Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 61


__ADS_3

"kamu mau dirumah ayah atau dirumah sendiri Kai" tanya Pram membuka pintu mobil sesaat setelah meninggalkan ruang rawat inap "emang udah selesai renovasi nya by" tanya Kaila memasang seat beltnya. "sudah aku ingin memberikannya padamu setelah sidang akhir nanti tapi karena ada triplet lebih dulu aku memberikannya untuk tempat tinggal triplet" senyum Pram. "aahh..... so sweet.... sih honey" kecup pipi Kaila Pram tersenyum menjalankan mobilnya perlahan keluar dari rumah sakit.


"yang, rumah kita terhubung dengan rumah ayah, jadi jangan kuatir mengenai ayah" kata Pram melihat Kaila yang menatap keluar jendela kaca mobil Pram membiarkan Kaila mengeluarkan tangannya diluar kaca, membiarkan jemarinya menyentuh pepohonan yang berderet dipinggir jalan masuk perumahan mereka seperti mansion kecil yang berjarak agak jauh dari jalan raya hanya jalan itu satu-satu nya akses keluar masuk rumah keluarga Prayoga.


Kaila tertidur dengan lelap ketika angin berhembus menerpa tangan dan parasnya Pram tersenyum menatap wajah cantik dan menawan istri kecilnya ia mengusap perut istrinya yang masih rata, dia sekarang memiliki kebiasaan baru yaitu mengusap perut Kaila dimana dia tidak sabar menantikan triplet lahir nantinya, apakah lebih mirip Kaila ataukah dirinya jika mereka lahir. "be good boy guys. daddy will wait U" elus-elus Pram.


"non Kaila mana tuan" keluar bik Sum menyambut Pram. "dia tadi tertidur di jalan bik nanti biar mereka yang membawa tas ke dalam aja, ah iya bik..... Kaila selama hamil tidak bisa minum teh karena aromanya membuat dia mual-mual tadi pagi. maka selama hamil tolong diganti kopi item atau coklat dingin" kata Pram membuka pintu Kaila melepas seat belt dan mengangkat tubuh istrinya untuk dipindah dikamarnya bik Sum mengikuti tuan dan nona nya masuk kedalam rumah Pram meletakkan tubuh istrinya diranjang dan mengatur suhu ruangan agar nyaman untuknya kemudian membersihkan diri di bathroom keluar kamar untuk membiarkan Kaila istirahat dengan tenang, ia mengecek semua persiapan yang ada dirumah barunya.


pagi hari


"honey" tepuk pipi Kaila, Pram menggeliat pelan berpindah tidur Kaila tersenyum membiarkan Pram kembali tidur. "belum bangun Kai" tanya ayah melihat Kaila keluar kamarnya sendiri. "belum yah mumpung weekend biarin saja tidur sampai siang" geleng Kaila duduk disamping ayah untuk sarapan. "Kai lihat rumah sebelah yuk" goda ayah menaik turunkan alis matanya mengajak putri bungsunya melihat rumahnya Kaila tertawa kecil. "bentar yah makan dulu kalo pagi harus minta di isi nih perut kalo siang dikit udah begah perutnya males makan nasi" angguk Kaila mengambil nasi uduk yang dibungkus daun pisang yang dibeli bik Sum di pengkolan gang. "ayah udah makan belum" tanya Kaila ayah menggeleng Kaila menyodorkan piringnya ke depan ayah mengambil piring lagi untuk dirinya sendiri menawarkan lauk apa yang ayahnya inginkan.


"banyak istirahat lho Kai jangan terlalu capek" pesan ayah sembari sarapan nasi uduk Kaila mengangguk. "Kalai kok nggak kliatan yah" tanya Kaila sambil menoleh kearah tangga melihat jika Kalai turun. "ini baru 7.40 pagi Kai mungkin juga masih tidur seperti Pram" jawab ayah Kaila mengangguk me nasi uduk nya kembali. "Kai kamu belum beritahu momi mu jika kamu mengandung kan" tanya ayah "belum yah mungkin jumat depan sekalian berdoa kan baru kemarin kita ngerti nya" jawab Kaila menggeleng.


"ini non segelas besar coklat dinginnya" letakkan bik Sum disebelah Kaila mengangguk tersenyum, "terimakasih bik selalu the best pokoknya" kata Kaila menatap bik Sum. "kopi itemnya tuan" tata bik Sum didepan ayah mengangguk tersenyum. "yah ada rencana jalan nggak hari ini" tanya Kaila menyeruput coklat dinginnya yang segar. "kalo sekarang sih nggak ada mungkin nanti jika pada ngumpul semua" kata ayah Kaila mengangguk mengerti mereka menghabiskan sarapan berdua.


"yah kita lihat rumah sebelah yuk" anjak Kaila diikuti ayah untuk melihat penampakan rumah yang dibangun suaminya "katanya kak Pram ada penghubung dengan rumah sebelah, yah" kata Kaila "ada tapi kita lihat sosok rumah nya dulu Kai kamu keseringan di apartement jadi jarang melihat rumah dari dekat" raih bahu ayah untuk lebih dekat Kaila melingkarkan tangannya dipinggang ayahnya mereka berjalan keluar rumah, "kenapa banyak yang berubah gini yah" lihat Kaila saat tiba dihalaman rumah yang berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


"lebih luas kan.... ada yang menatanya dua bulanan ini semuanya dikerjakan para pekerja yang diminta Pram dan Arga mereka berdua yang mengatur sedemikian rupa rumah-rumah yang ada disini" lihat ayah memandang lepas rumah milik anak-anaknya, Kaila berdiri agak jauh dan melihat tiga rumah besar yang terlihat berbeda dan lebih cozy. "kak Arga sama kak Pram juga beli rumah di sini" pandang Kaila tidak percaya ayah mengangguk dan menjelaskan sebagian besar konsep rumah tinggal mereka yang direnovasi. "jadi kayak mansion pribadi gini yah" kata Kaila pelan. "ngga juga Kai rumahnya tetep gini disebelah sana masih ada perumahan lain kebetulan kemarin ada tiga orang yang mau pindah karena masa dinasnya habis dan mau pulang ke daerah asalnya anak-anaknya pada nggak mau nempatin ya.... udah ditawarin ke kita siapa tau mau beli, Pram sama Arga setuju" jawab ayah mengelus rambut Kaila yang menatap bangunan baru yang terhubung satu sama lain.


"berapa banyak uang yang dihamburkan" gumam Kaila pelan "tidak sebanding dengan kamu memberi kebahagiaan triplet kepada kami Kai" senyum ayah memeluk Kaila erat. "ayah iiihhhh... jadi pengen nangis lagi kan" kata Kaila dengan mata yang berkaca-kaca ayah tertawa lebar memeluk putri bungsunya lebih erat. "pagi-pagi udah nangis aja" peluk Kalai mereka tersenyum berpelukan erat. "terimakasih anak-anakku mau menemani ayah sampai nanti" usap rambut ayah di kedua kepala putri nya. "ayah, stop jangan membuat Kai tambah nangis udah tau cengeng kenapa dibikin melow...." tangis Kaila ayah dan Kalai tertawa terbahak-bahak.


Pram berlari keluar "kenapa sweetie" tanya Pram melihat tubuh Kaila dari depan dan belakang, Kaila menggeleng. "ayah bikin aku nangis by, marahin" kata Kaila melingkarkan kedua tangannya dipinggang Pram yang hanya bisa garuk-garuk kepala tidak gatal sambil nyengir, nggak mungkin dia memarahi ayah bisa jadi menantu durhaka dia nanti. ayah dan Kalai tertawa semakin keras melihat kelakuan Pram dan Kaila. "kenapa pagi-pagi ketawanya keras banget" datang Arga sambil minum kopinya.


"perasaan tadi waktu sarapan nggak ada yang nampak kenapa sekarang pada datang" manyun Kaila menghapus airmatanya "pingin jadi kebo yang tidur sampai siang" jawab Kalai menjulurkan lidah. "tadi ayah sama Kaila baru ngobrol tentang rumah dia bilang kenapa jadi kayak seperti mansion jalannya hanya untuk rumah kita aja, ayah bilang buat ngumpul anak cucu dianya nangis trus kaila dateng. ayah bilang terimakasih sudah menemani ayah hingga nanti tambah kenceng nangisnya dasar si cengeng keluar aslinya pawangnya keluar nenangin" senyum ayah Pram mengecupi rambut Kaila mengelus punggungnya pelan.


"mas han" panggil Kalai "siap non" lari Han mendekat untuk mengambil moment lewat ponsel Kalai mereka mengambil moments di depan rumah mereka yang diperbesar. "makasih mas" angguk Kalai, Han segera kembali ke pekerjaannya "kita keliling rumah kalo begitu" tepuk tangan ayah semangat.


"balapan kesananya yuk Kai" tunjuk Kalai, Kaila menggeleng."nggak ingat kalo Kaila baru hamil" sentil kening Arga Kalai nyengir lupa jika saudaranya sedang membawa tiga baby "kalo gitu kalian aja berdua yang balapan sampai sana" senyum Kaila. Pram dan Arga melongo mendengar permintaan Kaila ayah dan Kalai tertawa pelan.


"rumah kita sudah menerapkan sistem keamanan yang mutakhir disetiap sudut dan bagian tertentu kita pasang sistem keamanan pintu pake sistem lock screen jadi nggak bisa sembarang orang masuk ketika kita tidak ada dirumah" terang Arga saat memulai perjalanan perkenalan rumah. "lantai bawah untuk semua kendaraan kecuali rumah ayah untuk berkumpul bersama semuanya kamar Kaila yang dibawah sudah hilang hanya ada dapur dan ruang belakang, untuk pekerja kita letakkan dibelakang rumah, agar tidak terganggu saat kita mempunyai acara apapun itu" jelas Arga.


"dan satu lagi kita lebih banyak menggunakan box tersembunyi daripada tangga untuk menghemat ruang hanya ada tangga yang lewat rumah ayah saja karena itu sudah ada sebelumnya semua rumah menjadi satu jadi dari ujung sana sampai sana bisa ketemu di satu area" akhiri Arga.


"harusnya arsiteknya yang ngejelasin" kata Kalai sambil berjalan dengan Kaila melihat ruangan yang ada "kayak mansion di London jadinya ya Kal" lihat Kaila.

__ADS_1


"memang ini mansion milik keluarga kita Kai biar jika anak-anak tumbuh dewasa mereka tetap disini dan menjadi satu saja biar kita tetap ngumpul" jawab Pram "emang mau punya anak berapa kak" pandang Kaila. "semau mu aja honey" senyum Pram Kaila mengecup pipi Pram dan mengangguk. "jika kalian butuh apapun lewat box suara yang ada disetiap ruangan mempermudah komunikasi" kata Pram. "padahal kekuatan teriakan kita lebih dari rata-rata ya.... kan Kai" kata Kalai sombong Kaila manggut-manggut mengiyakan. "apanya teriak aja suaranya kecil banget" ledek Arga kalai tersenyum lebar memeluk suaminya erat, Arga tertawa lebar.


"habis berapa semuanya" pandang Kaila "rumah kita sedikit lebih banyak honey karena kamar triplet ada tiga selama mereka masih baby ada ruangan besar untuk mereka tidur dan beraktifitas" kata Pram Kaila memandang suaminya lama menantikan jawaban atas pertanyaan nya tadi. Pram nyengir mengerti maksud kaila dengan tatapannya yang sambil menyilangkan tangannya didepan, ia memberi isyarat dengan tangan 10 untuk nominal harganya.


Kaila menggeleng tanda tidak mau menebak-nebak lagi. Pram membisikkannya kepada Kaila "apa" pandang Kaila tak percaya menatap Pram yang nyengir. "aku mau pergi dulu jangan ikuti aku" kata Kaila meninggalkan Pram, "yang....." kejar Pram mengikuti langkah Kaila yang tergesa-gesa.


"memang mahal banget ya... sayang, rumah mereka" tanya Kalai, Arga menggelengkan "ruangan mereka lebih banyak dari kita, yang. dia menempati dua kapling rumah dijadikan satu karena ada triplet itu, kita hanya satu aku membuat dua ruangan untuk anak kita kelak jadi hanya tiga kamar tidur" jawab Arga. "ah iya triplet sudah ada" angguk Kalai ingat. "memang biaya renov nya berapa sayang, sampai Kaila kaget begitu" tanya Kalai penasaran Arga tersenyum "dua kali lipat dari renovasi rumah kita, yang" jawab Arga, Kalai mengernyitkan keningnya melihat jawaban Arga yang berputar-putar nggak jelas seperti Pram tadi, Kalai menunggu jawaban Arga yang ambigu.


"ayah kebawah dulu kalian lanjut aja interogasi nya" senyum ayah berjalan pergi mengerti jika Kalai akan bersikap sama seperti Kaila yang tidak suka menghamburkan uang, Arga menggaruk-garuk tengkuk nya yang merinding melihat tatapan Kalai. "20" jawab Arga pelan. "apa 150 juta" tanya Kalai. Arga menggeleng 20 M untuk renovasinya 7 M untuk tanahnya" pandang Arga cemas, Kalai membelalakkan matanya lebar mendengar penjelasan suaminya "oh...... Gosh....." geram Kalai berjalan cepat kearah rumah ayah, "sayang, jangan begitu itukan untukmu dan anak-anak" kejar Arga


nah loh...... pada marah..... pada marah......


gimana ya gengs mereka nantinya..... tunggu chapter selanjutnya yaa......


hai..... hai..... hai...... all readers, luv U all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak. selamat menikmati cerita pertama kalang di sini jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat. dukung yaaa..... karya pertama ku.


luv..... luv..... luv..... U all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..

__ADS_1


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2