Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 34


__ADS_3

para pekerja yang mendengar arahan dari paman Din mengangguk patuh, mereka segera melaksanakan tugasnya masing-masing tanpa menimbulkan suara yang berarti, mesin-mesin yang biasanya terdengar saling bersahutan untuk membantu pekerjaan para pekerja agar cepat selesai, hari ini sama sekali tidak terdengar. sedangkan penghuni rumah utama masih berada ditempat mereka masing-masing. keadaan di dapur sama saja, tidak ada aktifitas berat yang tampak para koki lebih memilih untuk memasak di dapur rumah belakang bersama para pekerja lainnya yang sedang tidak bertugas. mereka bekerja dalam diam, hening seakan ikut merasakan apa yang terjadi didalam rumah utama.


sedangkan diruang tengah, Kaila masih dalam pelukan Pram meringkuk dan bersandar di dada Pram berselimutkan cover bed sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, Kaila menatap lurus ke depan tanpa berkedip sepintas lalu dia melihat seseorang yang berada di kejauhan. Kaila sedikit mengerjapkan bola matanya setelah semalaman diam, ia menajamkan penglihatannya agar lebih jelas siapa yang dilihatnya. seorang pekerja berada tidak jauh darinya sedang tersenyum hangat padanya dan menunduk hormat saat mendapati Kaila merespon dirinya karena dari yang pekerja itu dengar semalaman nona Kaila tidak merespon apapun yang dilakukan tuan mudanya hanya pandangan kosong saja yang dilihat orang-orang disekitarnya.


Kaila bergerak pelan berusaha untuk duduk, Pram yang dalam keadaan setengah sadar akibat semalaman bersama Kaila terkejut menyadari pergerakan Kaila yang tiba-tiba. "ada apa honey" tanya Pram, kaila menatap pekerja yang berada tidak jauh darinya dan Pram. "apa kamu menginginkan sesuatu dari pekerja itu" tanya Pram, Kaila menurunkan kakinya dan berdiri untuk mendekati pekerja muda itu, Pram menggenggam jemari Kaila lembut sedangkan pekerja itu berhenti dan berdiri dengan takut, bertanya-tanya didalam hatinya apakah dia telah berbuat salah dengan bekerja secara serampangan sehingga menimbulkan suara hingga membangunkan Kaila dan membuat tuan mudanya juga ikut terbangun, dengan perasaan ketakutan pekerja itu tidak berani menatap Kaila dan pram yang berjalan mendekatinya tanpa alas kaki. "dimana yang lain" tanya Kaila pelan, itu adalah kalimat pertama Kaila setelah kejadian semalam, justru karena pekerja itu berada disekitarnya dan melakukan pekerjaannya itulah akhirnya Kaila sadar dan mau berbicara. pekerja itu menunduk takut, "mereka ada dirumah belakang nona" jawab pekerja itu pelan.


Kaila menyentuh pundak pekerja itu pelan. "jika berbicara denganku jangan tundukkan wajahmu, aku tidak bisa melihat wajahmu" kata Kaila, pekerja itu seketika berdiri tegak dan menatap Kaila. "begitu lebih baik" angguk Kaila. Pram berada dibelakang Kaila mengawasi interaksi keduanya, "dimana letak rumah belakang" pandang Kaila, "mari saya tunjukkan nona" kata pekerja itu bergerak kesamping dan mengarahkan tangan untuk mempersilahkan Kaila mengikutinya. paman Din yang melintas segera mendekat takut salah satu pekerja dibawah tanggung jawabnya itu melakukan kesalahan karena masih terbilang muda. Paman Din memandang kebawah ke arah kaki keduanya dan melihat tuan muda dan nona mudanya tidak memakai alas kaki dengan gerakan tangan paman Din memberi isyarat pada para pekerja yang mengikutinya untuk membawakan alas kaki buat tuan mereka. dengan sigap dan cekatan beberapa pekerja yang berada disana segera kembali dengan membawa alas kaki untuk Pram yang berjalan sambil memakainya.


Pram memberi isyarat agar Kaila jangan diganggu, alas kaki untuk Kaila nanti saja di berikan. Kaila sama sekali tidak memperdulikan interaksi disekelilingnya hanya fokus pada pekerja itu yang membawanya kerumah belakang. Pram kembali memberi isyarat untuk pekerja itu berhenti sebentar, ia mengerti mengangguk hormat dan menghentikan langkahnya sesaat, Kaila mengerutkan keningnya tidak mengerti, Pram menunduk dan memakaikan alas kaki untuk kaki Kaila. ia meletakkan tangannya dibahu Pram, saat Pram membantunya memakai alas kaki membuat pekerja itu membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya melihat kejadian yang langka dihadapannya dimana Pram merunduk didepan Kaila yang bukan keluarganya berbeda dengan Pram yang biasanya dingin dan menakutkan.

__ADS_1


Pram tersenyum mendongak menatap Kaila lembut, "sudah baby" berdiri Pram dan kembali menggenggam jemari tangan Kaila, pekerja itu kembali berjalan pelan didepan diikuti oleh Kaila dan Pram hingga tibalah mereka diruangan yang disebut rumah belakang oleh para pekerja dirumah keluarga Bagaskara. Kaila mencium aroma masakan yang sangat menggugah selera, ia berjalan mendahului pekerja itu untuk mencari sumber aroma yang membuat perutnya berteriak kelaparan. Pram mengikuti kemana Kaila melangkah tanpa sekalipun melepaskan genggaman tangannya.


Kaila berhenti di dapur dilihatnya para pekerja rumah itu hilir mudik menyiapkan beberapa keperluan untuk dibawa keruang utama, seorang pekerja lain melihat tanpa sengaja keberadaan Kaila dan Pram yang sedang memperhatikan mereka bekerja, dia terkejut dan menjatuhkan spatula nya kelantai sehingga menimbulkan suara yang nyaring. seketika beberapa pekerja itu menoleh untuk melihat apa yang terjadi dan tertegun menatap keberadaan Kaila dan Pram yang berada di rumah belakang. seumur-umur baru kali ini mereka melihat tuan mudanya berada dirumah belakang.


Kaila kemudian masuk dan duduk dikursi panjang dan meja lebar ditengah ruangan. Pram berdiri dibelakang Kaila untuk mengikat rambut hitam panjang Kaila dengan model ekor kuda, para pekerja rumah Bagaskara hanya memperhatikan kelakuan tuan mudanya itu dan tidak berani bergerak, setelah selesai mengikat rambut Kaila, Pram duduk disamping Kaila. "kembalilah bekerja, aku hanya ingin makan yang kalian masak itu sekarang. bawakan aku itu dan segelas air putih" pandang Kaila kepada koki yang sedang memasak sesuatu. Pram menganggukkan kepalanya agar para pekerja yang berada dirumah belakang saat ini bekerja di dapur menuruti permintaan Kaila, para pekerja itu menganggukkan kepalanya untuk kembali sibuk dengan pekerjaan mereka, dua orang pekerja membantu koki untuk meletakkan masakan rumahan sederhana yang biasanya dimakan oleh para pekerja yang lainnya diatas meja besar, Kaila meminum air putih mineral yang diletakkan di gelas hingga tak bersisa, Pram mengisi kembali gelas itu dan menyodorkannya kembali ke Kaila yang meneguk setengah isi dari gelas itu kembali, Pram mengambil sendok dan segera menyuapi Kaila yang segera memakan makanan yang terlihat enak itu. seorang pekerja berjalan mendekat untuk meletakkan secangkir teh panas bagi Pram segera meminumnya. "coba, honey" sodor Pram agar Kaila mencoba teh itu, Kaila menyeruputnya pelan, menganggukkan kepalanya jika rasa teh itu pas untuknya, Pram kembali menyuapi Kaila yang kelaparan.


"apa kau sangat lapar honey" pandang Pram mengelus rambut Kaila yang di ikat sembarangan oleh Pram tadi tapi malah menambah kecantikan Kaila yang natural. Kaila mengangguk mengiyakan perkataan Pram, "makan yang banyak, agar tubuhmu kuat" senyum Pram menatap Kaila lembut. "kakak tidak makan" tanya Kaila akhirnya Pram menggelengkan kepalanya dengan pelan. "makan kak, kamu belum makan dari kemarin. maaf membuatmu juga kelaparan" pandang Kaila. Pram tersenyum hangat mengelus pipi Kaila dan mengangguk, Pram menyuapi Kaila bergantian dengan dirinya dengan menitikkan airmatanya pelan melihat Kaila yang kembali lagi kepadanya. "habis ini aku mau mandi kak" pandang Kaila, Pram mengangguk dengan cepat seraya menghapus airmatanya.


"aku tidak ingin kamu mengetahui apapun kejutan yang ingin aku berikan kepada mu sebelumnya karena ingin ini semua menjadi kejutan yang indah buat kita tapi aku tidak lagi berpikir bisa menyembunyikan apapun darimu mulai tadi malam. melihatmu dalam kondisi semalam membuatku tak punya keinginan untuk hidup Kai, jika terjadi apa-apa denganmu. kau tahu, itu sangat menyakitkan hatiku" kata Pram menatap Kaila sayu, Kaila segera memeluk Pram dan mengusap-usap punggungnya, Pram memeluk Kaila dan menghisap aroma rambut Kaila. "aku berencana akan menikahi mu besuk, dengan semua keluarga dan teman dekatmu ada di dekatmu sebenarnya ini akan menjadi sebuah kejutan untukmu" kata Pram melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


"aku sudah merencanakan ini sesaat setelah kamu aku antar kebandara untuk naik gunung" pegang jemari tangan Pram. "tapi sekarang aku tidak tahu lagi apakah semua itu bisa atau tidak" kata Pram menggelengkan kepalanya lemah, "semuanya malah tidak terkendali, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. aku tidak tahu apakah kamu masih mau denganku atau tidak setelah semua ini, apakah kamu mau melihatku lagi setelah ini" kata Pram merasa frustasi. "aku ketakutan akan segalanya sekarang, aku tidak tahu harus bagaimana jika kamu memutuskan untuk pergi dariku, lebih takut lagi saat semalaman melihatmu dengan kondisi seperti itu dan tidak seperti sekarang, apa yang harus kulakukan Kai..... apa yang harus aku perbuat" pinta Pram tidak berdaya menatap Kaila lekat, Kaila terdiam menatap pram lama menghirup udara yang beraroma cake cokelat.


"aku mau cake cokelat itu" tunjuk Kaila, para pekerja meletakkan cake yang baru saja keluar dari pemanggangan ke hadapan mereka, Pram menatap manik mata Kaila yang terlihat menikmati suasana pagi ini. "apa kakak tidak melihatku dengan jijik ketika aku semalam dalam keadaan tidak baik-baik saja" toleh Kaila, "no honey, tidak..... tidak..... aku yang malah merasa kamu yang begitu padaku, karena adikku.... momi mu pergi selamanya, aku yang merasa tidak pantas untukmu dan keluargamu" geleng kepala Pram menangkup pipi Kaila dengan lembut, "tidak ada yang salah kak, takdir mempertemukan mereka disaat-saat terakhir dan kita dipertemukan diawal perjalanan panjang kita" senyum Kaila mengatakan perkataan ayahnya tadi malam. Pram melepaskan pipi Kaila dan mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti perkataan Kaila.


"temani aku selama sisa hidupku, pegang tanganku saat aku menjauh darimu dan cintai aku selamanya" pinta Kaila pelan, Pram menegakkan duduknya dengan benar dan membulatkan matanya dengan mulut terbuka sedikit segera memeluk Kaila erat hingga Kaila merasa sesak nafas akibat pelukan Pram dengan memukul punggung nya pelan. "maaf..... maafkan aku, honey" lepas Pram kikuk. "kita habiskan makanan ini lalu segera mandi, sore nanti adakan acara barbeque an bersama keluarga ditaman" kata Kaila minum, "kamu serius kan honey" pegang bahu Pram kuat menatap Kaila yang terlihat lelah. ia menganggukkan kepalanya sambil memakan cake cokelat yang lumer dimulut. Pram benar-benar merasa bahagia karena kekasihnya kembali dengan sadar untuk berkumpul bersama keluarga dan sahabat terdekatnya. ia menatap Kaila yang terlihat mempesona dan cantik. ia tersenyum lebar karena Kaila masih mau bersamanya walau apapun yang terjadi diantara keluarga mereka berdua.


hai..... hai...... hai...... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


luv..... luv..... luv..... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.

__ADS_1


stay healthy all


__ADS_2