
Kaila menatap sahabatnya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan "bentar-bentar Cha, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, apa yang sebenarnya terjadi saat kecelakaan itu terjadi memang ada hubungannya kah" tanya Kaila merasakan tubuhnya lemas, seperti tidak mempunyai tulang. "apa yang sedang kalian bicarakan, aku sama sekali belum memahaminya, adakah yang tidak aku mengerti" tanya Pram menyela pembicaraan diantara mereka. "tidak ada yang penting Pram, hanya saling bercerita. kemarin aku mengobrol banyak dengan Icha termasuk kecelakaan Tara di Bandung tiga tahun lalu, akibat ber singggungan dengan truk yang berlawanan arah dan ada sebuah mobil yang berada disisi motor Tara yang mengalami kecelakaan yang sama dengan Tara, saat kita mengobrol tentang hal itu kita mengira yang didalam mobil itu adalah momi nya Kaila" jelas Saka, Pram dan Kaila saling berpandangan satu dengan yang lainnya tanpa berkata-kata.
"apa kamu yakin dengan hal itu, apa ada hal yang tidak aku mengerti, Ka" tanya Pram menatap sepupunya tajam. "aku tidak tahu dengan pasti, kita hanya mengaitkan satu sama lain saat peristiwa itu terjadi. kita hanya asal bicara dan mengasumsikan nya sendiri" geleng Saka. Kaila segera berdiri "aku ingin pulang" ucap Kaila cepat. Icha segera memegang tangan Kaila, "kita tidak tahu kebenarannya Kai, jangan terlalu ber asumsi yang tidak-tidak. jangan berpikir yang membuatmu malah bikin dirimu terluka" pandang Icha, Kaila memegang kepalanya yang terasa pening dan berat. "Kak, pulang sekarang" seru Icha membuyarkan lamunan Pram dan Saka yang segera tersadar dan mencari penjaga tersembunyi Kaila, Icha memapah bahu Kaila yang lemas, Pram mengangkat tubuh Kaila dan berlari menuju mobil yang dikendarai penjaga tersembunyi.
Pram menaruh tubuh Kaila dan duduk disebelahnya memeluknya erat, Saka menutup pintu dan memberi perintah untuk menuju kediaman Bagaskara, mobil segera bergerak dengan cepat, sebuah mobil lain dengan cepat berhenti didepan Saka, seseorang keluar dari mobil dan memberi hormat kepada Saka. "urus semuanya segera" pandang Saka tajam, orang itu mengangguk hormat. Saka membuka pintu penumpang dan menarik tangan Icha untuk masuk. Icha hanya menurut apa yang dilakukan Saka tanpa bertanya apapun lagi. mobil melesat pergi menyusul mobil Pram setelah nya orang kepercayaan nya segera menyelesaikan urusan ditempat malam.
didalam kediaman Bagaskara, telah menunggu keluarga Prayoga, Kaila yang diangkat Pram kemudian didudukkan dekat dengan ayahnya. daddy dan ayah hanya tersenyum melihat Kaila dan Pram datang, ayah memeluk putri bungsunya sambil mengusap-usap punggungnya hangat dan menciumi ubun-ubun kepalanya "ayah, aku ingin pulang" kata Kaila bergetar hebat menahan tangis memeluk ayahnya sambil menyembunyikan parasnya. "baik, tapi sebelumnya biarkan ayah berbicara ada yang ingin kami sebagai orang tua sampaikan kepada kalian berdua, apakah kalian mau mendengarkan kami dahulu sebelum berasumsi yang bukan-bukan" pandang ayah, "apapun yang kami katakan tidak akan merubah apapun kami akan tetap sayang pada kalian berdua" tambah daddy tegas sambil memegang tangan mommy untuk menguatkan mereka berdua, mommy mengangguk tersenyum. Saka dan Icha yang baru saja datang duduk agak menjauh dari keberadaan dua keluarga itu, Saka memberi isyarat kepada Icha untuk diam, hanya mendengarkan dengan tenang, Icha mengangguk mengerti.
"sebelum nya, maafkan Ayah dan pak Bagaskara jika kami menyembunyikan hal ini dari kalian bukan karena kami tidak ingin memberitahu kalian mengenai hal ini tetapi kami tidak ingin menambah luka batin kami lebih dalam dan pada akhirnya hanya akan membawa sesuatu yang tidak akan kembali lagi" kata Ayah menangkup kan kedua tangannya di pipi Kaila, memandang putri bungsunya itu dengan penuh kasih sayang. Kaila mulai meneteskan airmata tanpa dia sadari, ia sudah tidak dapat menahan air matanya yang menetes di pipinya.
ayah mengambil handuk kecil yang telah disiapkan mommy Pram disamping menyeka airmata putrinya yang terus menetes tanpa henti sedangkan Pram hanya duduk terhenyak menekan dadanya merasakan rasa nyeri yang teramat sangat melihat Kaila kembali terpuruk. "ayah tidak berharap anak ayah menjadi pendendam dan tidak menghargai hidup" pandang Ayah, Kaila mengangguk pelan. "jika ayah dapat memilih, kita semua akan selalu bahagia. tapi tak ada kata 'jika' dalam kehidupan bukan, ikhlas adalah hal yang paling sulit untuk dipikirkan tapi hal yang paling mudah untuk dilakukan. apa Kai mengerti" senyum ayah. "ikhlas kan kepergian mom, biarkan mom tenang disana dengan ibadah dan doa yang selalu Kai lakukan hanya itu yang diharapkan kami sebagai orang tua" elus rambut ayah, Kaila mengangguk mengusap air matanya.
__ADS_1
"sejauh apapun kita pergi keluarga adalah tempat kita untuk pulang Kai. jangan membuat keluargamu kuatir lagi" kata ayah, Kaila mengangguk pelan. Icha yang melihat Kaila dengan ayahnya ikut hanyut menangis. Saka menyodorkan handuk kecil sama seperti Kaila. ayah mengambil nafas panjang dan berat "ayah pun sudah ikhlas melepas kepergian momi, itu semua adalah takdir yang kuasa kita tidak tahu bagaimana kita akan berpulang. memang benar apa yang kamu pikirkan jika momi dan adik Pram Tara terlibat kecelakaan yang sama. ini bukan salah siapapun, takdir yang membawa mereka ditempat dan waktu yang sama" kata Ayah. Kaila membelalakkan matanya menutup parasnya dengan handuk kecil dan menangis sekencang-kencangnya. mommy menangis tergugu di pelukan daddy, Pram menyandarkan tubuh tak berdaya seperti tidak mempunyai tulang menatap ayah dan Kaila yang sedang menangis histeris, Pram merasakan seperti dejavu, pernah mengalami saat seperti ini tapi lupa dimana dan kapan.
"takdir yang membuat mereka bertemu untuk terakhir kalinya dan takdir pula yang mempertemukan kalian berdua untuk pertama kalinya bukankah Tuhan itu telah bertindak adil melalui tangan-tangan ajaibnya mengganti yang satu dan yang lainnya, saling melengkapi" elus kepala ayah. "apapun yang terjadi dimasa lalu, tidak akan merubah apapun. tapi kita dapat merubah masa depan untuk menjadi lebih baik dari masa lalu seberat apapun itu atau menjadikan masa lalu menjadi penghalang dimasa depan" ucap ayah bijak mengusap kepala Kaila yang menangis sesenggukan tidak bersuara. segala beban dipundak dan didalam hatinya tiba-tiba melayang dan hilang tak berbekas, tubuhnya terasa tidak memiliki tulang yang menopang tubuhnya. mata Kaila masih terbuka namun pandangan matanya kosong sama sekali tidak merespon panggilan ayah maupun Pram yang memanggilnya dengan kencang. "Kai... Kai.... Kai.... " tepuk pipi Pram berulang-ulang tidak peduli dengan tindakannya yang membuat pipi Kaila kesakitan. "ayolah Kai jangan membuatku takut..... tetap bersamaku Kai..... sadarlah Kai..... honey......." guncang bahu Pram berulang kali dengan keras, mommy menangis kencang melihat keadaan Kaila yang terlihat memilukan dan tidak dalam keadaan baik-baik saja. "honey, please... ayo... kembali... jangan tinggalkan aku..." seru Pram hingga serak mengusap-usap tangan Kaila. "Kaila Dara Prayoga...." teriak Pram menggelegar menutup mata Kaila agar berkedip namun Kaila tidak berubah sama sekali hanya diam dengan mata yang terlihat kosong, disudut sana Icha menutup mulutnya erat agar tidak pecah tangisnya, sesaat kemudian jatuh pingsan. Saka refleks menahan tubuhnya dan mengangkat tubuh Icha ke salah satu kamar tamu dipandu oleh paman Din. ia meletakkan tubuh Icha ditempat tidur dan duduk disampingnya, paman Din pamit keluar. diruang tengah para lelaki yang ada berusaha membuat kesadaran Kaila kembali. "istighfar Kai.... istighfar..... seperti yang selalu momi mu ajarkan. ayah akan selalu di sisimu dan menjagamu selalu, ada keluarga Pram yang menyayangimu seperti putrinya sendiri dan ada Pram yang selalu mampu menjadi penopang mu kapanpun" bisik ayah bergetar melihat putrinya yang tidak sanggup menghadapi kenyataan yang terjadi hampir bersamaan dan bertubi-tubi. Pram mulai meneteskan airmata melihat Kaila yang tidak merespon apapun yang dia lakukan.
"ayolah Kai..... Kaila Dara Prayoga" teriak Pram memeluk erat Kaila sambil menangis, saat ini sosok Pram yang dingin dan arogan sama sekali tidak tampak, yang terlihat hanya seorang pemuda yang rapuh melihat belahan jiwanya menatap gadis yang dicintainya tidak dapat merespon apapun. kediaman Bagaskara malam itu terlihat sangat kacau, teriakan Pram dan tangisan silih berganti terdengar memilukan. para pekerja dengan arahan dari paman Din tidak diperbolehkan untuk beraktivitas di dalam rumah utama, mereka patuh dan tidak berani membantahnya, semuanya berada dirumah belakang dengan hati dan perasaan yang campur aduk melihat dan mendengar kejadian yang terjadi dirumah utama. hanya paman Din yang masih setia ditempatnya, menemani tuan dan nyonya nya yang sedang mengalami kejadian yang menjadi kehendak Tuhan. daddy membawa mommy kedalam kamar, agar tidak melihat Kaila yang terpuruk dan membuat mommy kembali mengingat kecelakaan yang merenggut nyawa putri satu-satunya dan sekarang dia melihat anak menantu satu-satunya mengalami guncangan hati yang berat.
Pram masih memeluk Kaila erat menyandarkan tubuhnya dipunggung sofa sedangkan Kaila yang berada di dalam dekapannya tidak pernah lepas, paman Din mengambil cover bed dan menyelimuti tubuh kedua tuan mudanya. Pram menyeka air matanya yang menetes sembari membisikkan kata-kata yang menguatkan Kaila, mengusap punggung Kaila menyalurkan kehangatan. ayah berdiri menepuk-nepuk pundak Pram dan berlalu pergi melewati pintu depan, duduk ditaman dan menangis pelan tidak mampu menahan beban airmata yang sejak tadi ingin jatuh melihat keadaan Kaila yang terpukul. Kalai yang tidak ikut bersamanya membuat ayah sedikit merasa lega karena tidak melihat kedua putrinya bersamaan dalam keadaan seperti ini, "mom, jaga kedua Putrimu. aku harap mereka berhati besar melalui ini semua, aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa lagi" ujar ayah menatap langit yang malam itu terlihat indah. semalaman Pram menemani Kaila yang sama sekali tidak tidur, Pram mengelus rambut Kaila berulang-ulang memberi kenyamanan dan perhatian kepada Kaila, membisikkan kata-kata meminta maaf, menginginkan mereka selalu bersama, berharap agar Kaila kembali sadar dan bersamanya setiap saat.
para pekerja yang bertugas membersihkan rumah mulai terlihat bermunculan didalam rumah utama untuk melaksanakan tugasnya masing-masing, para pekerja yang bertugas didalam rumah dikumpulkan oleh paman Din sebelum memasuki rumah utama untuk menjelaskan situasi dan keadaan yang terjadi didalam rumah kepada mereka semua, mereka boleh bekerja namun tidak boleh mengeluarkan suara yang mengganggu penghuni rumah utama karena kejadian semalam membuat mereka kurang istirahat juga menjelaskan bahwa diruangan tertentu tidak boleh diganggu, para pekerja memperhatikan instruksi paman Din dengan serius dan mengangguk paham. tidak ada yang berani membuka suara selama mereka bekerja, semua pekerja
sedih sampai nangis ketika menulisnya..... penuh dengan tangis...... sabar Pram..... sabar .....
__ADS_1
hai hai hai... para readers, love you all sekebon pisang, biar bisa dibuat pisang goreng yang banyak hehehehehe..
selamat menikmati cerita pertama kalang di sini. jadi mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
ciehhh... udah kayak mau tampil dikondangan aja nih hahahaha...
dukung yaaa... karya pertama ku.
love...love...love all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..
thanks a lot pisang sekebon...😘
__ADS_1