
"aahhh, akhirnya kelar juga kelas mas Pram" ujar Icha merentangkan tangannya bersandar di sandaran kursi lega, "ke kantin yuk Kai, Cha" ajak Davi melihat kedua sahabatnya, "siap" hormat Kaila mengangguk. "Cha udah beres belum" toleh Kaila melihat Icha yang tampak belum selesai, "bentar, bentar" rapikan kertas Icha di kursinya yang penuh dengan lembaran kertas. "ngomong-ngomong kamu kemarin kemana Kai" pandang Davi melihat Kaila, "healing, mengosongkan otak dari segala beban" senyum Kaila menopang dagunya. "serahkan ini ke mas Pram, Kai" kata Icha menyerahkan kertas-kertas esai yang sudah dirapikan nya kedepan Kaila. "bentar Dav, jalan dulu ama Icha deh" terima Kaila. "kak, ini esai anak-anak" letak Kaila diatas meja Pram.
"kamu mau kemana" tanya Pram menatap Kaila, "mau ke kantin kak dengan Icha dan Davi, laper" usap-usap perut Kaila yang keroncongan. "Kai" panggil Pram kembali memberi isyarat agar Kaila mendekat kearah nya, "ada apa kak" tanya Kaila mendekat, Pram meraih jemari Kaila, mengusap perutnya dari balik kemeja. "makan yang banyak anak-anak Dady" usap-usap Pram, "aishh, apaan sih. nggak jelas" tepis Kaila geram, Pram tersenyum tipis.
"ayo Kai" ajak Davi dari pintu, Kaila melangkah menuju Davi dan Icha yang menyelamatkan nya dari sifat Pram yang membuatnya kesal. "mau apa Cha" pandang Kaila meletakkan tasnya di meja. "lemon tea dan bakso kuah" jawab Icha menopang dagunya melihat sekeliling, Kaila mengangguk beranjak untuk memesan makanan. "udah pesan belum" tanya Davi duduk disamping Icha. "udah, darimana" tanya Kaila menatap sahabatnya. "ada urusan bentar dengan Bram, rencananya kita mau mendaki minggu depan" minum air mineral Davi. "duh, ada waktu nggak ya, bentar nanti aku tanya jadwal ayah. tadi kak Arden njemput ayah karena ada sedikit gangguan proyek di daerah Bekasi berangkat pagi-pagi belum sarapan, rencananya nanti malam mau nemenin ayah disana soalnya"jelas Kaila.
"nggak papa Kai, jika ada waktu kabari aja, masih dua minggu lagi kita naik, masih ada waktu untuk memikirkan nya" angguk Davi mengerti. "kemana" tanya Icha. "rencananya mau ke Jawa" jawab Davi memakan pesanan yang sudah datang. "semoga bisa Kai" semangati Icha, Kaila tersenyum mengunyah bakso yang banyak sambalnya, dari kejauhan tampak dua laki-laki mendekat kearah kantin membuat mahasiswi yang ada di kantin pada heboh namun tidak membuat ketiga sahabat yang sedang asik ngobrol itu memperdulikan kehebohan mahasiswa lainnya yang ada di kantin.
"siapa aja yang berangkat Dav" tanya Kaila serius sambil makan. "kayak biasanya kita berangkat, mungkin 4 orang. nanti sampai sana kita gabung dengan beberapa teman yang suka mendaki. kemarin kita sudah gabung di chat" jawab Davi menjelaskan sambil mengunyah baksonya. "jika bisa, mau ikut Cha" tanya Kaila. "ikut dong Kai, walau nunggu di penginapan" angguk Icha semangat. "ishhh anak ini" pandang Kaila, "mau pada kemana" duduk Pram dan Saka tiba-tiba, mereka bertiga segera menoleh dengan cepat membuat Kaila dan Icha sampai tersedak kuah bakso. "makan tuh pelan-pelan sayang" tepuk-tepuk Saka pelan dipunggung Icha, "ngapain kak Saka dikampus" minum Icha melihat Saka, "ada perlu sama Pram, sesekali ke kampus liat teman kan nggak papa" senyum saka. "owh" angguk-angguk Icha, Kaila dan Davi melihat sekeliling kantin yang lebih ramai daripada biasanya.
"tumben kesini kak" tanya Kaila. "lagi kepingin, nggak ada yang nemenin makan" jawab Pram datar. "iya sih kalo dikantin kan banyak yang nemenin orang makan semua, pesen aja tuh banyak pilihannya" cengir Kaila merasa biasa-biasa saja. "kalo gitu aku ke ruang BEM dulu deh ntar aku hubungi lagi" selesai makan Davi melihat kantin yang lebih ramai dari biasanya, Kaila mengangguk meminum air mineralnya.
"mas cabut dulu" pamit Davi, Pram mengangguk.
"kalo ada kalian kenapa jadi rame gini" pandang Kaila merasa terganggu. "karena kita terlalu tampan, mungkin" senyum Saka, Kaila dan Icha saling berpandangan memilih untuk diam daripada berdebat yang un faedah.
"seru gini kalo kuliah di negeri sendiri" lihat Saka melihat sekitarnya, "dikelilingi banyak gadis-gadis" pandang Pram cuek. "salah satunya, nongkrong dikantin kayak gini ngangenin" senyum Saka.
"mau ngobrol apa mau makan, kakak mau pesen apa" tanya Kaila menatap mereka berdua.
"makan punyamu aja Kai, kayaknya enak tuh" ambil Pram, "kak, disini baru banyak orang sadar dikit kenapa" dehem Kaila pelan tidak suka, "ya udah, pesenin sama aja" kata Pram mengerti, Kaila beranjak kearah tukang bakso. "mang dua lagi ya, bakso kuah" senyum Kaila. "siap neng Kaila" racik tukang bakso memberi tanda Ok dengan jemarinya. "minumnya" sodor air mineral Kaila.
"kalian memang ada rencana kemana tadi" tanya Pram, "tadi Davi dan yang lain ada rencana mau mendaki ke Jawa sekitar dua minggu lagi, masih dibahas sih, belum pasti juga" makan Kaila disuapi Pram tanpa sadar, Icha yang melihatnya hanya bisa melongo, bakso pesanan mereka datang. "makasih mang" senyum Kaila memberikannya pada Pram dan Saka.
__ADS_1
"trus kamu jawab apa Kai" tanya Pram sambil makan bergantian menyuapi Kaila. "aku belum kasih jawaban kak, karena mau bantuin ayah sama kak Arden dulu" jawab Kaila mengunyah baksonya. "kalo udah selesai bantu ayah, tetep mau berangkat juga" suap Pram menatap Kaila, "seharusnya sih tetep berangkat kak" angguk Kaila.
"biasanya berapa hari kalo mendaki" tanya Pram. "4-5 hari dengan perjalanan" jawab Kaila, "Icha ikutan juga" tanya Pram.
"Icha sama aku aja, nanti aku temenin" sahut Saka. "apaan sih kak, ngapain ikut kita. tuh liat aja, cewek pada antri kayak antri sembako" jawab Icha. "habis kuliah kamu kemana Kai" tanya Icha memakan baksonya kembali. "langsung pulang, Kalai dan kak Arga ngajak nengok baby-nya kak Arden" jawab Kaila. "aaahhh ikut Kai, aku ikut, mau liat baby kak Arden" rengek Icha menggoyang bahu Kaila yang mengangguk.
"buat sendiri aja yuk Cha, lebih seru lho" goda Saka santai. "ishhh kalo ngomong suka nggak disaring mulutnya" pukul bahu Icha keras, "suka berlagak nggak sadar, mau di kemanain tuh ceweknya kak Saka" minum Icha. "come on Cha, dia bukan siapa-siapa ku, kalo dia ngaku-ngaku pacarku bukan salahku kan" kata Saka menjelaskannya dengan sabar, "jika aja kakak nggak tebar pesona nggak mungkin cewek itu ngaku pasangan kakak kan" pandang Icha sebal. "bagaimana dengan kalian" tanya Pram. "maksudnya mas" tanya Icha nggak ngerti, "kalian sadar nggak kalo selalu tebar pesona juga dimana kalian berada" tanya Pram tenang. "kita biasa aja" geleng Kaila. "nah kan, sama juga dengan kita kaum laki-laki, kita juga biasa aja karena daya tarik fisik kita yang terkadang telah lebih dulu menarik perempuan untuk mendekat" jelas Pram. "hmmm, perasaan mata kuliah kakak udah berakhir sejam yang lalu deh, berasa kuliah lagi" decak Kaila, Pram menyentil kening Kaila.
"kamu kira aku suka, ngliat kamu senyam-senyum, ngobrol dengan laki-laki lain, keposesifan seorang laki-laki terkadang lebih mengerikan dibanding perempuan, Kai" kata Pram pelan.
"aduh mas dosen ternyata bucin parah" kata Icha memberi dua jemari ibu tangannya menyukai perkataan Pram. "kamu nggak sadar apa, lelaki di sampingmu itu juga sama parahnya sepertiku" kata Pram, Saka tertawa mendengar perkataan Pram.
"kami seperti kehilangan separuh nyawa melihat kalian kemarin seperti itu" minum Pram. "ahhhh jadi pingin meluk" kata Icha dan Kaila lalu berpelukan erat. "aku juga ikutan dong" peluk Kalai tiba-tiba dari belakang. "aahhh" pelukan mereka bertiga tertawa riang. "katanya sorean kenapa udah datang" urai pelukan Kaila. "hmmm kuliahku ada jam kosong" duduk Kalai. "mau makan Kal" tanya Icha, Kalai menggelengkan kepalanya. "apa kita berangkat sekarang aja Kai" pandang Kalai. "ayo aja aku mah, kak Arga gimana" tanya Kaila. "kita berdua juga nggak papa kan, biasanya juga berdua" geleng Kalai. "kalo gitu aku ikut ya, kita bertiga"rengek Icha menatap mereka berdua agar diajak serta. "ish, memangnya siapa yang mau nggak ajak-ajak Cha" gemas Kalai mencubit pipi kiri Icha. "tentu saja kamu ikut, apa mau disini aja bareng mereka berdua" goda Kalai.
"aku antar ya" usul Saka, "makasih kak, kita bisa naik taksi online, lebih praktis" geleng Kaila.
"honey" panggil Pram, Kaila menoleh menatap Pram. "ada apa kak" tanya Kaila. "keruangan ku sebentar" jawab Pram beranjak dari tempat duduknya. "aduh, bakal diceramahi banyak nih nanti ini, aku ikut dia bentar. kak Saka jaga mereka sebentar" pesan Kaila menyusul langkah Pram.
"eh, mbak Dewi" senyum Kaila saat berpapasan dengan Dewi. "Kaila lagi, Kaila lagi" geleng-geleng kepala Dewi melihat Kaila yang hanya tersenyum lebar. "keruangan mas Pram lagi" tanya Dewi. "iya mbak, bilangin mas Pram dong, kalau kasih nilai jangan pelit-pelit. jadi biar aku nggak bolak-balik ngurus nilai teman-teman yang lain. kasihan kan kelas kita" ujar Kaila melihat Dewi.
"Kaila Dara Prayoga" muncul Pram dipintu ruangannya. "siap kak" senyum Kaila segera mendekat. "bentar ya mbak, tambah marah tuh mas dosen, alamat ceramah panjang lebar nih" manyun Kaila. "sana sana cepetan" dorong Dewi.
"kenapa kak" masuk Kaila sesaat kemudian, Pram mengambil sebuah kartu dari dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada Kaila. "jika kau ingin sesuatu, pake kartu ini" serah Pram, "haaa, buat apa kak" kerut Kaila mengamati black card yang diberikan Pram. "aku tidak butuh ini, ayah sudah memenuhi kebutuhanku" geleng Kaila. "gunakan itu saja" pandang Pram tanpa berkedip. "kak" sodor Kaila kembali. "aku hanya bisa memberimu itu saat ini" geleng Pram, "I don't need this kak" taruh Kaila dimeja Pram, "aku kunci kamu di ruangan ku nih" ketuk-ketuk jari Pram dimeja. "apa kamu nggak takut aku akan habiskan uang di dalamnya" lipat tangan didada Kaila merasa kesal, Pram tersenyum beranjak mendekati Kaila. "sudah berani aku dan kamu ya" tatap Pram dihadapan Kaila. "ayolah kak" angkat bahu Kaila merasa frustasi melihat Pram yang selalu tidak bisa dibantah.
__ADS_1
"pilihannya cuman dua, ambil itu dan pergi atau aku kunci diruangan bersamaku" kunci tubuh Pram, Kaila menghela nafas panjang. "apa ada pilihan lain buatku" tatap Kaila tajam, Pram meraih tengkuk Kaila, mendekatkan wajahnya ke wajah Kaila, menatap mata Kaila dan akhirnya mencium bibir Kaila dengan lembut.
"ini membuatku candu" usap jemari Pram dibibir Kaila, Kaila mendorong Pram menjauh. "kebiasaan" usap mulut Kaila memandang Pram dengan kilatan kemarahan. "pegang ini Kai, kamu harus menghabiskannya" sodor Pram kembali. Kaila mengambil memasukkannya kedalam Sling bag nya. "ingat Kai, jangan tergoda laki-laki lain diluar sana" tatap Pram, "aku tidak menjanjikan apa-apa, jika bukan aku yang tergoda maka mereka yang akan tergoda" buka pintu Kaila melesat pergi sebelum Pram berkata lebih panjang lebar. "Kaila" seru Pram, Kaila menoleh kebelakang dan menjulurkan lidahnya mengejek Pram dari jauh. "kita berangkat" datang Kaila, "Arga sudah ku kabari" angguk kalai melihat saudara kembarnya. "aku sudah pesan taksi online" sahut Icha kemudian. "kabari, nanti aku jemput" kata Pram yang datang belakangan.
"oh gosh, aku masih punya kaki dan tangan untuk bisa melakukan apa-apa sendiri kak" kesal Kaila sedikit menggeram pelan.
"Kai" seru seseorang dari belakang, Kaila menoleh. "besuk ada diskusi sebentar di selasar bisa ikutan nggak" ngos-ngosan Bram berlari mendekati Kaila. "Ok pak ketua, jam berapa" angguk Kaila. "jam 4 an, ada kelas nggak" pegang bahu kanan Bram. Pram yang melihatnya refleks mengepalkan tangannya kesal. "ada nggak Cha" toleh Kaila melihat Icha, "aman" geleng Icha.
"kenapa nggak chat aja sih B, daripada lari nggak jelas gitu" kata Icha melihat Bram yang kehabisan nafas.
"ya elah Cha, kan mau liat wajah Kai tersayang, sambil usaha nih. dukung temen kenapa sih siapa tau Kaila khilaf mau sama gue" garuk-garuk kepala Bram sambil nyengir. Kalai, Icha dan Saka tertawa tertahan sedangkan Pram semakin datar wajahnya.
sebuah mobil berhenti didepan. "mobil jemputan sudah datang" tarik Icha, mereka melangkah pergi. "aduh nggak liat apa kamu Kai, mas Pram mukanya udah nggak enak gitu" gerutu Icha dimobil, Kaila dan Kalai tertawa renyah.
"selamat kak Mita" peluk Kalai, Kaila dan Icha bergantian sesampainya mereka di rumah sakit tempat Mita, istri Arden melahirkan. "aahhh, makasih adik-adik kakak yang cantik-cantik" senyum Mita.
"aduh lucu banget" cubit Icha di pipi Kaila tiba-tiba yang refleks meringis manyun. "boleh gendong kak" pinta Kalai. Mita menyerahkan baby ke pangkuan Kalai.
"cantiknya, lucu banget" elus pipi Icha pelan, "aahhh, pengen" genggam tangan Icha dan Kaila, mereka tertawa pelan.
"ishh jangan berisik Kai, dia tidur" pukul bahu Icha. "sakit, kamu juga" ringis Kaila, "ayah titip salam kak, maaf kak Arden ikut ayah habis kakak melahirkan" duduk Kaila ditepi ranjang. "sudah biasa Kai, kan memang tugas mas Arden untuk menemani pak Prayoga" senyum Mita mengerti, mereka tersenyum lebar.
hai.... hai.... hai.... All readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya.
__ADS_1
luv.... luv.... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
stay healthy all