
Kaila menatap keempat anaknya yang akan bersiap pulang ke tempat grand parents mereka, "momi, let's go" senyum Wilaga. Kaila mengangguk.
"honey, dimana ayah" tanya Pram berjalan mencari ayah, Kaila meraih punggung Pram dan meloncat untuk naik ke punggungnya, Wilaga memutar bola matanya jengah melihat kelakuan momi dan popinya. "ke kanan, by" kata Kaila, Pram tertawa mengikuti arahan istrinya.
"mom, where my Hoodie" datang Pramana. "kakak yang menaruh dibelakang pintu" pandang Kaila menempelkan dagunya di bahu Pram, Pramana segera melesat pergi.
"your son, by" tepuk bahu Kaila, Pram tergelak menahan pantat istrinya agar tidak melorot kebawah. "mom, c'mon. we waiting" lihat Wijaya
"Ok, my son. I will follow soon, mom looked for grandpa first" angguk Kaila, Pram melangkahkan kaki lebih cepat untuk sampai ketempat ayah yang sedang berada dihalaman depan.
"aahh, kalian sudah siap" senyum ayah melihat kelakuan Pram dan Kaila. Pram menurunkan tubuh Kaila pelan.
"sudah siap, yah" senyum Kaila. "tentu, sudah dari tadi" kata ayah meletakkan gunting tanaman, Kaila meraih jemari tangan ayah dan membawanya ke arah kendaraan yang membawa mereka ke bandara.
"bund, kita pergi dulu" pamit Kirana memeluk Kalai dan mencium tangannya.
"ayah, titip bunda ya. if possible, Wijaya will take bunda to go there" hela nafas panjang Wijaya, Kalai dan Arga tertawa memeluk Wijaya dan Kirana.
"ayah janji akan menjaga bunda agar bunda baik-baik saja kak, semuanya akan baik-baik saja" usap kepala Arga, "hhmm" angguk Kirana lemah.
"see you next month bund, we want to see bunda is better later" lambai Pramana, Kalai tersenyum menitikkan air mata menatap kepergian mereka semua. Arga mengusap kepala istrinya lembut, "tidak apa, Kal. ada aku kan" senyum Arga, Kalai mengangguk, "sepi kalo nggak ada mereka" ujar Kalai, Arga tersenyum.
"jika dirimu sudah lebih baik, kita akan berjalan-jalan keluar. agar kamu merasa bahagia" kata Arga, Kalai tertawa mengiyakan.
"Kirana" panggil ayah, Kirana menoleh dan mendekat untuk duduk disamping kakeknya. "penjaga kalian akan seperti biasanya" senyum Pram mengingatkan, mereka mengangguk pelan.
"Jakarta, see U a month" lambai tangan Wilaga. "apa kakak merindukan seseorang disini" goda Kaila menaik turunkan alis matanya.
"sebenarnya mom, aku merindukan orang-orang nya, yang membuat hidup lebih hidup" tawa Wilaga mendapat hi five dari Pramana. mereka tertawa masuk kedalam pesawat pribadi yang akan membawa mereka pergi.
"maukah kalian belajar disana" tatap Pram kepada keempat anaknya, "sure, pop. dimana aja Kirana akan senang. kita berempat kan" toleh Kirana menatap ketiga saudaranya.
"bolehkah jika nanti kita berbeda negara saat mengambil major yang berbeda" tanya Wijaya melipat kedua tangannya didepan. Pram mengangguk mantap.
"Of course, Popi will certainly let you choose whatever you want" jawab Pram. "tapi popi tidak tahu apa yang akan dikatakan momi jika mengetahui kalian akan meninggalkannya" hembus nafas Pram, mereka berempat juga menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya kebelakang.
"aku lupa jika momi tidak akan bisa membagi hati" kata Kirana, Pramana mengangguk.
__ADS_1
"momi akan mengerti jika kalian menunjukkan kesungguhan kalian belajar, momi kalian bisa bergantian mengunjungi tempat kalian belajar nanti, dia akan mengerti" senyum ayah.
"benarkah kek, kita akan berusaha kalau begitu. jika waktunya tiba kita pasti akan berusaha dengan baik" kata Wilaga.
"apa yang kalian bicarakan" datang Kaila mengunyah roti dari meja, "school mom, bagaimana jika kita tidak satu sekolah karena minat kita berbeda" tanya Wilaga, Kaila menatap mereka tenang.
"tidak apa, momi akan mendukung apapun minat kalian. mau dimanapun kalian akan mengambil minat kalian nanti, momi akan selalu mendukung. asal tidak membuat momi memikirkan hal buruk" senyum Kaila, Pramana tersenyum memeluk mominya erat.
"kita tidak akan membuat momi kecewa dan sedih. momi adalah yang terbaik yang kita miliki" senyum Pramana senang, Kaila tersenyum mencium rambut putra pertamanya itu dan membalas pelukannya erat.
"kakek juga melakukan hal yang sama dulu kepada momi. selalu memberi kesempatan kepada momi untuk berkembang dan melihat hal-hal baru hingga momi bertemu dengan popi. jadi kalian juga harus lebih dari momi dan popi" senyum Kaila mengerti. Kirana tersenyum memeluk kakeknya.
"but you must promise not to do anything outside of our eastern culture, wherever we are. no matter how hard it is, keep telling momi and Popi" ingatkan Kaila.
"ya mom" seru mereka bersemangat, Pram memeluk istrinya. "apa kamu bisa berpisah dengan mereka, honey" tanya Pram tersenyum.
"no, by. I can't be away from them.but I can't break their wings to fly free and high, can I?" geleng Kaila melihat keempat anaknya yang sedang ngobrol seru bersama dengan kakeknya.
"mereka pasti akan selalu menemanimu, yang. hal itu masih lama. mereka juga masih pre school. mereka masih butuh kita, honey" kata Pram, Kaila tersenyum mengangguk.
"kenapa mereka cepat besar ya" tanya Kaila, "karena mereka punya momi yang selalu ada untuk mereka, keluarga yang selalu mendukung mereka apapun keadaannya" kata Pram, Kaila menyandarkan kepalanya kebelakang dan memejamkan matanya untuk beristirahat.
"kita transit sebentar" senyum Wijaya menatap mominya yang setengah sadar, Kaila menganggukkan kepalanya pelan. Pram tersenyum menatap istrinya yang tetap menarik. ia segera membantu Kaila berjalan keluar dari kabin.
"kita melihat kota" tanya Kirana, Kaila meminum air mineral yang disodorkan suaminya.
"just want to enjoy the beauty of this city, nothing else" kata Kirana. Kaila mengangguk mengikat rambutnya model bun.
"apa kamu mau momi ikat juga rambutnya sweetie" senyum Kaila, Kirana mengangguk. Kaila segera mengikat rambut panjang Kirana dengan model yang sama dengannya.
beberapa penjaga Kaila segera menampakkan diri seperti keluarga besar mereka. keempat anak kecil itu sudah terbiasa dengan pengamanan keluarga Bagaskara, mereka tidak terusik dengan kehadiran orang-orang yang menjaga mereka jika waktu memungkinkan mereka mengajak ngobrol para penjaganya yang selalu menemani kemana mereka pergi.
"yah, apa ayah mau di hotel saja untuk beristirahat" tanya Kaila, ayah menggeleng. "ingin jalan, Kai. terlalu lama duduk dan tiduran membuat badan pegel" geleng ayah. Kaila mengangguk hanya menatap ayahnya.
"Pramana" cari Kaila setelah beberapa saat, Pramana segera menghampiri mominya "ya, mom" dekati Pramana.
"apa kamu mau makan sesuatu. dari tadi kamu belum makan yang mengenyangkan, kak" tatap Kaila, Pramana mengangguk. "aku akan bersama popi mencari makan, mom. jika momi, kakek dan yang lain ingin pergi kemana aja. aku tidak apa-apa" kata Pramana. Kaila mengangguk, menatap kedua putranya yang lain.
__ADS_1
"bolehkah kita bermain disana, mom. aku ingin bermain" kata Wilaga yang disetujui Wijaya. "Kai, temani kedua anakmu bermain. ayah akan berjalan bersama Kirana dan penjaganya" kata ayah, Kaila menatap Kirana yang mengangguk pelan. "tidak apa, mom. kakek akan menemaniku" jawab Kirana.
"Ok, kalau begitu, popi menemani kakak Pramana makan, kakek menemani adek keliling dan momi menemani mereka berdua bermain" kata Kaila. Pram dan yang lain mengangguk tanda setuju. mereka segera berpisah dengan keinginannya masing-masing.
Kaila menatap kedua putranya yang bermain ditemani oleh seorang penjaga. Kaila melihat sekitar yang tampak ramai dengan pengunjung. "kenapa ramai sekali" toleh Kaila menatap penjaga yang duduk disampingnya.
"mungkin karena libur nona" katanya pelan. Kaila mengerutkan dahinya sesaat, "aahh, mungkin juga. aku tidak begitu memperhatikan" jawab Kaila. "apakah nona lelah" tanya pelan, Kaila menggeleng. "tidak kak, aku masih bisa tidur nanti didalam. apakah kalian baik-baik saja selama dalam perjalanan" tanya Kaila penasaran, "baik nona. kami selalu diperlakukan dengan baik oleh tuan dan nona" senyum penjaga yang mengerti kekhawatirannya, Kaila tersenyum.
selama lebih kurang dua jam mereka menikmati kesenangan mereka masing-masing. Kaila tertawa saat bermain dengan kedua anaknya dengan penuh penjagaan. "yah" lambai tangan Kaila saat melihat Kirana dan ayah menghampiri mereka bermain.
"seru mom" lihat Kirana dengan seksama, Kaila mengangguk memberi tanda Ok dengan jemarinya. Kirana segera ikut bermain dengan kedua saudaranya. Kaila kembali duduk untuk beristirahat setelah berkeringat saat bermain bersama. seseorang mendekati mereka, penjaga Kaila segera menahan orang itu saat mendekat dan menanyakan tujuannya. Kaila tidak memperdulikan hal itu sama sekali.
"berapa lama lagi kita akan berangkat" toleh Kaila bertanya pada penjaganya. "sebentar lagi nona, kita akan mendapat pemberitahuan dari kepala team" jawab penjaganya pelan.
"yang, apakah masih ditempat bermain" hubungi Pram.
"iya, Kirana dan ayah sudah disini beberapa saat yang lalu" jawab Kaila.
"aku menuju kesana sekarang" kata Pram mematikan panggilannya. Kaila hanya menatap layar ponselnya sesaat.
"yang" sentuh kepala Pram. Kaila menyandarkan kepalanya di pinggang suaminya. "mereka asyik bermain, biarkan dulu" jawab Kaila. Pram mengusap-usap rambut Kaila sambil melihat keempat anaknya yang sedang seru bermain.
seorang penjaga mendekat dan membisikkan sesuatu kepada Pram yang mengangguk mengerti. "mau makan sesuatu" tanya Pram sedikit merunduk, Kaila menggeleng. "hanya ingin melihat mereka bersenang-senang, by" kata Kaila, Pram mengangguk sambil mengusap kepala istrinya lembut.
tiba dirumah keluarga Bagaskara.
"grandmom" lari Wilaga melihat kedua grandparent mereka. mommy tertawa lebar merentangkan kedua tangannya untuk memeluk mereka semua.
"bagaimana perjalanannya, apakah kalian suka" senyum lebar mommy melihat mereka semua. mereka segera masuk karena cuaca dingin.
"beritahu grandmom, apa kalian baik-baik saja" tatap mommy, Wijaya mengangguk dan segera berlarian kesemua ruangan. mommy tersenyum melihat grandson mereka berlarian kesana-kemari merasa senang. daddy tertawa terbahak-bahak melihat polah tingkah ketiga krucil yang seperti tidak punya lelah. Kirana berada di pelukan granddad nya.
"apa kamu juga mau seperti mereka sweetie" senyum daddy, Kirana mengangguk beberapa kali, daddy tertawa dan menurunkan cucu perempuan satu-satunya itu untuk bermain dengan saudaranya yang lain.
"betapa menyenangkan jika melihat mereka begitu" tatap daddy, ayah tertawa mengangguk.
Hai.... Hai.... Hai..., all readers terimakasih telah mengunjungi karyaku ini.
__ADS_1
Luv..... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all