Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 3


__ADS_3

"darimana Kal" tanya Kaila pada saudara kembarnya Kalai yang terlihat baru saja masuk ke dalam rumah. Kalai yang baru tiba dari kampus tersenyum melihat Kaila sedang menonton channel kartun kesukaannya di TV. "aahhh, Kaila ku tersayang" peluk erat Kalai lebay menggoyang tubuh Kaila kekiri dan kekanan.


"ish, apaan sih kayak nggak jumpa ribuan taon aja" putar bola mata Kaila menepuk-nepuk tangan Kalai pelan.


"hehehehe, kalo jauh darimu rasanya kangen, tapi kalo dekat pingin ku makan" tawa Kalai lebar seraya menjauh dari Kaila takut dikejar, Kaila tertawa lebar.


"kadang aku berpikir tentang ayah, tau nggak. terkadang aku tuh merasa kita ini beruntung menjadi anak ayah yang selalu memberi kita kebahagiaan, kasih sayang yang tidak ada habis-habisnya, ayah menggantikan posisi momi yang telah pergi" curhat Kalai duduk disamping Kaila, Kaila mengecilkan volume kartun kesukaannya dan terdiam mendengar omongan Kalai.


"kadang aku merasa kita nggak banyak membahagiakan ayah" sandar kepala Kalai dibahu Kaila.


"aku rasa ayah kesepian sudah lama Kai, jika kita semua pergi ayah sama siapa" tanya Kalai.


"ya sama kamu lah, jika aku menikah sama kak Arga tinggal kamu yang dirumah" gelak Kaila mengacak rambut saudara kembarnya.


"aish, ancamannya itu melulu" manyun Kalai, Kaila terkekeh melihat raut muka kakak kembarnya Kalai.


"makanya jangan terlalu banyak berpikir yang enggak-engga, dah tau ayah hanya punya kita sejak momi meninggal 3 tahun yang lalu karena kecelakaan. ayah hanya punya kita dan kita hanya punya ayah" sentil Kaila pelan.


"sakit tau Kai, nggak sopan biar begini aku kan kakakmu" ringis Kalai.


"cuman beda 5 menit doang Kal, ya elah baper amat jadi kakak" geser Kaila menuju ke dapur.


"masak apa bik Sum" tanya Kaila melihat orang yang selalu setia menemaninya disaat momi nya pergi untuk selama-lamanya.


"masak sayur asem dan ikan kembung di sambelin non" senyum bik Sum.


"siiip deh bik, tau aja kalo laper banget dan pingin yang seger-seger" senyum lebar Kaila melihat makanan di atas meja menggugah selera makannya. Kalai yang mengikuti Kaila ke ruang makan segera duduk diseberang Kaila.


"bersih-bersih badan dulu Kal, kamu habis dari luar banyak kuman" pandang Kaila.


"iya" bangkit Kalai dari tempat duduk dengan malas. "cakep banget sih kakak aku" goda Kaila. Kalai pergi sambil menjulurkan lidahnya.


ayah keluar dari kamarnya, menghampiri anak gadisnya yang sudah berada di ruang makan. "Kalai kemana Kai" tanya ayah menatap Kaila. "baru kekamar bentar yah" jawab Kaila sambil mengambilkan nasi ayahnya.


"Arga nggak kesini Kai" tanya ayah. "nggak tau yah, akhir-akhir ini dia baru sibuk bantuin papanya di perusahaan. mungkin dia terlalu sibuk jadi Kaila maklum kalo dia jarang kesini lagi" senyum Kaila mengangkat bahunya seperti itu bukan masalah besar baginya.


"iya, biasa kalo diawal-awal berjuang waktu pasti belum bisa di atur dengan baik" ujar ayah sambil manggut-manggut.


"ngobrol apaan sih kayaknya serius banget" duduk Kalai diseberang Kaila.


"ayah cuma nanya Arga kenapa jarang kerumah" kata ayah menatap Kalai, Kalai terdiam sejenak mendengar perkataan ayahnya. ada sesuatu yang sakit didadanya mendengar hal itu. "gimana kuliah kalian" tanya ayah menatap kedua putrinya bergantian.


"lancar yah, masih bisa mengikuti kuliah dengan tertib" senyum Kaila. "sama yah" angguk Kalai.


"kenapa dari dulu kalian nggak pernah satu sekolah" tanya ayah.


"nggak seru yah, malah yang ada cuman dibandingin satu sama lain" geleng Kaila.


"hu um, lagian pilihan kita juga beda yah, Kai cenderung suka kegiatan alam, Kal suka kesunyian" tambah Kalai. "kalian ini, selalu bisa ngeles" geleng-geleng kepala ayah, mereka tersenyum lebar mendengar ungkapan ayah.


"ayah kerjaan di lapangan berjalan dengan baik kan" tanya Kalai sambil mengunyah makanannya.


"lancar, seperti yang sudah-sudah. semoga ijin Tuhan melancarkan segala urusan" angguk ayah menatap kedua putrinya.


"hallo" sapa Kalai.


"kamu dimana" sapa seseorang dari seberang.


"dirumah kenapa" tanya Kalai pelan.


"ketemuan, aku kangen" jawab seseorang di seberang.


Kalai melirik Kaila yang ada dibawahnya sedang menonton TV.


"kita ketemu ditempat biasanya" jawab Kalai menutup panggilannya.


"Kai, aku keluar sebentar ya" kata Kalai beranjak dari sofa.


"tumben pergi sorean" toleh Kaila.

__ADS_1


"ada janjian ama temen sebentar" jawab Kalai tersenyum.


"oke deh hati-hati dijalan" senyum Kaila melambaikan tangannya.


"hmm" jawab Kalai pergi keluar.


Kalai tiba disebuah cafe yang nyaman, melihat sesosok pria yang tersenyum kepadanya


"dah pulang kantor" sapa Kalai.


"udah ini kan jam 5" senyum Arga, Kalai hanya tersenyum memandang pria itu.


"Kaila ada dirumah tadi" pandang Kalai, Arga menatap Kalai tersenyum mengelus rambutnya yang panjang.


"aku belum ngobrol dengannya, secepatnya aku akan mengatakan padanya" jawab Arga tenang.


"aku merasa bersalah padanya Ga" tatap Kalai sendu, bagaimanapun Kaila adalah saudara kembarnya yang selalu berada bersamanya. pasti dia juga merasakan sesuatu yang tidak beres namun hanya diam karena belum menemukan sesuatu.


"aku tau, maafkan aku. tapi perasaan ku padanya semakin lama semakin padam. biar aku mencari waktu dulu untuk berbicara dari hati ke hati dengan Kai, oke" jelas Arga sambil mengelus rambut Kalai lembut, Kalai hanya mengangguk pelan tersenyum.


dari kejauhan tidak sengaja seorang laki-laki melihat mereka, kebetulan berada di cafe yang sama saat bertemu dengan teman-temannya. ia adalah Pramudya, secara tidak sengaja melihat Arga yang sedang bertemu gadis yang mirip dengan Kaila, mahasiswinya dikampus tempatnya mengajar selama ini.


"liat apa Pram, serius banget" tepuk Saka.


Pramudya menoleh, "nggak ada, hanya merasa melihat mahasiswi kampus ku" jawab Pram.


"tumben kau lirak-lirik cewek, Pram. biasanya lempeng aja" ledek Tigor menatap sahabat baiknya,


"ya elah Pram, jangan-jangan kamu naksir mahasiswi di kampusmu ya" goda Junot menaik turunkan alisnya, Pramudya yang diledekin hanya tersenyum kecut menanggapinya.


"baru juga setengah tahun balik ke sini, Pram. ngajar cewek-cewek cantik langsung kecantol aja" tawa Tigor meminum kopi hitam nya, semuanya tertawa mendengar perkataan Tigor.


"aku dukung lah kau, biar bisa dekat sama mahasiswi kau itu. umurmu juga udah matang, mapan, ganteng, kaya mau apalagi" semangati Tigor.


"kayak Mak gua kalo kasih nasehat deh Lo gor" ledek Junot menatap Tigor.


"lha gimana Mak kau tidak merepet sama kau Jun, kau sering gonta-ganti pacar. bengek lah mamak kau" jawab Tigor lugas.


"Kai, tolong bawa tugas temen-temen ke ruanganku" tatap Pramudya segera berlalu keluar kelas setelah materi yang dibawakannya selesai untuk dibagikan kepada teman-teman yang tadi mengikuti kelasnya.


"yah kak, kenapa mesti Kai sih, kan ada yang lain" sungut Kaila sambil ngedumel dibelakang Pramudya.


"dah lah Kai, tinggal bawa ke ruangannya mas Pram beres kan" kata temen-temen nya sambil menumpuk kertas dimeja Kaila.


"deritamu Kai" cekikikan Icha mengelus bahu Kaila merasa senang, Kaila menatap Icha yang terlihat bahagia melihatnya sengsara.


"ishh" kata Kaila memajukan bibirnya tidak senang sama sekali.


"aku temenin deh Kai" duduk Davi disebelah Kaila tiba-tiba.


"sekalian aja gandengan, kayak anak TK nyebrang jalan" celutuk Icha keluar kelas melihat mereka berdua.


"makasih Dav, aku bisa sendiri nanti malah ada yang cembokur tuh" berdiri Kaila sambil tersenyum menuju ruangan Pramudya. Kaila mengetuk pintu ruangan Pramudya sambil membawa tumpukan kertas hasil kerjaan anak-anak yang lain.


"masuk" kata pramudya dari dalam, Kaila membuka pintu dan masuk kedalam, "ini kak, kerjaan anak-anak yang lain" taruh tumpukan kertas Kaila dimeja Pramudya.


"hmmm" dehem pramudya tetap fokus pada laptopnya. "ya udah kak, kalo gitu saya permisi" pamit Kaila.


"duduk dulu, tunggu saya sebentar" tatap Pramudya sekilas setelah itu kembali ke layar laptopnya lagi. Kaila ngedumel dalam hati tapi duduk juga disofa yang ada diruangan Pramudya. Kaila kemudian asyik dengan ponselnya sambil menunggu Pramudya.


15 menit berlalu, Pram tidak mendengar suara Kaila lagi, ia menoleh dan melihat Kaila yang ternyata tertidur disofa. Pram beranjak mendekati Kaila dan mengelus pelan kepala Kaila.


"kenapa jika melihatmu, aku ngerasa sakit Kai. bisakah kau membuka hatimu untukku" gumam Pramudya. Kaila membuka matanya tiba-tiba, membuat Pram segera menurunkan tangannya yang mengusap kepala Kaila.


"maaf kak, aku ketiduran" sadar Kaila menutup parasnya dengan kedua tangan.


"nggak papa kamu pasti kecapekan akhir-akhir ini" senyum Pramudya, Kaila menguap lebar, "maaf kak" nggak sadar Kaila dengan kelakuannya. Pramudya hanya tersenyum gemas melihat Kaila yang selalu bersikap apa adanya jika bersamanya.


"ayo, kita makan sebentar'" tatap Pram teduh. "makasih kak, aku langsung pulang saja, sudah jam 6 sore" geleng Kaila cepat melihat jam diponselnya.

__ADS_1


"nggak ada penolakan" ujar Pram tegas, "kenapa harus ikut, kakak kan bisa mengajak yang lain. tidak harus aku kan" tatap Kaila tidak suka dengan sikap Pram yang suka memaksakan kehendaknya jika bersamanya.


"ayo, aku sudah sangat lapar atau aku harus memakanmu dulu untuk menuntaskan rasa lapar ku" senyum Pram sambil membuka pintu. Kaila mengerucutkan bibirnya tanda tak suka dipaksa.


"apa mau minta dicium tuh bibir di monyong-monyongin gitu hah" dekat Pram pelan. Kaila segera berjalan cepat menghindari Pram keluar ruangan. Pram terbahak-bahak melihat kaila yang salah tingkah. Kaila menatap Pram mengerutkan keningnya sesaat. "kalo kayak gitu kakak terlihat lebih baik, nggak datar dan dingin kayak biasanya. horor tau kak kalo pas ngajar" ceplos Kaila menatap Pram.


Pram menoleh cepat, "masa, aku ngerasa biasa aja ya, kamu kali" kata Pram tersenyum, Kaila memutar matanya jengah.


"ya elah kak, situ mah nggak ngerasa, kita yang di kelas yang horor kayak nonton makmum 2 aja" cengir Kaila. "emang kamu udah nonton tuh film, mau nonton bareng aku nggak" tanya Pram cepat.


"idih ogah, kenapa harus sama kakak nontonnya, gini-gini Kai masih ada yang mau ngajak nonton selain kakak, cari aja noh, cewek lain. banyak tuh mahasiswi bertebaran dikampus yang masih single" kibas tangan Kaila. "emang ada yang mau sama kamu Kai" kerut Pram menatap Kaila lama. "adalah banyak, pada ngantri, seperti dikantin mbok Jamilah" sombong Kaila, mereka tertawa pelan sesaat kemudian.


"jangan terlalu tinggi Kai, mimpinya. jatuh sakit lho" acak rambut Pram lembut.


"ish, tangannya bikin rusak tatanan rambut nih" rapikan rambut Kaila kembali. "ayo masuk" ajak Pram saat tiba diparkiran kampus.


"aku bawa mobil sendiri kak, tuh disana" tunjuk Kaila dibawah pohon Akasia tidak jauh dari mobil Pram.


"tidak ada penolakan" tatap Pram sesaat sembari masuk mobil. Kaila hanya berdiri didepan pintu mobil, Pram menurunkan kaca mobilnya. "masuk sendiri atau aku gendong masukin bagasi" ujar Pram datar.


"bawaannya ngancem melulu sih kak, lembut sedikit kenapa, sebel tau" buka pintu mobil Kaila segera menghempaskan pantatnya dikursi penumpang di samping Pram. "safety belt nya Kai, walau cantik jangan lupa keselamatan honey" ingatkan Pram menatap Kaila yang segera memakai seat beltnya dengan cepat menatap keluar daripada berdebat dengan Pram yang tidak ada gunanya, pada akhirnya dia pasti dikalahkan oleh Pram. Pram hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Kaila yang menghindari perdebatan panjang.


mobil memasuki sebuah cafe anak muda nongkrong yang agak jauh dari keramaian kota.


"ayo" toleh Pram melihat Kaila, "tempatnya nyaman banget ini kak" pandang Kaila. "it's cozy" rentang tangan Kaila saat keluar dari mobil. "aku kira kakak suka dengan cafe yang bernuansa laki-laki matang" masuk Kaila mengikuti langkah Pram.


"apa aku setua itu, Kai" jawab Pram tidak terima,


"hmmm, ya nggak gitu juga kak, gaya eksekutif muda gitu, kalo di novel online yang sering aku baca sih CEO muda" kata Kaila antusias.


"memang aku masih muda Kai, umur 24 kan muda" lihat Pram mencari tempat kosong.


"narsis banget jadi orang" gumam Kaila pelan agar tidak terdengar Pram. "kita kesana" ajak Pram, Kaila hanya mengangguk pelan mengikuti langkahnya. ponsel Kaila berbunyi pelan.


"hallo yah" sapa Kaila.


"Kai baru keluar sama teman sebentar yah" jawab Kaila.


"iya, Kai ingat makan. ini juga mau makan dulu" angguk Kaila.


"Kalai juga pergi, baik yah nanti kalo sudah selesai urusan Kaila akan segera pulang" jawab Kaila.


"iya ayah, jangan kuatir Kaila bisa jaga diri" tutup Kaila. Pram memegang bahu Kaila untuk segera duduk ditempat yang kosong, Kaila hanya menurut dan mengangguk pelan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan melihat interior ruangan yang nyaman.


"darimana kakak tau tempat ini, apa sering kesini" tanya Kaila melihat Pram. "kamu kepo sekarang Kai" senyum Pram menatap Kaila lama.


"mau makan apa kak" alih Kaila tersenyum kikuk melihat daftar menu yang dibawa penjaga cafe.


"pisang bakar aja sama kentang goreng, minumnya lemon tea dingin" lihat menu Pram.


"baik" jawab penjaga.


"aku nasi goreng aja sama teh manis panas" senyum Kaila.


"baik kak" balas penjaga ramah.


"ada tambahan lagi" tanya penjaga.


"itu dulu mas" senyum manis Kaila. "baik" senyum penjaga.


Pram yang melihatnya hanya menatap masam Kaila yang dilihatnya tebar pesona.


"ada apa kak" tatap Kaila heran melihat Pram yang terlihat tidak suka.


"harus ya kamu senyum-senyum gitu ke laki-laki lain" tanya Pram tidak suka. "nggak jelas kamu kak" liat Kaila ke ponselnya, keadaan tiba-tiba hening tidak ada yang memulai percakapan lagi.


"kamu sudah ngomong ke Kaila, Ga" tanya seseorang dari sisi yang lain. Kaila yang samar-samar mendengar pembicaraan seseorang menegakkan tubuhnya seketika karena ada nama yang sama dengannya.


hai.... hai... hai.... all readers, terimakasih sudah mau mampir membaca karya pertamaku.

__ADS_1


luv.... luv..... luv..... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all


__ADS_2