Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 112


__ADS_3

mereka melangkah beriringan kearah kamar pasien mommy. Kaila tertegun melihat keadaan mommy yang terdapat banyak alat ditubuhnya, mengingatkannya pada keadaan ayah dulu saat mengalami kecelakaan. Pram menahan bahu istrinya yang terhuyung kebelakang, "yang, kuatkan hatimu" bisik Pram, Kaila menoleh menatap Pram lekat tak percaya, badannya tiba-tiba lemas dan serasa tidak mempunyai tulang. Pram menahan tubuh istrinya dengan dibantu ketiga putranya membawanya duduk menjauh dari mommy, Kirana membalurkan minyak aromaterapi ke badan mominya. "momi, apa mau tetap disini atau go home" tanya Wilaga mensejajarkan badannya didepan momi nya. Kaila memejamkan matanya menetralisir perasaannya, Pram mengusap punggung tangan istrinya dan mengecup nya berkali-kali. Pramana menyodorkan air mineral kearah Pram agar memberi minum momi nya. Pram meletakkan di mulut istrinya yang meneguknya sedikit. Kirana menghela nafasnya melihat keadaan momi yang tidak baik-baik saja saat ini.


"whatever is happening right now we are still strong mom, that's what momi has always taught us" kata Kirana pelan, Kaila membuka matanya pelan melihat keempat putranya dan suaminya.


"maafkan momi, tapi terkadang momi tidak bisa menghadapi kejadian yang melibatkan perasaan. rasa yang sangat sakit didalam sini membuat momi berusaha menolak apa yang sekarang terlihat" toleh Kaila menahan rasa sakit di dadanya. Kirana mengangguk mengerti, Pram memeluk istrinya dan mencium rambutnya berulangkali agar Kaila merasa tenang.


mereka menunggu keadaan mommy yang masih belum sadar, Kaila menggenggam erat tangan daddy yang terlihat lemah tak berdaya, "dad, makan dengan kak Pram dan anak-anak dahulu. daddy juga harus menjaga kesehatan jika mau menjaga mommy" kata Kaila mengusap punggung tangan daddy. daddy menggeleng pelan, "no, aku akan menunggunya disini" jawab daddy.


"jika daddy sakit juga, siapa yang akan menceritakan hal-hal romantis ditelinga mommy saat ini, daddy sakit maka tidak akan melihat mommy yang juga sedang membutuhkan kita saat ini" senyum Kaila berkaca-kaca. daddy menatap mommy dari balik kaca besar dan menatap Kaila kemudian. "jangan menangis sweetie, mom will be okay. dad akan berusaha agar tetap sehat dan daddy akan makan sesuatu sekarang" usap pipi daddy, Kaila mengecup pelan telapak tangan daddy yang sudah sedikit berkeriput. "tentu, dad. Kai akan kuat dan menemani daddy hingga mommy sembuh" kata Kaila mengusap bahu mertuanya berulang kali. daddy beranjak pelan meninggalkan ruangan pasien mommy ditemani ketiga cucu laki-laki nya. Pram mendekati istrinya dan memeluknya erat. "maafkan aku, by. aku minta maaf membuatmu jauh dari mommy, saat mommy butuh dirimu disisinya" ucap Kaila pelan, Pram mengusap bahu Kaila yang terguncang hebat. dia mencoba mengerti kondisi istrinya yang sedang tidak baik-baik saja, dia menyadari betapa berartinya orang tua bagi mereka, Kirana memeluk mominya yang sedang sedih.


"honey, minta seseorang membelikan kopi dan coklat panas" usap kepala Pram, Kirana beranjak menemui penjaganya dan membisikkan sesuatu. penjaga mengangguk dan segera bergerak menjauh, Kirana kembali ke tempatnya disisi momi segera memejamkan matanya menetralisir kesedihan yang sedang berada dilingkungan itu hingga tidak sengaja seorang pemuda memperhatikannya tidak berkedip.


Pram menyodorkan coklat panas ke bibir istrinya, Kaila menghapus air mata yang turun. "bagaimana kata dokter" tanya Kaila menatap Pram, "tunggu mommy sadar, karena ini berhubungan dengan kondisi tubuhnya yang tidak muda lagi" hela nafas Pram. Kaila tertegun sejenak, Kirana menyentuh tangan mominya pelan, Kaila segera menoleh dan sadar.


"bisakah kita tinggal disini merawat grandmom dan granddad, sweetie" tanya Kaila menyeruput coklat panas nya sedikit. "tentu, mom. jangan kuatir dengan kita, dimana aja kita berada kita pasti bisa" senyum Kirana mengangguk.


"makasih dek" tatap Kaila. Pram menatap ruangan mommy yang masih tampak sepi. "pop, masuklah dan ngobrol dengan grandmom apa saja yang terjadi" tepuk Kirana pelan di punggung tangan popinya. "hhmmm" angguk Pram menghela nafasnya menatap kedua perempuan yang sangat disayanginya, ia beranjak untuk masuk dengan menggunakan pakaian khusus.


Kaila memejamkan matanya menitikkan air mata yang turun dengan sendirinya, "Tuhan, beri yang terbaik untuk mommy" doa Kaila pelan. Kirana menghapus air mata mominya. "aamiin" jawab Kirana.


sebulan kemudian


"Wilaga, temani momi menemui grandmom di rumkit" kata Kaila berjalan dengan cepat, Wilaga menoleh cepat melihat mominya yang terburu-buru.

__ADS_1


"Ok, mom. naik motor" kata Wilaga menyambar kunci motornya. Kaila mengangguk dan segera memakai jaket pelindung yang disodorkan seorang pekerja rumah Bagaskara. Wilaga memakaikan helmet mominya, beberapa penjaga segera bersiap mengikuti langkah tuan mudanya. Kaila segera naik dibelakang dan Wilaga melajukan motornya cepat.


"apa popi tahu momi ke hospital" toleh Wilaga, Kaila memberi isyarat dengan jemarinya. Wilaga menghentikan motor tepat di depan pintu masuk, seorang penjaga segera mengambil alih motor Wilaga, Kaila bergegas masuk dengan Wilaga disampingnya. Pram menoleh dengan cepat melihat kedatangan istri dan anak laki-lakinya. "bagaimana keadaan mommy, yang" tanya Kaila setelah dekat, Pram menghela nafasnya panjang menatap istrinya lama.


"kita akan bawa mommy ke Indonesia atas permintaannya sebelum mommy sakit, ia menginginkan disisi Tara, anak perempuan nya" tatap Pram teduh, Kaila terhenyak sesaat menatap suaminya yang hanya terdiam. Kaila ambruk, dengan segera Wilaga dan Pram menopang tubuh Kaila agar tidak terbentur di lantai.


"mom" seru Wilaga panik, Pram menyentuh bahu putranya cepat. "panggil penjaga, bawa mommy menggunakan mobil. kita akan pulang ke Indonesia sesaat lagi, Pramana sedang bersama granddad, Wijaya akan menemani popi disini mengurus semuanya. Kirana menghubungi semuanya" kata Pram cepat, Wilaga menganggukkan kepalanya dan membawa tubuh momi ke kursi roda untuk segera dibawa ke pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Indonesia. semua pekerja rumah keluarga Bagaskara terlihat sibuk luar biasa mengantar kepergian nyonya mereka. Kirana membungkukkan badannya sebelum meninggalkan kediaman Bagaskara untuk segera terbang kembali ke Indonesia. paman Din melakukan hal yang sama dengan sikap Kirana di ikuti semua pekerja rumah Bagaskara untuk terakhir kalinya menghormati nyonya mereka. Kirana dan Sam segera menaiki chopper untuk menuju bandara dimana keluarganya yang lain menunggu kedatangan mereka. pesawat pribadi segera meninggalkan landasan pacu dengan segera setelah mereka sampai.


Kaila duduk tegak diantara yang lain, ia sudah menguasai keadaan dirinya agar kuat dan dapat mengantar mommy ke tempat yang diinginkannya. Kirana menggenggam erat tangan mominya, Kaila mengangguk menghela nafasnya beberapa kali tidak mau memperlihatkan kesedihan yang teramat dalam dihatinya.


Sam berkoordinasi dengan beberapa orang lainnya. daddy terlihat lebih banyak diam dan mendengarkan semua yang mereka katakan bersama Pram.


pesawat mendarat dengan selamat di bandara Indonesia, semua penjaga segera melakukan pekerjaan yang sudah diinstruksikan sebelumnya. dengan pengawalan ketat keluarga Bagaskara berganti chopper menuju rumah. semua keluarga sudah berkumpul dan menunggu kedatangan mereka, semuanya saling berpelukan menandakan tanda duka yang teramat sangat atas kepergian mommy yang tidak disangka-sangka. Kaila menerima banyak pelukan untuk menguatkan hatinya karena kehilangan mommy, Kirana selalu berada disamping mominya bersama dengan Icha dan Kalai.


"Kai" usap punggung ayah, Kaila menatap ayahnya dan mengangguk pelan. "it's Ok, yah. Tuhan punya skenario yang terbaik untuk mommy, dia sudah tidak kesakitan lagi jadi Kai ikhlas, Tara sudah ditemani momi dan mommy disana" kata Kaila pelan, ayah memeluk putri bungsunya erat. "kamu pasti kuat untuk melalui semuanya, masih ada ke empat anakmu dan Pram yang membutuhkan mu tetap disisi mereka, ada ayah disini dan daddy yang ingin anaknya tegar" usap punggung ayah menguatkan. "tentu, yah. Kaila akan berusaha untuk selalu kuat. jangan kuatir dengan Kaila, ayah harus jaga kondisi" angguk Kaila, ayah mengusap kedua bahu Kaila berulang kali.


"Tania, di sampingku bund" perlihatkan Kirana kepada Kalai yang tersenyum menatap kedua anak perempuan yang selalu akur.


"bund, Tania nggak kemana-mana ada mereka berempat disini" jawab Tania memutar bola matanya. Kalai memberi isyarat dengan jemarinya tanda mengerti.


Kaila dan Pram berada di kedua sisi daddy menemani hingga akhir. daddy tidak banyak bicara dan tidak terlihat memakan apapun sejak dari keberangkatan. Kaila memeluk daddy erat ketika tidak ada lagi orang yang berada disekitar mereka, "pulang dad, kita akan kesini besuk pagi, hari sudah semakin siang" ucap Kaila, daddy mengangguk menahan nafasnya lebih dalam.


mereka semua beranjak dari tempat peristirahatan terakhir mommy. "Tania, mau bersama momi aja" kata Tania, Kaila mengangguk mengusap kepala Tania yang masih sekolah dasar. "c'mon. kita bersama granddad" masuk Kaila. mereka bergantian masuk kedalam kendaraan yang akan membawa mereka kembali kerumah. Kaila segera meminta Pramana dan Wilaga untuk melihat granddad dikamarnya. ia segera melangkah menuju ruangan pribadinya, ia menangis panjang dibawah guyuran shower yang dinyalakannya setelah masuk kedalam ruangannya. Pram bergegas mencari keberadaan Kaila karena tidak mendapati sosoknya diluar ruangan.

__ADS_1


"yang" panggil Pram didalam ruangan. Pram mencari didalam walk closet namun tidak menemukan nya, ia mencoba membuka pintu bathroom dilihatnya Kaila menangis dibawah guyuran air shower dengan pakaian yang masih lengkap. Pram meraih tubuh Kaila yang basah, membuka semua pakaiannya dan memakaikan bathrobe hingga membawanya keluar dari sana. "bawakan minuman hangat untuk momi" panggil Pram melalui pengeras suara. tidak lama terdengar langkah yang terburu-buru membuka pintu, Kirana dan Tania masuk membawa minuman hangat, Pram segera meminumkan pada Kaila. "mom, sudah merasa lebih baik" tanya Kirana memijit kaki mominya, Kaila mengangguk pelan bersandar kembali di dinding.


"maafkan momi, kalian melihat momi lemah sekarang" kata Kaila menatap kedua anak perempuannya itu. Tania memeluk Kaila pelan "kembali sehat mom, kita semua ada disini" kata Tania, Kaila mengangguk menghapus air mata yang terus turun.


"apakah granddad baik-baik saja" tanya Kaila, Kirana menggeleng. "seperti momi sekarang ini, tidak lebih baik. tapi setidaknya granddad tidak mandi dengan pakaian lengkap" jawab Kirana, mereka tersenyum mendengar Kirana yang membuat suasana tidak sedih kembali, "tentu, akan sangat sulit nantinya jika harus mengganti pakaian granddad" angkat bahu Pram, mereka tertawa kecil.


"let's go down mom, mereka menunggu kita. jangan buat granddad tambah sedih jika melihat kita tidak berkumpul bersama, kakek pasti akan meminta kami untuk memanggil momi" kata Kirana, Kaila mengangguk.


"kalian berdua kesana dulu, momi akan berganti pakaian. popi ada disini" kata Kaila. Kirana mengangguk dan beranjak keluar kamar bersama Tania. "jangan lama-lama mom, kita menunggu dibawah" kata Tania sebelum menutup pintu, Kaila mengangguk dan beranjak dari ranjang untuk mengganti pakaiannya.


"yang, aku akan membersihkan badan dulu" usap kepala Pram. Kaila meraih lengan tangan suaminya cepat. Pram menghentikan langkahnya seketika.


"terimakasih telah menjadi lelaki hebat ku, yang. terimakasih telah menjadi lelaki yang kuat untukku dan anak-anak bersandar. terimakasih telah membawa ku ke kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, jadi biarkan kesedihan kita tanggung bersama" tatap Kaila lekat, Pram memeluk Kaila erat dan mencium keningnya lama.


"kamu adalah penguatku, kamu adalah kelemahan ku, kamu seseorang yang berarti bagiku. tetap bersamaku, selalu berada di dekatku saat suka maupun duka" tatap Pram menangkup kedua pipi Kaila. Kaila mengangguk pelan memeluk kembali Pram, mereka saling menguatkan satu sama lain.


Hai.... Hai.... Hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku ini.


tidak terasa kita akan berada diujung cerita mengenai Kaila dara Prayoga dengan Pramudya Bagaskara.


terimakasih atas support all readers selam ini.


kita bertemu di novel yang bercerita anak perempuan mereka nantinya. (jika sudah mengumpulkan niat). terimakasih banyak semuanya.

__ADS_1


Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng.


stay healthy all


__ADS_2