Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 93


__ADS_3

"iisshh, itu mah kak Pram yah, kalo Kai selalu senyum takut pada lari client nya. nggak dapet duit dong Kai nanti, rugi bandar kalo dah gitu" kata Kaila tertawa kecil. "mana mau kamu dikasih duit banyak, yang ada sedekahnya tambah banyak, bikin makin tambah banyak uang yang masuk ke perusahaan. daddy aja sampai tidak percaya liat cara kerja kamu yang beda dari biasanya, kenapa nggak dari dulu aja kamu jadi mantunya kan nggak usah repot-repot menggaji orang ketiga saat melihat laporan perusahaan di Indonesia" ujar Pram sambil meminum coklat dingin.


Kaila mengangkat bahu tanda tidak mau menanggapinya, "jika aku tidak bertemu denganmu saat itu aku mungkin akan ke Kalimantan aja untuk belajar mandiri, biar ayah bangga punya anak cewek padahal anaknya dua-duanya cewek semua" senyum Kaila menatap ayahnya. Ayah meraih jemari Kaila, "Ayah selalu bangga apapun yang kalian berdua lakukan. terimakasih karena sudah mau menerima Ayah untuk menjadi Ayah kalian" senyum Ayah. Kaila tersenyum meneteskan air mata tanpa suara, memeluk Ayah pelan.


"kita yang justru berterima kasih, yah karena ayah memilih untuk merawat kami sendiri daripada memilih orang lain untuk merawat kami. apapun yang terjadi ayah adalah orangtua terbaik yang Kaila punya" senyum Kaila, ayah menepuk punggung anak perempuan bungsu nya pelan.


"aduh" erang Kaila pelan memegang perutnya yang bergerak cepat. Pram mendekat dan mengelus perut Kaila yang tidak beraturan bentuknya akibat pergerakan triplets didalam. "boys, don't make mommy cry" kata Pram tepat diperut Kaila. Ayah tergelak melihat perut Kaila yang benjol kesamping kanan. "kayaknya mereka main sepak bola didalam, lapangannya kurang besar jadi nggak leluasa cetak gol" semangat Ayah tertawa menatap Kaila yang hanya bisa nyengir.


"hai" ketuk Davi melihat dari pintu ruang pasien. Kaila melambaikan tangannya, Davi segera masuk dengan membawa beberapa berkas kerjaan. "kenapa aku merasa kamu lebih dekat dengan suamiku dari pada dengan ku sekarang sih Dav, apa karena dia bos mu yaa... " pandang Kaila, Davi menggeleng. "kamu dan Icha tetap ada di hati sebagai teman baikku. tapi ini masalah perut Kai, kamu ngerti dong... masa nggak ngerti" tiru slogan Davi, Kaila tertawa pelan.


"baiklah, ngerti banget. jadi lanjutin aja kerjaannya" beri tanda Ok Kaila dengan jemarinya "udah belum bercandanya" tanya Pram memeriksa berkas yang dibawa Davi yang mengangguk "coba lihat point' ke 4, bos. ada yang menurut kami nggak sesuai" kata Davi, Kaila menempel segera ke paper yang dipegang suaminya. Pram segera melihat Kaila yang antusias bekerja. "Kai" panggil ayah mengerti keadaan. "apa yah" toleh Kaila segera. "temani ayah lihat taman depan, masak kalo kesini liat kamar inap melulu, kan nggak asyik" kata ayah beranjak dari tempatnya duduk membuka pintu agar seorang penjaga mengambil kursi roda, Kaila beranjak dari kursinya berjalan pelan kearah ayah. ayah segera memegang bahu anak perempuannya. "kosongkan pikiranmu dari kerjaan. biarkan suamimu yang bekerja" usap bahu ayah. penjaga Kaila segera membuka pintu dan menunggu Kaila dengan kursi roda agar Kaila tidak terlalu lelah karena membawa triplets dalam perut. Kaila segera duduk dan didorong oleh salah satu penjaganya "yah, aku takut jika terjadi apa-apa dengan triplet" dongak Kaila, ayah menepuk bahu Kaila pelan.


"selalu yakin akan rencananya, mantapkan hati dan jiwamu karena mereka akan kuat sepertimu atas kehendak Tuhan" kata ayah. Kaila menghela nafasnya mendengar orangtua yang hanya tinggal satu-satunya itu, ia menatap beberapa orang yang datang silih berganti, ada yang membawa anaknya yang baru saja datang ke dunia, ada ibu yang ingin melihat perkembangan buah hatinya. melalui layar monitor.


"terkadang ada rasa ketakutan jika aku tidak bisa menemani triplets tumbuh kembang membuatku tidak berdaya yah" gumam Kaila lagi. ayah tersenyum, "terkadang manusia memang harus selalu takut karena Tuhannya, karena tau akan konsekuensinya saat melakukan sesuatu yang buruk maka akan menerima hal buruk juga. jadi, selalu jadi orang yang baik disaat orang lain melihatmu buruk. jadilah mommy yang tangguh agar triplet mengerti bahwa segala sesuatu harus selalu diperjuangkan dan dilakukan dengan baik" pandang ayah. Kaila memejamkan matanya dan menghirup udara dengan cepat.


"hmmmm mereka selalu bereaksi dengan cepat jika ada yang menasehati mommynya" cengir Kaila. ayah tertawa kecil, "berarti mereka tau dan mengerti bahwa mommynya tidak mau dinasehati" jawab ayah, Kaila menggenggam jemari ayahnya tertawa "masak yah, aku kira dengan hanya diam dan melihat sekitar lebih berarti daripada terlalu banyak berbicara" tatap Kaila merasa hal itu lebih baik jika dia melakukannya seperti itu.

__ADS_1


"terkadang diam adalah jawaban dari setiap persoalan. tapi terkadang mengemukakan pendapat juga tidak ada salahnya karena kita tahu jika kita tidak mengatakannya akan membuat sesuatu lebih tidak baik lagi" kata ayah, Kaila terdiam dan tidak menjawab perkataan ayahnya.


"maafkan Kai, yah. maaf bila selama ini Kai tidak memiliki keberanian untuk berkata tidak atau menyakiti orang lain" ujar Kaila pada akhirnya. ayah tersenyum, "baik untuk selalu diam saat orang lain membuatmu sakit hati Kai, tapi bukan berarti harus kamu pendam dan sakiti hatimu sendiri. jika kamu mau berbagi, ayah akan selalu mendengarkan mu dan menemanimu kapanpun itu" senyum ayah. Kaila tersenyum dan mengangguk.


selama beberapa jam mereka berkeliling melihat lorong-lorong rumah sakit dan taman yang ada disana untuk mengusir kebosanan karena hanya berdiam didalam kamar ruang pasien sambil menonton TV, Pram menghubungi ayah untuk menanyakan keadaan Kaila karena lebih dari dua jam mereka keluar dari ruangan.


"benar-benar nih suamimu Kai, belum ada 24 jam ngilang dari pandangannya udah bolak-balik hubungi ayah" geleng kepala ayah tidak bisa protes. Kaila tertawa lebar. "balik yah, sebelum dia meratakan rumah sakit. aku nggak mau melihat banyak orang yang kehilangan pekerjaaan hanya gara-gara dia nggak ngliat Kai" kata Kaila, "hmmm, benar-benar deh anak itu. nggak Arga, nggak Pramudya. emang siapa yang njagain dan ngerawat kalian selama ini, giliran sama ayah aja ponsel nggak berhenti berbunyi" kesal ayah. Kaila tergelak hingga membuat tubuhnya terguncang. "aisshhh" ringis Kaila merasakan nyeri karena perpindahan posisi ketiga anaknya. "hmmm, slowly boys, kalian boleh bergerak ke posisi apa aja tapi jangan buat mommy nyeri begini" kata Kaila mengusap perutnya yang terlihat tidak beraturan kembali, penjaga mendorong kursi roda Kaila kembali kedalam kamar rawat inap.


"kita bisa pulang hari ini nggak, by" tanya Kaila saat penjaga yang berada dipintu ruangan membuka pintu untuk Kaila masuk, Pram menatap istrinya yang duduk dikursi rodanya. "besuk pagi honey, nanti dokter akan melihat keadaanmu dulu. jangan membantah" kata Pram. Kaila mengangguk dan berjalan pelan kearah bed pasien, Pram beranjak dan membantu istrinya untuk naik ke atas bed pasien. "honey, apa kamu butuh sesuatu yang lain" usap kepala Pram, Kaila menggeleng dan memejamkan matanya untuk mencoba tidur. Pram mengecup kening Kaila dan berjalan kembali ke sofa yang tadi didudukinya.


Pram mengangguk "tentu saja, yah. katakan kapan aja ayah mau kesana, pesawat akan menanti ayah kapan aja" jawab Pram, ayah tertawa. "makasih banyak nak, kalian berdua terlalu memanjakan ayah. terkadang ayah merasa tidak enak atas perlakuan kalian" kata ayah. Pram tergelak, "justru aku merasa tidak nyaman jika ayah tidak mendapatkan yang terbaik seperti Kaila, karena ayah yang telah lebih dulu memberikan cinta, memberikan kasih sayang, memberikan perhatian yang selalu ayah curahkan sepanjang masa kepada Kaila. maka perjuangan, pengorbanan Pram kepada Kaila belum ada seujung kuku ayah membesarkan dan memberi apa yang kaila inginkan" kata Pram, ayah tersenyum mengangguk.


"terimakasih telah menjadi pendamping Kaila, Pram" pandang ayah, "Pram yang justru berterimakasih telah menjaga Kaila selama Pram belum bertemu dengannya yah, maaf jika Pram terkadang berlebihan jika Kaila tidak disamping Pram" kata Pram menundukkan badannya memberi rasa hormat dan sayang kepada ayah mertuanya, ayah memeluk Pram sesaat.


sore hari ruang rawat inap Kaila sudah dipenuhi oleh orang-orang terdekatnya. "Icha, kamu bawa apa" pandang Kaila, "nih, pesenan emak ku buatmu. jangan lupa, biarkan Kaila melihat dulu makanan mana aja yang dia suka, setelah itu baru kalian yang makan" tirukan mama Icha. mereka tertawa, "makasih ma, tau aja kalo nggak bisa tahan lapar" kata Kaila, "mumpung baru satu yang hamil jadi puas-puasin makan apa aja yang kamu mau. jika kita barengan hamil nahhh.. yang pusing tambah banyak, karena ngladenin banyak permintaan ibu-ibu hamil" kata Icha. Kaila dan Kalai tertawa lebar mendengar ucapan Icha, "mau sekarang Cha, aku siap lho" seru Saka, Icha menggeplak bahu Saka keras.


"kakak, kalo ngomong jangan sembarangan kenapa sih nggak enak sama ayah Kaila" pandang Icha "kenapa, apa karena ayah sudah tua" tanya ayah menggoda Icha. "salah satunya yah" angguk Icha, mereka tertawa mendengar candaan yang ada jika mereka ngumpul. "kita ngumpul dirumah sakit aja setiap hari, lusa kan kalian berangkat. biar nggak terlalu capek kamu dirumah Kai, soalnya pasti ada aja yang akan kamu kerjakan nanti kalo dirumah" kata Icha, "betul Cha, aku sependapat dengan mu soal itu. dia nggak akan berhenti jika nggak sakit" kata Kalai. "naahhh... berarti udah dua yang setuju, siapa lagi" pandang Icha. "aku setuju" kata Davi, kamu mau digeser posisinya nanti di perusahaan" tanya Kaila.

__ADS_1


"mau, ikut ke pusat aja ya, sekalian bisa jagain triplet" naik turunkan alis mata Davi. Kaila tergelak, "nanti anakku nggak hanya dijagain tapi diajarin untuk jadi playboy kayak kamu" kata Kaila menggeleng. Davi tertawa "cewek satu aja nggak dapet-dapet apalagi banyak Kai" geleng Davi. "kan kemarin ada cewek yang ngejar-ngejar tapi nggak kamu perhatikan" pandang Icha.


"kalian selalu membuatku menutup mata ketika ada cewek menaruh harapan kepadaku" canda Davi, "aaahhh.... begitu. karyawan Bagaskara banyak, lihatlah dengan baik jadi kamu tidak salah memilih" pandang Kaila. Davi tertawa, "nanti akan aku pertimbangkan" makan Davi sambil manggut-manggut.


"aku ingin pulang, dirumah aku bisa ngapain aja. kalian juga bisa nginep dirumah nggak usah pulang. mau dirumah ku, ayah atau Kal juga nggak papa, semuanya sama" pandang Kaila, Davi menatap Kaila dan Icha bergantian.


"ngapain sih Dav, suka natap Icha ku" kata Saka meraih kepala Icha ke dekapannya. "awas ihhh kak, jangan lebay deh" ronta Icha melepaskan diri. "kalo bos ngebolehin ya oke-oke aja si Kai, lusa kamu juga udah berangkat kan jadi kalo malam kita ngumpul bareng kan lebih enak" angguk Davi, Icha manggut-manggut.


Kaila menatap suaminya meminta ijin. "honey, itu rumahmu jadi aku ngikut aja, lebih banyak orang lebih rame jadi rumah tidak sepi" kata Pram. Kaila tersenyum. "nah... jangan lupa begitu aku pulang, kalian ada dirumah" pandang Kaila, Kalai memberi tanda Ok dengan jemarinya, Icha menganggukkan kepala. "duh kalo itu agak berat Kai. kamu tahu pekerjaan di perusahaan segede Bagaskara corp nggak bisa seenaknya. pulangnya pasti malam" kata Davi sok sibuk. "aku potong gaji mu separuh" pandang Pram datar. "aku tambah pekerjaanmu" kata Saka. "eeehhh jangan bos, ampun" panik Davi, "kebanyakan lagak sih Dav, digituin aja keder" majukan bibir Icha. Davi nyengir "masalah duit Cha, duit" kata Davi menghela nafas. "ntar aku packing baju abis dari sini jadi kita bisa hangout bareng" senyum Davi. "asyik kita bisa barbeque an bareng penjaga dan asisten rumah tangga" senyum Kaila.


"boleh, asal kamu duduk tenang dan jangan kebanyakan kesana-kesini. kebanyakan lho bukan berarti nggak boleh jalan. asal nurut, aku kasih ijin" pandang Pram, Kaila manggut-manggut setuju.


hai.... hai.... hai.... all readers terimakasih banyak telah berkunjung untuk membaca karyaku...


luv.... luv....luv.... U all readers sekebon pisang goreng. terimakasih banyak semuanya.


stay healthy all

__ADS_1


__ADS_2