Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 90


__ADS_3

"dan nggak ada yang tahu, jika dia sudah menikah selama kuliah baru saat wisuda kemarin dia dipaksa mengumumkan pernikahannya" angguk Davi. "sampai segitunya" tanya Erlangga tidak percaya. Davi tersenyum. "ehem... semua karena kekuatan orangtuanya Pram yang ingin Kaila dikenal sebagai istri Pramudya, biar nggak ada gosip yang merugikan anak-anak mereka nantinya" kata Davi menatap Kaila yang mengangguk mengiyakan. "tapi, pada akhirnya aku bersyukur punya sahabat dua perempuan ini karena dekat dengan mereka membuatku ikut mencari nafkah lebih cepat dari perkiraan dan membuat kehidupanku semakin membaik" tawa Davi yang merasa lucu. "iya, saking membaiknya setiap kali datang ke kantor disogok coklat dingin melulu" tawa Kaila yang melakukan hi-five dengan davi. "karena hanya itu satu-satu nya yang dapat membuatmu bisa beraktifitas, aku nggak tega jika melihatmu tidak bertenaga" pandang Davi, Kaila tertawa dan memberi isyarat dengan jemarinya pertanda Ok.


Pram kembali tidak lama setelah menerima panggilan "mereka sedang berada didekat sini, sekalian mampir" duduk Pram menatap Kaila yang mengangguk pelan. "kamu mau makan apa Kai" tanya Icha. "hhmm itu aja deh Cha lebih terasa ringan di mulut" kata Kaila, Icha memberi isyarat agar penjaga cafe mendekat, segera memesan pesanan yang Kaila mau dan beberapa cemilan lain. "apakah ada pertemuan lain setelah ini Dav" pandang Erlangga melihat yang lain memesan makanan dan minuman kembali.


Davi menggeleng, "nggak Lang, kalo nggak kayak gini kita nggak pernah ketemu. jika kita sudah keluar gini sekalian ngumpul bareng dengan yang lain dan sekalian makan siang. santai aja, nggak apa-apa. hanya karena Kaila sebentar lagi mau ke Inggris dalam waktu lama setiap moment dibuat untuk berkumpul bersama" tepuk bahu Davi pelan. "aku malah jadi nggak enak kalo gini, tau gitu setelah selesai meeting tadi langsung undur diri aja" kata Erlangga.


"jangan gitu Lang, udah lama kita nggak ketemu kan, lagian Kaila justru akan membatalkan perjanjian kerjasama jika kamu langsung pulang, walau perusahaan punya Bagaskara tapi yang pegang kendali kedua perempuan itu sebenarnya. tidak baik menolak rejeki. toh kamu juga teman Kaila jadi it's oke" kata Davi. Erlangga hanya bisa mengangguk merasa tidak enak mengganggu waktu mereka berkumpul bersama.


"Lang, jika kelak sudah menemukan belahan jiwa, jangan lupa memberi tahu kami sehingga kami dapat melihatmu bahagia, jangan lupa" ingatkan Kaila sesaat kemudian, Erlangga tersenyum. "mungkin masih agak lama Kai, pingin sendiri dulu menikmati hidup" jawab Erlangga spontan. "sama kayak Davi dong, kenapa nggak sambil nyari jika ketemu akan lebih baik" topang dagu Kaila. "nggak segampang itu Kai, terkadang setelah berusaha sekuat tenaga mencari ternyata berjodoh dengan orang lain atau kalo nggak sudah keduluan dengan orang lain" kata Erlangga.


"berarti itu hanya godaan setan yang terkutuk" tawa Davi yang diikuti Kaila dan Icha yang tertawa ngakak. "iisshh kalian ini, kalem dikit kenapa. ini bukan sedang dikampus" tatap davi melihat dua sahabatnya yang sudah dalam mode gokil. "nggak papa Dav, mereka terlihat lebih bahagia jika lepas seperti itu" senyum Erlangga sekilas.


Mahendra dan pegawai yang lain mohon undur diri dulu karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikan dan memberi kesempatan Erlangga untuk berkumpul bersama teman-temannya.


"kenapa Lang, santai aja. kita kan biasa bersama dengan orang baru saat naik gunung, jadi biasa aja" kata Davi meminum habis kopi hitamnya. "kenapa Kaila harus ke Inggris, dalam waktu lama tidak akan melihat Kaila di perusahaan dong, berarti perusahaan dipegang oleh Saka Bagaskara" tanya Erlangga merasa ada yang mengganjal dalam pikirannya.


"Yap, karena dia mau melahirkan disana, baby-nya kembar tiga, Lang. jadi ayah dan mertuanya menginginkan keselamatan bagi mereka berempat, segala hal yang terbaik untuk ketiga cucunya dan anak menantu perempuan satu-satunya" sandar kepala Davi dibahu sofa.


"banyak yang nggak aku tahu ternyata tentang kaila" gumam Erlangga, Davi tersenyum menoleh kearah Erlangga. "hidup itu pilihan Lang, jika kamu rela melepaskan akan jauh lebih baik bagi dirimu sendiri. bukan karena Kai tidak mengetahui perasaanmu tapi dia tidak melihatmu seperti dirimu melihatnya. dari awal dia menganggap mu sebagai teman baiknya, itu lebih baik daripada kamu membencinya suatu hari jika dia menolak mu" saran Davi. "apakah sejelas itu kelihatannya Dav" tanya Erlangga, Davi mengangguk pelan.

__ADS_1


"mungkin karena aku sudah terbiasa melihat cowok yang menyukai mereka jadi tidak begitu sulit bagiku untuk mengamati sikapmu" jawab Davi, Erlangga menghela nafasnya panjang. "apakah Pram juga mengetahuinya" tanya Erlangga pelan, Davi mengangguk.


"tentu saja, tapi dia percaya pada Kaila. dia tidak akan melakukan hal diluar batasnya sebagai istri, mendekati Kaila juga nggak gampang, Lang. mas Pram aja kudu tahan banting menanggapi sikap Kaila yang badas, jadi seorang pria lain tidak akan membuat Kaila gampang berpaling ke lain hati" tawa Davi, Erlangga tertawa kecut mendengar penjelasan Davi.


"it's easy Lang, Pram tidak se picik itu kepada orang yang menyukai Kaila, sebelum kamu dia juga sudah menghadapi laki-laki lain yang menginginkannya dan Kaila juga nggak tertarik tuh sama yang lain" tepuk bahu Davi sambil tersenyum.


"ahh nggak terasa udah mau jadi uncle, padahal aku kira tuh anak paling lama berumah tangga. soalnya dari ketiga cewek yang ada, Kai yang paling susah" jawab Davi. "kenapa bisa dia yang paling lama, banyak yang suka kan sama dia" tanya Erlangga.


Davi tersenyum menatap Erlangga sesaat "termasuk kamu kan, banyak yang ngantri bro. temen satu BEM ku aja sampai akhir saat Kaila wisuda selalu mengejar nggak pernah ditanggapi. bukan karena jelek, tapi karena tuh anak nggak buka hatinya pada cowok manapun" kata Davi.


"trus kenapa bisa sama pramudya Bagaskara" tanya Erlangga. "karena hanya dia yang menarik Kaila kembali sadar dari dunia lain" senyum Davi, Erlangga membelalakkan matanya lebar.


"dia pernah terpuruk ketika kehilangan Arga yang memilih kembarannya dan juga kehilangan kesadaran ketika tahu kepergian momi nya akibat kecelakaan saat kita masih sekolah kelas dua akhir, hal yang nggak pernah kita lihat selama ini. hanya seorang Pramudya Bagaskara yang bisa membuat Kaila sadar dan nggak pergi meninggalkan Kaila sama sekali" jawab Davi, "segitunya hidup Kaila" hembus nafas Erlangga.


"aku sudah didekat sini saat liat kalian ngumpul, pak CEO mau ikut" peluk Kalai pada Kaila dan Icha yang tertawa bersama. "nggak papa Kal, malah seneng ngumpul bareng" jawab Icha. "aku kemarin ke rumah mama jadi nggak pulang, nggak ngabari juga karena terlalu lelah, ada acara" kata Kalai, Kaila tersenyum. "mama keadaannya makin baik kan" tanya Kaila, Kalai mengangguk. "beliau menitipkan salam padamu" kata Kalai. Kaila tersenyum dan membalas ucapan salam mama Arga.


"mirip ya sama Kaila" pandang Erlangga, Davi tertawa "identik bro, tentu saja sama. yang satu badas dan yang satu kalem" kata Davi. Erlangga hanya diam menatap lingkaran keluarga besar Kaila. "Dav, pesen apa" tanya Icha menatap Davi, "samain aja Cha. Erlangga juga, nanti bisa tukeran sama yang lain" jawab Davi, Icha mengangguk. mereka mengobrol, tertawa dan saling meledek satu dengan yang lainnya, bercengkrama cukup lama.


"kapan-kapan kita ketemu lagi, Lang" salam Kaila. Erlangga tersenyum mengangguk "semoga saat melahirkan nanti semuanya lancar, Kai" doakan Erlangga. Kaila tersenyum dan mengamini doa Erlangga. mereka juga berpisah dengan Kalai dan Arga yang akan ke perusahaan Arga terlebih dahulu, sedang Icha dan yang lain menyeberang untuk menuju kantor Bagaskara. beberapa orang menunduk hormat ketika mereka melintas "kayak gini ini yang bikin aku nggak suka masuk kantor" hela nafas Icha pelan.

__ADS_1


Kaila mengangguk membenarkan. "awalnya ngerasa gitu juga Cha, tapi lama-lama sudah biasa juga" kata Kaila.


"mereka menghargai kita karena kita yang secara tidak langsung membuat keluarga mereka dapat hidup lebih baik, bukan untuk menjilat kita, walau ada aja yang seperti itu. ketika ngobrol dengan mereka kebanyakan mereka berterima kasih diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya dan tentu saja keluarga mereka hidup lebih baik" kata Kaila. "setelah aku pergi, kamu ikutan magang disini juga kan" kata Kaila, Icha menggeleng. "aku pingin Kedubes Inggris aja kalo magang" geleng Icha. "nunggu lulus dulu kalo itu mah" kata Kaila menepuk bahu Icha pelan, Icha nyengir.


"masuk keruangan ku dulu Cha, nanti ketemu lagi sama Kai" kata Saka, Icha melambaikan tangannya kearah Kaila. "honey, istirahat dulu didalam, jika sudah cukup istirahatnya aku akan membangunkan mu nanti" kata Pram, Kaila menggeleng. "it's oke by, aku nggak kenapa-kenapa. nanti jika pingin tidur aku akan masuk sendiri" elus pipi Kaila, melihat beberapa dokumen yang menumpuk.


"by, kita pilah dokumen bersama dengan kak Tio dan sekretaris mu ya biar lebih cepet dan mereka besok juga akan bekerja bersama Davi dan kak Saka selama kita pergi" pandang Kaila menunjuk beberapa dokumen yang harus diperiksa. Pram mengiyakan perkataan Kaila.


"kak Tio, masuk yuk keruangan kak Pram" panggil Kaila melihat dari pintu ruangan, Tio menoleh dan mengangguk. "kak sekretaris juga" kata Kaila tersenyum membuka kembali pintu ruangan. Tio dan sekretaris Pram masuk bersama Kaila.


"kita bahas beberapa dokumen yang ada dimeja kak Pram, hari ini kami terakhir kekantor untuk bekerja. jadi besuk kak Tio dan sekretaris membantu kerjaan kak Saka yang double lagi, laporannya ke kak Saka nanti" senyum Kaila, mereka mengangguk paham karena sebelumnya juga sudah diberitahu oleh Davi.


"nah karena kita berempat, kita bisa lebih efektif memilah dokumen yang ada. jika memang harus ditandatangani kak Pram, serahkan padanya, teliti dulu semuanya, Ok" pandang Kaila. "baik nona" angguk Tio dan sekretaris tersenyum kompak. mereka bekerja dengan serius dan terlibat beberapa diskusi ketika melihat dokumen yang sedang dibahas, waktu telah menunjukkan pukul 6 sore ketika semua selesai.


"honey, you got rest now" sentuh lengan tangan Pram, Kaila melihat Pram dan menanyakan jam berapa sekarang. "jam 6 sore" jawab Pram. Kaila meregangkan otot tangannya keatas dan meluruskan kakinya, Pram mengambilkan Kaila coklat dinginnya. "makasih by, aku mau kekamar mandi dulu" pandang Kaila, Pram membantu Kaila untuk bangun dari duduknya dan segera berjalan kearah toilet yang ada dikamar pribadi Pram.


"hubby" teriak Kaila, Pram berlari menuju kearah bathroom pribadinya dimana Kaila berada, "kenapa" buka pintu Pram melihat Kaila yang masih duduk di closet dan jongkok tepat didepannya


hai .... hai .....hai ..... all readers, luv U all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak. selamat menikmati cerita pertama kalang di sini, jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat. dukung ya... karya pertama ku.

__ADS_1


luv .... luv .... lu ..... all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2