
kelas kuliah telah usai, sebagian mahasiswa sudah beranjak dari bangku tempat mereka duduk selama kuliah kenegaraan menuju kantin, Kaila masih menata buku-buku yang akan dimasukkan ke Sling bag nya saat Davi menghampiri bangkunya.
"kuy, kita ke kantin. aku belum sarapan tadi" ajak Davi beranjak mendekati mereka berdua karena merasa lapar. "oke, ayok" balas Icha sambil berdiri setelah merapikan bukunya, ponsel Kaila berdering pelan menandakan ada pesan masuk kedalam chat nya, "ke ruanganku sekarang" pesan yang masuk ke ponselnya.
Ia menghela nafasnya pelan menandakan keengganannya bertemu orang itu. cukup sudah kejadian tadi malam dengannya, Kaila tidak mengharap lagi dekat-dekat dengannya.
"ada apa kai" tanya Icha melihat perubahan sikap Kaila yang terlihat berbeda.
"nggak ada apa-apa Cha, kalian ke kantin dulu aja. ada hal penting yang harus aku selesaikan sekarang" senyum Kaila segera.
"yuk Cha" kata Davi berjalan keluar setelah mendengar jawaban Kaila, Icha menganggukkan kepalanya dan mengekor langkah Davi dari belakang, Kaila meraih sling bag dan berjalan keluar kelas melewati lorong menuju salah satu ruangan yang agak dalam dari kantor dekan. Kaila mengetuk pintu pelan setelah menghela nafasnya panjang agar tidak gugup.
"masuk" kata yang didalam, Kaila memutar knop pintu berjalan mendekat. "ada apa kak" tanya Kaila datar setelah menutup pintu.
"duduk dulu baru kita bicara" ujarnya memberi Kaila isyarat dengan dagunya. Kaila mendaratkan pantatnya ke sofa yang ada disamping kanan pintu masuk ruangan menundukkan kepala tanpa mau melihat laki-laki yang menjadi salah satu pengajarnya itu. laki-laki itu bangkit dari kursi dan mendekat ke arah Kaila duduk dengan santai disampingnya tanpa merasa ada beban.
"makan dulu, tadi aku pesan online. kamu belum sarapan kan" sodor nya kehadapan Kaila yang menatapnya sebentar kemudian melihat paperbag yang ada dimeja.
"aku tidak lapar kak" geleng Kaila agar laki-laki itu tidak terlalu dekat dengannya saat ini.
"atau mau aku suapi agar terlihat lebih romantis" godanya menarik turunkan alisnya yang terlihat pas di parasnya yang jauh diatas rata-rata.
Kaila menghela nafasnya pelan tidak tahu harus menjawab apa segera diraihnya paper bag dan mengeluarkan isi yang ada didalamnya. seketika wajahnya berbinar-binar mengetahui masakan kesukaan ada didepan matanya, segera membuka pembungkus makanan, melahapnya dengan penuh semangat.
laki-laki itu tersenyum lebar melihat tingkah Kaila yang menggemaskan seperti seekor kelinci yang minta untuk dielus-elus punggungnya.
"kakak tidak makan" toleh Kaila sambil menyuapkan makanan ke mulutnya sehingga pipinya menggembung menggemaskan.
"mau, tapi kamu yang menyuapi" ujarnya sambil mengedipkan mata menggoda Kaila, Kaila memutar matanya kesal melihatnya. akhirnya mau tidak mau Kaila menyuapi laki-laki itu karena menatapnya lama.
"mau nggak" sodor Kaila ke depan mulut laki-laki itu yang membuka mulutnya dan mengunyah makanannya dengan pelan.
"penglihatan mu kelihatan bengkak" sentuh laki-laki itu di kornea Kaila membuat Kaila membeku sesaat akibat sentuhannya.
"kak Pram jangan menyentuh sembarangan" pandang Kaila tidak suka, laki-laki itu tersenyum lebar melihat reaksi Kaila yang imut.
"jadi, kamu mau disentuh laki-laki lain selain aku gitu" kata Pramudya mengerutkan keningnya tampak tidak senang.
__ADS_1
"ishh, kalo ngomong sembarangan, emang cewek apaan disentuh sembarangan" kata Kaila tegas merasa tidak suka.
Pram menyentil kening Kaila pelan, "ishhh, sakit kak" usap kening Kaila kesal.
"jangan berharap ada laki-laki lain yang memegangmu atau menyentuhmu, aku tidak suka" pandang Pramudya menatap Kaila dengan penuh penekanan.
"apaan sih kak, suka nggak jelas kalo ngomong" lambai tangan Kaila merasa tidak mau menanggapi perkataan Pramudya yang tidak jelas.
"makan lagi, Kai" pandang Pramudya pada Kaila karena tidak menyentuh makanannya lagi, "nggak nafsu lagi" sungut Kaila menyandarkan punggungnya kebelakang sofa.
Pramudya meraih box makan dan menyuapi Kaila. "makan" sodor nya dingin didepan mulut Kaila yang hanya diam saja, Pramudya menatap dalam ke kornea Kaila, akhirnya Kaila membuka mulutnya menerima suapan Pramudya.
"jika makanannya tidak habis, kau akan aku tinggal diruangan ini, kasihan orang-orang yang tidak dapat makan jika kamu membuangnya sia-sia" tatap Pramudya.
Kaila membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Pramudya barusan, mengangguk dan segera mengunyah dengan pasti makanan yang disuapi oleh Pramudya. "jam berapa kamu pulang nanti" tanya Pramudya sambil menyuapi dirinya bergantian dengan menyuapi Kaila.
"jam 4 sore kak, ada diskusi sebentar dengan anak HI lainnya" kata Kaila sambil mengunyah makanannya, "pulang bareng aja, aku sampai jam 4.30 nanti" tatap Pramudya.
"tapi kak, aku bawa mobil sendiri" balas Kaila tidak mau lagi berurusan dengan Pramudya apapun itu bentuknya.
"sudah habis makanannya" kata pramudya menyodorkan teh manis kesukaan Kaila yang segera menyeruputnya sedikit.
"terlalu manis" geleng Kaila. Pramudya mengangguk pelan, meminum teh Kaila.
"menurut ku pas" kata Pramudya menanggapi penilaian Kaila mengenai teh barusan, Kaila berdiri, "cobain teh bik Sum kalo ingin minum teh rumahan, aku mau ke kantin dulu bertemu dengan yang lain kak" ujar Kaila meminta ijin agar tidak berlama-lama didalam ruangan Pramudya.
"hmmm baik, tapi jangan dekat-dekat dengan pria lain bisa kan" tatap Pramudya meminta Kaila menurutinya, Kaila tidak mau mendengar dan bergegas pergi keluar.
"lho Kaila, ada perlu apa dengan mas Pram" tatap mbak Dewi heran saat akan membuka pintu ruangan Pramudya.
"hehehehe, bawa tugas dari mas Pram mbak, mari" pamit Kaila sopan, Dewi tersenyum mengangguk dan bergegas masuk.
"siang pak Pramudya, saya membawa berkas dari rektor" serah Dewi.
"terimakasih, anda tidak perlu repot membawanya, saya bisa ambil sendiri nanti" kata Pramudya menuju meja kerjanya.
"tidak apa-apa pak, saya juga ada urusan dekat sini, jadi sekalian saja saya bawa" senyum Dewi manis, Pramudya hanya menatap sekilas kemudian kembali menatap laptopnya, tidak menggubris Dewi yang berdiri didepannya. Dewi yang sadar diri segera pamit, dia menoleh kebelakang menatap Pramudya yang selalu dingin terhadap perempuan.
__ADS_1
tidak dapat dipungkiri jika seorang Pramudya termasuk dosen most wanted di kampusnya sehingga tidak hanya mahasiswinya yang tergila-gila melihat ketampanannya tapi juga para staf dan dosen perempuan yang selalu mencoba menarik perhatiannya.
Kaila melewati beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya saat mau ke kantin. "hai Kai" sapa beberapa mahasiswa, Kaila hanya tersenyum menanggapi sapaan mereka yang selalu menyapanya yang terkenal cantik dan ramah kepada siapa saja.
"darimana aja sih Kai, lama bingit" kesal Icha pura-pura saat melihat sahabatnya berjalan kearah mereka, Kaila tersenyum menanggapi Icha yang menantinya dari tadi.
"ulu-ulu, cewek cantik kok gampang marah nanti ilang cantiknya" cubit pipi Kaila tertawa.
"ish, sakit Kai" usap pipi Icha.
"darimana tadi Kai, kok lama" tatap Davi curiga dengan kepergian Kaila tadi. "hehehehe pada kepo yaa, aku kemana aja, ada deh. dah ahh nggak usah dibahas, nggak penting" senyum Kaila melambaikan tangannya di depan badannya.
"biasanya kak Arga selalu menanyakan kabarmu setiap beberapa jam, kenapa hari ini tidak tampak tanda-tanda nya yaa Kai" goda Icha yang selalu kepo dengan percintaan Kaila dan Arga yang selalu menggelora sejak sekolah dulu, wajah Kaila tampak mengeras sesaat, tidak menunjukkan reaksi apapun atas kalimat Icha yang memang belum mengetahui apa-apa.
"tidak ada, dia baru ada kerjaan diluar, jadi dia tidak bisa dihubungi sementara. biasa aja Cha" senyum tipis Kaila, Icha mengerutkan keningnya menyadari ada yang tidak beres dengan sahabatnya. tapi dia hanya diam menunggu saja, Icha tahu bagaimana sifat Kaila jika ada masalah dia tidak akan suka orang lain tahu kesedihan yang sedang dialaminya.
Davi hanya menatap Kaila dengan penuh perhatian, dia tahu pasti Kaila sudah punya Arga yang selalu disamping Kaila. jadi tidak ada celah baginya untuk menjadikan Kaila lebih dari seorang teman, dia sadar diri hanya dianggap sahabat yang selalu ada di hari-hari Kaila dan Icha, dua orang sahabat perempuan terbaik yang dia miliki saat ini.
bagaimanapun Davi sudah merasa senang jika melihat kaila setiap saat walau tanpa ada drama romansa didalamnya. tidak hanya dia saja yang mengagumi Kaila, ada banyak cowok yang melihat kaila sebagai gadis diatas rata-rata. tidak hanya pintar namun juga baik, lembut dan kaya, walau kadang anaknya suka ceroboh. Davi hanya tersenyum mengingat tingkah polah Kaila selama ini saat mereka bertiga bersahabat.
"ya elah anak ini, kesambet boneka mampang kayaknya. senyum-senyum sendiri, iiih" geli Icha melihat Davi yang senyum-senyum tidak jelas sendiri, "apaan sih Cha, kamu yang kesambet" cengir Davi ketahuan.
"udah ah, kalian kalo pacaran jangan didepan aku kali, nggak enak tau jadi obat balsem" ledek Kaila menatap mereka berdua, "nggak janji deh Kai, Davi nggak bisa lepas dari obsesinya" cibir Icha sambil melirik Davi, yang dilirik pura-pura meminum orange juice agar tidak terlihat Icha dan Kaila.
"yuk ah udah jam 2 nih, kita ke Selasar kampus pasti temen-temen yang lain udah pada berkumpul. nggak enak kalo telat" kata Icha sembari beranjak dari tempat duduknya.
"cuss" Icha juga mengekor kemana Kaila pergi. "kayaknya hari ini kamu kliatan capek banget deh Kai" toleh Icha menatap Kaila yang terlihat tidak baik-baik saja.
Kaila hanya menghela nafasnya, "nggak papa Cha, trust me. I'm fine, don't worry" senyum Kaila perih menepuk bahu Icha pelan. Icha mengangguk dan berjalan pelan melangkah bersama Kaila dalam keheningan.
hai ... hai ... hai... all readers. terimakasih telah berkunjung ke karyaku, selamat menikmati cerita pertama Kalang di sini.
luv.... luv.... luv... U all sekebon pisang goreng.
thanks a lot pisang sekebon...
stay healthy all
__ADS_1