
keluarga Prayoga menikmati acara berkumpul mereka dengan tawa dan canda. Kaila selalu tertawa lebar saat mengobrol dengan orang-orang terdekatnya, dia selalu tersenyum dengan sumringah saat melihat mereka yang terlihat ceria. Pram selalu berada disamping istrinya memastikan agar baik-baik saja. "by, aku ingin makan jagung bakar" tunjuk Kaila, Pram mengangguk beranjak menuju makanan yang dimaksud Kaila. "by, bisakah aku mengabadikan moment dengan mereka" pandang Kaila melihat pemain band yang telah beristirahat dari bermain. Pram menatap Kaila tenang "kenapa" tanya pram, Kaila tertawa pelan. "mereka menggemaskan" jawab Kalai cepat menyerobot jawaban Kaila, Arga mengangkat tangannya tanda tidak terima. "what, they are. don't be jealous. hanya mengagumi lagi yang mereka ciptakan" pandang Kalai mengangkat bahunya sedikit. Kaila mengangguk dengan ekspresi yang menekankan perkataan Kalai.
"hanya mengabadikan moment aja, nggak akan melibatkan perasaan, no hurt feeling" jawab Kaila beranjak dari tempatnya menuju para punggawa band. "perutnya udah besar gitu masih aja begitu" hela nafas Pram beranjak dari tempatnya mengikuti langkah Kaila yang terasa ringan. Davi tergelak melihat Kaila yang tidak terima dikatakan perutnya besar, ia segera mengikuti langkah para laki-laki bucin itu. "Kris" seru Davi, "ya" datang Kris segera. "ayo, kita akan mengabadikan moment bersama mereka" isyarat dagu Davi, Kris segera meletakkan makanannya dan bergabung dengan yang lain. "hei, tunggu aku" seru Arden tergesa-gesa melihat mereka akan mengabadikan moment, ia segera meraih tangan Mita untuk ikutan.
berbagai gaya dan tingkah laku mereka abadikan bersama-sama. "bisakah kita bersama-sama mengabadikan moment" pinta Kaila, "tentu saja, tidak kamu minta pun kita akan melakukannya setelah ini Kai" angguk Arden mengerti. mereka segera memposisikan diri untuk mengabadikan moment kembali. "aahh, lega rasanya kita bisa berkumpul begini, terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk datang kesini malam ini semuanya jika bisa besuk aja pulangnya, menginap disini aja" senyum Kaila saat mereka duduk melingkar.
"sebelumnya kami berdua meminta maaf kepada semuanya jika selama ini kami berdua melakukan banyak kesalahan dan kekhilafan" kata Pram, "dan juga sekalian untuk meminta ijin jika kami berdua akan tinggal diluar sementara selama Kaila melahirkan dan menunggu anak kami nanti bisa diajak kembali kesini. kami meminta doa agar nantinya Kaila dapat melahirkan dengan lancar dan ketiga jagoan kami akan keluar dengan selamat" kata Pram memandang Kaila yang mulai meneteskan airmata. "kita pasti akan berdoa untuk kelancaran persalinan Kaila nanti dan kami juga berharap kalian akan kembali lagi tinggal disini" senyum Arden, Pram menganggukkan kepalanya. Kaila meraih tissue yang disodorkan oleh Icha.
__ADS_1
"terimakasih banyak semuanya karena telah menyayangi Kaila selama ini, semoga kita bisa segera bertemu kembali dimana ada wisuda Icha dan Davi, ada wisuda Kalai, pernikahan Saka dan Icha, pernikahan Davi dan Kris dengan pasangan mereka nanti" senyum Pram, "aahh iya, mereka berdua belum menikah juga kan" ingat Mita. "ada yang direkomendasikan nggak kak" cengir Kris. "duh, maaf. belum ada yang bisa aku kenalin untuk membuat kalian menderita bucin" kata Mita, Davi dan Kris tertawa lebar. "nyari sendiri bro, kita memang harus berjuang" tepuk bahu Davi, Kris menghela nafasnya dalam.
hari sudah lebih dari dini hari, mereka beranjak untuk berisitirahat ditempat yang sudah disediakan oleh para pekerja rumah keluarga Prayoga. Pram meraih kedua bahu istrinya untuk membawanya ke ruangan pribadi mereka. Kaila menggenggam erat jemari tangan Pram saat mereka melangkah meninggalkan orang-orang terdekat mereka saat ini, box ajaib membawa mereka untuk naik ke lantai dua. Kaila segera membersihkan dirinya dan mengganti bajunya Pram memeluk istrinya erat mengusap punggung Kaila memberikan ketenangan dan kehangatan yang lebih dibutuhkan oleh Kaila saat ini, Kaila beberapa kali menghela nafasnya mengeluarkan rasa sesak yang membuatnya sakit. Pram hanya menciumi ubun-ubun kepala Kaila agar lebih tenang hingga mereka tertidur dengan pulas.
pagi hari para pekerja melakukan tugasnya dengan tenang agar tidak mengganggu para penghuni rumah yang belum lama terlelap, anak-anak Arden dibawa keluar oleh Mita dan bik Sum untuk keliling kompleks perumahan dan membeli banyak makanan tradisional kesukaan keluarga Prayoga selama ini. Kaila masih tertidur dengan nyenyak didalam pelukan Pram tanpa terusik dengan kegiatan di luar ruangan pribadi mereka. "yang, aku mau buang air kecil" lepaskan pelukan Kaila segera menuju bathroom. "aku akan kebawah mencari makanan, aku sangat lapar" tepuk pipi Kaila, Pram bergerak pelan dan kembali tertidur, Kaila melangkah keluar kamar berjalan kebawah.
Kaila berjalan disekitar halaman menggerakkan badannya agar tidak kaku. "onty" seru seorang anak kecil sambil berlari melambaikan tangannya menuju kearah Kaila. "udah pulang, beli apa" sambut Kaila memeluknya pelan. "apakah adik akan keluar sekarang" tanya nya mengusap perut Kaila, "no, masih menunggu 3 bulan lagi baru ketemu dengan adiknya, apakah mau ketemu dengan mereka nanti" kata Kaila, ia mengangguk beberapa kali, Kaila tertawa lebar mengusap kepala anak pertama Arden lembut. "ini, non" dekat seorang pekerja perempuan yang membawa buah rambutan dalam tempat buah. "makasih, letakkan disana. biar kita nanti kesana" angguk Kaila, pekerja itu segera melaksanakan permintaan Kaila dan membantu bik Sum membawa belanjaan.
__ADS_1
"mama" lambai anak Arden. Mita tersenyum menuju ke arah mereka berdua "aahh... baby girl onty yang tambah endut" dusel-dusel hidung Kaila diperut anak perempuan Arden. ia tertawa geli, "bagaimana perkembangan triplets Kai" usap perut Mita. "sejauh ini baik dan sehat kak, beratnya juga tergolong normal untuk ukuran tiga orang didalam" tawa Kaila, Mita tersenyum lebar, "aku lihat kamu kurang istirahat lho, kurangin itu perginya" topang dagu Mita, Kaila tertawa pelan membuka kulit rambutan, memberikannya kepada anak laki-laki Arden. "jika nanti ketemu mom dan dad juga pasti akan banyak dirumah kak malah membuatku bosen nanti" pandang Kaila, Mita mengangguk. "nggak ada lagi Kaila yang suka tiba-tiba kesana, trus langsung ke sini tanpa direncana kan" angguk-angguk Mita, Kaila tertawa mengangguk.
"kayaknya sekarang tambah sulit deh kak, mengingat tuh bapak-bapak selalu banyakan aturan" makan rambutan Kaila, "itu karena dia sangat sayang padamu dan ingin yang terbaik untukmu" senyum Mita, "hhmm, tapi terkadang itu membuatku serasa hanya punya tanah sepetak kak, nggak ada lagi bumi yang bulat" angguk Kaila, Mita tertawa kecil, "onty, mau lagi" kata anak Arden, "tentu sayang" angguk Kaila, salah seorang pekerja rumah mendekat dan membantu Kaila untuk mengupas kulit rambutan sehingga mereka mudah untuk segera memakannya.
"enak nih rambutannya" datang ayah mengusap kepala anak Arden dan duduk disebelahnya. Kaila mengangguk tersenyum, "untung berbuah yah, jadi bisa ngerasain duluan" makan Kaila. "jangan banyak-banyak lho, sakit perut nih. pagi-pagi" ingatkan ayah. Kaila mengangguk pelan. "besuk berangkat jam berapa" tanya Mita, "nggak tau kak, kata kak Pram terserah akunya mau berangkat jam berapa" geleng Kaila pelan. "aahh, lupa jika kalian bisa berangkat sendiri" tepuk kening Mita, Kaila tersenyum. "itu karena jika terlalu lama transit akan membuatku tidak nyaman kak" jawab Kaila pelan.
"yang" panggil Pram mencari keberadaan Kaila, "aku di meja makan" seru Kaila, Pram segera beranjak menuju ruang tengah keluarga Prayoga. bik Sum menyodorkan kopi hitam panas untuk tuan mudanya, Kaila sedang memakan salad buah. "belum pada bangun" tanya Pram, "sudah, ada yang baru diteras, nge gym, tuh manjat pohon rambutan yang berbuah" jawab Kaila memberi isyarat dengan dagunya. Pram mencium pipi Kaila yang chubby, "aku mau lihat dulu" jalan Pram ke depan rumah. Kaila tertawa melihat suaminya yang berlari pelan kedepan.
__ADS_1
hari itu semua orang masih berkumpul dikediaman Prayoga menikmati hari terakhir mereka dapat berkumpul seperti ini. "jangan lupa masih ingat pulang" celutuk Kris, Kaila memberi tanda Ok dengan jemarinya, "nunggu kalian nikahan pasti akan langsung pulang, tenang aja" senyum smirk Kaila menaik turunkan alisnya. "masih ada Icha, Davi dan Kris" hitung Arden, "aisshh, kenapa harus di ingat sih kak, aku aja lupa lho" pandang Davi, "iya, saking lupanya. tidak tau gadis mana yang di incar, saking banyaknya" topang dagu Kaila, Davi tertawa. "karena mencari yang pas takarannya Kai makanya harus bisa melihat dengan jeli" senyum smirk Davi, Kaila memutar bola matanya jengah, "ya, ya, ya" hela nafas Kaila.