
Kaila beranjak mendekati Pram yang tersenyum hangat menantinya, pram memeluk Kaila dan mengusap-usap punggungnya "lucky have you Kai" senyum Pram mencium kening Kaila. "thank you, selalu ada saat aku sedang sendiri" kata Kaila pelan menitikkan airmata. "luv U honey" hapus air mata Pram mengecup kedua kelopak mata Kaila memeluknya erat. "udahan dong sedihnya nggak kuat kalo gini, mending kita makan hasil barbeque kasihan paman Din nyiapin buat kita" kata Icha memecah kesedihan agar tidak larut.
"ayo.... mumpung gratis lumayan ngirit duit" canda Davi, mereka menepuk bahu Davi dan tertawa bersama segera bergabung dengan para orang tua yang telah duduk dimeja besar dan kursi yang saling berhadapan. "anak-anak muda akhirnya berkumpul juga dengan kita yang sudah tua" kata papi Icha. "bukan tua Pi, kata kak Arden sih lebih matang" geleng Icha membenarkan istilah tua. "baiklah, mari duduk dengan pria-pria matang dan berbagi pengalaman. kecuali yang belum menikah ya..." goda papi Icha, mereka tertawa terbahak-bahak.
"iya, kita sadar diri om mengalah sama yang matang-matang" angguk Davi dengan raut muka yang kesal. mereka tertawa melihat ekspresi Davi yang tidak enak untuk dilihat. para pekerja silih berganti menghidangkan makanan khas Indonesia. "wooaaahhh.... akhirnya..... nemu nasi juga" celutuk Kris, mereka tertawa gembira bersendau gurau. "kirain cuman aku aja yang kangen nasi goreng" toast Davi dan Kris.
"Kaila yang menginginkan makanan khas Indonesia" senyum Pram menatap Kaila. "aku padamu Kai, sarang heo" isyarat tangan Davi membentuk tanda cinta ala Korea. Pram mengibaskan udara disekitar Kaila menepis tanda cinta dari Davi. "duh pawangnya sensi abis" celutuk Davi, mereka tertawa sambil menikmati hidangan yang sudah tersedia. kehangatan menyelimuti suasana dikediaman Bagaskara, berbanding terbalik dengan keadaan malam kemarin ditempat yang sama, dibalik kesedihan terlihat kebahagiaan kemudian. hehehehe......
"kalo di Indonesia kita malah jarang ngumpul bersama gini" kata Ayah tiba-tiba. "waktunya yang tidak sempat mas" kata papi Icha menimpali. "tapi kalo keluar negeri pada ayok aja... apa karena the power of duit ya... pi" celutuk Icha. "hahahaha.... kamu tau aja Cha, kan jarang-jarang bisa semua mau" kata papi Icha. "karena yang minta keluarga Bagaskara kali, jadi nggak bisa nolak, kalo sekali nolak taruhannya pekerjaan bos" gumam Kris pelan. Pram tertawa ngakak mendengar perkataan Kris yang tiba-tiba. "iya.... juga ya.... Kris, kok aku nggak kepikiran menggunakan nama Bagaskara ya kemarin pas meminta para orangtua untuk datang kemari" kata Pram, mereka tertawa.
"daddy mu juga menghubungi kami secara pribadi, makanya kami juga tidak bisa menolak" senyum papa Arga, mereka tertawa bersama dengan penuh bahagia. "terimakasih om" angguk Pram hormat.
"Dav makan yang banyak, disini makanan kayak gini lebih mahal daripada burger apa ayam" sodor Kaila. "alamak..... kalo di negeri sendiri beli bisa se gerobak nih" antusias Davi, Kaila mengangguk. "makan Kai" suap Pram, Kaila menerima suapan Pram. "duh.... yang mau nikah lusa.... mesra terus" goda Kris. "nggak usah ngiri Kris mending nganan" sikut Davi pelan menatap Kris yang bergidik ngeri melihat Davi.
"tapi aku heran lho Kai kok bisa kamu terpikat sama mas Pram, dikampus aja mas Pram datar gitu walau banyak mahasiswi lain yang ngejar-ngejar sih.... tapi ini kamu gitu lho Kai, seorang Kaila Dara Prayoga. nggak pernah melirik laki-laki lain walau ganteng sekalipun, lagian yaa.... aku nggak pernah ngliat juga kamu dekat dengan mas Pram selama ini ..... bikin aku benar-benar penasaran lho..... beneran" tanya Davi menatap Kaila lekat.
__ADS_1
"the power of time Dav" ucap Saka tiba-tiba. "maksudnya" kerut kening Davi. "Karena cinta hanya butuh waktu yang tepat untuk bersandar" kata Saka menatap Icha lekat. "wow....." sorak sorai mereka tertawa. "sekali ngomong sweet banget sih kak" peluk Icha. Saka tersenyum lebar mengelus punggung Icha lembut. "cieee... yang pada bucin" celutuk daddy, mereka tertawa ngakak mendengar candaan daddy Pram.
"om.... om...... tau bucin juga" tawa Davi memegangi perutnya. "diajari Kaila" kata daddy. "ihhh.... daddy" malu Kaila, Pram menyembunyikan Kaila di pelukannya. "ahhh..... pengen" peluk Kalai ke Arga yang segera memeluknya erat. "kalian nggak asyik nih pada main fisik aja dari tadi meluk pasangan, lah kita yang sendirian meluk siapa" gerutu Arden, mereka tertawa.
acara barbeque berlangsung sampai larut malam, semua tamu menginap dikediaman Bagaskara para orang tua sudah pada mengundurkan diri untuk istirahat sedang yang muda-muda masih betah untuk mengobrol. "tuan muda ruang tengah sudah siap" hormat paman Din memberitahu. "makasih paman Din tinggalkan kami, istirahat lah dulu, kami akan diruang tengah sampai besuk" senyum Pram, paman Din mengangguk mengundurkan diri. "kita pindah keruang tengah yang lebih nyaman guys" pandang Pram menggenggam jemari Kaila untuk bangkit dari duduk dan menuju kedalam rumah dari samping. "ahhh...." hempaskan tubuh Kris di karpet tebal beralaskan bantalan sofa dan segera memejamkan matanya.
"ceritakan Kai bagaimana kejadian semalam aku penasaran" duduk Icha miring kearah Kaila untuk mendengarkan Kaila dengan seksama. "yang mana, aku nggak begitu ingat" sandaran Kaila dipunggung sofa "Kai, ganti baju dulu sana" kata Pram pelan. Kaila mengangguk segera beranjak menuju kamar untuk mengganti gaunnya dengan celana joger dan t-shirt longgar, "kamu mau ganti juga" tanya Saka, "emang ada" tanya balik Icha. Saka meraih jemari Icha agar Icha bangkit dan mengikuti langkahnya keatas.
"Icha kemana" datang Kaila telah mengenakan pakaian tidur kebesaran milik Pram tentunya, Kaila merasa nyaman memakai pakaian Pram. "baru ganti baju biar nyaman" tarik Pram agar Kaila masuk kedalam pelukannya, "disofa ini, tadi malam kita melewatkan malam yang menakutkan" peluk Pram melingkarkan tangannya dibawah t-shirt Kaila, Kaila menahan tangan Pram yang menggodanya. Pram tersenyum mencium leher Kaila lembut, "Kris sudah tertidur dengan nyenyak karena kekenyangan" isyarat dagu Pram, Kaila menoleh melihat Kris meringkuk, sedang Davi melakukan panggilan video dengan seseorang.
"bisakah kita menunda memiliki anak hingga aku selesai kuliah" tanya Kaila tanpa melihat Pram. "tentu sayang, itu adalah hak mu untuk memanage waktu dan tubuhmu, aku akan menghormati itu" kecup rambut Pram sesekali "makasih kak, aku beruntung memilikimu" dongak Kaila tersenyum Pram tersenyum mengecupi bibir Kaila yang menggoda. "jam berapa lusa kita akan akad" ingat Kaila belum menanyakannya kemarin. "jam 10 pagi" jawab Pram memainkan rambut Kaila. "jam berapa kita harus bangun" tanya Kaila. "pagi -pagi sekali" jawab pram.
Davi menyudahi panggilannya dan mendekat kearah mereka "Kai" panggil Davi. Kaila menoleh "dah selesai" turun Kaila segera duduk dibawah sofa sejajar dan dekat dengan Davi, Pram tiduran diatas Kaila sambil mengelus rambut Kaila, Davi mengangguk pelan. "Icha baru ganti baju" pandang Kaila mengerti jika Davi menanyakan keberadaan Icha. "are U Ok Kai" senyum Davi, Kaila menggeleng pelan. "lebih ke rasa nyaman daripada Ok" senyum Kaila. "semakin kesini semakin takut untuk melukai banyak orang" miring badan Kaila agar nyaman ngobrol dengan Davi. "jangan selalu mikir orang lain Kai, pikirkan dirimu sendiri biarkan dirimu mempunyai waktu sendiri" geleng Davi. "aku berharap aku bisa Dav" senyum Kaila samar.
"dan sayangnya itu mustahil bisa kan" hembus nafas berat Davi menatap Kaila yang semakin kurus. "kamu terlihat lebih letih saat ini dari pada saat naik gunung" isyarat Davi menunjuk kantung matanya sendiri. "banget, terlalu banyak yang dia pikul dipundaknya" datang Icha dan duduk didepan mereka, Kaila tersenyum manis. "kayak jaelangkung aja sih Cha, datang nggak diundang pulang nggak tau nglayap kemana" senyum Davi, Icha memukul bahu Davi pelan. "mulut nih lama-lama gue gantung di pohon cabe" kesal Icha, mereka tertawa. "pawang mu ikutan ketawa kalo gitu kan liatnya adem, nggak datar kliatan hidup" isyarat dagu Icha. Kaila dan Davi menoleh menatap Pram yang tersenyum memejamkan mata. Kaila mencium bibir Pram sekilas, Pram tersenyum senang dan memeluk bahu Kaila mengusap-usapnya pelan.
__ADS_1
"idih, yang bucin parah" kibas tangan Icha jengah. "pawang mu kemana Cha" tanya davi tidak melihat keberadaan Saka. "apaan sih ular kali ada pawangnya" kata Icha. "dia pamit tidur duluan, terlalu lelah katanya hari ini, kita disuruh ngobrol aja nggak boleh kemana-mana" ucap Icha. "kebangetan kamu, kabur nyari cewek lain baru tau rasa" sumpahi Davi bercanda.
"kamu nggak tau kan Dav, kak Saka tuh udah kenal lama sama Icha ada salah paham dikit diantara mereka dikira kak Saka udah punya pacar dan Icha nelan mentah-mentah tuh omongan cewek yang ngaku pacarnya kak Saka tanpa konfirmasi dulu sama kak Saka. ninggalin cerita gitu aja nggantung gitu" cerita Kaila, Icha nyengir bersalah.
"trus sekarang kalian jadian atau gimana nih.... kasihan juga anak orang di gantungin gitu, pamali tau" kata Davi setia mendengarkan dua sahabatnya mencurahkan isi hatinya itupun hanya kepada dirinya, mereka mau cerita. "nggak segampang itu Dav, main hinggap aja kayak kupu-kupu" geleng Icha. "trus apa yang membuat kupu-kupu itu tidak mau didekati" goda Davi.
"aku takut, dia terlalu sempurna untukku yang kayak gini" hembus nafas Icha tidak percaya diri, "duh, teman baikku yang satu ini... hei.... apa kabar laki laki yang mengejar-ngejar kalian berdua sampai aku kadang seperti bodyguard daripada sahabat" tepuk udara Davi mengingatkan drama mereka berdua di kampus dan diluar. "justru mereka berdua yang beruntung mendapatkan kalian, apa kalian tau betapa cemburuan pawang kalian" balik tanya Davi. "menurutku terlalu berlebihan banget malah sampai kadang merindukan saat kita sedang di kuliah ato jalan kemana enjoy aja, lha sekarang ada banyak baju hitam dari kejauhan" kata Kaila kesal. "itu berarti pawang kalian beneran jaga kalian karena kalian itu terlalu berharga" kata Davi.
"ternyata kamu memang bisa diandalkan Dav, jadi asistenku aja" ujar Saka yang datang tiba-tiba hingga mereka terkejut. "aishhh..... main nongol aja nih pawang tapi boleh juga tuh tawarannya, ntar magang disitu deh" senyum Davi sumringah menganggukkan kepalanya. "katanya mau tidur kak" tanya Icha menatap Saka. "tidur deket mu aja Cha lebih nyaman dan aku nya juga tenang" jawab Saka tiduran dibelakang Icha. "padahal jika kak Pram udah tidur, kita bisa menyelinap pergi ke tempat malam yang kemarin" rencana Kaila yang sudah disusunnya secara rapi, Icha membuat tanda Ok dengan ibu jarinya. "tidak boleh" kata Pram dan Saka cepat mendengar rencana Kaila dan Icha.
"ish..... apaan sih kalian ini, katanya tidur, tapi kupingnya nggak tidur" pukul lengan Icha ditangan Saka kesal melihat mereka yang pura-pura. "kalian nggak akan bisa keluar dari sini tanpa perintah dari kami, lagian kita lusa ada acara akad Kai, pengamanan dirumah sudah diperketat dari kemarin" pandang Pram, Kaila menghela nafasnya berat.
hai.... hai..... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku, terimakasih atas dukungannya terhadap karyaku ini.
luv..... luv..... luv..... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
stay healthy all.