Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 38


__ADS_3

"ish.... katanya tidur, tapi kupingnya nggak tidur" kata icha kesal memukul lengan Saka keras. "kalian udah pergi ke tempat malam kenapa nggak ngajak aku sih" kata Davi tidak terima dirinya ditinggalkan oleh kedua sahabatnya. "salahkan mas Pram yang mengatur semuanya" manyun Icha. "aku tidak tahu jika kalian semua juga disini Dav, ketemu Icha aja waktu ditempat itu kemarin, tau gitu kita rame-rame pergi kemana-mana" hela nafas Kaila menatap Pram. "semua komunikasi kayaknya di tutup oleh kak Pram. hubungi ayah aja tidak bisa, tapi aku kenapa nggak nyoba pake ponselnya kak Pram ya... buat menghubungi kalian waktu itu, yang bisa ku hubungi cuma kak Saka doang" kata Kaila merasa bodoh. Pram tersenyum dan mendekat ke bahu Kaila, menciumnya, mendekapnya erat.


"kalo sama dia mah sebelas dua belas sama aja nggak ngebolehin" ujar Icha membenarkan kata Kaila, "kalian juga baru ketemu kemarin" tanya Davi tak percaya, ia mengira mereka pasti berbohong. Icha dan Kaila mengangguk. "sejak kita berpisah di penginapan dari turun gunung aku selalu bersama kak Pram, kamu balik kejakarta sedang Icha duluan pulang ke Jakarta dijemput kak Saka, aku nggak langsung pulang kerumah Dav. selama 4 hari keliling Jogja dan sekitarnya, abis itu terbang langsung kesini tanpa diberitahu dulu. gimana tau satu dan lainnya coba" cerita Kaila berapi-api.


"kalo nggak ngajak kak Saka malam itu mungkin aku belum ketemu Icha sampai hari H" kata Kaila. "aku aja nggak tau kalo mau diajak nikah, benar-benar nggak ada yang bisa aku jadiin petunjuk" geram Kaila. "he...em" angguk-angguk Icha membenarkan. "ketemu ayah juga baru tadi malam, itupun setelah pulang dari tempat malam ayah datang ngejelasin semua kejadian kecelakaan momi saat di Bandung. bayangin Dav, gimana perasaanku mendengarkan ayah yang dengan hati besar dan tenang menjelaskan semua padaku. aku yang terakhir tahu semuanya, Kalai udah tahu sebelumnya dan tidak bercerita padaku. aku seperti anak yang durhaka, anak yang nggak tau diri" kata Kaila meluapkan emosinya sesaat, Pram membuka matanya lebar-lebar mengusap-usap bahu Kaila.


"jika aku tahu dari awal nggak bakal seperti orang gila memikirkan kejadian yang seperti slide gambar yang terus berputar didalam otakku" berdiri Kaila spontan. "nah lho mas Pram, Kaila sedang marah nih meluapkan emosi jiwa" bakar kompor Davi yang melihat Pram siaga. Kaila tertawa terbahak bahak, Pram berdiri dan mendekap Kaila dari belakang erat. "maafkan aku honey..... maafkan aku....." kecup Pram dibahu Kaila. "baiklah kak tapi bolehkah aku memukulmu dulu agar aku merasa lega" kata Kaila tiba-tiba menghadap Pram dengan tatapan tajam. Pram menatap Kaila pias dan mengangguk dengan cepat tanpa berpikir apapun lagi, "lakukan jika itu membuatmu lega. aku lebih senang melihatmu berapi-api begini daripada melihatmu seperti kemarin yang membuatku seperti kehilangan jiwa" kata Pram, Kaila mengangguk kuat-kuat. Davi dan icha saling melihat satu sama lain, mereka tidak percaya kalo Kaila akan melakukan kekerasan terhadap orang lain padahal biasanya dia justru adalah orang yang menghindari kekerasan dimana ujungnya tidak ada gunanya.


"sebentar Kai, aku abadikan moments nya dulu jarang banget nih seorang CEO muda berpengaruh di dunia pasrah oleh seorang gadis yang dirahasiakan identitasnya" kata Saka tiba-tiba berdiri, Icha dan Davi juga berdiri. "jika ada apa-apa langsung bawa kerumah sakit nih" kompori Davi lagi melihat Kaila yang bersiap-siap. "turun gaji dan dapat nilai D" ancam Pram tidak tanggung-tanggung. "nggak papa, tidak sebanding dengan pengalaman sekali seumur hidup melihatmu disiksa tanpa ampun dan tidak bisa melawan hanya Kaila yang dapat melakukan nya padamu" jawab Saka menggeleng dan segera memulai mengabadikan moment. Icha dan Kaila tergelak menatap Pram yang pias, sedangkan Saka dan Davi yang bersemangat mengerjai Pram. "honey luv U" isyarat Pram memajukan bibirnya untuk Kaila.

__ADS_1


"nggak usah merajuk mas terima hukumannya. kayak biasanya ngasih kuis dadakan" semangat Davi tergelak, Pram nyengir tanpa ampunan. "dah siap kak Saka" pandang Kaila menggenggam tangannya agar bisa memukul Pram dengan keras. "dah siap my sista" isyarat jemari Saka menandakan tanda Ok. Kaila memukul pipi kiri Pram keras "ini untuk ayah" kata Kaila, memukul pipi kanan Pram "ini untuk Kalai" kata Kaila, meninju bahu kanan Pram "ini untuk teman-teman" ujar Kaila dengan nafas memburu, meninju bahu kiri Pram "ini untuk keegoisan mu menjauhkan ku dari semua orang" kata Kaila keras, menyikut perut Pram dengan kaki kanannya "ini untuk semua yang kamu sembunyikan dariku selama ini" kata Kaila dengan nafas yang terengah-engah menatap Pram yang terlihat kesakitan karena tidak bisa melakukan perlawanan.


"wooooaaa......" seru Davi senang melihat Pram yang terlihat menderita, Saka tertawa pelan melihat kondisi Pram. "sakit kak" senyum Kaila mengibaskan tangannya yang memerah. "lumayan honey, tapi jangan lakukan hal ini pada orang lain" cengir Pram mengusap pipinya yang memerah, "maafkan aku honey, aku juga tidak tahu kejadian mengenai kecelakaan itu, kamu juga tahu aku terkejut. maafkan aku karena tidak mau kehilanganmu jika aku tidak melakukan ini semua tiba-tiba maka kamu akan memilih pergi dariku" pandang Pram lembut. Kaila berdecih sebal mendengar alasan klasik Pram. "terus kenapa jika aku memilih orang lain dan bukan dirimu, kamu akan melakukan apa kepadaku" tanya Kaila tajam menantang Pram untuk melakukan sesuatu. "tidak, yang. aku tidak akan berani dan tega melukaimu" geleng Pram cepat.


Kaila menghela napas panjang "hanya tinggal satu lagi hukuman mu kak" tatap Kaila lekat, Davi dan Icha dengan antusias menantikan aksi terakhir Kaila yang akan membuat Pram babak belur lagi, Pram mengangguk tersenyum menatap wajah pujaan hatinya yang ingin melampiaskan segala hal yang membuatnya sesak, ia senang Kaila meluapkan emosinya seperti ini daripada harus merasa sakit dan kembali terpuruk, Kaila segera melompat kearah Pram yang dengan refleks menangkap tubuh kekasihnya agar tidak terjatuh, Kaila melingkarkan kakinya dan tangan di leher Pram. "dan ini rasa terima kasih ku atas segalanya kak" pandang Kaila lekat menatap manik mata Pram, Kaila mencium lembut bibir Pram yang segera menekan kepala Kaila agar tidak melepaskan ciumannya.


Pram dan Kaila menyudahi ciuman panas mereka, "thank U honey" usap Pram dibibir Kaila yang membengkak, Kaila tersenyum manis memeluk Pram erat seperti koala. Pram mengambil ponsel Saka segera dan membawa tubuh Kaila kembali ke kamar. Saka yang memeluk Icha menangkup pipi Ichka agar melihatnya. "udahan kak" tatap Icha lekat, Saka memajukan wajahnya dan menatap Icha untuk meminta ijin mencium bibirnya, Icha hanya diam dan menatap Saka lekat dalam hitungan detik, bibir mereka bertemu dan saling memberi satu sama lain. Icha semakin mengeratkan dekapannya, Saka menahan kepala Icha agar tidak menyudahi ciuman mereka hingga akhirnya Icha kehilangan nafasnya, Saka mengecup keningnya menyatukan keduanya.


"kau tahu sudah lama kan kalau aku menyukaimu jadi maukah kamu Fritscha Prasodj menerimaku Saka Bagaskara menjadi pendamping hidup mu" tanya Saka lembut. Icha mengatur nafasnya dan menganggukkan kepalanya, Saka tersenyum dan mencium bibir Icha sebentar. "maka kamu sudah tidak dapat lari dariku lagi Cha, ingat itu.... jangan tebar pesona pada laki-laki lain" ultimatum Saka, Icha menghela nafasnya berat. "iya" jawab Icha patuh. Saka menggenggam jemari Icha untuk membawanya ke kamar waktunya untuk mereka tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi.

__ADS_1


"tidurlah honey, aku akan menemanimu disofa, aku tidak mau para orangtua melihatmu denganku saat mereka bangun nanti" kata pram mengecup kening Kaila. "masih satu hari lagi aku bertahan besuk kita akan bersama" elus rambut Pram. "maafkan aku kak" pegang pipi Kaila, Pram tersenyum mengelus punggung tangan Kaila dan mengecupnya berulang-kali. "maafkan aku juga honey, aku telah berlaku tidak adil padamu, kupikir dengan tidak melibatkanmu, kamu tidak apa-apa. ternyata pemikiran ku salah. dirimu malah tersiksa didalam" duduk Pram disamping tempat tidur.


"mulai sekarang jangan main rahasia lagi kak, katakan padaku apapun itu. kita berdua yang menjalani sampai akhir nanti, bukan orang lain. jika kita saling merahasiakan sesuatu akan buruk pada akhirnya" pandang Kaila. Pram mengangguk " aku akan mengatakan apapun padamu honey, aku sadar kamu juga tidak memaksaku mengatakannya bukan karena tidak peduli, tapi dirimu lebih menghargai ku sebagai laki-laki" senyum Pram. Kaila bangun dan memeluk Pram hangat.


"sebenarnya saat kakak melihatku pertama kali, aku juga merasa menyukaimu lebih dari seorang dosen" kata Kaila pelan. "what" lepas pelukan Pram menatap Kaila, "kenapa nggak bilang Kai" tanya Pram terkejut. "bilang apa,, buat apa" bingung Kaila tidak mengerti apa yang saat itu harus dilakukan. "iya.... ya..... kita kan tidak ada hubungan dan kedekatan apapun saat itu" garuk-garuk kepala Pram bingung. "terus kenapa kamu sangat sedih pisah dengan Arga" tanya Pram cepat. "sakit. itu pertama kali merasakan sakit dihati yang teramat sangat sakit" jawab Kaila, Pram memeluk Kaila.


"jadi jika aku tidak ragu menyatakan cinta padamu mungkin kamu akan putus dengan baik-baik" kata Pram. "tidak juga, mungkin aku akan mengambil cuti dari kampus dulu untuk menghindari mu" geleng Kaila, Pram menatap Kaila heran. "aku tidak suka sifat mu yang terlalu dominan kak, makanya aku sebisa mungkin menghindari mu" ucap Kaila pelan. "tapi sayangnya kamu justru selalu berusaha membuatku tergantung padamu" hela nafas Kaila. "apa aku yang dominan itu sangat mengganggumu " tanya Pram, Kaila mengangguk. "kenapa" tanya Pram menanti jawaban Kaila yang menggelengkan kepalanya menghindari pertanyaan Pram.


"aku mau tidur kak, ritme tidurku agak kacau belakangan ini" rebahkan tubuh Kaila untuk mencoba tidur. Pram mengecup kening Kaila tidak bisa memaksanya mengatakan alasannya. ia sudah cukup bahagia saat tahu bahwa calon istrinya juga menyukai nya sejak dulu, "sweet dreams my sweetie" ucap Pram menyelimuti tubuh Kaila dengan cover bed dan melangkah ke sofa dan mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2