
motor memasuki halaman restoran sederhana, Kaila segera turun dan menunggu Pram melepaskan helmet nya, "honey" panggil Pram menunggu langkah Kaila, ia segera mendekat dan meraih jemari tangan suaminya. "dengan siapa" toleh Kaila, Pram memberi isyarat ke beberapa orang yang sedang berbincang. Kaila melihat kearah isyarat Pram.
"hello, nyonya Bagaskara" senyum Tigor, Kaila tertawa lebar menyalami Tigor dan dr Annisa yang menangani kehamilan triplet nya dulu. "aaahh, bang Tigor. kenapa lama tidak terlihat, aku sudah lama disini" kata Kaila, Tigor tergelak.
"ya, dengan kesibukan luar biasa dengan jadwal selalu ke luar terus" angguk Tigor sarkas, Kaila tertawa kecil memeluk dr Annisa. "apa kabar kak, bagaimana kabarnya sekarang" lihat Kaila secara menyeluruh. Annisa tertawa lebar, "baik momi empat jagoan" jawab Annisa, Kaila tertawa lebar. Pram segera meraih bahu Kaila untuk duduk diseberang sana dan menyapa yang lain. Kaila tersenyum mengangguk, Pram membuka jaket pelindung dari tubuh istrinya dan meletakkannya di sandaran kursi.
"cih, sudah punya empat anak aja masih bucin juga, jauh sedikit kenapa sih" lihat Junot datar, Kaila memberi salam kepada Junot, "kak, lama tidak berjumpa. kenapa pada ngumpul sekarang, kemana aja selama ini" tanya Kaila memperlihatkan senyum lebarnya.
"jangan lupa penjagamu yang selalu menjaga privasi ke empat jagoan nya" kata Junot tersenyum menatap Kaila yang nyengir.
"Saka sebentar lagi datang, tidak usah kuatir dia dengan Icha" tatap Pram, Kaila mengangguk.
"tell me dok, kenapa bisa dengan bang Tigor dan aku tidak tahu" tanya Kaila penasaran menatap pasangan yang ada didepan nya. "well, karena dirimu terlalu fokus dengan keempat baby, Kai" kata dr Annisa. "dan aku juga ingin meminta maaf jika waktu kamu membawa keempat baby mu, aku hanya melihat tiga baby dan bukan empat, aku benar-benar meminta maaf untuk itu" kata dr Annisa, Kaila tersenyum mengibaskan tangannya. "tidak kak, aku juga mengetahui setelah mengalami hal yang tidak mengenakkan dahulu baru mengetahuinya. itu bukan salah siapa-siapa, Kirana tidak pernah mau terlihat saat didalam sedangkan ketiga kakak laki-laki nya terlalu dominan tidak bisa tenang. sampai sekarang Kirana terlihat tenang" kata Kaila tersenyum lebar. Pram menopang dagu menatap Kaila yang terlihat menarik, Kaila menoleh menatap suaminya. "hanya makan atau ada urusan lain" tanya Kaila penasaran. Pram mengendikkan bahunya tersenyum.
"maaf aku sedikit telat" datang Saka menggenggam jemari tangan Icha. Kaila memeluk Icha dan memintanya untuk duduk disebelahnya. "tidak sama sekali kak, c'mon let's eat" geleng Kaila menggeleng. beberapa pekerja resto segera berdatangan membawa pesanan makanan dimeja mereka.
sambil makan mereka mengobrol banyak hal, hingga Tigor mengatakan sesuatu yang penting. Kaila membelalakkan matanya lebar-lebar mendengar perkataan Tigor barusan. "benarkah, sungguh" tanya Kaila tidak percaya apa yang dia dengar, Icha menepuk bahu Kaila pelan. membuat Kaila segera sadar dan tertawa senang.
"selamat kak, bang. akhirnya kalian menjadi yang kedua setelah kami berdua" kata Kaila penuh dengan kegembiraan. "aku tunggu undangannya, jangan lupa jika keluarga Bagaskara ada besar. aahh, jangan lupa juga dengan Bimantara" ingatkan Kaila sesaat. Pram tergelak mengusap kepala istrinya, "tentu, dia tidak akan lupa. resikonya akan besar jika dia melupakan yang ada disini, apalagi kita" angguk Pram menyakinkan, mereka tertawa bersama.
"dan ada pengumuman juga sekalian saat kita ngumpul begini, setelah beberapa bulan mereka menikah, kami juga akan menuju hal yang sama" tatap Saka, Kaila tersedak minuman yang baru saja diambilnya. Pram segera menenangkan Kaila agar tidak bertambah fatal. "honey" tepuk-tepuk punggung Pram pelan. Kaila menenangkan dirinya sendiri, menopang dahinya dengan kedua punggung tangannya. "kalian kenapa tidak bilang" tatap Kaila datar, Icha menggeleng. "tadi malam dia mencoba meminta ijin kepada papa dan mama, mereka meminta kepastian" kata Icha lesu, Kaila justru tertawa melihat sahabat perempuan nya merasa tidak berdaya. "bagus dong, akhirnya di lamar. daripada digantung dan dibiarkan berkeliaran" goda Kaila, Icha memelototi Kaila yang senang melihatnya menderita.
"jangan kuatir, kami akan datang dengan formasi lengkap" naik turunkan alis mata Kaila sambil menepuk-nepuk bahu Icha yang sedang kesal.
"apakah kamu mau ada rencana menghilang" tanya Junot, Saka menatap tajam kearahnya. "just ask" jawab Junot nyengir. Tigor melempar napkin kearah Junot yang tergelak. "jadi tinggal aku nih yang belum sold out" hela nafas Junot.
"makanya jangan terlalu percaya diri dikelilingi banyak wanita justru itu menunjukkan kalo pada akhirnya tidak ada wanita yang percaya lagi padamu Jun" kata Tigor, Junot berdecak kesal.
"lihat yang sedang memberi nasehat, sebelas dua belas juga denganku" sarkas Junot pelan. Anisa tertawa pelan, "tidak apa kak, pada akhirnya dia memilihku untuk yang terakhir. aku sudah tahu semua tentangnya jadi tidak apa-apa kamu mengatakan hal itu" angguk Annisa, Junot sedikit terkejut menatap Annisa dan Tigor bergantian.
"aku sudah mengatakan masa laluku sebelum mulai mengejarnya, karena aku bukan malaikat yang bersih dari dosa dan aku tidak mau dia mengetahui dari orang lain bagaimana kelamnya hidupku sebelum bertemu dengannya" tatap Tigor, Annisa tersenyum menggenggam jemari Tigor.
"tentu, bang. tidak ada manusia yang sempurna, kita akan saling melengkapi dan menuju kebaikan atas perintah Tuhan" jawab Annisa menatap kekasihnya, Tigor tersenyum mengangguk.
"aaahh, so sweet" pegang tangan Kaila dan Icha setelah melihat keromantisan mereka berdua.
"laki-laki kalian juga tidak kalah romantis dari mereka berdua" kata Saka, Icha melirik paras Saka kesal. "tau, tapi saat melihat keromantisan ada didepan mata gini, mubazir jika tidak dinikmati" sarkas Icha, Saka mendengus pelan melihat kekasihnya yang suka nonton drakor.
"jam berapa empat jagoan mu pulang" tanya Tigor.
__ADS_1
"Pramana meminta ijin untuk berada di library selama dua jam jadi ketiga saudaranya mengikuti dengan berbagai kegiatan, Kirana ingin mencoba session karate. Wilaga menemaninya sedangkan Wijaya ingin mencoba berkebun" senyum Pram.
"anak perempuan mu ingin latihan karate" ulang Tigor tidak percaya dengan pendengarannya tadi. Pram tertawa pelan, "iya. dia meminta ijin momi nya tadi, aku rasa akan ada gadis badas di keluarga Bagaskara" ulang Pram.
Tigor tertawa, "ternyata buah tidak jatuh terlalu jauh, sedekat mungkin" angguk-angguk Tigor.
"benarkah bang, tapi aku tidak pernah belajar beladiri dari dulu" kerut Kaila, Tigor menggeleng.
"bukan dari emaknya, tapi dari bapaknya yang suka dengan hal-hal berbau perkelahian" buka kartu tigor, Pram dan Kaila saling berpandangan dengan tatapan masing-masing.
"aahh, kamu membuat mereka akan bertengkar dan salah satu akan tidur diluar" usap dagu Junot melihat pasangan yang duduk didepannya itu.
Pram tertawa lebar, "kami tidak pernah tidur didalam, karena ruangan kami diluar bersama dengan anak-anak" jawab Pram, Kaila mengangguk.
"dan kak Pram lebih bisa mengontrol keinginannya berkelahi dengan para penjaga nya karena bang Tigor lebih memilih untuk istirahat, bukan begitu bang" senyum Kaila, Tigor tertawa lebar menganggukkan kepalanya.
"aku tidak mau perawatan yang kulakukan untuk menikah berantakan gara-gara harus meladeni CEO ini" dengus Tigor mengusap rahangnya yang kokoh. Pram hanya mengendikkan bahunya tanda tidak mau tahu.
"oh, ya. bagaimana kerjasama yang akan kita jalin lagi Pram, Saka" ingatkan Junot.
"kenapa harus ditanyakan lagi, bukannya kedua ahli IT mu dan beberapa anak baru selalu mendatangi ruangan kami karena ada Kaila" tatap Saka, Pram menatap tajam Junot.
"terkadang aku berpikir, kalian ini berempat memang benar-benar teman baik, sahabat yang sudah lama bersama atau karena punya kepentingan saling menguntungkan" toleh Icha menatap keempat laki-laki yang bersamanya.
"kami memang sahabat baik dan terkadang menjadi teman yang tidak terlalu jahat" kira-kira Junot tersenyum.
"karena kita senang dengan hobi yang membuat jarak dalam berteman semakin akrab, jadi kenapa tidak bekerja sama sekalian. bisa dapat duit, saling menguntungkan dan tidak makan teman. itu terutama" kata Tigor.
"hhmmm" dehem Icha. "kan bener Cha, Saka dan Pram memang dari keluarga pekerja keras, mau tidak mau mereka akan mewarisi semua usaha keluarga. Junot lebih tertarik dengan bidang teknologi dan informasi karena tidak terikat waktu, sedangkan aku lebih suka latihan fisik dan melakukan kegiatan yang memang memerlukan ketahanan tubuh. jadi tidak ada salahnya kita saling memback up urusan yang menghasilkan uang bukan" senyum Tigor menaik turunkan alis mata nya. Kaila tersenyum, "tentu bang, aku senang melihat kita saling mendukung satu sama lain, keluarga adalah hal yang paling penting, bukan. walau bukan darah yang mengikat kita, setidaknya rasa satu saudara membuat kita lebih memaknai hidup" kata Kaila, Tigor menjentikkan jarinya menunjuk kearah Kaila tanda setuju.
"bang, jangan lupa untuk mengirim pemberitahuan kapan tepatnya kalian meresmikan hubungan" topang dagu Icha.
"pasti Cha, tidak usah kuatir. nanti akan aku beri pemberitahuan dari laki kalian di grup. biar tidak pura-pura lupa, soalnya kita menikah di Bandung bukan disini" angguk Tigor.
"karena keluarga besar ku berada disana Kai, Cha. jadi mama dan papa menginginkan dilaksanakan disana saja. setelah dari keluargaku maka keluarga bang Tigor akan mengadakan disini nantinya" tambah Annisa memberi keterangan.
"siap kak, dimana aja kita akan datang. tapi sekarang Kalai baru tepar, dia hamil muda. semoga nanti seiring bertambahnya usia kehamilan akan berkurang rasa lemasnya" kata Kaila.
"apa, Kalai sedang mengandung. wah, ramai lagi nih klinikku karena kedatangan penerus Bimantara" tawa Annisa senang, Kaila dan Icha ikutan tertawa. "iya, kak. tambah ramai kalo keluarga Bimantara dan Bagaskara berkumpul di ruangan nantinya" kata Icha membayangkannya, Annisa mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"jangan lupa ada empat baby nya mereka yang pasti heboh ingin selalu mengantar bundanya" kata Tigor, Annisa berseru kegirangan akan bertemu dengan kembar empat yang sulit untuk ditemui.
"jangan terlalu senang kak, belum tahu kalo mereka jailnya minta ampun. tidak bisa diem yang ada bikin darah kita naik" lihat Kaila.
"aahh, benarkah. jadi pingin segera ketemu dan melihat paras mereka mana yang lebih dominan memberi gen" antusias Annisa tersenyum. Icha dan Kaila tersenyum menunjuk Pram.
"oohh, ternyata gen Bagaskara lebih dominan, berarti bisa dipastikan anak Icha juga akan sama" tawa Annisa, Icha menutup parasnya malu, mereka tertawa terbahak-bahak.
"momi" lambai tangan Wilaga saat Kaila menghampiri dirinya.
"adek Kirana mana" tanya Kaila mensejajarkan badannya agar dapat menatap mata putranya itu.
"masih berganti pakaian mom, dia dibantu oleh miss" isyarat dagu Wilaga, Kaila mengusap peluh yang keluar dari kening Wilaga. "berarti kita tunggu disini dulu sebentar kak" kata Kaila, Wilaga mengangguk menyerahkan tas kepada mominya.
Pram berjalan mendekat setelah menjemput Pramana yang berada diruang istirahat sekolah. "dia makan, honey. katanya laper setelah membaca" senyum Pram mengusap kepala putra pertamanya itu. Pramana tersenyum lebar.
"apakah sudah mengucapkan terimakasih kepada penjaga makanan" senyum Kaila menatap Pramana yang mengangguk.
"Wijaya mana" tanya Kaila tidak melihat salah satu dari ketiga jagoannya bersama suami dan anak pertamanya.
"baa" longok kepala Wijaya dari balik punggung popi nya. Kaila terkejut dan tertawa melihat Wijaya dan memeluknya hingga bergoyang ke kanan dan ke kiri. "apakah anak momi senang hari ini" cium pipi Kaila. Wijaya tergelak kegelian dengan perlakuan momi nya. "sure mom, I saw some medicinal plants in the school garden" antusias Wijaya, Kaila manggut-manggut mengusap kepala Wijaya.
"kapan kita akan kembali ke tempat grand dad dan grand mom mom, agar kita bisa ke melihat semuanya" rentangkan tangan Wilaga lebar-lebar mengekspresikan rasa penasarannya. Pram tertawa mengelus rambut Wilaga.
"tentu kak Wilaga, sebentar lagi kita akan kesana" senyum Kaila.
"popi, momi" lambai Kirana, Kaila melakukan hi five dengan anak perempuan satu-satunya itu.
"kalau begitu, kita pulang sekarang ya" kata Kaila menatap kelima anggota keluarga kecilnya. "let's go home mom" raih jemari Wilaga dan berjalan keluar dari lorong sekolah. penjaga Kaila segera bergerak mengikuti keluarga itu.
"pop, kapan kita main lagi" toleh Kirana, "what's play, sweetie" tanya Kaila penasaran.
"just cycling mom" tatap Kirana, Kaila mengangguk.
Hai.... Hai.... Hai.... all readers, terimakasih telah mengunjungi karyaku.
tidak terasa hampir di penghujung akhir novel. semoga all readers semakin antusias untuk membaca hingga akhir.
Luv.... Luv.... Luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.
__ADS_1
stay healthy all