
Pram dan Kaila tiba dikampus, Kaila keluar lebih dulu dari dalam mobil Pram setelah perdebatan yang panjang dengan Pram didalam mobil segera menuju kelas. Pram tersenyum lebar menatap Kaila yang takut ketahuan oleh mahasiswi lainnya karena pesona Pram yang menyihir para mahasiswi untuk saling menyikut dan berebut perhatian Pram agar melirik dan melihat mereka. Pram keluar dari mobil tak lama kemudian.
"pak Pram" panggil Dewi. Pram mengepalkan tangannya pelan setelah mendengar suara Dewi yang mendesah manja.
"bareng pak" senyum Dewi melangkah disamping Pram.
"silahkan bu" angguk Pram.
Kaila masuk kelas dan melihat kehebohan yang tidak biasa diantara teman-teman perempuannya. "ada apa sih Cha kok rame" duduk Kaila didepan Icha. "mereka heboh karena mendengar mas Pram sudah punya istri" jawab Icha melihat yang lain. Kaila membelalakkan mata menatap Icha. "apa" terkejut Kaila, Icha tersenyum. "dari kemarin udah pada heboh, tuh rame dichat pada mbahas hal ini" tanya Icha. "emang nya mas Pram nggak ngomong apa-apa" topang dagu Icha menatap Kaila. "buat apa Cha, itu privasi dia" geleng Kaila mengeluarkan catatan nya.
"pagi teman-teman" masuk Pram kedalam kelas, "pagi mas" salam mereka serempak segera setelah Pram menatap mahasiswa nya. "ada apa nih pagi-pagi sudah heboh dan rame gini" kerut kening Pram melipat tangannya didepan dadanya dan menyandar di meja.
"ada berita digrup chat dari kemarin tentang mas pram" kata salah satu mahasiswi menjawab setelah banyak yang diam tidak menjawab.
"bukannya udah biasa yaa.... kalian menggosipkan saya" datar Pram menatap semuanya. seketika kelas menjadi heboh, Pram menghela nafasnya. "kali ini apa beritanya" tanya Pram duduk diatas meja.
"mas Pram sudah menikah, istrinya kemarin sakit' ujar seorang mahasiswi yang lain dengan cepat, kelas menjadi heboh kembali. Pram menatap Kaila sekilas dan melihat Kaila yang tersenyum malu.
'kalo saya udah punya istri memangnya kenapa" tanya Pram, kelas riuh mendengar jawaban Pram.
"banyak yang akan patah hati mas" celutuk mahasiswa lain.
"mendingan kalian aja yang patah hati, daripada saya yang patah hati, saya nggak mau. sakitnya tuh disini" tunjuk dada Pram.
"woooaa...." sorak sorai kelas riuh mendengar jawaban Pram yang penuh sensasi. Pram membelakangi mahasiswanya tersenyum lebar namun sayangnya mereka tidak dapat melihatnya, "by the way, kalian dapat dari mana gosip itu" balik badan Pram menatap mereka.
"staff dekan mas" jawab seseorang lagi. "bu Dewi maksudnya" tebak Pram, sebagian mahasiswa mengangguk-anggukkan kepala. "kalo begitu kalian kenapa tidak menanyakan hal itu kepadanya, tanya aja sama dia" tanya Pram tegas.
__ADS_1
"langsung narasumbernya aja mas, lebih valid" celutuk Davi, kelas kembali riuh ramai mendukung perkataan Davi, beberapa mahasiswa yang lewat kemudian ikut bergabung didepan dan sekitar pintu yang terbuka lebar. Pram terdiam sejenak. "Are you sure you want to know who my wife is" kata Pram memastikannya sebelum dia menjawab.
"ayolah mas" teriak seseorang dibelakang. kelas menjadi ramai karena tidak sabar menunggu jawaban Pram. Icha tertawa pelan, mencolek bahu Kaila dari belakang. "jangan mulai cha" toleh Kaila pelan, Icha tertawa pelan.
"saya memang belum menikah" geleng Pram. mahasiswa bersorak sorai mendengar jawaban Pram. "tapi saya masih berusaha untuk diterima menjadi calon suaminya" senyum Pram yang jarang dilihat orang selain Kaila.
"waaaa..... mas Pram tersenyum" seru beberapa mahasiswi, Kaila tersedak dan memukul dadanya pelan. "minum Kai" ujar Davi menyodorkan air mineral botol dari dalam ranselnya. Kaila segera mengambil dan meminumnya.
"kayaknya jam saya hari ini bakal habis dipakai buat sesi wawancara" geleng kepala Pram mengusap dagunya yang licin.
"biasanya mas Pram yang selalu bertanya kan, sekarang gantian kita" kata Icha tersenyum.
"baiklah..... akan saya jawab apapun itu, kalau begitu ada yang bertanya lagi" angguk Pram akhirnya.
"jika belum menikah masih bisakah menjadi kekasih mas Pram" tanya seorang mahasiswi malu-malu.
"apakah mas Pram mencintainya" tanya seseorang yang lain.
"sangat, saya jatuh cinta padanya saat pertama kali bertemu" angguk Pram tanpa keraguan didalam nya, kelas kembali ramai penuh dengan percakapan.
"apa dia juga mencintai mas Pram" tanya Icha, Pram menatap Icha yang didepannya adalah Kaila.
"hmmmm..... sebenarnya saya yakin kalo dia juga mencintai saya, karena dia hanya dekat dengan saya secara fisik. sebaiknya kamu bertanya kepadanya jika bertemu dengannya" jawab Pram sesaat, Icha terdiam mendengar jawaban Pram yang mengisyaratkan bahwa Kaila lah gadis pujaan hati Pram. Kaila menatap Pram dengan perasaan campur aduk.
"emang dia mahasiswi sini mas" tanya seseorang. Pram mengangguk. kelas seketika heboh kembali.
"saya memang kemarin bertemu dengan Bu Dewi saat sesi mengajar dikelas telah usai dan saya memang mau pulang, memang benar saya mengatakan bahwa istri saya sedang sakit karena mendapatkan hari pertama di periode bulanannya. karena memang dia yang akan menjadi istriku kelak" jawab Pram santai menatap semuanya. kelas berseru ramai mendengar statement Pram sebelum kelas benar-benar berakhir.
__ADS_1
"mas Pram benar-benar gokil" geleng kepala Icha. "ke kantin yuk Cha" pandang Kaila, "kuy" anjak Davi dari tempat duduknya. "hmmm.... aku ke toilet dulu" angguk Kaila, Davi dan Icha berbelok ke arah kantin sedangkan Kaila menuju toilet untuk membersihkan dirinya.
"udah pesen belum" tanya Kaila. "udah, pesen siomay kan" angguk Icha. "Makasih" minum Kaila, "kemarin nggak jadi ke kampus Kai" tanya Davi. "hmmmm.... ikut ke proyek ayah di Bekasi, saat perjalanan pulang dari sana tidak sampai waktunya" angguk Kaila.
"minggu depan acara anaknya kak Arden Cha, mau ikut" tanya Kaila memakan siomay nya. "pastilah, ketemu sama baby cantik" angguk Icha. "kita berangkat dari rumah" kata Kaila menatap Icha yang mengangguk mengerti. "Ok" isyarat jari Icha.
"sudah mau pulang" sapa Pram saat Kaila mengangkat panggilannya. "Iya kak" angguk Kaila cepat. "kalo begitu tunggu aku dimobil aja, ambil kuncinya di ruanganku" kata Pram. "Ok" tutup Kaila.
"huft....." hembus nafas Kaila di dalam mobil membuka lock mobil. "lama honey" masuk Pram segera, "lumayan" angguk Kaila menyandarkan kepalanya ke head rest. "maaf, kelasnya molor sebentar karena ada materi yang harus dibagikan" usap kepala Pram melajukan mobil meninggalkan kampus, "honey, aku mau ngumpul bareng temen-temen. mau ikut" tanya Pram menoleh. "tidak kak, aku ingin tidur" geleng Kaila memejamkan mata. "Ok" angguk Pram mengerti. "makasih kak" lepas seat belt Kaila saat sudah tiba dirumah, "aku nggak bisa kak" hela nafas Kaila. Pram tersenyum melepas seat beltnya, meraih tengkuk Kaila dan menciumnya dengan lembut, "luv U" senyum Pram mengusap bibir Kaila yang penuh jejak mereka, Kaila menggelengkan kepalanya, keluar dari mobil segera. "Ayah udah pulang" liat Kaila ketika mendapati ayah berada diruang tengah. "ya, masalahnya lebih cepat ditangani oleh Kris" angguk Ayah. "makan diluar yuk" ajak Ayah tersenyum. "siap yah, Kaila mandi dulu" angguk Kaila menuju kamarnya.
"dah pulang Kai" turun Kalai dari lantai atas melihat Kaila yang datang. "he em....." angguk Kaila masuk kedalam kamarnya, Kalai mengikuti dari belakang. "kak Arga belum pulang" tanya Kaila melepas sneakers nya dan menaruh di box sepatu. "udah, baru mandi" angguk Kalai duduk ditepi ranjang Kaila, "bagaimana perkembangannya dengan Pram" naik turun alis mata Kalai, Kaila tertawa kecil. "emang kenapa dengannya, biasa-biasa aja Kal" duduk Kaila disamping Kalai, "yaaa..... yaa......" senyum-senyum Kalai. "hmmmm..... selangkah lebih maju sebelum ke proyek ayah" senyum Kaila. "apa kamu bahagia jalan dengannya" senyum Kalai menatap saudara kembarnya. "sejauh ini aku ngerasa nyaman" angguk Kaila mengangguk.
"lebih nyaman mana jalan dengan Arga atau dengan Pram" senyum Kalai. "sangat, jauh berbeda" tawa Kaila mengangguk. "aku minta maaf Kai, itu terjadi begitu saja. aku tidak bisa mencegahnya" ungkap Kalai meraih tangan Kaila, "no, jangan seperti itu Kal, aku tidak merasa ada sebuah kesalahan dengan hubungan kalian, jika aku merasa sedih itu karena kamu tidak mengatakannya padaku bahwa kamu punya perasaan terhadap kak Arga, seperti aku bukan bagian dari dirimu Kal. aku justru senang dan bahagia saudaraku memiliki suami yang aku tahu pasti siapa orangnya dan bagaimana sifat baiknya selama ini" geleng Kaila. "kamu juga tahu bagaimana hubunganku dengan kak Arga bukan, kami hanya saling membutuhkan bukan karena kami benar-benar saling mencintai satu sama lain, hanya karena kita nyaman berteman. itu aja Kal...." peluk Kaila mengusap punggung Kalai.
"perasaan itu tidak bisa dipaksa kan Kal...... hanya akan membuat kita semua sama-sama terluka" senyum Kaila menatap saudara kembarnya. "Pram membuatku nyaman, dan dia lelaki yang baik dan Arga bukan laki-laki yang tepat untukku, aku tidak apa-apa, kita baik-baik saja" pandang Kaila. "jika kau dan Arga tidak menikah, aku juga tidak akan bertemu Pram kan dan aku tidak akan melihat laki-laki lain karena sudah terlalu nyaman, Pram mencintai ku tanpa syarat Kal" kata Kaila tersenyum, Kalai tersenyum mengangguk. "sakit dihati itu pasti karena kamu tidak mau jujur padaku mengenai perasaanmu, aku malah merasa sedikit jahat padamu karena tidak tau perasaanmu dan Arga.
tapi itu tidak berlangsung lama, aku benar-benar sudah melupakan yang terjadi" pegang tangan Kaila. "kamu harus bahagia juga Kai, seperti aku juga sangat bahagia" senyum Kalai menghapus airmatanya. "tentu, kita berdua harus bahagia. aku juga mulai terbiasa dengan sikap cueknya Pram" senyum Kaila menghapus airmata, mereka saling berpelukan erat.
"ayah senang melihat kalian begitu, ayah bangga mempunyai putri seperti kalian" peluk Ayah tersenyum tiba-tiba datang. "aahhh...... ayah" peluk mereka erat tertawa. "kalian adalah anugerah terindah yang ayah miliki" kecup ayah diubun-ubun rambut kedua putrinya. "ayah juga yang terbaik" kecup pipi Kaila dan Kalai, mereka tertawa bahagia. "udah ah, aku mau mandi dulu. kemarin aku mendapat hari pertama periode ku saat perjalanan pulang dari proyek Ayah" hapus airmata Kaila, "terus kamu seharian, tidur dimana, kemarin kamu tidak pulang" berondong pertanyaan Kalai. "nanya itu satu-satu Kal, kayak kereta api" manyun Kaila. "Pram membawaku ke apartement nya karena jaraknya lebih dekat, aku tidur seharian disana. dia pergi mengajar hingga sore hari malah ada kejadian lucu ketika aku meminta Pram membelikan pembalut, dia membeli semua merk, bayangkan..... pembalut segitu banyaknya sekantong gede" tawa Kaila menggelengkan kepalanya mengingat ekspresi Pram saat itu, Kalai tertawa.
"pingin marah tapi tenaga nggak ada, liat dia panik kayak gitu jadi merasa bersalah. aku jadi pasrah aja liat dia yang panik nggak karuan nggak bisa ngomong apa-apa lagi" angkat tangan Kaila sambil tertawa. Kalai tertawa terbahak-bahak membuat ayah tertular untuk tertawa. "nggak mbayangin gimana mukanya Pram saat beli pembalut begitu banyak" tawa Kalai, Kaila mengangguk, mereka tertawa ngakak. "bener... bener... dia bilang sendiri kalo berasa kayak alien dipandangi orang-orang" tawa Kaila sampai menangis.
"pasti dia juga nggak tenang selama ngajar dikampus" kata ayah. "katanya sih iya.... yah, kayak orang linglung. pas pulang dia cerita, uring-uringan" angguk Kaila. "udah terima kasih belum sama Pram" elus kepala ayah. "belum yah" garuk-garuk kepala Kaila. "kebiasaan, udah ah..... mandi sana, bau tau... trus kita berangkat" berdiri Ayah. "siap komandan" hormat Kaila nyengir, Kalai dan ayah segera keluar dari kamar Kaila, ia melangkah ke bathroom untuk membersihkan dirinya setelah beraktifitas seharian. dia melihat tubuhnya yang terlihat sedikit kurus, menghela nafasnya panjang, peristiwa yang terjadi beberapa bulan ini membuat hidupnya tidak teratur, kesedihan karena pengkhianatan, pingin pergi jauh dari rumah disaat seperti ini sangat kuat didalam hatinya, rasanya ingin menghilang dan tidak kembali lagi, hanya ingin sendiri dulu melepas semua beban dan rasa yang ada didalam jiwa.
hai..... hai..... hai..... all readers terimakasih telah berkunjung ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya.
luv..... luv ..... luv..... U all readers sekebon pisang goreng, terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
stay healthy all