
"aku kedalam bentar kak" kata Kaila beranjak dari tempat duduknya, "mau kemana, Kai" toleh Pram menahan jemari Kaila. "aku gerah kak, badanku lengket ini juga sudah jam 5" lepas heels Kaila agar bisa berjalan dengan nyaman. "biar aku yang bawa" pandang Pram meraih heels Kaila. "jangan kak, nggak enak kalo diliat yang lain" geleng Kaila meraih heelsnya dari tangan Pram. "aku nggak peduli dengan omongan orang lain, yang aku pedulikan hanya dirimu" geleng Pram berjalan mendahului Kaila.
ia hanya dapat menghela nafasnya panjang tidak mau berdebat lagi dengan Pram, Kaila sudah terlalu capek untuk mendebat Pram yang selalu keras kepala menuruti keinginannya sendiri. "Kakak mending pulang dulu, aku akan mandi dan istirahat dikamar jadi mungkin langsung tertidur" kata Kaila saat tiba di pintu kamar bawah yang telah menjadi kamarnya sejak peristiwa itu. "baiklah" angguk Pram mengerti bahwa Kaila membutuhkan istirahat, Kaila mengangguk menutup pintunya pelan. Pram bergegas menuju mobil dan mengambil paperbag yang telah dia siapkan tadi sebelum berangkat karena dia tahu Kaila akan berbuat sesuatu yang nantinya akan membuatnya kuatir.
"bik, ada kamar yang belum dipakai oleh keluarga nggak. saya mau numpang mandi" tanya Pram ke bik Sum yang sedang melintas didekatnya. "ada den Pram, dekat kamar bapak. mari saya antar" angguk bik Sum segan. "makasih banyak bik, selalu merepotkan" senyum Pram mengikuti langkah bik Sum. Pram menyelesaikan segala urusannya dengan cepat karena dia merasa Kaila tidak baik-baik saja, hatinya teras sakit ketika melihat wajah Kaila terakhir kalinya sebelum masuk kamarnya tadi, Pram berjaga-jaga tidak jauh dari kamar Kaila jika nanti dia tiba-tiba melakukan hal diluar kebiasaannya sambil memangku gadgetnya ia mulai mengerjakan tugas dan meet dengan beberapa klien yang harus ditemuinya, orang tau dia hanya seorang pengajar di universitas U, statusnya yang lain jarang orang tahu karena disembunyikan oleh keluarganya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya.
waktu menunjukkan pukul 9 malam, Kaila terlihat keluar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian yang didominasi warna hitam dan sneakers merah hati. "yah, Kaila kedepan bentar ada janji ketemu Davi didepan. Kaila nggak bilang kalo dirumah ada acara, nggak enak kalo ketemu dirumah" peluk Kaila memberi alasan kepada ayahnya agar dia dapat keluar sementara waktu. ayah mengangguk, "jangan lama-lama Kai, ini sudah agak malam kamu juga butuh istirahat bukan" kata ayah mengusap punggung Kaila. "siap yah, jika udah selesai urusannya, Kai akan segera pulang" hormat Kaila tersenyum lebar.
"bawa mobil sendiri atau diantar Pram" tanya ayah sebelum Kaila menghilang dari pintu rumah. "jalan kaki yah, deket doang kenapa sekarang harus apa-apa kak Pram sih bukan siapa-siapa Kaila yah, kasihan kekasihnya jika dia selalu dikaitkan dengan Kai" manyun Kaila menatap ayahnya yang tertawa pelan. "tapi kayaknya dia nggak punya gebetan tuh apalagi kekasih hati" goda ayah menaik turunkan alis matanya, "ishhh" kesal Kaila melambaikan tangan tidak mau mendengar ayahnya.
"kalo dia punya seseorang yang spesial, kenapa dia selalu ada buat kamu Kai, saat kamu terpuruk dia selalu ada di sisimu, saat kamu butuh seseorang dia selalu menemanimu" bela ayah, "tau ah yah, Kai mau keluar bentar. ngomong sama ayah mah nggak akan menang, sebenarnya anak ayah tuh Kaila atau Pram" sungut Kaila sambil berdiri. "kamu lah, tapi kan bentar lagi anak ayah nambah anak lagi, dia" goda ayah tertawa terbahak-bahak, Kaila menggerutu saat keluar rumah. Pram yang melihat perdebatan Kaila dan ayahnya hanya tersenyum lebar karena lampu hijau sudah dia dapatkan dari ayahnya Kaila, hanya saja Kaila yang masih sangat sulit untuk menerimanya.
"kemana Kai, om" dekat Pram sesaat setelah Kaila keluar, "eh, Pram.... masih disini, ayah kira udah pulang" toleh ayah terkejut melihat Pram yang berdiri didepannya. "belum om, saya kuatir dengan keadaan Kaila. kayaknya dia masih belum bisa merelakan" geleng Pram, "hmmmm ayah juga tau, Kaila tadi pamit keluar bentar, katanya ketemu Davi, tapi dilihat dari gelagatnya dia mau sendirian" kata ayah menatap lurus kearah Pram, "Pram rasa juga begitu, kalo begitu Pram ikutin Kai dulu om" pamit Pram segera bergegas keluar rumah agar tidak kehilangan jejak Kaila, sesaat terdengar mobil keluar dari halaman rumah Kaila.
benar saja dugaan ayah dan Pram bahwa Kaila akan pergi kesuatu tempat. terbukti dengan Kaila memesan taksi online tidak jauh dari rumahnya, Pram segera mengikutinya dari belakang ternyata Kaila menuju bukit yang dulu pernah Pram datangi dengan Kaila saat melihat sendiri Arga lebih memilih Kalai saudara kembarnya untuk hidup bersama. Pram hanya melihat dari kejauhan, ia membiarkan Kaila meluapkan segalanya tanpa sedikitpun menampakkan diri untuk menemani. ia berusaha menjauhkan diri dari Kaila saat ini karena dia tidak mau Kaila menyesal dikemudian hari jika tidak meluapkan perasaan hatinya sekarang.
__ADS_1
saat sekarang
"hallo" jawab Kaila serak khas bangun tidur, "mau sampai jam berapa kamu tidur, hmmm jangan sampai aku memberimu nilai D untuk mata kuliah ku hari ini" ujar seseorang diseberang, Kaila membuka matanya lebar-lebar.
Kaila kembali ke rutinitasnya. "udah selesai Kai" hubungi Pram melihat Kaila dari lantai atas, "bentar lagi kak, nanggung ini diskusinya" jawab Kaila "kamu diskusi apa tebar pesona gitu" lihat Pram merasa kesal, Kaila segera memutar kepalanya ke segala arah karena tahu Pram sedang mengamati nya dari jauh. "kakak dimana" tanya Kaila tidak melihat sosok Pram di arah yang dia lihat. "aku ada diseberang atas" jawab Pram, kaila menoleh kearahnya menjulurkan lidah meledek Pram yang tersenyum melihatnya.
"jangan memancingku Kai, aku makan bibirmu itu nanti" pandang Pram geregetan, Kaila tergelak mendengar nada Pram yang terlihat kesal. "coba saja kalo berani kesini... udah ah kak.... kalo mau pulang duluan aja, aku gampang banyak tumpangan gratis" kata Kaila tidak mau memperpanjang urusan dengan Pram, "jangan coba-coba pulang dengan laki-laki lain Kai" kata Pram lirih karena ada mahasiswa yang melintas didekatnya. "bawel ikh..." tutup Kaila segera.
"kenapa Kai" toleh Icha melihat sahabatnya yang terlihat kesal, "ada orang yang menghubungiku tapi nggak jelas" geleng Kaila memasukkan ponsel ke saku. "Kai, pulang bareng siapa, dah jam 6 nih" lihat waktu Bram, sang ketua diskusi kali ini di Selasar. "bawa kendaraan sendiri seperti biasanya pak ketua, biasa aja" senyum Kaila, "baiklah, kalo nggak bawa kendaraan bareng aku aja dengan senang hati akan aku antar pulang. kali aja bisa namanya juga usaha" cengir Bram menatap Kaila yang tersenyum manis kepadanya, bersamaan dengan ponsel Kaila berdering pelan menandakan ada pesan chat yang masuk "aku didepan" chat Pram. Kaila segera beranjak dari duduk nongkrongnya "Cha, duluan ya" tepuk bahu Kaila berpamitan dengan Icha yang mengangguk melambaikan tangan melepas Kaila pulang duluan. Kaila celingukan mencari keberadaan Pram yang tidak terlihat mobil yang biasanya Pram gunakan.
"malah bingung jadinya, nggak konsisten dengan satu kendaraan, jangan bangga dulu kak" pasang seat belt Kaila yang kesusahan memakainya. "heran deh, kenapa jadi nggak bisa masang ginian sih" gumam Kaila kesulitan. Pram yang melihatnya tersenyum dan segera membantu Kaila memasang seat belt Kaila. "biasanya perempuan suka kalo dimanja dengan kemewahan kan" kata Pram menatap Kaila segera menjalankan mobilnya pelan meninggalkan pelataran parkir kampus. "nggak semua gadis akan merasa senang dengan kemewahan kak, jangan samakan aku dengan perempuan lain" gumam Kaila sambil menatap keluar kaca jendela mobil. "kapan-kapan riding motor kak, kayaknya asyik menghirup udara malam" kata Kaila mengalihkan pembicaraan, "tumben" topang dagu Pram disisi jendela. "udah lama pingin nyoba tapi belum ada kesempatan, ayah nggak pernah ngijinin anaknya bawa motor sampai sekarang" kata Kaila menyandarkan kepalanya ke belakang. "boleh tapi harus pake safety suit ya" tatap Pram sayang. "nggak gitu juga kali kak, hanya naik motor biasa bukan sedang balap motor" hela nafas Kaila. "yay or no" geleng Pram memberi pilihan, "fine, nggak jadi aja nanti biar aku ajak yang lain, nebeng temen dibelakang" gumam Kaila mengangguk, pram menoleh menatap Kaila ia segera menepi dan berhenti.
"apaan sih kak bikin jantung tiba-tiba berhenti berdetak, mau copot tau. untung dibelakang sepi, bahaya ngerti nggak" kaget Kaila memegang dadanya yang berdegup kencang saking paniknya. "apa maksudnya ngajak yang lain trus nebeng di belakang" pandang Pram datar, Kaila seketika terdiam dan meringkuk menatap keluar lewat jendela tidak berani menatap Pram yang terlihat marah besar.
"Kai" panggil Pram, "apa, kalo kakak nggak mau, ya sudah. aku juga tidak apa-apa, aku hanya bilang bisa ikutan temen yang sering naik motor hanya itu aja" jawab Kaila tidak bersalah, Pram menghela nafasnya panjang mendengar ucapan Kaila yang seperti ketakutan jika dia marah. "kakak antar kemanapun kamu mau, asalkan jangan nebeng dengan laki-laki lain" kata Pram akhirnya sambil menjalankan mobilnya kembali, keadaan hening dan tenang setelahnya.
__ADS_1
"Kaila" kata Pram mengusap pipinya, Kaila menggeliat pelan membuka matanya perlahan. "hmmm udah sampai kak" kerjap mata Kaila, "hemmm" jawab Pram singkat membukakan seat beltnya. "makasih kak" buka pintu Kaila, "besuk hari Sabtu kan Kai" ucap Pram. "iya, kenapa" kerut Kaila mengangguk. "bangun pagi, besuk aku jemput pagi" kata Pram sebelum Kaila menutup pintu mobil Pram. Kaila terdiam, tidak paham dengan arah bicara Pram. "ya" jawab Kaila sekenanya. ia segera masuk kedalam rumah saat mobil Pram meninggalkan halaman rumah Kaila.
"baru pulang Kai" sapa ayah melihat putri bungsunya melewati pintu depan, "udah yah, diantar kak Pram" angguk Kaila memberi salam dipunggung tangan ayahnya. "pantesan mobilmu ada di garasi rumah" pandang ayah ke garasi yang terlihat dari ruang tamu. "tadinya Kaila naik mobil sendiri, yah. tapi kak Pram maksa bareng, mobil Kaila dibawa seseorang balik ke rumah" jawab Kaila duduk disamping ayah. "itu tandanya dia sayang sama kamu Kai, dia nggak mau kamu celaka" senyum ayah. Kaila tertawa sarkas, "sayang apaan sih, yah. tukang maksa sih iya yah, bikin nggak bisa berkata-kata lagi" majukan bibir Kaila mengenang Pram yang selalu memaksanya.
"Kalai dan kak Arga kemana yah, tidak kelihatan" toleh Kaila melihat sekitar rumah yang sepi. "kerumah Arga sebentar,katanya" jawab ayah, "oohh Kaila mandi dulu yah, bau" cengir Kaila berdiri menuju kamarnya, "hu um, bau asem. kayak nggak mandi beberapa minggu" tutup hidung ayah menggoda Kaila yang tertawa lebar. "ihhh ayah" sebel Kaila, ayah tertawa melihat Kaila yang kesal.
Kaila masuk kedalam kamar untuk segera membersihkan dirinya, meraih bathrobe keluar dari bathroom, ia meraih ponselnya yang berdering ada panggilan video dari Pram. "ada apa kak" sambungkan Kaila sambil mengerjakan urusannya. "barusan mandi Kai" lihat Pram menatap layar ponselnya, "iya kak" angguk Kaila menjauh menuju walk closetnya. "sudah makan belum Kai" tanya Pram, "belum kak, ini baru selesai bersih-bersih" jawab Kaila melepas handuk yang menutup kepalanya, "kakak udah membersihkan diri" tanya Kaila menatap layar ponselnya. "sudah, barusan makan juga" angguk Pram, "kenapa lama mandinya, ini udah jam berapa" lihat layar ponsel Pram. "tadi berendam dulu bentar, pegel badannya" alasan Kaila nyengir, "mau aku pijitin" goda Pram. "nggak usah, berendam aja cukup" geleng Kaila menuju walk closet mengambil t-shirt dan celana pendek untuk siap-siap tidur.
"Kai" panggil Pram melihat layar ponselnya "hhmmmm" jalan Kaila sambil melepaskan bathrobe yang menutupi badannya untuk berganti dengan t-shirt gede dan celana pendek rumahan.
hai.... hai..... hai.... all readers, love U all sekebon pisang, selamat menikmati cerita pertama kalang, maaf jika masih banyak salah dan khilaf. dukung yaaa... karya pertama ku.
love... love... love U all readers, thanks a lot pisang sekebon..
stay healthy all
__ADS_1