Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 110


__ADS_3

"pop" cari Kirana disetiap sudut rumah. "popi sedang menemui seseorang di taman belakang" lihat Pramana dari ruang makan. Kaila meletakkan makanan Pramana didepannya, "makasih mom" senyum Pramana menyentuh lengan Kaila yang tersenyum mengusap kepala putra tertuanya.


"apakah kalian ada acara hari ini" tanya Kaila duduk sambil menyeruput teh manisnya.


"no, mom. aku akan berada dirumah seharian menemani pop untuk melihat bola" kata Wilaga. "apakah momi boleh ikut" tanya Kaila mengedipkan matanya berulang kali. Wilaga melirik mominya yang pasti akan merengek ikut.


"momi doesn't have to be like that, popi won't be able to be far from momi if momi doesn't come. we go six mom" kunyah Pramana, Kaila tersenyum lebar menganggukkan kepalanya senang.


"bagaimana dengan uncle" tanya Saka datang dengan menggendong jagoan kecilnya.


"aahh, my lovely boy" seru Kaila senang membuka tangannya lebar. Pramana dan Wilaga telah terlebih dahulu meraih tubuh kecil jagoan Saka dan Icha yang berumur 7 tahun dan menerbangkannya hingga membuatnya tertawa senang. Saka tersenyum melihat pemandangan yang membuatnya senang, "Kai" seru Icha dari jauh. Kaila menoleh melihat Icha. "lupa aku kalo punya teman baik seperti itu" lihat Kaila, Saka tertawa meminum kopi hitamnya. seorang gadis kecil berlari tergesa-gesa menuju mereka berdua. Kaila tersenyum lebar merentangkan tangannya melihat ia berlari kecil.


"hap" tangkap Pram dari belakang, gadis kecil itu tergelak karena tertangkap. Kaila menatap mereka datar dan kembali meminum teh manisnya, Icha tertawa melihat Kaila yang kesal.


"kalah dari mereka" tepuk bahu Icha pelan duduk disamping Kaila dan Saka. Kaila mengerucutkan bibirnya. Kirana datang menghampiri memeluk Icha dan Saka yang baru saja sampai. "aunty mau ikut juga" senyum Kirana.


"oh gosh, kenapa kamu bertambah cantik sih Rana, sebelas dua belas dengan momimu tau nggak" senyum Icha memencet kedua pipi Kirana hingga mulutnya mengerucut kedepan.


"aunty, mulai lagi" tatap Kirana, Icha tertawa melepaskan paras Kirana. "kamu terlihat sangat cantik sweetie" kata Icha, Kirana menghela nafasnya panjang dan duduk disamping Kaila.


"mom, there is a friend who always looks at me from a distance" tatap Kirana menopang dagunya di meja. Kaila tersenyum, "so, do you have crush on his" tanya Kaila, Kirana menggeleng. "lebih tepatnya tidak peduli dengannya sama sekali. he really annoys me with his presence wherever I am" hembus nafas Kirana. Icha mendengarkan dengan seksama. "apa dia berbuat sesuatu kepadamu kak" tanya Icha penasaran. Saka segera beranjak saat Wijaya memanggilnya.


"tidak aunty, aku tidak mengenalnya secara dekat. hanya tahu dari teman dan anehnya dia tidak pernah membuatku tidak nyaman. seperti para penjaga hanya melihat dari jauh" geleng Kirana. "apa kamu punya his picture" topang dagu Kaila. Kirana menggeleng, "no, mom. karena Kirana pikir itu tidak penting dan tidak perlu" geleng Kirana.


"minumannya nona" letak pekerja rumah Bagaskara, Kirana tersenyum "makasih mbak" raih mug Kirana dan meneguk coklat dinginnya dengan cepat.


"jadi, sekarang kenapa kamu terganggu dek" tanya Kaila. "aku tidak tahu dengan pasti mom, terkadang Kirana merasa tenang saat dia berada disekitar Kirana" geleng Kirana pelan, Kaila meraih jemari tangan Kirana.


"it's Ok dek. mungkin dia ingin melindungi mu tanpa harus kamu lihat, mungkin dia ingin kamu nyaman tanpa tahu keberadaannya, maybe he is U secret admirer" kata Kaila. Icha mengangguk mengiyakan.


"tentu, mom" jawab Kirana. "c'mon kak, kamu baru second Junior high school. nikmati banyak pengalaman seru dengan teman-teman" kata Icha, Kirana menegakkan badannya. "ah, iya aunty. untung aunty ingetin, masih belum high school juga. kenapa jadi ribet gini hidup gue" ucap Kirana tersadar.


"what, apa itu gue" tatap Kaila. Kirana tersenyum menatap mominya. "maaf mom" cengir Kirana meneguk coklat dinginnya hingga habis dan segera beranjak dari kedua mominya itu. Kaila dan Icha tertawa pelan menatap kepergian Kirana yang menemui saudaranya yang lain.


"apakah kamu tahu siapa anak laki-laki itu" tanya Icha penasaran, Kaila mengangguk.


"para penjaga dan kakaknya sudah mengetahui dan memberi tahu popinya dan akhirnya berakhir kepadaku" minum teh Kaila kembali. Icha tertawa sarkastik melihat Kaila yang seperti bos besar menerima laporan setiap gerakan anak-anaknya.

__ADS_1


"mengerikan, momi empat jagoan ini. semuanya segera tahu hanya menjentikkan jarinya" tirukan gerakan Icha, Kaila tertawa lebar. "kalo Devina dan Devano sudah besar kamu juga akan begitu Icha cantik" anjak Kaila, Icha tertawa sarkastik lagi.


"jadi berangkat nggak, honey" dekati Kaila. Pram mengangguk memberikan Devina kepada Saka.


"apa kalian mau ikut menonton pertandingan bersama kami" tanya Kaila melihat Saka.


"tidak, mereka ingin berjalan-jalan keluar. terutama Devina yang akan cepat bosan dengan satu tempat" kata Icha, Kaila mengangguk mengerti.


"kalau begitu, kapan-kapan kita jalan bersama" kata Kaila, Icha memeluk sahabat baiknya dan juga sepupunya sekarang karena telah menikah dengan Saka yang merupakan sepupu Pram suaminya.


Devina dan Devano melambaikan tangan kearah keluarga Pramudya saat mobil mereka meninggalkan rumah.


"apa kakek tidak ikut" tanya Wijaya, "kakek kan ikut bunda ke rumah orang tua ayah" jalan Kaila menuju kendaraan yang akan membawa mereka pergi. "honey" toleh Pram, Kaila menoleh.


"nyonya" datang seorang pekerja rumah yang sudah berumur membawa bekal. Kaila tertawa kecil menerima box bekal perjalanan. "makasih mbok, lupa kalau mereka suka kelaparan di jalan" kata Kaila mengusap bahu mbok yang menggantikan mboknya terdahulu. mereka segera masuk dan meninggalkan rumah.


"bang" lambai Wilaga melihat seorang penjaganya datang membawa tiket pertandingan, "udah semua bang" terima Wilaga. penjaganya mengangguk, "berapa yang akan masuk ke dalam" tanya Wilaga menatap penjaganya itu, "enam bro" senyum penjaganya, Wilaga mengangguk tersenyum.


Pram mengobrol dengan Kaila dan Kirana, Wilaga, Wijaya dan Pramana mengikuti langkah kaki mereka yang didepan dengan santai.


"mom, kita duduk disana" isyarat jemari Pramana melihat tempat duduk yang sudah banyak terisi oleh suporter pertandingan. Kaila mengangguk dan meraih jemari Pram agar berjalan kedepan. mereka segera duduk dan menanti pertandingan yang belum berlangsung. seorang penjaga mendekat dan memberikan box bekal mereka tadi. Kirana tersenyum mengangguk menerima box dari penjaganya. "abang udah dapet" tanya Kirana memastikan penjaganya juga. "sudah non, itu. kita ada di belakang" senyum penjaga menatap Kirana, Kirana mengangguk memberi tanda dengan jemarinya.


"Adiwilaga" seru seseorang melambaikan tangannya saat melihatnya. Wilaga melihat kearah mereka dan melambaikan tangannya membalas dengan menunjuk keluarga besarnya. mereka tertawa dan memberi tanda Ok dengan jemarinya.


"teman ngumpul" toleh Wilaga, Kirana menatap kakak keduanya itu datar. Wijaya menggeser mominya agar bisa duduk diantara Kaila dan Kirana.


"Wijaya, kenapa pindah" kata Kaila bergeser dengan cepat. "mau makan mom, belum mulai pertandingan" cengir Wijaya. Kaila menggelengkan kepalanya pelan.


selesai pertandingan hari sudah beranjak malam. "mom, lapar" toleh Wilaga mengusap perutnya. "kita makan disana aja, bro. banyak yang kesana dan makanannya juga enak" kata penjaganya agar tidak terlalu lama mencari tempat makan.


"oh, Ok. bang" angguk Wilaga cepat. Pramana meraih jemari Kaila agar mengikuti langkah putranya menuju tempat makan didekat stadion.


"it's Ok for U mom" tanya Wilaga, Kaila tersenyum mengangguk. "momi dan popi dimanapun tidak masalah kak, kalian menikmati semuanya kita ngikut aja" duduk Kaila melihat menu yang tersedia. mereka segera memesan makanan.


"keadaan masih ramai pop, jika kita keluar juga akan terjebak macet" kata Wijaya, Pram tersenyum mengangguk.


"let's take picture pop" ide Kirana menyerahkan ponselnya kesalah seorang penjaganya yang segera mengabadikan moment mereka bersama.

__ADS_1


"jangan ambil" kata Pramana menatap Wijaya yang akan mengambil bagian Pramana, Pram segera memberikan bagiannya untuk Wijaya, Kaila meminta penjaga yang dekat dengan penjaga kedai untuk memesan menu kembali.


"apa ada yang mau school in London" tanya Pram menatap keempat buah hatinya, mereka saling berpandangan satu sama lain.


"bolehkah" tanya Kirana menoleh ke mominya, Kaila mengangguk tersenyum. "sure sweetie, as long as U guys want" jawab Kaila, Kirana mengangguk pelan.


"saat ini belum tau mau masuk kesana atau nggak. akan Pramana pikirkan" jawab Pramana mengunyah makanannya dengan cepat. pesanan tambahan datang sesuai dengan permintaan Kaila, Wijaya segera mengambil kembali.


"hello" salam Pram.


"what" kata Pram terkejut. Kaila segera menghentikan makannya dan menatap Pram lekat, begitu juga dengan keempat putranya.


"kita kesana" jawab Pram cepat menutup panggilannya segera.


"grandmom sakit" tatap Pram. Kaila melebarkan matanya menatap suaminya tidak percaya, Kirana memegang bahu mominya agar kuat. Pramana meminta penjaga ya segera membayar makanan dan menghubungi penjaga lainnya agar segera membawa mobil kesini. penjaga bergerak cepat melaksanakan permintaan Pramana.


Wilaga menghubungi orang rumah, Pramana menghubungi Saka, Wijaya menghubungi Davi. Pram melakukan panggilan untuk mempersiapkan kepulangan mereka. Kaila meminum air mineral menetralisir perasaannya, mereka beranjak pelan ke depan kedai menanti kendaraan yang akan membawa mereka langsung ke bandara.


"mom" raih jemari Wijaya memberi ketenangan. Kaila tersenyum tipis dan mengusap punggung tangan anaknya.


"doakan grandmom baik-baik saja" kata Kaila pelan. Wijaya mengangguk memeluk mominya erat, Kirana memeluk mereka berdua memberi kekuatan.


Pram menunggu dengan tenang sambil melihat keadaan keluarganya. Pramana beberapa kali menerima sambungan di ponselnya, Wilaga melakukan beberapa permintaan kepada para penjaga agar melakukan semuanya sesuai prosedur.


mobil segera berhenti sempurna tidak jauh dari mereka berdiri, mereka segera masuk dan kendaraan melaju dengan cepat.


"ayah sudah diberitahu kita akan pergi" toleh Pram. Kaila mengangguk pelan menyandarkan kepalanya kebelakang. Kirana menyerahkan minyak aromatik untuk mominya.


"kita tidak akan berhenti untuk transit, akan ada jet yang menggantikan" pandang Pram, mereka mengangguk mengerti.


"ganti pakaian didalam, cuaca dingin disana" kata Pram, mereka mengangguk.


"terimakasih karena kalian semua ada disamping popi saat mendengar kabar grandmom sakit saat ini" hela nafas Pram menatap keluarga kecilnya lekat, Kaila memeluk Pram dari samping dan keempat anaknya memeluk mengitari mereka.


"grandmom akan baik-baik saja, pop. kita akan selalu menemaninya" kecup pipi Kirana, Pram mengelus rambut putri satu-satunya itu.


Hai..... Hai.... Hai.... all readers. terimakasih telah mengunjungi karyaku ini.

__ADS_1


Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all


__ADS_2