
Pram menatap jalanan yang terlihat sudah padat merayap, dilihatnya sekilas Kaila yang terlihat memejamkan matanya, "Kai, yang" panggil Pram pelan namun tidak terdengar sahutan dari Kaila.
"ya elah belum ada 10 menit udah tidur aja" usap kepala Pram. "serasa nunggu putri tidur deh kalo gini, mending bisa dapat ciuman setelah bangun lha ini cuman nganter doang kayak jadi sopir pribadi kalo gini, untung sayang kalo nggak ku bawa kamu ke penghulu sekarang" gumam Pram mengusap dagunya berulangkali, Kaila yang belum terlelap hanya menyunggingkan senyum disudut bibirnya mendengarkan gumaman Pram.
ia menyadari dari pertama bertemu dengan Pram, laki-laki itu sudah melihatnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan namun ia membiarkan waktu yang akan menuntun jalannya, karena saat ini yang ia butuhkan hanyalah ketenangan dan kedamaian di hari-hari depannya, siapa tahu jika nanti dikemudian hari ia akan bertemu pria lain yang lebih baik dari Arga ataupun Pram. "let it flows aja" pikir Kaila tidak mau memikirkan hal yang memberatkan pikirannya saat ini.
Pram mengusap bahu Kaila lembut. "Kai" panggil Pram.
"hhmmmm" gumam Kaila membuka matanya perlahan.
"kita sudah sampai dikampus" lepas seat belt Pram.
"hmmm" geliat Kaila meregangkan otot tubuhnya. "mobilmu ada disamping. ini Sling bag mu kemarin yang ketinggalan di mobilku" serah Pram melihat Kaila yang sudah mengumpulkan nyawanya kembali.
"makasih kak" angguk Kaila meraih Sling bag dari tangan Pram dan beranjak keluar dari dalam mobil.
"ikut ke ruanganku sebentar. ada yang harus ku ambil" raih jemari Pram. "ngapain kak, kesana sendiri bisa kan biasanya juga gitu, kenapa sekarang harus sama aku" geleng Kaila menolak ajakan Pram.
"mulai sekarang kamu harus menemaniku kemana-mana" kata Pram tidak mau mendengar penolakan Kaila.
"ishh selalu memaksa, saudara bukan, pacar bukan, suami bukan" gumam Kaila mengikuti langkah Pram dari belakang.
mendengar ucapan Kaila seketika Pram berhenti hingga membuat Kaila tertabrak punggung Pram dari belakang. "kalo mau berhenti bilang dulu kenapa sih kak, sakit hidung ku" usap-usap hidung Kaila, Pram membalikkan badannya menghadap Kaila.
"Kai, aku sama sekali tidak mau menjadi saudara mu itu terlalu menyakitkan buatku tapi jika menjadi pacar halal mu yang berarti menjadi suamimu, aku langsung setuju. kita ke ayahmu sekarang untuk minta restu, sebelum Kalai dan Arga menikah jika kamu mau kita bisa menikah duluan" kata Pram serius menatap Kaila.
"haduh kak, nggak jelas lagi deh kalo ngomong" geleng kepala Kaila mendahului langkah Pram. "aku serius lho Kai" seru Pram mempercepat langkah kakinya mengejar Kaila yang setengah berlari mendahuluinya.
"lho pak Pram, kenapa di kampus, katanya ijin untuk tidak masuk hari ini, kok sekarang ada disini" terkejut Dewi yang berpapasan dengan Pram di koridor kampus.
"ada hal penting yang harus diambil" datar Pram sambil berlalu tanpa melihat Dewi.
"ada yang bisa saya bantu pak" senyum manis Dewi melangkah disamping Pram agar bisa berlama-lama dengan Pram apalagi suasana kampus yang sepi karena hari sudah sore.
"saya bisa sendiri bu" kata Pram datar bergegas masuk kedalam ruangannya.
Kaila yang melihat interaksi Pram dan Dewi hanya tersenyum samar dari kejauhan. "lho Kai, kamu disini juga" tanya Dewi heran melihat Kaila didepan ruangan Pram seperti sedang menunggu Pram.
"iya mbak, nganter kak Pram ngambil sesuatu soalnya dia takut ada Kunti yang ngikutin dia mulu" bisik Kaila bergidik ngeri agar terlihat lebih serem.
"ihh yang bener Kai, ini kan masih sore masak ada kunti sih sore-sore gini"pandang Dewi menengok kanan dan kiri siapa tahu melihat Kunti beneran.
Pram membuka pintu ruangannya, "ayo masuk Kai" isyarat dagu Pram menatap Kaila, "permisi mbak, mau masuk dulu" pamit Kaila tersenyum. Dewi hanya melihat kaila yang masuk kemudian segera berlalu pergi karena bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.
"bilang aja kunti nya Dewi, Kai. karena suka tiba-tiba di dekatku, setiap aku ke kampus kayaknya Dewi punya radar aku berada dimana" cerita Pram.
"itu tandanya jodoh kak" senyum Kaila duduk disofa yang ada di ruangannya Pram. "jodohku itu kamu, yang" sahut Pram cepat sambil melihat berkas yang ada di tumpukan mejanya, "udah belum kak" pandang Kaila mengalihkan pembicaraan yang tidak ada gunanya.
"sudah, ayo" jalan Pram membawa sebuah map berisi beberapa kertas, Kaila segera mengikutinya, Pram segera mengunci ruangannya.
__ADS_1
"kak, aku mau ke kantin dulu sebentar. jika kakak mau pulang, pulang aja. aku bisa pulang sendiri" toleh Kaila sesaat berjalan ke arah yang berlawanan dengan Pram.
"aku ikut" kata Pram cepat mengikuti langkah Kaila, "ngapain kak" terkejut Kaila saat Pram berbalik mengikutinya, "aku nggak mau kamu tebar pesona dengan lelaki lain" sahut Pram.
"ish dosen ini nyebelin banget sih" tinju Kaila ke udara kosong merasa kesal melihat tingkah Pram yang selalu bertindak sesuka hatinya.
"nggak boleh marah sama suami sendiri Kai, nggak baik" toleh kebelakang Pram yang melihat Kaila hanya diam ditempat, Kaila hanya dapat menghela nafas panjang-panjang, "sabar, Kai, sabar" tarik dan keluarkan nafas Kaila berulang kali.
"pesen bakso kuah dua, mang" senyum Kaila sesampainya di tukang bakso yang mangkal di kantin kampus.
"siap neng Kaila, tumben nggak sama neng Icha dan mas Davi" racik mang bakso sambil memberi isyarat dengan jemarinya.
"mereka nggak ada kuliah hari ini mang" senyum Kaila, "saya tunggu disana ya mang" tunjuk Kaila.
"siap" angguk mang bakso mengerti. "haaa" duduk Kaila di bangku semen yang ada dikantin sesaat kemudian.
"minumnya Kai" sodor air mineral Pram.
"makasih kak" angguk Kaila membuka tutupnya segera meminumnya.
"ini neng pesanan nya" hidang mang bakso. "siip makasih mang" senyum Kaila mengangguk, "sama-sama neng" senyum mang bakso membalas Kaila.
"segitunya Kai kalo senyum sama orang lain kalo sama aku jarang senyum gitu" tatap Pram merasa tidak suka.
"masa sih kak, perasaan sama aja semuanya" tuang sambal Kaila ke kuah bakso yang menggugah selera makannya.
"ini buat aku satu kan Kai" ambil mangkok bakso Pram, "iya" angguk Kaila sambil menikmati sensasi pedas sambal kuah baksonya.
"nggak ada sensasinya jika nggak pedas kak, biasa juga gini" geleng Kaila tersenyum.
"kalo ke kampus mesti ke kantin juga Kai" tanya Pram mencoba baksonya.
"nggak mesti sih kak, biasanya kalo ada Icha dan Davi yang terkadang menemani atau saat ada kelas yang sama" geleng Kaila.
"hai Kai" sapa seseorang, Kaila segera menoleh. "hai" senyum Kaila. "ada kuliah hari ini" tanya seseorang itu. "nggak, ngambil sesuatu" senyum Kaila menggeleng, "oh, aku kira karena ada kelas juga. kalau begitu aku kesana dulu" senyumnya berlalu, Kaila mengangguk pelan.
"selalu seperti ini ya Kai jika di dekatmu" tanya Pram, "apanya kak" kerut Kaila tidak paham maksud pertanyaan Pram.
"membuatku cemburu" tatap tajam Pram, Kaila tersedak kuah bakso mendengar ucapan Pram yang nggak jelas. "uhuk, uhuk" tersedak Kaila segera meminum air mineralnya.
"hati-hati makanya Kai" tepuk-tepuk punggung Pram pelan, Kaila memukul dadanya pelan.
"kalo ngomong jangan sembarangan kak, jika terdengar orang lain dikira aku cewek penggoda dosen yang digilai banyak mahasiswinya" pandang Kaila mengerucutkan bibirnya melihat Pram.
"berapa kali kubilang sih Kai, nggak usah mengerucutkan bibirnya begitu mau aku cium sekarang" ingatkan Pram menatap Kaila yang segera menutup mulut dengan kedua tangan dan menggeleng cepat.
"kak, aku pulang dulu" pamit Kaila didepan mobilnya setelah mereka sampai diparkiran kampus, "hati-hati dijalan, jangan lupa besuk pagi ada kuliah" angguk Pram.
"siap kak" hormat Kaila tersenyum, Pram tersenyum lebar melihat tingkah Kaila.
__ADS_1
mobil Kaila memasuki pekarangan rumah.
"dah pulang Kai" senyum Kalai. "hmmmm, ayah dimana" angguk Kaila memeluk Kalai erat.
"dikamar" elus punggung Kalai.
"Kal, lusa ke tempat nya momi yuk" tuang air minum Kaila dan meminumnya cepat.
"sebenarnya aku mau ngajak kamu besuk, tapi lusa nggak papa" angguk Kalai mengiyakan permintaan Kaila. "kalo gitu, besuk juga nggak papa sore aja. abis jam 4, aku baru bisa" duduk Kaila didepan Kalai.
"non, ada cake" sodor bik Sum, mereka menoleh melihat bik Sum yang membawa nampan berisi cake lembut yang dibeli dari sebuah toko roti kenamaan.
"makasih bik, tau aja kalo Kaila laper" ambil piring kecil Kaila dan memotongnya se iris, memakan dengan pelan.
"abis makan apa" tanya kalai. "bakso dikantin kampus" senyum Kaila.
"Kai" panggil Kalai pelan, "hmmm, kenapa" minum Kaila melihat Kalai.
"apa kamu baik-baik saja" tatap Kalai merasa bersalah. Kaila meletakkan piring kecil cake lembutnya tersenyum meraih jemari Kalai dan menggenggamnya erat.
"bohong jika aku berkata baik-baik saja, rasa sakit itu pasti ada. aku tidak akan bisa menyembunyikan darimu karena kau pasti tidak akan berhenti bertanya padaku" senyum Kaila menatap saudara kembarnya.
"tapi aku justru merasa lega jika kau bersama kak Arga, setidaknya aku tahu orang seperti apa yang akan menghabiskan waktu senja denganmu" tatap Kaila.
"Arga dipilih Tuhan untuk menemanimu bukan untukku, aku tidak merasa cemburu atau sedih dia meninggalkanku. hanya sedikit rasa sakit saja, tidak lebih" tepuk-tepuk Kaila ditangan Kalai.
"aku tahu betapa aku menyakitimu Kai" sendu Kalai menatap Kaila.
"tidak apa-apa Kal, kamu juga tahu bagaimana selama ini aku dengan kak Arga. hanya seperti dengan abang laki-laki yang selalu ada untukku, rasa sakit itu semakin jauh berkurang hingga tidak tersisa saat melihat kalian bahagia" geleng Kaila tersenyum.
"udah ah, aku mandi dulu, gerah banget. dari tadi belum pulang" anjak Kaila mengibaskan tangannya didepan wajahnya menuju kamarnya yang berada dilantai atas.
"makasih Kai" senyum Kalai menatap Kaila.
"everything will be Ok, Kal" senyum Kaila berbalik menatap saudaranya lagi dan berjalan kembali. Kaila menutup pintu kamar pelan, airmata menetes jatuh seperti air terjun yang deras jatuh kebawah, dia meringkuk ditempat tidur tanpa suara, rapuh saat sendirian di dalam kamarnya.
betapa terlihat hebat saat dia berada diantara orang-orang tapi tidak akan sanggup menahan sesak didada saat sendirian seperti ini. rasa perih, sakit, sendiri, dikhianati menjadi satu dan membuat hatinya seperti di iris sembilu.
dia hanyalah seorang gadis yang sedang patah hati, dikhianati orang yang dicintai dan yang menggantikannya adalah saudara kembarnya sendiri. hati yang beberapa tahun diisi oleh pria yang dia yakini dia cintai telah pecah berkeping-keping, hancur lebur, berantakan tanpa tersisa. hati yang penuh dengan cinta dan kerinduan, malah berakhir dengan pengkhianatan, bahkan oleh orang yang paling dekat dengannya, saudara kembarnya sendiri.
Kaila menumpahkan perasaan sesak yang ada dihatinya walau bagaimanapun sudah saatnya untuk rela melepaskan orang yang dulu berharga di kehidupannya di beberapa tahun hidupnya selama hampir dua tahun ini menemani hari-hari nya.
nyesek kan mbacanya, hehehehe. semoga segera datang pelangi 🌈 deh buat Kaila. cie, cie, cie jadi baper nih aku. aahhhh, tanggung jawab ya mas Pram...
hai.... hai..... hai.... all readers selamat menikmati cerita pertamaku, mohon maaf jika ada banyak kesalahan dalam merangkai kata dan kalimat.
luv .... luv .... luv .... U all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak
thanks a lot pisang sekebon
__ADS_1
stay healthy all