
Kaila berjalan pelan dengan flat shoes yang menapak lembut dilantai rumah keluarga suaminya, ia segera menghampiri mommy setelah berganti pakaian. "aahh, sweetie kamu sudah datang, perkenalkan ini tetangga kita" perkenalkan mommy, Kaila tersenyum ceria memberi salam hormat kepada beberapa mommy lainnya. Kaila sesekali berbincang dengan beberapa mommy, ada yang masih muda dan mempunyai dua orang anak perempuan yang masih dibawah lima tahun karena ikut bertugas suaminya yang ditugaskan di sini, ada yang mempunyai anak laki-laki satu dan belum menambah momongan lagi, rata-rata mereka adalah perempuan yang mengikuti pasangannya bertugas di sini, mommy merasa senang karena masih bisa bertegur sapa dengan mereka yang mau berkunjung kemari. Orang-orang yang berkumpul membawa makanan kecil untuk dinikmati bersama-sama.
Kaila dan beberapa perempuan lainnya terlibat percakapan yang seru mengenai kehamilan dan baby, mereka menceritakan pengalaman yang sudah dahulu mereka lalui dibanding Kaila, sesekali Kaila tertawa dan mengangguk mendengar candaan mereka yang menceritakan ekspresi suami mereka saat kelahiran putra mereka. Mereka tidak menduga bahwa keluarga Bagaskara akan diberi karunia baby sebanyak 4 sekaligus. Mereka tidak mengira juga jika Kaila mempunyai saudara kembar.
"honey" panggil Pram saat dia pulang menjelang sore. Kaila menoleh beranjak pelan mendekati suaminya, ia mencium punggung tangan imamnya itu. "apa kamu sudah istirahat" usap kepala Pram menatap istrinya yang terlihat ceria bertemu dengan perempuan Indonesia lainnya. Ia menunduk hormat saat menyapa beberapa perempuan yang masih bercengkerama dengan mommy dan istrinya. Ia segera menghampiri mommy untuk mencium punggung tangan mommy.
"sudah pulang kak, bawa sweetie untuk beristirahat sebentar ini juga sudah hampir selesai" senyum mommy mengelus bahu anak satu-satunya itu. Pram tersenyum mengerti.
"yang" panggil Pram pelan, Kaila mengangguk dan berpamitan kepada perempuan lain yang mengobrol dengannya tadi.
"apa kamu tidak capek" elus pinggang Pram, "tidak begitu, by. ini masih bisa ditolerir" senyum Kaila melepas flatshoes nya dan bertelanjang kaki kesana kemari.
"aku sudah merasa gerah, by. Mau berganti baju dan ingin berendam bentar" pandang Kaila masuk kedalam ruangan pribadinya, Pram tergelak melihat tingkah istrinya yang imut. Ia selalu membuka semua pakaiannya jika sudah didalam ruangan pribadi seperti ini.
"honey, apa mau denganku" senyum smirk Pram, Kaila tersenyum mengangguk. Pram segera melepaskan setelan jasnya dan sembarangan melempar ke segala arah menyusul istrinya masuk kedalam bathroom. Kaila telah lebih dulu berada didalam yakuzi kecil menenggelamkan dirinya hingga hanya kepalanya saja.
"honey" raba perut Pram, Kaila membuka matanya perlahan. Pram tersenyum memberi sentuhan di daerah sensitif istrinya, Kaila mendesah pelan saat menikmati sentuhan lembut suaminya itu. "rileks, yang" bisik Pram lembut. Kaila memandang suaminya dengan tatapan sayu menahan hasrat yang belum tersampaikan, ia mengelus paras tampan Pram yang menarik banyak lawan jenis untuk menggoda.
"apa kamu terpesona dengan ketampanan dan kegagahan suamimu, yang" tatap Pram merapatkan tubuh mereka, Kaila mengangguk.
"apa kamu baru sadar sekarang setelah membawa benihku" naik turunkan alis Pram, Kaila tergelak hingga tubuhnya terguncang pelan.
"kapan kamu menanam benih, perasaan nggak pernah lihat kamu bercocok tanam" goda Kaila mengendikkan bahunya. Pram tersenyum tidak senang mendengar godaan istri kecilnya.
"kebiasaan, kalo udah selesai selalu berasa lupa, jika belum selalu menggoda. Tidak melihat bukti nyata dengan perut begini" ciumi perut Pram gemas, Kaila tertawa lebar membuat Pram ikutan tertawa.
"aku takut jika mereka merasa aku tidak adil nanti" pandang Kaila. "tidak honey, mereka akan mendapat kasih sayang yang sama dari kita semua. Tidak akan ada yang membedakan mereka dengan yang lainnya" senyum Pram mengelus pipi putih istrinya dan mengecup bibirnya lembut.
__ADS_1
Mereka saling memberi dan menerima, mencurahkan asa dan perhatian satu dengan yang lainnya, Pram memberikan sentuhan lembut dan memabukkan. seringkali Kaila mengambil posisi diatas agar merasa nyaman karena perutnya yang sudah bertambah. Pram memberikan sentuhan sentuhan agar istrinya tidak merasa lelah dan selalu bersemangat. Teriakan Kaila dan ******* Kaila seringkali terdengar didalam ruangan membuat Pram sesekali membisikkan kata-kata agar Kaila tenang.
Pram menyelimuti tubuh istrinya agar hangat setelah pertempuran mereka yang hangat dan selalu menggelora saat di bathroom dilanjutkan diatas ranjang mereka. Ia mengecup rambut dan pipi istrinya yang telah terlelap dengan tubuh miring kekanan.
Pram beranjak pelan menuju walk closet mencari joger dan t-shirt. Segera merapikan pakaiannya yang sembarangan dilemparnya tadi, ia membuka pintu pelan dan menuju pantry.
paman Din menanyakan keperluan tuan mudanya itu, Seorang pekerja rumah segera menyiapkan masakan pesanan Pram yang menanti di meja pantry. Ia segera memakan dengan lahap makanannya tersebut sebelum kembali kedalam kamar. Ia tidak ingin jika Kaila terbangun namun dirinya tidak berada disampingnya, karena pasti nanti dia akan merasa sedih.
dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul 2 dinihari, Kaila merasa perutnya sangat lapar, ia segera membuka cover yang menutupi tubuhnya dengan rapat, Pram terlihat nyenyak dalam tidurnya. melangkah pelan menuju walk closet mengambil pakaian rumahan yang nyaman, membuka pintu menuju pantry. Dilihatnya makanan tertata rapi di lemari pendingin dengan berbagai tulisan diatasnya, seperti mereka semua tahu bahwa Kaila pasti akan merasa lapar di malam hari dan tidak akan mau mengganggu tidur siapapun saat dia ingin makan.
Kaila tersenyum mengeluarkan beberapa makanan yang memang harus dipanaskan sebelum dimakannya, Ia segera memasukkan kedalam box penghangat makanan, meraih botol coklat dingin dan menuangkannya di gelas, meminumnya sembari menunggu makanannya hangat. Dengan tenang ia memakan makanan yang dia mau, daging, kentang, roti yang membuatnya kenyang hingga memakan salad buah yang sangat menyejukkan kerongkongannya.
Pram mencium ubun-ubun kepalanya, Kaila mendongak tersenyum melihat suaminya bangun dan mencarinya di pantry. Pram duduk di samping istrinya dan meminum coklat dinginnya hingga tak bersisa.
"lapar" topang dagu Pram, Kaila mengangguk mengunyah makanannya. Pram melihat beberapa piring tertumpuk dengan rapi disamping meja setelah Kaila makan. Pram beranjak menaruhnya di rak cuci piring, "mau apa lagi honey" elus leher Pram, Kaila menggeleng karena sudah merasa kenyang. Pram mengangguk menuangkan air putih kedalam gelas dan ditaruh disamping Kaila, Pram menunggu hingga istrinya telah selesai memberi makan ke empat baby yang ada diperutnya.
"honey, jaga kesehatan dengan baik ya, kita akan mempunyai 4 jagoan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Jangan terlalu kuatir dengan keadaan mereka setelah keluar nanti. Aku berharap kamu yang harus ekstra menjaga diri secara psikis dan body. Nggak gampang mengurus satu baby. Apalagi 4. It's take a lot time" kecup rambut Pram. "hhmm" dehem Kaila.
"kita akan selalu bersama-sama memberi kasih sayang secara utuh dengan ditemani kakek dan nenek mereka" kata Pram, Kaila berdehem.
"aishh, malah jadi kayak dongengin anak gadisku saat mau tidur" usap-usap bahu Pram. Kaila tertawa kecil.
"semoga salah satu dari mereka berempat ada yang berbeda" pinta Kaila, Pram tertawa lebar. "semoga agar kita bisa mendandani" kata Pram.
"mungkin" angguk Kaila memejamkan matanya. Pram menepuk-nepuk punggung Kaila lembut.
"apa besuk dirumah by" tanya Kaila membuka mata. "ya, hanya sesekali mengecek keadaan. Ada rasa berbeda saat tidak ada dirimu" ujar Pram.
__ADS_1
"jika baby sudah di luar akan sangat sulit untuk menemanimu bekerja by" kata Kaila. Pram menghembuskan nafasnya berat.
"aku tahu honey, aku juga mengerti. Mereka lebih membutuhkan dirimu untuk kedepannya" kata Pram, Kaila mengangguk pelan.
"jadi selamat bekerja daddy, we Will wait at home" dongak kepala Kaila, Pram tertawa kecil mengecup bibir Kaila pelan.
"tentu, honey. Aku akan selalu membuat kalian berlima bahagia" satukan hidung Pram, Kaila memejamkan matanya tersenyum.
"jangan terlalu banyak bekerja, serahkan kepada orang lain agar mereka juga bisa membahagiakan keluarganya dan kita mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya" kata Kaila.
"siap nyonya muda" hormat Pram, Kaila menggeleng pelan.
"tidak terasa sebentar lagi jadi mama muda, umur belum 25 tapi udah punya anak 4. Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah dari yang aku bayangkan" ujar Kaila pelan.
"aku juga" topang dagu Pram diatas kepala istrinya.
"memang benar, sutradara terbaik dari skenario terindah manusia adalah Tuhan" lanjut Kaila. "hhmm" dehem Pram.
"anyway, aku ngantuk. Ini sudah jam berapa" lepaskan pelukan Kaila. "jam 3 dinihari. Maukah kewajiban sepertiga malam" tanya Pram. Kaila mengangguk dan beranjak dari duduknya dibantu oleh Pram.
Mereka berjalan pelan menuju ruangan pribadi mereka yang tidak jauh dari tempat mereka berada ditaman sekarang. Kaila mengambil air suci dan memakai peralatan kewajibannya, duduk dikursi tanpa sandaran punggung untuk menuaikan kewajibannya sebagai makhluk yang tunduk dan menyadari betapa kerdil dan kecil dirinya dihadapan banyaknya karunia yang telah diberikan Tuhan kepadanya.
Hai.... Hai.... Hai.... All readers, terimakasih telah berkunjung ke karyaku.
Maaf karena tidak bisa setiap saat update karena sakit.
Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. Terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
Stay healthy all