Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 65


__ADS_3

"kamu periksa jam berapa Kai" tanya ayah saat melihat Kai yang tiduran disofa panjang melihat TV "7 malam yah" jawab Kaila tanpa melihat ayah karena asyik menonton TV drama Turki. "Kai ayah ikut ya" pandang ayah mendekati Kaila. "iya yah ikut aja kemarin ditawarin ayah bilang nggak usah" angguk Kaila menatap ayah "Pram ngebolehin nggak" tanya ayah pelan Kaila tersenyum "boleh yah kemarin kan kak Pram yang nanya ke ayah mau ikut nggak" angguk Kaila tersenyum. "Ok kalo gitu ayah ganti baju dulu" kata ayah. "bersih-bersih dulu sana yah kan abis dari proyek bau tau" tutup hidung Kaila menjauh "iiihhh.... kayak kamu nggak" jalan ayah keatas, Kaila menciumi tangan, bahu dan bajunya "nggak yah Kaila barusan mandi" seru Kaila, ayah tertawa keras "kenapa dengan ayah, yang" datang Pram sehabis membersihkan dirinya, Kaila melihat Pram yang sudah bersih.


"pelukable by" pinta Kaila Pram memeluk Kaila dari samping mengelus perut Kaila yang sedang serius menonton drama Turki "besuk kamu sudah siap Kai saat sidang" kecup rambut Pram Kaila mengangguk pelan Pram menerima panggilan ponsel "hallo" salam Pram.


"trus" kerut Pram menjawab


"harus besuk" tanya Pram agak tinggi. Kaila mendongak menatap Pram, "low honey" isyarat Kaila menurunkan tangannya kebawah Pram mengangguk.


"jam berapa" tanya Pram kembali seperti semula


"abis makan siang gimana" tanya Pram.


"iya.... Ok" tutup Pram. Kaila menatap Pram.


"pabrik manufaktur yang kemarin terkendala karena masyarakat sekitar. mereka minta bertemu denganku besuk aku bilang habis makan siang aja karena aku harus menemanimu sidang" kata Pram menerangkan Kaila mengangguk "besuk abis sidang aku ikut by siapa tau berguna nantinya" senyum Kaila tidak mau dibantah Pram mengangguk mengiyakan dia juga tidak tenang jika meninggalkan Kaila sendirian.


"berangkat sekarang" datang ayah duduk disofa single "bentar lagi yah drama Turki nya baru adegan romantis" isyarat Kaila untuk tidak mengganggunya menonton drama Turki, Pram dan Ayah saling pandang melihat kebiasaan Kaila yang suka drama Turki.


"honey pasang seat belt dengan benar" pasangkan Pram melihat Kaila yang kesusahan memasang seat belt nya "kenapa ya by, semenjak kenal sama kamu aku jadi kesusahan masang seat belt sih" tanya Kaila tidak habis pikir. "itu tandanya kamu nggak bisa jauh dari aku" kecup kening Pram "iiihhhh..... maunya kamu itu mah dari dulu" kata Kaila mengerucutkan bibirnya maju, Pram mencapit dengan kelima jarinya "sudah siap semua" tanya ayah antusias dikursi penumpang depan sopir sekaligus penjaga Kaila segera menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.


"hallo Kal" sapa Kaila.


"iya.... ini mau menuju ke klinik" jawab Kaila.

__ADS_1


"nanti aku kabari kalo dah diperiksa" kata Kaila.


"ya.... siap have fun dirumah kak Arga jangan kuatir ada ayah dan kak Pram" ujar Kaila menutup ponselnya "Kalai nanya udah berangkat belum takut macet katanya, nanti jangan lupa ngasih tau kalo pemeriksaannya udah selesai" jabarkan Kaila "Icha juga ngirim pesen jangan lupa ngabarin kalo udah diperiksa" lihat chat Kaila Pram mengangguk. "tidak usah terlalu dipikirkan by, besuk semuanya akan baik-baik saja kita akan bisa mengatasinya" genggam tangan Kaila menenangkan suaminya Pram tersenyum dan mencium punggung tangan Kaila berulangkali


"kenapa memangnya" toleh ayah, "pabrik yang baru dibangun bermasalah dengan penduduk sekitar yah, mereka meminta lebih dari kompensasi yang kemarin disepakati" jelas Pram.


"bicarakan baik-baik sambil duduk lesehan aja Pram, sambil makan siang kita juga sering begitu saat proyek baru mau jalan sambil makan akan lebih enak dan nyaman untuk mengobrol, perut kenyang maka pikiran akan tenang. biasanya Kaila yang mengurus semuanya pesen makanan trus dibawa kesana" kata ayah "ato kalo nggak biar ibu-ibu daerah sana yang memasak biar lebih terasa kekeluargaannya dan kita dapat solusinya sebagai gantinya kita beri uang lelah untuk makanan yang mereka bikin" kata Kaila.


"nah tuh ide Kaila bisa juga tuh Pram kita datang baik-baik untuk memajukan kesejahteraan penduduk sekitar yang memang mau maju, pendekatan masyarakat memang agak sulit untuk menerima perubahan yang tidak gampang untuk dirubah" kata ayah Pram mengangguk mengetik chat diponselnya "aku udah meminta tolong kepala proyek untuk menanyakan kepada kepala desa mengenai pertemuan besuk mengenai masalah makan siang juga sudah aku utarakan kita tunggu kabar dari kepala proyek dulu" kata Pram Kaila mengangguk tersenyum.


tiba di klinik


"malam dok" sapa Kaila melongok kan kepalanya dokter Nisa tersenyum melihat Kaila "masuk Kai" berdiri dokter Nisa menyambut Kaila, ia masuk ditemani Pram dan ayah, dokter Nisa tersenyum lebar "lengkap nih Kai yang nganterin Kalai nggak ikut" tanya dokter Nisa. Kaila tertawa pelan "Kalai baru dirumah mertuanya kak ada acara keluarga kalo nggak pasti ikut, ini aja nanti harus laporan ke dia setelah periksa" senyum Kaila, dokter Nisa tertawa pelan.


"kalo udah trimester terakhir, bisa-bisa ruangan ini penuh dengan keluarga besar mu Kai" seloroh dokter Nisa bercanda. "bisa jadi kak karena mom dan dad akan pulang ke Indonesia untuk melihat cucunya" angguk Kaila tersenyum dokter Nisa tertawa kecil. "wah dikunjungi dua keluarga besar akan sangat menyenangkan Kai" angguk dokter Nisa tersenyum


"semuanya sesuai dengan yang seharusnya Kai semuanya sehat" senyum Dokter Nisa "ada yang mau ditanyakan Kai" tanya dokter Nisa lagi. "saya boleh membonceng sepeda motor kan Dok" tanya Kaila menatap dokter Nisa "kenapa memangnya" tanya dokter Nisa penasaran. "keluarga saya dok kuatir kalo saya kenapa-kenapa mereka lebih berhati-hati dalam menjaga saya dan tidak memperbolehkan untuk mengendarai apapun sendiri padahal dulu biasa aja dok, terkadang kangen juga bisa kemana-mana sendiri" cerita Kaila dokter tersenyum mengerti keinginan Kaila "kayak jaman dulu anak perawan yang dipingit" senyum Kaila dokter Nisa tersenyum lebar.


"selama kamu nyaman lakukan apapun yang kamu suka baby-nya akan merespon dengan cepat apa yang kamu lakukan" angguk Dokter Nisa menenangkan Kaila, Kaila mengangguk tersenyum "karena mereka sayang padamu Kai jadi mereka melindungimu lebih dikit" kata dokter Nisa tersenyum.


"iya dok saya ngerti tapi saya bukan orang sakit yang harus dilarang ini itu" hembus nafas Kaila panjang, dokter Nisa mengangguk "lakukan yang membuatmu nyaman dan bahagia hanya itu kuncinya untuk ibu hamil, bahagia..... maka semuanya akan baik-baik saja be happy Kai" kata dokter Nisa "I'm trying it doc" senyum Kaila Pram memandang Kaila sesaat.


"oke saya beri resep untuk menjaga kesehatan ibu hamil dan baby kita akan ketemu bulan depan" angguk dokter Nisa menulis resep.

__ADS_1


"makasih banyak kak, kita ketemu bulan depan" senyum Kaila memberi salam, dokter Nisa membalas salam mengulurkan tangannya kepada Kaila "jika ada apa-apa hubungi aku Kai" kata dokter Nisa "tentu dok makasih atas penjelasannya" angguk Kaila tersenyum mereka beranjak dari ruangan dokter.


"kita kemana lagi nih" senyum Kaila menyusuri lorong klinik untuk keluar dari rumah sakit "mau makan" tanya ayah. "Ok ayuk aja" angguk Kaila semangat, Pram meraih jemari Kaila dan menggenggamnya erat "kita ke kedai ice cream aja gimana" tanya ayah Kaila menggeleng "ke cafe aja yah, yang ada roti bakarnya pingin itu" kata Kaila ayah mengangguk, mereka pergi ke cafe terdekat dari rumah sesuai rute pulang ke rumah karena hari sudah menjelang malam Kaila lebih cepat mengantuk "disini aja ya Kai, ini udah jam 9 kurang, takut kamu tiba-tiba tidur" kata Pram pelan Kaila mengangguk dan turun dari mobil.


"roti bakar pisang bakar dan coklat dinginnya satu" pesan Pram "ayah mau coklat dingin juga" kata ayah. penjaga cafe mengangguk dan tersenyum sebelum mengundurkan diri untuk membuat pesanan mereka "hubungi Kal, Kai. nanti dia penasaran dengan pemeriksaan tadi" kata ayah. Kaila mengangguk dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Kalai.


"tidak diangkat yah, mungkin belum selesai acaranya, Kai chat aja" pandang Kaila ayah mengangguk setuju Kaila mengirim chat dan tak lupa foto USG tiga dimensi triplets kepada Kalai dan Icha juga "besuk kamu sidang Kai" tanya ayah Kaila meletakkan ponselnya dimeja dan mengangguk mengiyakan ayahnya "merasa grogi nggak deg-degan nggak" tanya ayah tersenyum Kaila tertawa kecil dan mengangguk. "sekarang sih nggak begitu yah, mungkin besuk pagi kali ya" kata Kaila.


"tidak begitu menakutkan seperti yang dibayangkan kamu menguasai materinya nggak sebentar kamu ngerjain semua bab tugas akhir mu" kata Pram memberi semangat Kaila tersenyum dan mengangguk pesanan mereka datang. "kayaknya enak banget nih Kai" lihat ayah dan memesan menu seperti pesanan Kaila satu lagi, Pram mulai menyuapi Kaila roti bakar pesanannya Kaila mengunyahnya dengan cepat.


"pelan-pelan Kai nggak ada yang minta" kata Pram Kaila menggeleng pelan "enakan pas masih hangat by, jika sudah dingin nggak enak" jawab Kaila Pram tersenyum "aku kenyang" seruput coklat dingin Kaila setelah menghabiskan roti bakarnya dan roti bakar ayahnya mengusap perutnya kekenyangan. "punya ayah juga kamu makan sih" kata ayah, Kaila nyengir. "masih ada pisang bakarnya dicampur susu coklat dan meses tuh yah" tunjuk Kaila, ayah mencomot potongan pisang bakar pesenan Kaila "Pram pesenin lagi ya... yah" kata Pram, Kaila dan Ayah tertawa menggelengkan kepalanya.


"nggak usah Pram ayah hanya sedang bercanda dengan Kaila kami memang suka usil tapi hanya karena biar kita tambah dekat satu sama lain terkadang kedekatan seperti ini yang membuat kita kangen jika tidak bertemu dalam waktu yang lama" senyum ayah. Pram tersenyum mengangguk Kaila memeluk ayahnya erat, ayah mengelus punggung Kaila. "jadi ibu yang baik Kai jangan ngambekan" kata ayah, Kaila mengangguk.


"mau makan apa lagi Kai" tanya Pram, Kaila menggeleng "pulang aja ngantuk" pandang Kaila. Pram mengangguk "by, gendong belakang"pinta Kaila Pram mengangguk membelakangi Kaila untuk membiarkannya naik ke punggungnya. Kaila melingkarkan tangannya dileher Pram dan kakinya ditahan Pram dengan kedua tangannya. "nggak malu apa anak gadis digendong gini" tepuk pantat ayah pelan, Kaila nyengir menyandarkan kepalanya ke bahu Pram dan tidur "kamu terlalu memanjakannya Pram" senyum ayah Pram tersenyum. "ada yang ketinggalan nggak yah, ponsel Kaila yah.... dimeja"


lihat Pram ayah mengambil ponsel Kaila dan membawanya "Kaila beneran tidur itu Pram" lihat ayah memeriksa Kaila "bener yah" tanya Pram menatap ayah. "iya, dia beneran tidur kayak baby koala aja nempel trus molor" senyum ayah membenarkan rambut Kaila yang menutupi wajahnya.


mereka menuju mobil yang telah ada didepan cafe ayah membantu menurunkan Kaila kedalam mobil, mobil melaju pelan meninggalkan cafe "besuk jika mengadakan pertemuan dengan warga sekitar biarkan mereka bicara dulu, dengarkan mereka mengeluarkan unek-uneknya jika mereka ingin menaikkan harga tanahnya perusahaan hanya bisa mengeluarkan dana segitu karena memang tanahnya seharga segitu dipasaran kamu tidak bisa melanggar ketentuan Pemda yang berlaku" kata ayah memberi pengertian pada Pram.


"sebaiknya gimana yah" tanya Pram ingin tahu "jika ayah boleh usul beri mereka sedikit kelebihan harga tanah melalui uang pribadimu saja anggap sebagai wujud syukur mu atas kehadiran triplets gitu saja mikirnya" kata ayah "jangan juga terlihat menuruti semua permintaan yang terkadang hanya keinginan segelintir orang mengatas namakan semua orang" kata ayah Pram mengangguk.


hai..... hai....hai..... all readers luv U all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak. selamat menikmati cerita pertama kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat. dukung yaaa... karya pertama ku.

__ADS_1


luv.... luv.... luv.... U all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2