Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 25


__ADS_3

"teman-teman, kita lanjutkan perjalanan, sedikit lagi kita sampai dipuncak" semangat Erlangga sang leader. mereka mulai kembali ke tempat masing-masing, berjalan kembali menapaki jalan setapak dimana kabutnya semakin tebal dan cuaca yang semakin dingin. "puncaknya sudah terlihat" lihat Davi, Kaila menatap kedepan sambil mengatur nafas yang sudah mulai berat.


puncak gunung Merbabu


"aaahhh...." seru mereka sesaat setelah sampai dipuncak, Kaila melepaskan tas gunungnya dan duduk bersandar dengan tas yang berada dibelakang. "syukurlah kita sampai dengan selamat kepuncak semoga turun juga selamat" harap Kaila memejamkan matanya, mereka mengamini "sekarang jam 3 pagi, kita masih bisa menyaksikan fajar disini" hirup udara Davi. "apa kita akan mendirikan tenda disini" tanya Bram. "kita lihat fajar menyingsing dulu aja sambil melihat kondisi alam dan teman-teman yang lain, apa kata leader aja menurutku" pandang Kaila menyampaikan pendapatnya. "baiklah" rebahan Bram disamping Davi.


"kuasa Tuhan memang tiada Tara. nikmat mana lagi yang kau dusta kan wahai manusia" nikmati Bram menatap kemunculan Matahari yang tampak malu-malu, "kita adalah makhluk yang sombong, jarang bersyukur tapi meminta yang terbaik" hela nafas Erlangga. "kita kelihatan kecil tapi selalu sesumbar besar, lihatlah betapa piciknya kita manusia yang menganggap diri paling hebat lebih dari yang lainnya" kata Erlangga lagi, Kaila menghapus air mata yang tidak tahu sejak kapan menetes. "amazing view" senyum Kaila melihat fajar di ufuk timur yang perlahan merangkak naik. "tiada tara" angguk Davi, mereka menoleh dan tertawa kecil. "hhhmmm..... nggak akan tergantikan moment seperti ini" hembus nafas Kaila.


"banyak banget yang sudah sampai dipuncak, hingga lumayan penuh" lihat sekitar Bram. Kaila mengeluarkan gula merah, menggigitnya pelan. "mau Wen" sodor Kaila, Weni mengambil bongkahan kecil. Kaila meletakkan bungkusan gula merah ditengah-tengah mereka, satu persatu teman-teman mulai mengambil bongkahan kecil-kecil gula merah. "selalu bawa ini Kai" tanya Weni. "iya, setelah beberapa waktu ikut naik gunung, ada seorang senior yang memberitahu keistimewaan gula merah" angguk Kaila, "teman-teman, sepertinya cuaca berubah dengan cepat" lihat Erlangga.


Mereka mulai mengemasi barang-barang yang berada diluar. "Dav, barang mu" letak Kaila cepat di ransel gunung Davi, Kaila mengeluarkan mantel hujan dan lapisan anti air ransel gunung, Davi membantu Kaila melapisi ranselnya. Kaila memakai mantel hujannya dengan cepat setelahnya gantian membantu Davi melapisi ransel Davi dengan lapisan anti air, Davi memakai mantel hujannya.


"jika sudah selesai, mari kita bergerak turun perlahan. banyak teman-teman lain yang juga bergerak turun seperti kita" ingat Erlangga sang leader, mereka mengangguk bergerak turun beriringan dengan hati-hati. setengah perjalanan mereka lewati dengan kehati-hatian karena tiba-tiba hujan turun dengan deras membuat jalan setapak menjadi licin bercampur dengan lumpur, kabut yang menutupi pandangan mata hingga jarak pandang yang tidak bisa melihat jauh didepannya. sedikit saja mereka tidak waspada, maka dapat tergelincir disisi jurang yang pastinya curam dan terjal, mereka saling berpegangan tangan menguatkan satu sama lain. dalam keadaan hujan badai seperti ini mereka harus bergerak pelan dan bersama, mereka adalah keluarga yang saling bergantung satu dengan lainnya.


"Kai" panggil Davi memastikan keberadaan Kaila, "aku di belakangmu Dav, Bram beras di belakangku kemudian Soni" atur nafas Kaila agar selalu terjaga. "masih kuat Kai" tanya Davi, "semoga kuat Dav, kita semua" semangat Kaila mengangguk. "jangan kuatir Kai, kita lakukan apa yang masih bisa kita lakukan" semangati Bram. "tentu Bram, kita adalah tim" balas Kaila mengangguk. keadaan kembali sunyi, sepi hanya suara air hujan yang terdengar, kabut yang semakin pekat, dan dinginnya pagi sampai menusuk tulang dengan sekuat tenaga yang tersisa, mereka terus berjalan untuk turun. terdengar seseorang yang tergelincir karena terpeleset, mereka semua berhenti seketika memastikan teman mereka apakah baik-baik saja.


"Weni yang tergelincir akibat pijakan kakinya mengenai batu. sudah terkondisikan" tepuk bahu Soni yang berada dibelakang Bram. "apa kita akan berhenti dulu" tanya Kaila memastikan. "tidak, Erlangga bilang harus tetap berjalan walau pelan, kita bisa terkena hipotermia jika berhenti dalam cuaca begini" jawab Bram, mereka mulai bergerak kembali walau Weni sedikit kesusahan untuk berjalan namun mereka harus tetap melanjutkan untuk turun ke bawah. disaat akhir-akhir perjalanan, hujan mulai mereda walau masih berkabut membuat jarak pandang masih terbatas namun tidak sepekat saat sebelumnya.


"wen, masih kuat" dekati Kaila memastikan teman perempuannya akan baik-baik saja.


"masih Kai, kaki agak bengkak karena sempat tergelincir tadi waktu diatas, untung Wito segera menarik tasku" angguk Weni. "iya, aku sempat mendengar yang lain membicarakan keadaanmu" angguk Kaila. "leader kalian sangat sigap dan baik" kata Kaila, Weni tertawa. "dia dapat diandalkan" kata Weni, Kaila mengangguk tersenyum.


"kita agak melambat karena jalanku tidak bisa seperti kalian" kata Weni. "tidak apa-apa, kita satu tim. apapun keadaannya kita hadapi bersama" semangat Kaila, Weni tersenyum meringis hingga akhirnya mereka sampai di base pos paling bawah. Bram segera meletakkan tasnya dan terlentang ditanah. Kaila dan Davi hanya meluruskan kaki bersandar pada tas gunung mereka. "pengalaman yang mendebarkan lagi" senyum ceria Soni, Davi tertawa kehabisan tenaga. "kita berangkat malam, kembali menjelang petang, perjalanan yang mengesankan" ucap Bram sambil memejamkan matanya.


"kita sudah lama nggak begini kan, kegiatan kampus terlalu membuat kita terlena" hembus nafas Kaila, "Kapan lagi kita menikmati hidup jika tidak seperti ini, adrenalin hidup dan mati guys" tawa Soni sumbang. mereka berdiam selama lebih kurang dua jam lamanya dan mulai membereskan peralatan yang mereka pakai.

__ADS_1


"makan yuk" anjak Bram, mereka meninggalkan ranselnya begitu saja ditempat itu dan beranjak menuju warung yang ada didekat mereka. "mie rebus 4 dobel" pesan davi, "teh panas 4" susul Kaila.


"Icha ikut juga Kai" tanya Soni duduk dibangku panjang. "hhhmmm.... anak itu selalu ngikut" minum teh panas Kaila segera setelah dibuatkan, "kenapa nggak naik gunung sekalian" makan gorengan Soni. "ya kali.... Son, kalo ke gunung Bromo dia pasti ikutan naik" celutuk Bram. "beberapa hari kemarin dia selalu sama pria kantoran" tanya Soni. "padahal kan biasanya sendirian, kalo nggak sama elu, Kai" kata Soni memandang Kaila. "gebetannya kali" kata Davi spontan. "nanti aku tanyain sama Icha kalo ketemu" angguk Kaila memakan gorengan.


"naahh.... loe.... naksir Icha ya.... lu...." goda Davi menatap Soni. "kalo mau sih" cengir Soni sambil minum tehnya, mereka tertawa lebar. Erlangga mendekat kearah mereka ngumpul, "sini bro" geser Davi melihat Erlangga.


"Weni gimana lead" tanya Kaila. "udah mendingan" angguk Erlangga minum teh panas. "kita kembali penginapan jam 10 an ya" kata Erlangga menatap mereka berempat. "Ok, ini juga sudah jam 8 cuaca takut berubah dan angin tambah dingin" angguk Bram sambil memakan mie rebusnya "kalian satu kampus" tanya Erlangga, "iya, Davi dan Kaila satu jurusan, Soni anak teknik, aku anak komunikasi" jawab Bram. "anak sospol juga, anak HI nih" tawa Erlangga. "lha sama dengan Kaila dan Davi, cocok tuh" kata Soni tertawa melihat mereka bertiga. "taun ke berapa" tanya Erlangga, "kedua" jawab Davi. "ah.... aku tahun ketiga kalo nggak molor" tawa Erlangga, mereka tertawa pelan menikmati mie rebus yang nikmatnya tiada Tara.


"sudah naik semua" tanya Erlangga melihat rekan-rekannya satu persatu. dengan teliti. "Weni udah naik kah" tanya Kaila celingukan. "udah tuh... didekat Wito, tidak tergantikan" tawa Soni. Kaila mengangguk menyandarkan bahunya ke dinding bak terbuka yang membawa mereka menuju tempat mereka menginap, waktu menunjukkan pukul satu dini hari ketika mereka tiba di depan pagar penginapan. "kita satu kamar disebelah kanan pojok" kata Davi, Kaila mengikuti langkah Bram.


"haaaa..." hempas tubuh Kaila diatas kasur tipis yang ada didalam kamar. "aku tidur disini sebentar guys" pejam mata Kaila yang terasa berat, Bram tidur dibawah bersama dengan Soni dan Davi tanpa alas apapun saking lelahnya. hari beranjak sore, mereka masih tertidur dengan nyenyak, tidak ada yang bergerak sama sekali, Kaila bergerak pelan, terbangun, duduk melihat teman-temannya yang lain masih tertidur dengan lelap,ia bergerak kekamar mandi untuk buang air kecil, keluar kamar untuk menghirup udara yang segar. "belum pada bangun Kai" pandang Erlangga dibangku depan. "belum" duduk Kaila disamping Erlangga yang terlihat lelah. "yang lain juga lang" tanya Kaila melihat sekitarnya yang sepi. "he em... sama, mungkin karena marathon pulang pergi" angguk Erlangga.


"hobi naik juga kamu Kai" tanya Erlangga, "iseng sih dulu, ngerasain naik pertama karena sombong menganggap kayak gini tuh hal yang kecil" senyum Kaila mengingat awal mulanya dia mendaki. "yang ku anggap kecil, ternyata membuatku tidak bisa berpaling" geleng-geleng kepala Kaila tersenyum letih. "ternyata sangat-sangat jauh menyenangkan ketika bersama teman-teman tiba dipuncak. ada perasaan berbeda, yang nggak bisa diungkapkan kamu tau kan Lang" pandang Kaila menatap Erlangga. "ya" angguk-angguk Erlangga mengerti.


"makasih banyak Lang, sudah menjadi salah satu leader terbaik yang pernah aku temui" jabat Kaila, "sama-sama Kai, aku juga senang bisa mengenalmu jika ada kesempatan lain akan aku kabari, siapa tau kamu berminat" jabat erat Erlangga. "tentu saja, jika Tuhan mengijinkan, aku akan ikut" angguk Kaila tersenyum. "apa selalu dengan Davi" tanya Erlangga. "hampir selalu, dengan Bram juga" angguk Kaila. "apa kalian sepasang kekasih" tanya Erlangga pelan, Kaila tersenyum menggelengkan kepalanya "kita sahabat dekat dari sekolah" jawab Kaila, "boleh kapan-kapan aku berkunjung ke kampus kalian jadi bisa sebelumnya menghubungimu dulu" tanya Erlangga, "tentu" angguk Kaila memberikan code nomernya. "makasih" senyum Erlangga menyimpan code nomer Kaila segera diponselnya.


"dah mandi Kai" lihat sekilas Soni dalam jeda tidurnya. "he em, gantian sana kita harus keluar malam ini kan" kata Kaila. "iya" angguk Soni kekamar mandi. "Bram.... Dav..." tepuk-tepuk kaki Kaila. "hmmm... ada apa" kata Bram serak. "ini udah hampir jam 8 malam, kita harus keluar dari penginapan" kata Kaila, Bram segera duduk dan mengerjapkan matanya. "udah malam" tanya Bram. ia"iya karena kita tidur seharian, kita juga harus cari makan dan pulang ke Jakarta" beres-beres perlengkapan Kaila, Davi terbangun mendengar percakapan mereka. "aku belum bayar penginapan kita" ingat Davi. "saat kita keluar aja nanti, nyari kendaraan buat kita ke jogja sekalian. kan naik kereta lagi" angguk Kaila, "yang dikamar mandi siapa" tanya Davi.


"Soni, barusan bangun juga" jawab Kaila meletakkan tasnya dipojokan, "aku hubungi Icha dulu" pandang Kaila, Davi pindah tidur ke tempat tidur.


"hallo Cha" salam Kaila.


"akhirnya kamu menghubungi ku juga Kai" heboh Icha membuat Kaila menjauhkan ponsel dari telinganya.


"kamu ada dimana" tanya Kaila setelah beberapa saat.

__ADS_1


"baru disekitaran Malioboro, Kai" jawab Icha.


"mungkin kita sampai Jogja malam banget Cha, ini anak-anak masih pada ngantri mandi" jawab Kaila.


"lho... harusnya turun malam ini kan Kai, kenapa jadi udah pada antri mandi" kerut Icha baru sadar, Kaila menghela nafas panjang.


"abis kita sampai puncak, 2-3 jam kemudian ada hujan badai diatas" kata Kaila memberitahu.


"apa.... kamu gimana.... ada yang sakit nggak.... anak-anak yang lain gimana....." panik Icha mengetahui cerita Kaila.


"Icha" seru Kaila, Icha seketika terdiam. "aku dan yang lain baik-baik aja. kita dengan teman-teman dari Surabaya juga baik-baik aja" jawab Kaila. "syukurlah" ucap Icha lega. "nanti Bram, Davi, Soni dan aku akan berangkat ke Jogja dari Magelang paling lambat jam 10 an deh. tergantung dapet nggaknya kendaraan yang ngangkut kita ke Jogja" jelas Kaila.


"woke" angguk Icha.


"nah, aku masti in, sesampainya kita disana mau langsung pulang ato nggak" tanya Kaila. Icha terdiam agak lama.


hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..


selamat menikmati cerita pertama kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.


ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...


dukung yaaa... karya pertama ku.


love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..

__ADS_1


thanks a lot pisang sekebon...😘


__ADS_2