
"Kai" panggil seseorang dari jarak yang agak jauh, Kaila memutar kepalanya dan tersenyum ketika mengetahui siapa yang memanggilnya. "hai, leader. kamu masih di Jogja juga" tanya Kaila sesaat setelah Erlangga mendekatinya sambil tersenyum.
"iya, sekalian melihat dan menjelajahi kota Jogja, terasa ada yang kurang kalo nggak ke jogja jika sudah sampai di sekitar sini, suasananya itu lho ngangenin pingin selalu kembali dan kembali" jawab Erlangga mengedarkan pandangan ke sekelilingnya melihat dengan siapa Kaila di bandara, sosok laki-laki yang kemarin menjemput Kaila saat selesai mendaki tampak berdiri dengan seorang laki-laki lain yang sama misterius nya sedang mengobrol dan sesekali menoleh kearah Kaila.
"apa kamu juga dari kemarin belum pulang Kai" tanya Erlangga menatap Kaila sesaat kemudian. Kaila mengangguk, tersenyum malu. "iya, sekalian juga menikmati suasana Jogja soalnya jarang ke Jogja juga, ayah kalo nggak naik gunung nggak ngijinin pergi jauh kemana-mana harus sama keluarga, kayak anak TK gitu" jawab Kaila, Erlangga tertawa mendengar candaan Kaila.
"kamu terlihat berbeda jika tidak naik gunung, seperti dua sisi yang berbeda" ungkap Erlangga melihat penampilan Kaila yang memakai gaun selutut berwarna putih dan sepatu boot hitam pendek berhak tinggi, kacamata hitam dengan rambut diikat ekor kuda yang membuat penampilan Kaila terlihat seperti anak sekolahan, Kaila tertawa kikuk mendengar komentar Erlangga menilai penampilannya sekarang ini
"iya kah, karena dibawain pakaian seperti ini biasanya sih hanya memakai pakaian kebesaran yaitu jeans dan t-shirt aja, itu membuatku lebih nyaman" kata Kaila.
"ahhh.... begitu rupanya tapi kamu terlihat sangat cantik kok... sesuai dengan dirimu juga" bela Erlangga merasa tidak enak, Kaila tertawa mendengar nada bicara Erlangga yang merasa tidak enak kepadanya.
"makasih, jika begitu kamu harus ketemu dengan Kalai kembaran ku" kata Kaila mengingat Kalai yang sering memakai gaun daripada jeans seperti dirinya.
"kamu kembar" kaget Erlangga tidak percaya menatap Kaila.
"ya.... versi tomboy dan girly" tawa Kaila, Erlangga tersenyum melihat tawa Kaila yang membuat hatinya berdebar.
"kami hanya berdua, makanya Ayah tidak mengijinkan jika aku pergi jauh selain naik gunung" jelas Kaila seperti tahu pikiran Erlangga.
__ADS_1
"aahh... begitu rupanya" angguk Erlangga mengerti perkataan Kaila yang sebelumnya.
"apakah kamu akan langsung pulang ke Jakarta" tanya Erlangga, "iya, udah dijemput mereka tuh. nggak bisa kemana-mana lagi kalo udah gini" senyum Kaila memberi isyarat dengan dagunya ke arah Pram dan Saka.
"aku kira kamu akan pulang dengan Davi kemarin" kata Erlangga menatap Kaila, "biasanya sih gitu, tapi karena ayah mendengar ada hujan badai lagi saat di gunung jadi dijemput lebih awal, takut terjadi apa-apa dengan anak bungsunya yang paling bandel" senyum Kaila mengangguk, Erlangga tersenyum.
"apakah dulu juga pernah terjebak hujan badai" tanya Erlangga, Kaila mengangguk tersenyum. "yaa.... saat itu malah nggak bisa turun karena saking pekatnya kabut, jadi harus menunggu hingga sedikit menghilang" angguk Kaila.
"senang rasanya ada yang memperhatikan kita dengan baik" kata Erlangga, "hhhmmmm..... ayah memang yang terbaik" angguk Kaila tertawa kecil.
"honey" panggil Pram yang tidak jauh dari mereka, Kaila menoleh dan melihat Pram yang memberi isyarat dengan dagunya untuk mereka berangkat, Kaila menganggukkan kepalanya mengerti.
"maafkan aku Lang sepertinya aku harus segera pergi, mereka memanggilku" senyum Kaila merasa tidak enak kepada Erlangga karena menghentikan obrolan mereka.
"tentu. you too, safe flight my leader" pamit Kaila tersenyum lebar, Erlangga tertawa lebar mendengar Kaila memujinya. Pram menatap dingin Erlangga saat Kaila mendekatinya hingga Kaila menyentuh rahang Pram yang kokoh, "bisakah dikondisikan matanya kak, nggak usah melihat dengan begitu dinginnya" pandang Kaila, Pram mengalihkan pandangannya dengan melihat Kaila dan melembutkan tatapan matanya. "aku mengawasi mu Kai" senyum Pram meraih jemari tangan Kaila yang segera memutar matanya jengah. "emang aku baru ngerjain tugas ujian harus diawasi segala" sungut Kaila tidak suka. "terlalu banyak laki-laki yang coba mendekatimu, yang. itu sangat menyiksaku. kamu tahu pasti hal itu" hela nafas Pram.
"oh... Gosh....kak, jangan mulai lagi. hal ini akan berakhir sia-sia" kesal Kaila melihat sikap Pram yang terlalu posesif hingga tidak memperhatikan sekelilingnya ketika mereka masuk kedalam pesawat, karena saking kesalnya dia tidak menyadari jika mereka memasuki pesawat pribadi milik keluarga Bagaskara, Kaila duduk berhadapan dengan Pram yang senyum-senyum menatap wajah Kaila yang memerah karena kesal kepadanya, Saka yang melihatnya merasa lebih kesal karena dia tidak membawa Icha dan berakhir menjadi orang ketiga di dalam pesawat.
Kaila melihat sekelilingnya setelah menyadari ada yang berbeda dengan pesawat yang dinaikinya, tidak mungkin kan dia bisa duduk berhadapan dengan Pram saat di pesawat komersial, ia menatap Pram seperti ingin bertanya mengenai hal ini. Pram hanya menganggukkan kepalanya seperti mengerti apa yang akan Kaila katakan dan yang ada dipikirannya. Kaila membuka matanya lebar dan terkejut, tidak menyangka jika ini pesawat pribadi, Pram tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Kaila yang menggemaskan. "rileks, yang. tidak akan ada yang mengganggu kita selama penerbangan kali ini" senyum Pram. "jika kau ingin tidur, ada kamar di belakangmu" kata Pram mengerti bahwa Kaila membutuhkan tidur yang lebih lama, ia segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar yang dimaksud oleh Pram, melepas sepatunya dan merangkak naik keatas ranjang yang empuk dan nyaman, tidak lama kemudian dia tertidur.
__ADS_1
Kaila merasakan ada sesuatu yang berat terasa melingkari perutnya dan mencoba untuk bergerak menyingkirkannya, Pram mengeratkan pelukannya hingga Kaila menjadi susah untuk bergerak. "aku ingin ke toilet sebentar" elus tangan Kaila, Pram melepaskan pelukannya, ia setengah berlari menuju toilet, ketika akan kembali ke kamar, dilihatnya Saka sudah tertidur dikursi dengan nyaman. Kaila mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar dan memilih untuk duduk melihat kumpulan awan yang gelap dari kaca jendela, hari sudah gelap. Kaila mengerutkan keningnya bertanya-tanya dalam hati, kenapa perjalanan ke Jakarta aja makan waktu berjam-jam biasanya hanya satu jam, kemana mereka akan pergi, batin Kaila.
"aahhh......" seru Kaila pelan saat Pram mengangkat tubuhnya tanpa ia sadari secara refleks melingkarkan tangan dileher Pram, mereka saling menatap dalam diam. Kaila malas berdebat dengan Pram yang selalu saja memaksakan kehendak kepada dirinya, hingga membuat Kaila lebih memilih untuk menuruti apa yang Pram inginkan, Pram mengecup kening Kaila lama dan menyatukan kening mereka. "tidurlah lagi honey nikmati waktumu untuk tidur. jika nanti kita sampai aku takut kamu tidak dapat tidur dengan nyenyak karena banyak aktifitas yang menguras energimu nanti" hembus nafas Pram di mata Kaila.
"aku melakukan yang terbaik untukmu baby, jangan bertanya apa-apa dulu, karena aku belum bisa menjawabnya" letak Pram di ranjang dan duduk disamping Kaila. "satu hal yang pasti, aku selalu mencintaimu, menginginkan yang terbaik buat kita, kamu harus percaya padaku, kamu mengerti kan" kata Pram menangkup kedua pipi Kaila saat dia berbicara. Kaila menatap mata Pram yang sayu, dia tahu jika laki-laki didepannya ini telah menyerahkan segalanya, cinta, kasih sayang, jiwa dan raganya hanya untuknya dan seiring berjalannya waktu, sadar atau tidak Pram telah menjadi bagian dari dirinya.
egois jika dia tidak melihat perlakuan Pram yang membuatnya menyadari sosok Pram yang selalu ada didekatnya, Kaila akhirnya menganggukkan kepalanya.
Pram mencium lembut bibir Kaila yang menjadi candu baginya, ia mengusap bibir Kaila yang penuh dengan jejak mereka. Pram menggeram, menggertakkan rahangnya menahan hasrat untuk berbuat lebih, ia menyatukan kening dengan nafas yang memburu. "tidurlah honey, aku tidak bisa melakukan hal lebih dari ini tunggu beberapa hari lagi" kecup kening Pram memeluk Kaila, Kaila memejamkan matanya dan tak lama nafasnya mulai teratur, menandakan dia sudah jatuh tertidur. Pram tersenyum dan mencium sekilas bibir Kaila yang terlihat menggoda, ia pun mulai ikut memejamkan mata untuk tidur kembali karena perjalanan yang masih panjang.
Pram dan Saka duduk mengobrol sambil minum kopi ketika Kaila keluar dari kamar. "jam berapa" duduk Kaila merentangkan tangannya keatas. "jam 9 honey" senyum Pram menatap Kaila yang terlihat tetap cantik. "kakak bangun jam berapa" tanya Kaila menopang dagu. "kami menunggumu lebih dari satu jam Kai" minum Saka, Kaila melebarkan matanya kaget. "kenapa tidak membangunkan ku kak" kata Kaila merasa tidak enak karena membuat mereka menunggunya terlalu lama. "tidak apa-apa honey, kita juga tidak sedang terburu-buru" geleng Pram menyerahkan air mineral ke Kaila yang meraihnya, meminum pelan.
"jika di perusahaan, kau akan marah-marah dan memecat karyawan yang membuang-buang waktu" gumam Saka membuat Kaila tersedak mendengar ucapan saka yang terus terang, Pram menepuk pelan punggung Kaila dan menatap tajam kearah Saka yang hanya bisa garuk-garuk kepala walau tidak gatal.
"maafkan aku kak, seharusnya kau membangunkan ku tadi, apakah kita sudah sampai" tanya Kaila bergegas bangkit dari kursinya, Pram mencekal tangan Kaila lembut, "honey, tenang" pandang Pram tersenyum, "aku tenang kak, makanya kita keluar sekarang" tatap Kaila, Pram menatap Saka kesal yang hanya tersenyum masam melihat aura Pram yang menghitam. Pram meraih jemari tangan Kaila untuk berjalan keluar dari pesawat pribadinya, Kaila mengikuti langkah Pram dan melihat bandara yang sibuk luar biasa, Saka melangkahkan kaki didepan mereka menuntun mereka melewati lorong-lorong sepi yang jarang orang biasa lewat, hanya orang-orang tertentu yang dapat akses masuk dibandara London, "yang.... apapun yang terjadi, kamu sangat berarti bagiku. apa kamu mengerti" tatap Pram tidak menghiraukan orang-orang disekitar mereka, Kaila hanya mengangguk tidak bisa berkata-kata melihat pengamanan yang begitu ketat, sebuah mobil mewah telah menanti mereka setibanya diluar, Pram mengendarai sendiri mobil itu sedangkan Saka menggunakan mobil yang telah disiapkan lainnya. Kaila memasang seat belt sebelum mobil meninggalkan hangar pesawat pribadi keluarga Bagaskara.
"welcome to London honey, your second home" senyum Pram menatap Kaila. Kaila tersenyum menatap gedung-gedung tinggi yang artistik, jalan-jalan yang teratur dan ikonik. "andai Ayah dan Kalai juga ada disini pasti seru" gumam Kaila tersenyum, Pram hanya diam dan tersenyum mendengar gumaman Kaila. "kenapa kak Saka tidak bareng kita" tanya Kaila, Pram menoleh "dia hanya akan mengganggu kita" kata Pram kesal, mengingat tadi Saka membuat Kaila merasa bersalah ketika telat bangun dan itu membuatnya kesal. Kaila menghembuskan nafasnya melihat sibuknya orang-orang yang sedang bekerja, banyaknya orang yang berjalan dan menggunakan transportasi umum menuju ketempat tujuan mereka
hai.... hai... hai.... all readers, terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih atas dukungannya terhadap karyaku ini.
__ADS_1
luv.... luv..... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak atas semua nya.
stay healthy all