan kamu bisa kapan aja berkunjung kesana setelah semuanya normal kembali pasti kami akan pulang" jawab Kaila menatap Pram yang menganggukkan kepalanya "dengan kemampuan Bimantara itu bukan masalah besar tinggal menjentikkan jari langsung tiba" senyum Pram. Kalai tertawa lebar "iya, apalagi kalo dengan dukungan dari Bagaskara tinggal mengedipkan mata sudah sampai" balas Kalai, mereka yang mendengarnya tertawa bersama.
"berarti belanjanya disana aja dong, asik nih mendekati melahirkan bisa belanja sepuasnya tanpa kantong jebol" senyum Kalai menaik turunkan alisnya "iiissshhh, anak siapa sih dia kak" tanya Kaila melihat Arga yang menunjuk Ayah sedang menonton TV, Kalai tertawa menepuk dada Arga pelan.
"kita pergi jalan keluar yuk, bosan dirumah aja" usul Kaila melihat yang lainnya "emang kamu sanggup berjalan jauh" tanya Pram melihat Kaila "aku bukannya lumpuh kak, mereka nyaman aja didalam" pukul bahu Kaila. "nanti kalo nggak kuatkan bisa didorong" cengir Kaila, Pram mengacak rambut Kaila yang dipotong pendek sehingga lebih kelihatan segar walau sebenarnya ia tidak rela melihat rambut Kaila yang di potong pendek sekali tapi karena melihat Kaila yang sering merasa susah saat membersihkan rambutnya selama triplet didalam membuatnya tidak tega.
"ayo..... nggak usah ganti baju biar nggak kelamaan" berdiri ayah seketika mendengar usul Kaila yang mengajak pergi. "bapak satu ini kalo denger mau hangout ayok aja sih" berdiri Kalai memakai alas kaki.
"Ayah tidak mengantar kalian kesana ya... jika sudah mendekati saat melahirkan maka Ayah akan stand by disana" kata Ayah sembari berjalan pelan, Kaila mengangguk. mobil meninggalkan jalan setapak keluar dari kediaman, mereka segera meluncur untuk mencari cafe baru yang cozy untuk makan bersama. "honey, duduk disini aja bisa lihat kearah taman" sentuh bahu Pram. Kaila melangkahkan kaki duduk di paling ujung sedangkan Pram memilih duduk didepannya.
"berapa hari lagi kita akan berangkat" tanya Kaila menatap Pram, "2 weeks" senyum Pram "ada yang ingin kamu lakukan sebelum pergi honey" lanjut Pram melihat Kaila yang terlihat mengusap keringat.
"aku ingin ke Jogja sebentar untuk menikmati malam di jalan yang ngangenin, jumat kita berangkat hingga minggu baru kita pulang" pandang Kaila, Pram mengangguk mengiyakan apa yang Kaila mau.
"honey, apa tidak apa-apa kak Saka kamu tinggal" tanya Kaila. Pram tersenyum menggeleng. "awalnya tidak terima karena dua lainnya ilang secara bersamaan tapi ada Davi yang belajar disampingnya, it's oke pada akhirnya" jawab Pram, Kaila mengangguk.
"Kal, jangan lupa untuk kesana sebelum aku melahirkan" pandang Kaila menyeruput kopi hitamnya. "siap. jangan kuatir aku akan menjadi bunda yang siap siaga" kata Kalai. "iisshh... mengenalkan diri bunda" pandang Kaila. "lha kalo momi udah kamu, Icha aja heboh maunya nama panggilan kakak aja" tawa Kalai. Kaila tertawa menganggukkan kepalanya mengingat Icha yang kekeuh menolak panggilan aunty.
"by, mau makanan itu" tunjuk Kaila pada papan tulis, Pram menoleh untuk melihat menu yang terpampang diatas dinding, "itu terlalu pedas untuk triplets, yang" lihat Pram meneliti tampilan makanan. "tidak by, aku masih bisa makan itu" geleng Kaila menatap Pram. "baiklah" angguk Pram pada akhirnya karena melihat Kaila yang selalu tidak bisa melihat makanan pedas.
__ADS_1
"triplets memang benar-benar anak yang hebat Kai, mereka selalu menantang mu untuk memacu adrenalin" kata Kalai mengusap perut Kaila yang sudah buncit. "they really enjoy with me" senyum Kaila antusias melihat makanannya cepat sekali datang. "jika tidak kuat jangan diteruskan" pandang Kaila sebelum Pram mengucapkan kalimat sakti nya setiap kali Kaila memakan makanan pedas, Pram tersenyum mengangguk mendengar kalimatnya dikatakan oleh Kaila.
"jika kamu di luar nanti maka akan sulit menemukan pedas Indonesia" pandang Arga. Kaila menghela nafasnya berat. "itu yang membuat selalu kangen Indonesia" makan Kaila merasakan makanannya dan tersenyum senang karena rasanya pas di lidahnya. "it's delicious" makan Kaila. Pram tersenyum saat melihat mulut Kaila yang menggembung saat makan, pemandangan yang sangat disukainya ketika melihat Kaila mengunyah makanan terlihat imut.
"mau ikut ke Jogja nggak Kal" tanya Kaila, Kalai menggelengkan kepalanya. "jika kesananya minggu depan maka aku tidak bisa, ada acara yang tidak bisa aku tinggalkan" kata Kalai menyesal karena tidak bisa menikmati malam di Jogja. "tidak apa, nanti aku kabari Icha apakah dia bisa ikut juga atau nggak, takutnya anak itu ngambek lagi kalo ditinggal nggak diajak main" angguk Kaila menatap Kalai.
"anak itu saat kemarin nggak dikabari ngomelnya sampai pengkolan rumah kedengaran" tawa Kalai mengingat Icha yang ngedumel tiada henti saat tau Kaila pergi ke Jepang. Kaila ikutan tertawa mengingatnya. "dia nggak memperhatikan ketika aku pamit akan kesana, hanya beberapa hari" kata Kaila. "padahal kita aja nggak heboh dia sampai segitunya" kata Kalai.
"jika dia yang pergi juga selalu mengabari kita tapi terkadang jadwalnya yang tidak pas" kata Kaila, Kalai tersenyum. "kamu sudah berhenti dari kantor Kai" tanya Kalai, Kaila mengangguk. "mulai minggu depan sih sebenarnya agar tidak terlalu lama menganggur jadi bisa dapat cuti hamil lama" tawa Kaila menatap Pram. "nunggu 4 tahun lagi baru bisa kerja, kasihan anak-anak jika momi nya tidak ada disampingnya saat mereka butuh orangtuanya" kata Pram, Kaila mengangguk setuju.
"it's oke, mereka bisa pergi kemanapun mereka mau karena ada keluarga yang melindungi mereka" kata Arga menambahi, mereka menghabiskan malam dicafe sambil makan dan mengobrol hingga larut.
"jadi berangkat penerbangan terakhir Kai" duduk Kalai disamping Kaila. "mmmm.... jam 8 malam sampai sana nginap di hotel terdekat aja, abis itu sampai dinihari nongkrongnya" jawab Kaila menjelaskan rencananya. "kak Pram belum pulang" tanya Kalai melihat sekitar. "belum, bentar lagi mungkin ini juga baru jam 4" kata Kaila. "are U sure this trip will safe with triplet" tanya Kalai. "atas ijin Tuhan, Kal. life is simple" angguk Kaila. Kalai menyuapi Kaila dengan buah-buahan. "jangan lupa kasih kabar Ayah jika sampai, Ayah selalu menanyakan setiap detik jika kamu tidak memberi kabar" kata Kalai, Kaila mengangguk.
mereka menaiki mobil dan menuju bandara, Pram menggenggam jemari Kaila saat berjalan menuju ruang tunggu. "honey, kamu mau makan apa" tanya Pram memandang Kaila. "tidak, aku sudah kenyang" geleng Kaila memainkan game di ponselnya, Pram mengangguk dan melihat beberapa orang yang lalu lalang tidak jauh dari mereka.
"hallo Pram" sapa seseorang. mereka berdua menoleh dan menatap gadis itu sesaat.
"hai, nona Maria. kita ketemu disini, suatu kebetulan" senyum Kaila menyapa gadis yang bernama Maria yang segera mengangguk tersenyum.
"tidak menyangka kalian ada disini. susah sekali jika ingin bertemu kalian" kata Maria menatap Pram.
"benarkah nona, kami selalu di kantor beberapa hari ini mungkin karena jadwal nona yang terlalu padat sehingga tidak pas" senyum Kaila menatap Maria.
__ADS_1
"mungkin, apa kalian sengaja menghindari ku" kerut Maria memandang mereka. Pram menatap tajam Maria tidak suka, Kaila menggeleng, "tentu tidak nona, kami memang sedikit sibuk minggu-minggu ini sehingga sebagian urusan sudah mulai ditangani oleh Davi dan beberapa asisten lainnya karena saya mengajukan cuti lebih awal. kak Saka dan kak Pram memang mengerjakan tugas urgent" kata Kaila, Maria menghela nafasnya panjang. seorang penjaga Kaila mendekat memberitahu jika ada pemberitahuan.
"mohon maaf nona Maria tampaknya kami tidak bisa lama-lama bersama nona, pesawat kami sudah akan berangkat" senyum Kaila. Pram beranjak dan membantu Kaila untuk berdiri sedang penjaga Kaila meraih tas yang berada disamping Pram.
"sampai jumpa dilain kesempatan nona Maria kami tunggu kerjasamanya" pamit Kaila tersenyum sebelum meninggalkan Maria yang menatap kepergian mereka dengan sedikit kesal karena Pram tidak mengucapkan sepatah katapun kepadanya.
"honey, lain kali jika dia ada jangan diladeni" bisik Pram, Kaila tersenyum lebar. "dia hanya ingin ngobrol denganmu by, jangan terlalu dingin dengan mereka" jawab Kaila, Pram terdiam.
tiba di Jogjakarta
"itu mobil yang menjemput kita" kata Pram. Kaila mengikuti langkah Pram dan penjaga yang berada didepannya. "kak, belikan aku ice cream itu" isyarat Kaila melihat beberapa jenis ice cream, seorang penjaga mengangguk dan berjalan ke kedai ice cream yang ditunjuk oleh Kaila. Pram membantu Kaila untuk masuk kedalam mobil di bagian tengah, Kaila menghirup udara Jogja yang terasa berbeda.
"it's long time tidak bertemu kak" sapa Kaila, pengemudi mobil tertawa dan mengangguk mendengar perkataan Kaila yang masih mengenalinya. penjaga Kaila datang membawa pesanan Kaila. "makasih kak" senyum Kaila mengambil ice cream yang disodorkan penjaganya.
tiba di hotel Kaila segera masuk ke bathroom. "honey are U okey" tanya Pram, Kaila mengangguk dan duduk ditepi ranjang.
"tidak tahan untuk buang air kecil, by" jawab Kaila menata alas tidur dijadikan sandaran punggung. "kamu tidak ingin istirahat dulu honey, nanti baru tengah malam kita keluar" tanya Pram. "tentu by, jam 11 aja kita baru keluar" angguk Kaila mengiyakan ucapan Pram.
hai ..... hai ...... hai .... all readers, luv U all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak, selamat menikmati cerita pertama kalang di sini jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat. dukung karya pertama ku.
luv ..... luv ..... luv ..... U all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘
__ADS_1