Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 94


__ADS_3

Kaila melihat langit yang terlihat mendung, awan hitam berarak bergerak dengan teratur menutupi langit yang semula berwarna biru cerah, suara gelegar petir saling menyambar dan seperti memanggil satu sama lainnya. dari balik kaca jendela rumah sakit, dia melihat semuanya dengan jelas. Pram yang tidur dengan nyenyak disampingnya sama sekali tidak terganggu dengan semua itu.


Kaila menghela nafasnya panjang, dengan gerakan pelan, membuka cover bed yang menutupi sebagian tubuh bawahnya. dipegangnya dengan erat perut yang membawa ketiga bayi mungilnya bersama selama beberapa bulan ini dan sebentar lagi mereka akan keluar untuk melihat dunia.


waktu menunjukkan jam 2 pagi, Zivannya menuju bathroom ruangan pasien yang dari kemarin ditempatinya, berjalan keluar dengan pelan sambil meraih outer panjang untuk menutupi tubuhnya agar tidak kedinginan. ia melihat penjaganya sedang mengobrol satu dengan yang lainnya, mereka melihat Kaila dan segera berdiri dengan tegak menghampiri Kaila. "aku ingin jalan-jalan, nggak bisa tidur. jadi biarkan kita jalan sebentar, siapa yang menemaniku" senyum Kaila menatap ke empat penjaga yang menemani mereka dirumah sakit. dua orang penjaga segera maju dan menemani Kaila berjalan pelan menyusuri rumah sakit.


"let's walk my children. don't make noise. if you guys want to play then let's play four ok triplets" elus perut Kaila yang terlihat bersemangat membawa anak-anak nya berkeliling karena tidak bisa tidur lagi. kedua penjaga berada dikedua sisi Kaila yang berjalan dengan pelan.


"Kak, apa kalian tambahan" tanya Kaila bertanya dengan pelan. "iya, non" angguknya pelan. "pasti berat meninggalkan keluarga di waktu begini, di waktu seharusnya tidur bersama mereka bukan" tanya Kaila.


"kami sudah biasa non, karena tuntutan pekerjaan jadi mau malam atau pagi tidak masalah buat kami" geleng nya tersenyum. Kaila mengangguk, "kita berjalan kebawah kak, melihat semuanya" pandang Kaila, "apa nona tidak kecapekan nanti. saya takut nona kenapa-kenapa" pandangnya sesaat. Kaila tersenyum lebar. "it's Ok, aku nggak papa, beritahu aku jika suamiku mencari agar tidak terjadi keributan" geleng Kaila, mereka mengangguk mengerti karena sudah diberitahu sebelum membantu pengawalan Kaila, bagaimana keluarga mereka dan kebiasaan keluarga yang mereka jaga.


Kaila sesekali menghirup udara dengan cepat, "apa kita ambilkan kursi roda non" tanya penjaganya. "tidak perlu, kak. aku baik-baik saja, jika aku merasa tidak kuat, aku akan bilang. apakah itu bisa" toleh Kaila, "baik non" angguknya pelan. Kaila berjalan menyusuri koridor yang terlihat sepi, ponsel penjaganya berbunyi. "berikan padaku kak" angsur tangan Kaila kedepan menerima ponsel penjaganya. "aku ada di koridor belum jauh kesini kalo mau menemani" kata Kaila memberitahu suaminya sebelum Pram memberikan komentar.


"tunggu aku sebentar" kata Pram menghela nafasnya, Kaila mematikan panggilan. "dia terlalu kuatir jika aku kenapa-kenapa, jadi maafkan jika terlalu berlebihan" kata Kaila. "kami mengerti, non" angguknya. Pram terlihat berjalan cepat menuju kearah Kaila. "don't push your body too much, honey" elus kepala Pram setelah dekat. "hmmm..." senyum Kaila "ayo kita jalan suamiku, sebentar lagi suasana ini akan membuatku merasa kan kerinduan yang teramat sangat, jangan melarang ku untuk kembali" pandang Kaila, Pram tersenyum memeluk bahu perempuan yang sangat dicintainya, sekarang dia sedang membawa ketiga jagoannya untuk berjalan-jalan keliling sebentar.


"yaayy kita pulang nak, senang banget mommy pulang" ujar Kaila mengajak bicara ketiga puteranya didalam, Kaila menghembuskan nafasnya melihat kedua penjaganya membawa tas yang berisi keperluan Kaila dan Pram selama dirumah sakit. "tuan Pram belum sampai ke rumah sakit non. apakah kita menunggu atau langsung pulang saja ke rumah" tanya penjaganya menundukkan kepala melapor kepada Kaila, "kak, tatap mataku saat berbicara denganku, kamu bukan bawahan ku, kamu penjagaku yang harus dengan teliti melihatku setiap saat" pandang Kaila. "maafkan saya non, lain kali tidak akan terjadi lagi" tatapnya sesaat. "hmmm aku mengerti kak, terimakasih sudah menanyakan hal itu, sebentar aku hubungi dia dulu" kata Kaila meraih ponsel yang berada disampingnya.


"hallo by" salam Kaila.


"honey, aku ada urusan penting sebentar, jika kamu sudah boleh pulang. maka pulanglah dengan pengawalan mereka semua, tidak boleh kurang sedikitpun" kata Pram tegas.

__ADS_1


"baik. jangan terburu-buru, selesaikan semuanya dengan baik. aku akan pulang sekarang" kata Kaila.


"baik, hati-hati dijalan. jangan mampir kemanapun, aku tidak mau terjadi sesuatu" kata Pram.


"baik, aku pulang sekarang" tutup Kaila menghela nafasnya panjang menatap penjaganya.


"apa sudah selesai semuanya kak" tanya Kaila. "sudah, non. tinggal menunggu perintah dari nona mau kapan pulangnya" jawab penjaga, Kaila tersenyum. "ayo kak, kita pulang sekarang. jika terlalu lama disini membuatku bosan, semuanya putih" kata Kaila beranjak dari tepi bed pasien. Kaila berjalan dengan flatshoes yang berdetak pelan dilantai, disebelah kanan kirinya terdapat penjaga yang selalu menemaninya kemana saja, dibelakangnya dua penjaga lain berada dibelakangnya membawa tas jinjing, dua didepan telah menyisir lokasi sebelum dia lewat. terkadang penjaga bayangan selalu mengintainya kemana saja. Kaila berjalan dengan santai dan terlihat nyaman dengan keadaan.


beberapa orang melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kaila sedikit menyunggingkan senyum disudut bibir ketika melewati mereka, jika boleh memilih maka dia akan menjadi orang biasa saja tanpa penjaga yang mengelilinginya. tapi takdir memilihnya untuk memberi orang lain lebih banyak pekerjaan agar bisa menghidupi keluarganya. betapa ia juga merindukan masa-masa dimana ia harus berdesakan di angkot, terburu-buru mengendarai mobil untuk ke kampus, naik mobil bak terbuka saat mendaki. semua kilasan masa lalu membuat Kaila ingin kembali mengulangnya.


mobil melaju dengan pelan, agar Kaila merasakan kenyamanan dalam perjalanan. "kak, nggak usah lebay. kamu bukan membawa orang punya penyakit kronis, cepat aja" hela nafas Kaila, penjaganya tertawa lebar, "baik non, jangan lupa tuan Pram dihubungi dulu" pandangnya dari reflektor mirror. "iya, tenang aja" tawa Kaila melihat jalanan ibukota yang sudah padat, mobil melaju dengan agak cepat. beberapa kali ponselnya berdering memberitahu ada panggilan dari Pram. "non.... tadi kan udah janji mau menghubungi tuan Pram" tanya penjaga pelan, Kaila tersenyum melihat panggilan Pram yang masih saja menghubunginya.


"ada apa" angkat Kaila akhirnya.


"tidak honey, aku hanya ingin melihat kecantikan mu disaat ini" senyum Pram lebar, Kaila memutar bola matanya melihat suaminya yang tidak bisa berkutik jika sudah begini.


"hubby ..."panggil Kaila lembut, "hmmm... mau apa" tatap Pram segera tahu jika istrinya sudah menurunkan modenya.


"bisakah mengurangi penjagaan ku" pandang Kaila, Pram menatap istrinya. "baik, ada lagi sayangku" senyum Pram mengangguk. "hanya dua saja, bisakah" tanya Kaila merajuk. "bisa, honey. mereka tidak akan terlihat olehmu, ada lagi" tanya Pram. "aku ingin melihat kampus dan makan dikantin" jawab Kaila.


"oke, apa mau sekarang kesana" tanya Pram mengangguk menatap istrinya yang terlihat sumringah.

__ADS_1


"bolehkah by... sekarang boleh" tanya Kaila antusias. Pram tersenyum mengangguk, "hati-hati dijalan honey, jika aku sudah selesai akan menyusul mu" angguk Pram, Kaila menganggukkan kepalanya segera menutup ponselnya. "kita ke kampus kak. udah di ijinin" kata Kaila. "baik, non. kita langsung meluncur" seru penjaganya, Kaila tertawa lebar. "kenapa malah kamu yang semangat" topang dagu Kaila di sisi jendela.


"kan belum pernah ke kampus keren selama sama nona" kata penjaganya. "ishh memangnya aku nggak tau kamu selalu disekitar ku saat aku kuliah" jawab Kaila, penjaganya tertawa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "menjalankan tugas non" katanya pelan. Kaila tersenyum, "mobil belakang hanya mengantar sampai depan kampus non, setelah itu akan pergi" lapor penjaganya, Kaila mengangguk pelan. mobil memasuki kampus yang terlihat ramai, Kaila turun dari mobil dan melihat sekitar. "aahhh.... jadi kangen pingin kuliah lagi" kata Kaila berjalan pelan. "kuliah lagi aja non, nanti biar saya temani" kata penjaganya, "Kaila tertawa pelan. "makasih kak, entar kalo triplets udah agak gede, aku ingin kuliah lagi" angguknya.


Icha melambaikan tangannya melihat Kaila. "kenapa kamu ada disini" tanya Kaila heran. "maksudmu aku nggak boleh ke kampus sendiri, lah situ yang pengangguran. gue mah kagak" lagak Icha, mereka tertawa lebar. "aishh pingin kuliah lagi kalo gini" kata Kaila melihat sekeliling. "kita kembali saat mereka sudah keluar dan dapat bermain Kai, kita berdua akan kesini lagi" jawab Icha antusias. "hmmmm angguk Kaila, "mau makan apa aja" tanya Icha, "makan apa aja yang penting ada di meja" jawab Kaila. Icha mengangguk dan segera memesan beberapa makanan.


"aahhh makasih kak" kata Kaila mengambil cokelat dingin dari tangan penjaganya menyeruputnya segera, "duduk disini kak, kita makan bareng" pandang Kaila, kedua penjaganya mengangguk dan duduk didepan Kaila, salah satunya segera berdiri dan membantu Icha membawa makanan pesanan nona nya. "aiihhh bakso" semangat Kaila melihat kuah bakso dan segera memberi sambal yang menggugah selera, Icha juga melakukan hal yang sama. "tadi aku baru ke kantor dekan, dihubungi kak Saka, katanya kamu mau kesini" makan Icha, Kaila manggut-manggut menyeruput kuah baksonya. "abis dari rumkit langsung kesini, nanti kalo udah dirumah malah nggak kemana-mana lagi males kalo keluar" kata Kaila, Icha mengangguk.


"jus alpukat dong" senyum Kaila, penjaganya mengangguk dan segera membelinya. "hehehehe biasanya yang jalan Davi kalo beli gini, sekarang anaknya baru kerja. jadi merindukannya kalo gini" tawa Kaila pelan. "hahahaha iya, nggak ada dia nggak seru" tutup mulut Icha agar tidak tertawa keras. Kaila memakan baksonya dengan lahap, penjaganya datang dengan membawa dua buah alpukat dingin. "makasih kak" angguk Kaila menyeruput alpukat kocoknya, "bagaimana triplet" tanya Icha, "baik aunty, kita senang saat mommy senang" balas Kaila mengelus ketiga jagoannya. Icha tertawa lebar mereka mengobrol dengan heboh, beberapa mahasiswa memandang mereka yang terlihat berbeda sedang berada dilingkungan kampus, penjaga Kaila sesekali mengedarkan pandangannya untuk melihat situasi sekitar.


"sudah satu jam nih, mau terus disini apa mau liat yang lain" tanya Icha, kaila tertawa ringan. "lagak mu Cha, kayak bukan mahasiswa sini aja. ke perpus yuk, pingin baca sebentar" kata Kaila, Icha menggeleng kuat-kuat. "kagak mau, kamu aja yang keseringan kesana, ke yang lainnya" jawab Icha cepat. Kaila mengerucutkan bibirnya, Icha menghela nafas membantu Kaila berdiri dan berjalan pelan, "kamu banyak makan tapi kenapa yang kelihatan perutmu aja ya Kai" tanya Icha, Kaila menepuk bahu Icha pelan. "nggak liat pipi dan bahuku gede" tanya Kaila cepat. "pipi sih iya, chubby. tapi nggak gitu amat Kai, kenapa bisa ya, apa kamu keseringan olah raga malam" celutuk Icha, Kaila tertawa tertahan "mungkin kali ya Cha, besuk kamu bisa nyoba Cha, siapa tau nggak begitu melar" pandang Kaila menanggapinya. Icha menggeplak bahu Kaila keras, "bu sakit ah" tawa Kaila yang disusul Icha yang ngakak, "apa aneh kalo bumil ke kampus, masak dari tadi diliatin aja" bisik Kaila, "nggak, mereka yang justru aneh ngeliat yang punya kampus datang dikira aneh" celutuk Icha, Kaila buru-buru meninggalkan Icha, Icha yang melihat Kaila tertawa terbahak-bahak karena sahabatnya itu melihatnya seperti orang aneh. Icha berlari kecil mengejar Kaila yang berada didepannya.


"Kai" lambai Kalai dari jauh. mereka menoleh dan berhenti ketika melihat Kalai yang juga berlarian ke arah mereka. "apa ini kerjaan nya Pramudya Bagaskara" pandang Kaila melihat mereka berdua. "ish kurang kerjaan banget kalo nurutin Pram mah" sungut Kalai melihat Kaila, mereka berjalan ke perpus. "aku lewat sini tadi abis praktek, ada mobilmu diparkiran langsung aku masuk aja. aku kira kamu langsung pulang, ini aku mau langsung pulang sebenarnya menemanimu dirumah, ternyata nyasar disini" kata Kalai. "nggak nyasar, tadi udah di ijinin sama tuan Pram, karena ngancam mau naik motor kalo nggak ngebolehin" senyum Kaila, mereka bertiga tertawa lebar dengan pengawalan yang ketat.


Kaila melihat beberapa koleksi novel yang ada di rak buku, Kalai dan Icha melihat majalah yang ada dimeja.


"habis ini mau kemana" bisik Kalai, "emangnya punya ijin untuk keluar rumah" tatap Icha berbisik, Kalai menggeleng. mereka tertawa ditahan, "abis makan ya kalian" tanya Kalai, Icha mengangguk. "bumil itu nggak sadar ya, kalo kemarin kelelahan dan harus bed rest, sekarang udah kemana-mana lagi" hembus nafas Kalai, Icha mengangkat bahunya tanda tidak bisa melarang Kaila melakukan keinginannya. "kalo dilarang takut malah bikin moodnya jelek" geleng Icha, Kalai mengangguk dan menatap saudara kembarnya yang hanya perutnya yang besar, namun badannya masih seperti biasanya. "anak itu cacingan bukan sih" bisik Kalai menatap Kaila, Icha menutup mulutnya agar tidak ketawa ngakak. "ntar aku tanya sama suaminya, dikasih makan nggak, kok cacingan segede gaban gitu" angguk Icha sesaat, mereka saling memandang satu sama lain dan menutup mulutnya rapat-rapat. Kaila menatap mereka yang berisik aja.


hai.... hai.... hai.... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku yang pertama, semoga berkenan dihati, kunjungi juga karyaku "jika aku jodohmu akan menjadi milikmu"


luv.... luv..... luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.

__ADS_1


stay healthy all


__ADS_2